Senin, 04 April 2011

Tinggalkan Semua Firqah Yang Ada?

عن حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ يَقُولُ كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا فَقَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

Artinya: Dari Huzhaifah bin Al-Yaman berkata:” manusia biasa bertanya pada Rasulullah SAW tentang kebaikan, sedang aku bertanya kepada beliau tentang kejahatan, karena khawatir akan mengenaiku”. Saya berkata: “Wahai Rasulullah SAW apakah kami dahulu dimasa Jahiliyah dan penuh kejahatan, kemudian Allah mendatangkan dengan kebaikan ini (Islam). Apakah setelah kebaikan ini adalagi keburukan”. Rasul SAW menjawab:”Ya”. Apakah setelah keburukan itu ada kebaikan”. Rasul SAW menjawab:”Ya, tetapi ada polusinya”. “Apa polusinya?”. Rasul menjawab:” Kaum yang mengambil hidayah dengan hidayah yang bukan dariku, engkau kenali dan engkau ingkari”. Saya berkata:” Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan?”. Rasul SAW menjawab:” Ya, para penyeru ke neraka jahanam, barangsiapa yang menyambut mereka ke neraka maka mereka melamparkannya ke dalam neraka”. Saya berkata:” Ya Rasulullah SAW, terangkan ciri mereka pada kami?”. Rasul SAW menjawab:” (kulit) mereka sama dengan kulit kita, berbicara sesuai bahasa kita”. Saya berkata:” Apa yang engkau perintahkan padaku jika aku menjumpai hal itu?” Rasul SAW bersabda:” Komitmen dengan jamaah muslimin dan imamnya”. Saya berkata:” Jika tidak ada pada mereka jamaah dan imam?” Rasul menjawab:” tinggalkan semua firqah itu, walaupun engkau harus menggigit akar pohon sampai menjumpai kematian dan engkau tetap dalam kondisi tersebut” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits diatas sering digunakan oleh kelompok salafy sebagai hujjah mengharamkan semua kelompok. Mereka mengutip pada kalimat :” tinggalkan semua firqah itu, walaupun engkau harus menggigit akar pohon sampai menjumpai kematian dan engkau tetap dalam kondisi tersebut”. Dan keadaan yang diprediksikan hadits itu telah terjadi saat ini, dimana kaum muslimin sudah tidak memiliki jamaah/khilafah dan imam/khilafah. Jadi menurut mereka, saat ini yang harus kita lakukan adalah menghindar dari semua kelompok yang ada.

Hal pertama yang harus dipahami dari hadits diatas adalah apa yang dimaksud dengan “jamaah” dan “imam”?. Dalam memaknai hal ini saya dan salafy sepakat, bahwa yang dimaksud dengan jamaah adalah jamaah dimana kaum muslimin bersatu didalamnya. Jamaah yang menyatukan kaum muslimin diseluruh dunia, dan itu tidak lain adalah khilafah islamiyyah. Sementara imam adalah sebutan dari pemimpin dari jamaah itu, kata imam disini menegaskan bahwa jamaah kaum muslimin itu hanya dipimpin oleh satu imam, tidak bisa dua imam. Itulah mengapa Rasulullah melarang kaum muslimin memiliki 2 imam(1).

Hal kedua, harus dipahami zaman-zaman pada hadits diatas secara berurutan, mulai dari zaman pertama yang diramalkan hingga akhir hadits itu. Zaman pertama (dalam hadits itu) adalah zaman jahiliyah, lalu datang kebenaran islam menyelamatkan manusia dari kegelapan jahiliah menuju cahaya islam, dan ini tidak ada keraguan sedikit pun.

Zaman kedua adalah datangnya keburukan setelah kebaikan, seperti diungkapkan dalam hadit diatas: “Apakah setelah kebaikan ini adalagi keburukan”. Rasul SAW menjawab:”Ya”. Kita semua tahu bahwa Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk mengikuti sunnahnya dan sunnah khulafa rasyidin (2), artinya tidak mungkin zaman keburukan yang disebutkan dalam hadits ini terjadi diantara masa-masa kenabian maupun pada masa-masa khulafa rasyidin. Kita lihat sendiri bahwa pelaksanaan islam sangat sempurna dimasa kenabian maupun masa khulafa rasyidin, baik dari segi individunya, masyarakatnya, maupun negaranya. Meski ada beberapa pemberontakan, aliran sesat, dan kemurtadan, namun semua bisa diatasi.

Akan lebih cocok jika keburukan yang dimaksud setelah kebaikan islam adalah zaman akhir dari khulafa rasyidin, yaitu pada zaman akhir-akhir khalifah Ali bin Abi Thalib. Dimana saat itu terjadi pemberontakan dan fitnah yang sangat besar yang melanda kaum muslimin. Terutama yang dilakukan khawarij maupun murji’ah. Hingga berakhir dengan pertumpahan darah di kalangan kaum muslimin dan terbunuhnya Ali dan anaknya.

Zaman ketiga adalah zaman dimana disebut sebagai “kebaikan namun berpolusi”, yakni ada polusi pada kebaikan saat itu. Dan sangat tepat jika mengatakan bahwa zaman ini dimulai sejak dibaiatnya (diangkatnya) Muawiyah bin Abi sufyan menjadi khalifah menggantikan Ali bin Abi Thalib. Zaman “kebaikan berpolusi” ini terus berlangsung hingga khilafah Utsmani Abad 17, sebelum masuknya pengaruh barat. Mengapa kebaikan ini disebut “berpolusi”? hal ini tidak lain bahwa adanya pemaksaan pada kaum muslimin untuk membaiat khalifah dari anak khalifah sebelumnya, yang mana ini tidak terjadi pada masa khulafah rasyidin. Serta kesalahan-kesalahan lain yang diperbuat beberapa khalifah pada masa umayyah, abbasiyah, dan utsmaniyyah, dan memang tepat jika mengatakan masa mereka adalah masa “kebaikan namun ada polusinya”.

Zaman keempat dimana ditanyakan kepada rasulullah, apakah ada keburukan setelah “kebaikan berpolusi” tadi, rasulullah SAW menjawab Ya. Dan yang menarik disini rasulullah SAW tidak memperlakukan keburukan yang kedua ini sama dengan keburukan yang pertama tadi. Disini beliau memperingatkan akan ada penyeru-penyeru neraka jahannam. Dimana ciri-ciri penyeru neraka jahannam itu adalah orang-orang arab itu sendiri. Ya! Hal ini terjadi Pada masa “pesakitan” atau akhir-akhir khilafah utsmaniyah, banyak terjadi seruan-seruan mengarah pada nasionalisme dan seruan untuk memisahkan diri dari daulah khilafah. Dan yang sangat terkenal adalah kisah pemberontakan dari hijaz (Arab saudi sekarang) yang dipimpin oleh Ibnu Saud dengan dibantu inggris. Menyeru kepada neraka (baca: nasionalisme/perpecahan) itulah yang dilakukan oleh nasionalis-nasionalis arab saat itu, sehingga bisa kita lihat di semenanjung arab saat ini banyak sekali negaranya, padahal dulunya satu kesatuan dengan khilafah islamiyah.

Pada saat Khilafah utsmani lemah, yaitu mulai abad ke 17 hingga 19, dimana banyak pemberontakan, serta melemahnya semangat keislaman kaum muslimin, dan semakin gencarnya serangan dari barat, maka tepatlah rasulullah SAW berpesan agar kaum muslimin saat itu tetap ”Komitmen dengan jamaah muslimin dan imamnya”.

Menariknya lagi, sahabat itu bertanya “bagaimana jika sudah tidak ada jamaah dan imam?”, dan rasulullah SAW menjawab :” tinggalkan semua firqah itu, walaupun engkau harus menggigit akar pohon sampai menjumpai kematian dan engkau tetap dalam kondisi tersebut”. Jadi sudah diprediksi oleh Rasulullah SAW bahwa umatnya suatu hari akan mengalami kekosongan jamaah/khilafah dan imam/khalifah. Sementara yang harus dilakukan kaum muslimin, jika itu terjadi adalah “menggigit akar” yang berarti memegang kebenaran islam (3) dan meninggalkan firqah-firqah yang ada. Yang kemudian ditanyakan adalah, apakah yang dimaksud dengan firqah itu? Apakah firqah itu partai politik? Ormas? Yayasan? Atau yang lainnya?

Maka disinilah letak kesalahan penafsiran yang memaksa menyeret makna firqah dalam hadits ini menuju segala macam kelompok. Padahal dari awal selalu yang dibahas dalam hadits ini adalah tentang pemerintahan, dan bukan aliran atau kelompok. Maka firqah ini pun harus dimaknai sebagai pemerintahan, bukan kelompok. Firqah ini lebih tepat jika dimaknai sebagai pecahan-pecahan dari jamaah/khilafah tadi, alias negara-negara yang didirikan dari pecahan khilafah islamiyyah setelah runtuhnya pada 3 maret 1924 M. Seperti firqah Arab saudi, firqah mesir, firqah suriah, firqah malaysia, firqah indonesia, dll, inilah yang dimaksud firqah dalam hadits ini. Maka benar kata rasulullah SAW, kita wajib untuk berlepas diri terhadap semua “firqah-firqah/negara-negara yang didirikan paska runtuhnya khilafah” karena semua negara yang ada didunia saat ini bathil dipandang dari sisi mana pun(4).

Apakah ini adalah akhir kondisi umat Islam? ternyata tidak, karena tidak ada statemen dalam hadits ini yang menyatakan bahwa kondisi terakhir yang disebutkan tadi adalah kondisi terakhir umat islam atau setelah itu kiamat. Bahkan dalam hadits lain justru disebutkan bahwa umat islam akan bangkit kembali menegakkan khilafah islamiyyah (5). Artinya nanti, setelah masa ini berakhir, kaum muslimin akan memiliki “jamaah dan imam” lagi sebagaimana kondisi ideal dari kaum muslimin itu sendiri. Masa khilafah islamiyyah inilah masa akhir dari umur umat islam, dan juga umur dunia, karena setelah itu akan terjadi kiamat. Maka saat ini hanya ada dua pilihan bagi kaum muslimin, memperjuangkan tegaknya khilafah islamiyyah, atau malah menjadi penghalangnya. Wallahua’lam

(1) Jika dibaiat dua orang khalifah maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.
(HR Muslim)
(2) “Hendaklah kamu kembali kepada sunnahku dan sunnah Khulafa ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk”.( HR Ahmad 4/162. Abu Daud 5/13. Turmizi 7/437 dan Ibn Majah 1/15)
(3) “Celakalah orang-orang Arab, yaitu keburukan yang benar-benar telah dekat; fitnah ibarat sepenggal malam yang gelap gulita. Pagi hari seseorang masih beriman, sorenya telah berubah menjadi Kafir. Kaum yang menjual agama mereka dengan tewaran dunia yang tidak seberapa. Maka, orang yang berpegang teguh pada agamanya, ibarat orang yang menggenggam bara api.” (Ibn Hajar al-Haitsami,Majma’ az-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid, juz VII, hal. 552)
“Islam itu bermula dengan asing maka akan kembali menjadi asing maka berbahagialah orang yang asing”
(H/R Muslim.)
(4) Negara-negara yang berdiri paska khilafah islamiyyah semuanya bathil menurut syariat islam karena didirikan atas dasar nasionalisme/ashabiyyah. Selain itu karena tidak menggunakan hukum Allah, melainkan membuat sendiri hukum-hukumnya pada lembaga legislatif “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. [QS Al Maa'idah 44]”. Pemakaian riba, pemungutan pajak, penghalalan maksiat, dll adalah bukti lain yang memperkuat bahwa kita wajib berlepas diri dari semua negara-negara itu. Berlepas diri disini bukan berarti hijrah, namun menolak membenarkan kedaulatan negara tersebut dan berupaya untuk menggantinya menuju khilafah islamiyyah.
(5) Khilafah islamiyyah akan tegak sebelum kiamat seperti yang sudah disabdakan oleh rasulullah SAW:
Dari Nukman bin Basyir, katanya… ‘Suatu ketika kami sedang duduk2 di Masjid Nabawi dan Basyir itu seorang yg tidak banyak bercakap.Datanglah Abu Saklabah lalu berkata ” Wahai Basyir bin Saad, adakah kamu hafaz hadis Rasulullah tentang para pemerintah?’

Huzaifah RA lalu segera menjawab.” Aku hafal akan khutbah Rasulullah SAW itu.” Maka duduklah Abu Saklabah Al Khusyna untuk mendengar hadis berkenaan.

Maka kata Huzaifah RA, Rasulullah SAW telah bersabda. “Telah berlaku Zaman Kenabian ke atas kamu, maka berlakulah Zaman Kenabian sebagaimana yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkat zaman itu seperti yg Dia kehendaki.

”Kemudian belakulah zaman Kekhalifahan (Khulafaur Rasyidin) yang berjalan sepertimana Zaman Kenabian. Maka berlakulah zaman itu sebagaimana yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkatnya.

Lalu berlakulah zaman pemerintahan yang mengigit ( zaman kesultanan ) Berlakulah zaman itu seperti yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkatnya pula.

Kemudian berlakulah zaman mulkan jabbariyan (penguasa yang memaksakan ideologi yang bukan ideologi islam, dan hukum yang bukan dari hukum islam) dan berlakulah zaman itu seperti mana yang Allah kehendaki.

Kemudian berlakulah pula zaman kekhalifahan yang berjalan di atas cara hidup Zaman Kenabian.” Kemudian Rasulullah SAW pun diam…. (Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal di dalamkitabnya Musnad Al Imam Ahmad bin Hanbal, Juzuk 4, halaman 273.Juga terdapat dalam kitab As-Silsilatus Sahihah, Jilid 1,
hadis nombor 5.)

Zulfahmi Assyafii

Sabtu, 02 April 2011

Dahsyatnya Dosa Riba


«الرِّبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا، أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ»
Riba itu memiliki 73 pintu. Yang paling ringan (dosanya) adalah seperti seseorang yang mengawini ibunya. (HR al-Hakim dan al-Baihaqi).
Al-Hakim meriwayatkan hadis di atas di dalam Al-Mustadrak dari Abu Bakar bin Ishaq dan Abu Bakar bin Balawaih; keduanya dari Muhammad bin Ghalib, dari Amru bin Ali dari Ibn Abi ‘Adi, dari Syu‘bah, dari Zaid dari Ibrahim, dari Masruq, dan dari Abdullah bin Mas‘ud.Al-Hakim berkomentar, “Hadis ini sahih menurut syarat al-Bukhari dan Muslim, namun keduanya tidak mengeluarkannya.”
Al-Minawi menukil di dalam Faydh al-Qadîr, bahwa al-Hafizh al-‘Iraqi berkata (tentang hadits di tas), “Sanadnya sahih.”
Adapun al-Baihaqi meriwayatkan hadis di atas di dalam Su‘ab al-Imân dari Abu Abdillah al-Hafizh, dari Abu Bakar bin Ishaq, dari Muhammad bin Ghalib dari Amarah bin Ali, dari Ibn Abi Adi, dari Syu‘bah, dari Zubaid dari Ibrahim, dari Masruq, dan dari Abdullah bin Mas‘ud.
Hadis yang semakna juga diriwayatkan oleh Ibn al-Jarud dalam Al-Muntaqâ; Ibn Abi Syaibah dalam Mushannaf Ibn Abi Syaybah; Abd ar-Razaq dalam Mushannaf Abd ar-Razâq; Abu Nu‘aim al-Ashbahani dalam Ma‘rifah ash-Shahâbah; Ibn Abi Dunya di dalamDzam al-Ghîbah wa an-Namîmah; dan yang lain.

Makna Hadis

Kata ar-ribâ maksudnya adalah itsm ar-ribâ (dosa riba). Menurut ath-Thayibi, penetapan makna tersebut merupakan keniscayaan agar sejalan dengan makna kalimat: aysaruhâ mitslu an yankiha….
Kata bâb[an] maknanya adalah hûban (dosa). Abu Hurairah ra. menuturkan bahwa Nabi saw. bersabda:
«الرِّبَا سَبْعُوْنَ حُوْبًا أَيْسَرُهَا أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ»
Riba itu (ada) 70 dosa. Yang paling ringan adalah (seperti) seorang laki-laki yang menikahi ibunya sendiri (HR Ibn Majah, al-Baihaqi, Ibn Abi Syaibah dan Ibn Abi Dunya).
Kata hûb[an] artinya adalah al-itsm wa adz-dzunûb (dosa). Kata 73 itu—dalam riwayat lainnya dinyatakan 70, 72 dan 63—tidak menyatakan batasan jumlah tertentu, melainkan menunjukkan arti: banyak jenis dan tingkatannya. Karena iru, hadis di atas bisa dimaknai bahwa dosa riba banyak macam dan tingkatannya. Yang paling rendah adalah seperti dosa seseorang yang menzinai ibunya sendiri. Bahkan Abdullah bin Hanzhalah menuturkan, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:
«دِرْهَمٌ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةٍ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً »
Satu dirham riba yang dimakan oleh seorang laki-laki, sementara ia tahu, lebih berat (dosanya) daripada berzina dengan 36 pelacur (HR Ahmad dan ath-Thabrani).
Ibn Abbas juga menuturkan, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:
«دِرْهَمٌ رِبًا أَشَدُّ عَلَى اللهِ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً. وَقَالَ : مَنْ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنَ السُّحْتِ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ»
Satu dirham riba (dosanya) kepada Allah lebih berat daripada 36 kali berzina dengan pelacur. (Ibn Abbas berkata) dan Beliau bersabda, “Siapa saja yang dagingnya tumbuh dari yang haram maka neraka lebih layak untuknya.” (HR al-Baihaqi dan ath-Thabrani).
Asy-Syaukani, dalam Nayl al-Awthâr, berkata, Hal ini menunjukkan bahwa riba termasuk kemaksiatan yang paling berat. Sebabnya, kemaksiatan yang menandingi bahkan lebih berat daripada kemaksiatan zina, yang merupakan perbuatan yang sangat menjijikkan dan sangat keji, tidak diragukan lagi, bahwa kemaksitan riba itu melampaui batas-batas ketercelaan.”
Dengan demikian, tidak diragukan lagi bahwa riba termasuk kemaksiatan yang paling besar. Hal itu bisa dilihat dari: Pertama, orang yang mengambil riba merupakan penghuni neraka dan kekal di dalamnya (QS 2: 275). Kedua, meninggalkan (sisa) riba dinilai sebagai bukti keimanan seseorang (QS 2: 278). Ketiga, orang yang tetap mengambil riba diindikasikan sebagai seorang kaffâran atsîman; orang yang tetap dalam kekufuran dan selalu berbuat dosa (QS 2: 276). Keempat, orang yang tetap mengambil riba diancam akan diperangi oleh Allah dan Rasul-Nya (QS 2: 279). Kelima, dosa teringan memakan riba adalah seperti berzina dengan ibu sendiri; dan lebih berat daripada berzina dengan 36 pelacur.
Hadis di atas jelas mengisyaratkan bahwa riba akan menimbulkan kerusakan di masyarakat yang lebih besar daripada kerusakan akibat zina. Ini karena riba sejak dulu hingga kini merupakan alat perbudakan, penindasan, eksploitasi, pemerasan, penghisapan darah dan penjajahan. Semua itu bukan hanya terjadi pada tingkat individu, namun juga terjadi terhadap suatu bangsa, umat dan negara. Hal itu seperti yang dilakukan oleh negara-negara besar (penjajah) kepada negara Dunia Ketiga. Melalui utang dengan sistem riba akhirnya kekayaan negara-negara Dunia Ketiga justru mengalir ke negara besar. Dengan utang itu pula, negara-negara Dunia Ketiga didekte dan dikendalikan demi kepentingan negara-negara besar itu. Apa yang terjadi akibat utang luar negeri terhadap negeri ini merupakan buktinya.
Jika riba telah tampak nyata di suatu kaum, maka kaum itu telah menghalalkan diturunkannya azab Allah kepada mereka. Ibn Abbas menuturkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda:
«إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِيْ قَرْيَةٍ ، فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ»
Jika telah tampak nyata zina dan riba di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan sendiri (turunnya) azab Allah (kepada mereka) (Hr al-Hakim).
Lalu bagaimana dengan negeri kita ini? Na‘ûdzu billâh min dzâlik. [Yahya Abdurrahman]

Senin, 28 Maret 2011

Mengapa (Harus) Halaqah?

Halaqah sering dikenal sebagai sekelompok orang yang mengkaji Islam. Biasanya jumlahnya tidak banyak, ya sekitar lima orang. Mereka mengkaji berbagai bahasan Islam dan dilakukan rutin seminggu sekali.
Halaqah merupakan bagian dari budaya islam, dimana seorang mengkaji islam dan dikemudian hari dia pun mengajarkan kepada orang lain, begitu seterusnya. Halaqah ini akan membentuk kepribadian islam dalam diri orang yang mengikuti halaqah karena mereka berada dalam lingkungan yang mengingatkan pada kebaikan dan mencegah dari keburukan.

Halaqah & kewajiban menuntut ilmu syara’

Menuntut ilmu syariat adalah kewajiban setiap muslim (1). Pemenuhan dari kewajiban ini bisa dilakukan di
halaqah, meski ini tidak cukup. Masih perlu mempelajari islam secara pribadi dan diberbagai temat lainnya, seperti di pengajian. Namun setidaknya dalam halaqah kita lebih mengerti tentang Islam dan semangat menuntut ilmu islam tadi tetap terjaga.

Halaqah & benteng diri

Hari ini dimana budaya pemuda dan pemudi telah rusak oleh ideologi kapitalisme (orientasi harta) dan hedonisme (orientasi kesenangan), halaqah merupakan alternatif dari membentengi diri dari kerusakan tersebut. Dimana dalam halaqah akan terbentuk lingkungan yang islami, sehingga kita akan terhindar dari budaya-budaya yang rusak tadi. Halaqah akan membentuk pola sikap islami dan juga pola pikir islami, sehingga keduanya akan membentuk kepribadian islami.

Halaqah & efektifitas berlajar

Halaqah sangat efektif sebagai sarana untuk belajar islam, mengapa? Karena jumlah anggota kelompok yang hanya maksimal 5 orang tadi. Biasanya kita belajar di sekolah atau di universitas satu kelas minimal 20, bahkan bisa mencapai 80, tentu ini akan sulit menjamin semua siswa/mahasiswa paham dengan materi yang disampaikan. Dengan anggota kelompok yang hanya 5 orang tadi sangat menjamin pemahamannya pada materi. Apalagi dalam mengikuti halaqah tidak ada paksaan, sehingga orang yang mengikuti halaqah merasa itu adalah keinginannya sendiri dan bukan atas dasar “pakasaan” seperti di sekolah atau universitas.

Halaqah & latihan berdakwah

Selain dari menuntut ilmu, kita juga mempunyai kewajiban untuk dakwah(2). Sementara didalam berdakwah diperlukan ilmu, nah dihalaqahlah kita bisa mendapatkan itu. Selain itu didalam halaqah kita juga belajar bagainmana cara menyampaikan ilmu tadi kepada orang lain. Seperti teknik penjelasan, retorika, contoh, dll.

Halaqah dalam pembinaan Hizbut Tahrir & perjuangan menuju peradaban islam

Halaqah dalam hizbut tahrir adalah salah satu hal yang paling penting dalam pembinaaannya. Karena itulah hizbut tahrir mewajibkan seluruh pelajar & anggotanya untuk mengikuti halaqah. Taqafah islam akan disampaikan dalam halaqah sebagai bekal dari berdakwah. Jika semakin banyak orang yang halaqah, maka semakin banyak pula da’I yang akan lahir, da’I itu akan menyampaikan pada umat dan menyadarkan untuk berislamsecara kaffah (3). Sehingga perubahan menuju peradaban islam bukan lagi suatu mimpi seperti yang dituduhkan oleh kaum liberal saat ini.

Tertarik untuk halaqah? Hubungi syabab hizbut tahrir terdekat..


(1) Rasulullah bersabda “Mencari ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ahamad dan Ibnu Majah).
“Apabila anak Adam meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga, yaitu ilmu yang bermanfaat….”(HR Muslim)

Seorang ‘alim juga lebih tinggi dari pada seorang ahli ibadah yang sewaktu2 bisa tersesat karena kurangnya ilmu. “Keutamaan orang ‘alim atas orang ahli ibadah adalah seperti keutamaan diriku atas orang yang paling rendah dari sahabatku.” (HR At Tirmidzi).

“Sesungguhnya matinya satu kabilah itu lebih ringan daripada matinya seorang ‘alim.” (HR Thabrani)
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajad.” (Al Mujadilah: 11)

(2) “Serulah manusia ke jalan Rabb-mu (Allah) dengan jalan hikmah (hujjah yang benar dan kuat) dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan baik”(QS. An-Nahl: 125)

“(Dan) Orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong kepada sebagian yang lainnya. Mereka menyuruh kepada yang baik dan mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah dan sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS At-Taubah: 71)

“Dan siapakah yang lebih baik perkataanya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal sholeh dan berkata sesungguhnya aku ini termasuk orang-orang muslim” (QS. Al-Fushilat: 33)

“Sesungguhnya manusia, bila melihat kemukaran sedangkan mereka tidak berupaya mencegahnya; maka tunggulah saatnya Allah akan menurunkan adzabnya secara menyeluruh...” (HR. Abu Dawud)

“Kalian harus mengajak mereka kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemunkaran. Bila tidak demikian, tentu Allah akan menjadikan orang-orang jahat di antaramu menguasai kalian. (Dan) Bila ada orang baik di antaramu berdoa (untuk keselamatan) maka doa mereka tidak akan dikabulkan” (HR. Al-Bazzar dan Thabrani).

“Siapa saja yang bangun pagi hari dan ia hanya memperhatikan masalah dunianya, maka orang tersebut tidak berguna apa-apa di sisi Allah; dan barang siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia tidak termasuk golongan mereka.” (HR. Thabrani dari Abu Dzar al Ghifari)

(3) Islam kaffah adalahpenerapan syariat islam secara totalitas, baik dalam hal pribadi, masyarakat, dan negara.
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ( al- Baqarah : 208-209 ).

"Hai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling darinya, sedang kamu mendengar perintahNya."
(Qs. al-Anfaal 8:20)

Minggu, 27 Maret 2011

Masa Depan Pemuda Islam


Pemuda adalah agen perubahan (Agent Of Change). Banyak catatan sejarah yang mengungkapkan bahwa perubahan selalu melibatkan pemuda. Semangat yang dimilikinya memang luar biasa, namun semangat yang dimilikinya itu bisa saja diarahkan pada kebaikan mau pun keburukan.


Rasulullah SAW banyak merekrut pemuda-pemuda pada masanya, yang mana peran pemuda itu sangat penting dalam perjuangan dakwah Rasulullah SAW. Pemuda-pemuda yang menjadi pejuang islam tersebut menemani dakwah Rasulullah dari beliau di makkah, dimana kaum muslimin saat itu mengalami masa-masa tersulit, diantaranya disiksa, dibunuh, bahkan diboikot oleh Kafir Quraisy, namun pemuda-pemuda ¨pertama¨ Islam itu tetap tegar menemani dakwah Islam.

Tercatat dalam tinta emas sejarah islam, nama-nama pemuda yang dalam usia belianya sudah mengazamkan (meneguhkan) diri menjadi pejuang islam, yang sangat sulit kita bandingkan dengan pemuda pada abad ini. Lihat saja sahabat Nabi yang bernama Zubeir bin Al-Awwam yang pada usia 15 tahun sudah menjadi mujahid dan juru dakwah, apalagi beliau terkenal sebagai teman diskusi rasulullah SAW. Lihat juga Thalhah bin Ubaidillah, yang usia yang masih 16 tahun sudah menjadi mujahid dan yang lebih dahsyat lagi, beliau juga tercatat sebagai donatur dari perjuangan dakwah rasulullah SAW. Lihat juga Saád bin Abi Waqash yang pada usia 16 tahun sudah turut serta dalam perang uhud, dia tercatat sebagai darah pertama yang mengalir dalam perang itu. Lihat Zaid bin Tsabit, anak kecil ini merengek ingin ikut dalam perang badar, namun tidak diizinkan oleh Rasulullah SAW karena usianya waktu itu masih 12 tahun. Subhanallah...

Lihat juga kisah muhammad Al-Fatih, kisah yang melegenda ini adalah contoh dari seorang pemuda berusia 23 tahun, namun berhasil menaklukkan negara adidaya waktu itu yaitu Konstantinopel. Beliau sejak kecil bermimpi menjadi penakluk Konstantinopel yang mana hal itu sudah dijanjikan oleh rasulullah SAW(1) dan sudah dicoba oleh para Khalifah, namun selalu belum berhasil. Beliau adalah pemuda yang menjadi pemimpin terbaik yang memimpin pasukan-pasukan terbaik(2). Luar biasanya lagi, beliau sejak baligh tidak pernah meninggalkan shalat rawatib dan tahajud, dan ini juga berlaku pada 20.000 pasukannya. Subhanallah...

Jika pada masa awal-awal hingga abad 17, pemuda selalu menjadi ujung tombak perjuangan islam, namun sejak abad 18, para pemuda justru teracuni dengan paham-paham barat. Mereka lebih bangga dengan ikatan nasionalismenya dibandingkan dengan ikatan islamnya. Mereka lebih bangga pada ke-turkia-nnya atau ke-arab-annya dari pada ke-muslim-annya. Virus-virus perpecahan inilah yang didoktrinkan pada pemuda muslim waktu itu. Sehingga umat islam pada waktu itu mudah sekali dipecah-pecah oleh imperialis barat, yang kemudian berujung pada keruntuhan Khilafah pada 3 Maret 1924 M.

Selain merusak ideologinya, barat (baca: imperialis, kapitalis) juga merusak dalam hal budaya. Yaitu dengan merusak pemudinya, dengan mendoktrinkan paham-paham ¨kebebasan¨ seperti feminisme dan kesetaraan gender, sehingga ketika para pemudi islam sudah melepas kerudungnya dan jilbabnya, maka saat itulah moral pemuda rusak dibuatnya. Sehingga memperparah rusaknya umat islam waktu itu, dan menyulitkan usaha untuk menegakkan Khilafah lagi.

Kerusakan pemuda itu tetap dijaga hingga kini. Berbagai cara digunakan barat untuk merusak pemuda islam. Misalnya menerapkan kurikulum yang memisahkan agama dari kehidupan, media televisi, koran, majalah, tabloid yang terus menerus mengkampanyekan kerusakan. Masa muda selalu dikaitkan dengan santai-santai, bersenang-senang, pacaran, dll. Klub-klub malam semakin menjamur diberbagai tempat dengan tawaran yang menggiurkan pagi pemuda dan pemudi yang kurang iman. Ditambah lagi dengan pencitraan yang buruk pada pemuda-pemuda pejuang islam dengan sebutan teroris, extrimis, fundamentalis, rasikal, dll. Lengkaplah sudah penjagaan terhadap rusaknya pemuda, sehingga pemuda-pemuda saat ini sangat sulit untuk diajak memperjuangkan islam. Jangankan untuk berdakwah, dalam hal seringan shalat saja mereka sudah banyak yang meninggalkan tanpa merasa bersalah. Lahaula wala quwwata illa billah...

Lalu bagaimana solusinya untuk mengembalikan lagi pemuda islam pada posisinya? Solusi paling dekat adalah dengan terus mendekati mereka dan mendakwahi mereka, terutama secara personal. Kedua, ajarkan kepada mereka tentang aqidah yang berlandaskan akal sehat, ajak mereka berpikir tentang dari mana kehidupan, untuk apa kehidupan, dan apa yang akan terjadi setelah kehidupan. Sentuh pemikrian mereka terlebih dahulu dan jangan sentuh pada aspek fiqh. Setelah itu ajaklah mereka untuk memikirkan problematika umat islam, mulai dari dirinya, lingkungannya, dan kaum muslimin secara umum didunia ini. Diskusikan tentang solusi dari semua masalah itu dari aspek aqidah islamiyah. Jika ini berhasil, maka percayalah dia akan lebih mudah untuk diajak bergabung bersama barisan dakwah ini.

Dari kumpulan para pemuda-pemuda yang tercerahkan dengan islam tadi terbentkalah mesin-mesin revolusi yang akan menjadi penggerak revolusi menuju tegaknya lagi Khilafah Islamiyah. Tentu saja dengan tidak dakwah pada ahlul quwwah (pemilik pengaruh/kekuatan) seperti Tokoh masyarakat dan militer, sehingga revolusi nanti akan berjalan dengan damai. Amin ya rabbal alamin...

(Zulfahmi, diringkas dari kajian & buka puasa sunnah edisi 24 Maret 2011 @Mushala FTI UII)

refrensi Buku:
Anak Muda Nyalakan Api Semangatmu! (Raghib As-sirjani)
Nizham Islam (Taqiyuddin Annabhani)

(1)dari Abu Qubail, ia berkata: “Kami pernah berada di sisi Abdullah bin Amr bin al-Ash, ia ditanya: “Yang manakah diantara dua kota yang akan ditaklukan lebih dahulu, Konstantinopel atau Roma?” , kemudian Abdullah meminta peti kitabnya yang masih tertutup. Abu Qubail berkata: “Kemudian ia mengeluarkan sebuah kitab dari padanya. Lalu Abdullah berkata: ‘Ketika kami sedang menulis di sekeliling Rasulullah SAW tiba-tiba beliau ditanya: ‘Yang manakah diantara dua kota yang akan ditaklukkan terlebih dahulu, Konstantinopel atau Roma?” Kemudian Rasulullah menjawab: “Kota Heraklius akan ditaklukkan terlebih dahulu, yakni Konstantinopel.”(Menurut Husain hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad dan terdapat di dalam Al-Mustadrak di beberapa tempat. Dishahihkan oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi, juga disepakati oleh Al-Bani di dalam Silsilah Al-haditsish Shahihah 1/8.) lengkapnya kisah penaklukkan konstantionpel

(2)“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335]

Sabtu, 22 Januari 2011

Surat Terbuka Untuk "Salafy" Dari Syabab Hizbut Tahrir



Kami sering mendengar akhir-akhir ini ada sekelompok orang yang dalam pengajian-pengajian dan majalahnya mengungkit-ungkit masalah hadis ahad dengan pembahasan yang tidak semestinya. Kemudian mereka menambah permasalan dengan melontarkan berbagai shubhat yang sayangnya hal ini disampaikan kepada orang awam yang tidak mengerti duduk permasalahan yang sebenarnya. Hal ini diperparah dengan ajakan mereka untuk memusuhi semua orang atau kelompok yang berbeda pendapat dengan mereka (karena tidak menjadikan hadis ahad sebagai dalil dalam masalah aqidah –pent) dan ajakan ini dibumbui dengan stempel sebagai kelompok sesat dan bid’ah bagi semua kelompok yang menolak hadis ahad sebagai dalil aqidah. Untuk itu kami merasa perlu untuk menjawab tuduhan-tuduhan itu agar masalah ini tidak berkembang menjadi perselisihan yang tidak sehat. Berikut ini beberapa shubhat yang mereka lontarkan beserta bantahannya :


Thohawi dapat dipastikan menerima hadis ahad sebagai dalil dalam masalah aqidah ?


1- Shubhat Pertama : Mereka mengklaim berdasarkan Kitab Aqidah Thohawiyah, bahwa Adzab kubur adalah bagian dari aqidah sehingga Imam

Kami menjawab : Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi (w. 321 H) adalah Ulama yang bermahdzab Hanafiyah, sehingga Imam Ath-Thohawi pasti memegang prinsip tentang hadis ahad sesuai dengan pendapat Imamnya yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Muhammad Ibn Hasan Al-Syaibani dan Imam Abu Yusuf. Hal dipertegas dengan penjelasan DR. Sua’ib Al-Arnauth dalam tahqiq-nya pada kitab Syarh Musykil Al-Atsar, mengenai perpindahan Imam Ath-Thohawi dari Mahdzab Syafi’I ke Mahdzab Abu Hanifah (Lihat Syarh Musykil Al-Atsar oleh Imam Abu Ja’far Ath-Thohawi jilid 1\hal. 29-30). Dimana mereka (yaitu para Ulama yang bermahdzab Hanafiyah) menganggap hadis ahad tidak menghasilkan kepastian\qoth’I tetapi hanya menghasilkan dugaan keras\dzon rajih (lihat kembali pendapat para Ulama Hanafiyah –pent). Ini adalah pendapat dari mayoritas Ulama Hanafiyah seperti Imam Issa ibn Aban (w. 220 H), Imam Ali ibn Musa al – Qummi (w. 305 H), Imam At-Thobari (w. 310 H), Imam Al-Karabasi Al-Najafi (W. 322 H), Imam Abdul Qohir Al-Baghdadi (w. abad 5 H), Imam Ibn Athir Al-Jazari (w. 606) dalam (Al-Nihayah fi Gharib Al-Hadis), Imam Al-Izz Ibn Abd Al-Salam (w. 660 H), Imam Ala Al-Din Ibn Abidin (w. 1306 H), Imam Al-Sarkhasi (w. 483) dalam (Al-Usul Al-Sarkhasi juz 1\hal. 112, 321-333). Sedang menurut mayoritas Ulama Ahli hadis, hadis ahad dibagi menjadi beberapa tingkat yaitu:

A\-Ahad Mashur : Hadis yang diriwayatkan oleh 3 orang perawi atau lebih, tetapi tidak mencapai derajat mutawatir.

B\-Ahad Aziz : Hadis yang diriwayatkan oleh 2 orang dari 2 orang dalam seluruh Thobaqot sanad.

C\-Ahad Gharib : Hadis yang bersendirian saja seorang perawi dalam meriwayatkan hadis (Lihat Kitab Taisir Mustholah Al-Hadis hal. 22-25 Oleh DR. Mahmud Ath-Thohan) (Lihat juga makalah kami yang berjudul “Sekali Lagi tentang Hadis Ahad” –pent).


2- Shubhat Kedua : Mereka menyatakan bahwa pembagian hadis Mutawatir-Ahad dilakukan oleh para ulama ahli kalam, sehingga kita tidak perlu mendengar pendapat para ulama tentang hadis ahad, karena bagi mereka yang ada hanya hadis shohih dan dho’if ?


Kami menjawab :

a- pertanyaan ini datang dari mereka yang kurang memahami sejarah perkembangan Ilmu Hadis. Dan lagi pertanyaan seperti ini tidak harus dijawab karena tidak akan menghasilkan apa-apa, sebab jumhur ulama baik ahli kalam atau tidak; ahli hadis atau ahli fiqh telah sepakat menerima pembagian hadis menjadi Mutawatir-ahad berdasarkan jumlah perawinya. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Dr. Muhammad Wafa’ bahwa “mayoritas ulama telah sepakat dengan pembagian hadis Rasul SAW menjadi Muatawatir-Ahad. Namun ulama Hanafiyah menambah satu pembagian lagi yakni Hadis Masyhur” (Lihat kitab Ta’arudh Al-Adilati As-Syar’iyahi min Al-Kitabi Wa As-Sunnahi Wa At-Tarjihu bainaha, hal. 70; juga lihat kitab yang lain seperti Al-Mustashfa, juz 1\hal. 145; Syarh Al-Asnawi juz 2\hal. 214; Irsyad Al-Fuhul hal. 46; Hasyiyat Al-Athar ala Syarh Al-Mahalli juz 2\hal. 146; juga lihat pendapat para Ulama Hanafiyah dalam At-Talwih ala At-Taudhih juz2\hal. 302; At-Taqrir wa At-Tahbir juz 2\hal. 235-236; Kasyf Al-Asrar an ushul Al-Bazdawi juz 2\hal. 360; juga lihat referensi baru seperti Ushul Al-Fiqh Al-Islami, Dr. Wahbah Zuhaili juz. 1\hal. 451; Ushul Al-Fiqh, Syeikh Al-Khudhari , hal. 214-215; Ushul Al-Fiqh, Syeikh Muhammad Abu Zahra, hal. 83-84; Ushul Al-Fiqh, Syeikh Musthafa Syalbi, hal. 139)

b- Tentang tuduhan mereka bahwa pembagian ini adalah hasil rekayasa Ahli Kalam, Kami bertanya apakah Para Ulama seperti Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’I, Imam Malik, Imam Ahmad bin Hambal, Imam Bukhori, Imam Muslim, Al-Hafidz Ibn Hajar Al-Asqolani, Al-Hafidz Jalaludin As-Suyuti, Al-Hafidz Ibn Sholah, Imam Nawawi, Imam Ibn Abdil Bar, Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, Imam Syaukani, Al-Hafidz Al-Iroqi dll adalah ahli kalam karena mereka menerima pembagian hadis menjadi Mutawatir-Ahad !!!! Bukankan Imam Syafi’I juga menulis dalam kitabnya ‘’Ar-Risalah” satu bab khusus yang membahas tentang hadis Ahad, hal yang sama juga dilakukan oleh para imam yang lain. Sungguh ini merupakan pelecehan berat yang dilakukan oleh ‘para pelajar’ terhadap para Ulama, sebagaimana disinyalir oleh Imam Ibn Al-Muqaffa’ ketika menjelaskan tentang Al-Haq, beliau berkata : “ Aku tidak tahu ada siapa yang lebih dangkal pemahamannya terhadap agamanya, selain orang-orang mengambil pendapatnya sendiri (yang menyelisi Al-Kitab dan As-Sunnah-pent) dan orang lain sebagai orang yang bertaqlid (mengambil pendapat tanpa meneliti dalilnya terlebih dahulu-pent) dalam masalah-masalah agama” .

c- Mereka menyatakan bahwa pembagian ini dilakukan hanya oleh ahli kalam. Kami katakan bahwa pendapat seperti tidak ada asalnya (La Ashla lahu). Silahkan mereka untuk membuka kitab-kitab Ulumul Hadis seperti :

- Tadribu Al-Rawi fi Syarhi Taqrib An-Nawawi, oleh Imam Suyuti

- Taqrib li An-Nawawi ma’a Syarhihi At-Tadrib, tahqiq Imam Abdul Wahab Abdul Lathif

- Ar-Risalah Al-Mustarafah li bayani masyhur Kitab Al-Sunnah Al-Musyrifah, oleh Imam Katani

- Ulum Al-Hadis , oleh Imam Ibn Sholah

- Fathu Al-Mughis Syarh Alfiyah Al-Hadis, Oleh Imam Sakhowi

- Al-Kifayah fi Ilmi Ar-Riwayah , Oleh Imam al-Khotib Al-Baghdadi (juz 1\hal. 17)

- Nukhbatu Al-fikr ma’a Syarhiha Nuzhatu An-Nadzor, oleh Al-Hafidz Ibn Hajar

- Taisir Mustholah Al-Hadis oleh DR. Mahmud Ath-Thohhan

- Ulum Al-Hadis oleh DR. Nuruddin Al-Itr

- Ushul Al-Hadis oleh DR. Muhammad Ajij Al-Khotib , dll

Apakah ada diantara mereka yang tidak membagi hadis menjadi Mutawatir-Ahad berdasarkan jumlah perawinya. Sadarlah wahai orang-orang yang berakal !!!!


3- Shubhat Ketiga : Mereka mengklaim dirinya adalah orang yang paling mengerti tentang hadis Rasul SAW, karena semua Syeikh-syeikh mereka adalah Ahli Hadis (Muhaddis) ?

Kami menjawab : Semua orang boleh melakukan klaim, tetapi semua itu harus dibuktikan terlebih dahulu. Coba perhatikan penjelasan Imam Sakhowi tentang siapa Ahli Hadis (muhaddis) itu sebenarnya : “Menurut sebagian Imam hadis, orang yang disebut dengan Ahli Hadis (Muhaddis) adalah orang yang pernah menulis hadis, membaca, mendengar, dan menghafalkan, serta mengadakan rihlah (perjalanan) keberbagai tempat untuk mendapatkan hadis, mampu merumuskan beberapa aturan pokok (hadis), dan mengomentari cabang dari Kitab Musnad, Illat, Tarikh yang kurang lebih mencapai 1000 buah karangan”. Jika demikian (syarat-syarat ini terpenuhi –pent) maka tidak diingkari bahwa dirinya adalah ahli hadis. Tetapi jika ia sudah mengenakan jubah pada kepalanya, dan berkumpul dengan para penguasa pada masanya, atau menghalalkan (dirinya memakai-pent ) perhiasan lu’lu (permata-pent) dan marjan atau memakai pakaian yang berlebihan (pakaian yang berwarna-warni –pent). Dan hanya mempelajari hadis Al-Ifki wa Al-Butan. Maka ia telah merusak harga dirinya ,bahkan ia tidak memahami apa yang dibicarakan kepadanya, baik dari juz atau kitab asalnya. Ia tidak pantas menyandang gelar seorang Muhaddis bahkan ia bukan manusia. Karena dengan kebodohannya ia telah memakan sesuatu yang haram. Jika ia menghalalkannya maka ia telah keluar dari Agama Islam (Lihat Fathu Al-Mughis li Al-Sakhowi, juz 1\hal. 40-41). Sehingga yang layak menyandang gelar ini adalah Muhaddis generasi awal seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Nasa’I, Imam Ibn Majah, Imam Daruquthni, Imam Al-Hakim Naisaburi ,Imam Ibn Hibban dll. Sehingga apakah tidak terlalu berlebihan (atau bahkan termasuk Ghuluw –pent) dengan menyamakan mereka (Imam Bukhari, Imam Muslim, imam Abu Dawud dkk –pent) dengan syeikh-syeikh mereka yang tidak pernah menulis hadis, membaca, mendengar, menghafal, meriwayatkan, melakukan perjalanan mencari hadis atau bahkan memberikan kontribusi pada perkembangan Ilmu hadis yang mencapai seribu karangan lebih ?!?!


4- Shubhat Keempat : Mereka mengklaim bahwa dirinyalah yang paling mengerti Sunnah dan paling layak untuk menafsirkan kandungan-kandungannya. Karena (menurut mereka–pent) mereka telah menghabiskan banyak waktu untuk melakukan takhrij dan tahqiq terhadap hadis-hadis Rasul SAW dalam berbagai kitab hadis ?

Kami menjawab : Penelitian hadis tidak sebatas men-takhrij sebuah hadis lalu selesai permasalahannya. Banyak hal lain yang perlu diperhatikan untuk dapat menggali hukum-hukum yang dikandungnya sehingga ia (proses istimbath –pent) membutuhkan ilmu tentang bahasa arab (Nahwu-Shorrof, Balaghoh, faidah yang dapat dipetik dari sebuah kata seperti faedah huruf fa’, wau dll), Ilmu Ushul Fiqh ( dapat membedakan dalil yang Amm dengan yang Khos, yang Mutlaq dengan yang Muqoyyad, yang Amr dengan yang Nahi , kalimat musytarak dengan yang tidak , dalil yang memiliki Illat dengan yang tidak dll), Ilmu Ulum Al-Qur’an (seperti macam-macam qiraat, sabab an-Nuzul dll), Ilmu Nasikh-Mansukh, Metode tarjih (jika dalil-dalil yang terlihat saling bertentangan dll), dan banyak ilmu-ilmu lainnya selain ilmu hadis itu sendiri. Sehingga seringkali seorang membawa hadis kepada orang yang lebih faqih darinya (menguasai ilmu untuk melakukan Ijtihad- pent) sebagaimana pernah disinggung dalam sebuah hadis rasul : ” Seringkali seorang membawa hadis\ilmu pada orang yang lebih faqih darinya ” (HR. Bukhori). Dan perhatikan keterangan dari para ulama berikut (bahwa masalah ini tidak sesederhana apa yang mereka klaimkan) :

- Syeikh Abdul Ghofar seorang ahli hadis yang bermahdzab Hanafi menukil pendapat Ibn Asy-Syihhah ditambah syarat dari Ibn Abidin Dalam Hasyiyah-nya, yang dirangkum dalam bukunya Daf’ Al-Auham An-Masalah AlQira’af Khalf Al-Imam, hal. 15 : ‘’ Kita melihat pada masa kita, banyak orang yang mengaku berilmu padahal dirinya tertipu. Ia merasa dirinya diatas awan ,padahal ia berada dilembah yang dalam. Boleh jadi ia telah mengkaji salah satu kitab dari enam kitab hadis (kutub As-Sittah), dan ia menemukan satu hadis yang bertentangan dengan madzab Abu Hanifah, lalu berkata buanglah madzab Abu Hanifah ke dinding dan ambil hadis Rasul SAW’’. Padahal hadis ini telah mansukh atau bertentangan dengan hadis yang sanadnya lebih kuat dan sebab lainnya sehingga hilanglah kewajiban mengamalkannya. Dan dia tidak mengetahui. Bila pengamalan hadis seperti ini diserahkan secara mutlak kepadanya maka ia akan tersesat dalam banyak masalah dan tentunya akan menyesatkan banyak orang ‘’.

- Al-Hafidz Ibn Abdil Barr meriwayatkan dalam Jami’ Bayan Al-Ilmu, juz 2\hal. 130, dengan sanadnya sampai kepada Al-Qodhi Al-Mujtahid Ibn Laila bahwa ia berkata : ’’ Seorang tidak dianggap memahami hadis kalau ia mengetahui mana hadis yang harus diambil dan mana yang harus ditinggalkan ’’ .

- Al-Alamah Al-Kautsari mengatakan : ’’ Banyak terjadi pada banyak rawi yang tidak menguasai fiqh dan tidak dapat membedakan mana hadis yang harus diamalkan dan mana yang tidak ’’ .

- Al-Qodhi Iyadh dalam Tartib Al-Madarik, juz 2\hal. 427; Ibn Wahab berkata : ‘’ Kalau saja Allah tidak menyelamatkanku melalui Malik Dan Laits, maka tersesatlah aku. Ketika ditanya, mengapa begitu, ia menjawab, ‘Aku banyak menemukan hadis dan itu membingungkanku. Lalu aku menyampaikannya pada Malik dan Laits, maka mereka berkata : ‘’ Ambillah dan tinggalkan itu ’’ .

- Imam Malik berpesan kepada kedua keponakannya (Abu Bakar dan Ismail, putra Abi Uwais); ’’Bukankah kalian menyukai hal ini (mengumpulkan dan mendengarkan hadis) serta mempelajarinya ?, Mereka menjawab : ‘Ya’ , Beliau berkata : Jika kalian ingin mengambil manfaat dari hadis ini dan Allah menjadikannya bermanfaat bagi kalian, maka kurangilah kebiasaan kalian dan pelajarilah lebih dalam ‘’. Seperti ini pula Al-Khatib meriwayatkan dengan sanadnya dalam Al-Faqih wa Al-Mutafaqih juz II\hal. 28.

- Al-Khotib meriwayatkan dalam kitabnya Faqih wa Al-Mutafaqih, juz II\hal. 15-19, duatu pembicaraan yang panjang dari Imam Al-Muzniy, pewaris ilmu Imam Syafi’i. Pada bagian akhir Al-Muzniy berkata : ’’ Perhatikan hadis yang kalian kumpulkan.Tuntutlah Ilmu dari para fuqoha agar kalian menjadi ahli fiqh ’’.

- Dalam kitab Tartib Al-Madarik juz I\hal. 66, dengan penjelasan yang panjang dari para Ulama Salaf tentang sikap mereka terhadap As-Sunnah, a.l :

Umar bin Khotab berkata diatas mimbar: ’’ Akan kuadukan kepada Allah orang yang meriwayatkan hadis yang bertentangan dengan yang diamalkan ’’.

Imam Malik berkata :’’ Para Ahli Ilmu dari kalangan Tabi’in telah menyampaikan hadis-hadis, lalu disampaikan kepada mereka hadis dari orang lain, maka mereka menjawab : “Bukannya kami tidak tahu tentang hal ini. Tetapi pengamalannya yang benar adalah tidak seperti ini ‘’.

Ibn Hazm berkata: Abu Darda’ pernah ditanya :’’ Sesungguhnya telah sampai kepadaku hadis begini dan begitu (berbeda dengan pendapatnya-pent). Maka ia menjawab:’’ saya pernah mendengarnya, tetapi aku menyaksikan pengamalannya tidak seperti itu”.

Ibn Abi zanad , ‘’Umar bin Abdul Aziz mengumpulkan para Ulama dan Fuqoha untuk menanyai mereka tentang sunnah dan hokum-hukum yang diamalkan agar beliau dapat menetapkan. Sedang hadis yang tidak diamalkan akan beliau tinggalkan, walaupun diriwayatkan dari para perawi yang terpercaya’’. Demikian perkataan Qodhi Iyadh.

- Al- Hafidz Ibn Rajab Al-Hambali dalam Kitabnya Fadhl ‘Ilm As-Salaf ala Kholaf\hal.9, berkata : ” Para Imam dan Fuqoha Ahli Hadis sesungguhnya mengikuti hadis shohih jika hadis itu diamalkan dikalangan para Sahabat atau generasi sesudahnya, atau sebagian dari mereka. Adapun yang disepakati untuk ditinggalkan, maka tidak boleh diamalkan, karena tidak akan meninggalkan sesuatu kecuali atas dasar pengetahuan bahwa ia memang tidak diamalkan ’’ .

Oleh karena itu Dr. Muhammad ‘Awwamah berkata dalam kitab Atsar Al-Hadis Asy-Syarif fi Ikhtilafi Al-Aimmah Al-Fuqoha ra. (terjemah dengan judul ‘Melacak Akar Perbedaan Madzhab’) pada hal. 46 : ‘’ Kelayakan pengamalan sebuah hadis terjadi setelah sempurna sanad dan redaksinya dengan syarat yang banyak. Diantaranya syarat-syarat Haditsiyah dan Ushuliyah. Sehingga persoalannya tidak hanya berhenti pada pandangan tentang para perawi hadis (rijal Al-Isnad) yang terdapat dalam kitab Taqrib At-Tahdzib sebagaimana disangkakan banyak orang pada masa ini ” . Dan hanya orang yang diberi petunjuk oleh Allah melalui bimbingan para Ulama yang terpercayalah yang akan selamat dari fitnah yang diciptakan oleh orang-orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya !?!!


5-Shubhat Kelima : Mereka mengklaim bahwa pembagian akal yang benar adalah menjadi akal Haqiqi dan akal Majazi ?!?

Kami menjawab : Model pembagian seperti ini mirip dengan pembagian para filosof seperti Al-Farabi dan Ibn Sina ketika mereka membagi akal menjadi akal aktif (Al-Aql Al-Fa’al), akal pasif (Al-Aql bi Al-Munfa’il), akal daya (Al-Aql bi Al-Quwwah), akal inti (Al-Aql Al-Hayula) (Lihat Kitab As-Siyasah li Al-Farabi hal. 23; Risalah fi Al-Uqul li Ibn Sina hal. 418). Kemudian namanya dirubah menjadi “akal haqiqi dan akal majazi” , yang pada hakekatnya adalah pemikiran-pemikiran filsafat. Dan yang lebih berbahaya lagi adalah tatkala model pembagian ala filsafat ini dibumbui dengan sejumlah dalil yang dita’wil sedemikian rupa untuk mengelabui para pembaca, sehingga seakan-akan pembagian seperti ini dilegalisasi oleh Islam, padahal yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Islam sama sekali. Bahkan para Ulama seperti Ibn Taimiyah, Imam Syafi’I, Imam Ahmad dll, telah membantah habis kesesatan ide dan pemikiran yang digagas oleh para ahli kalam dan filosof, serta mengingatkan umat agar tidak terjebak dengan fitnah ilmu kalam dan filsafat yang telah menyesatkan banyak orang dari umat ini (lihat kitab Ushul Ad-Dien oleh Abdul Qodir Al-Baghdadi hal. 308; Al-Ushul wa Al-Furu’ oleh Ibn Hazm jilid 2\hal. 196; Syarah Ath-Thohawiyah oleh Ibn Abi Al-Izzi hal. 9-10; Manahij Al-Bahsi oleh Al-Nasyar hal 114-220). Sehingga menjadi jelaslah bagi orang-orang yang berakal bahwa kelompok yang senang memberi label kelompok yang tidak sefaham dengannya sebagai pengikut ilmu kalam dan filsafat, ternyata dirinya sendiri banyak terjebak dengan pemikiran-pemikiran kalam itu sendiri, termasuk ketika mereka membuat kesimpulan dengan akalnya dengan menyatakan tidak menjadikan hadis ahad sebagai dalil dalam masalah aqidah berarti telah membuang banyak masalah yang berhubungan aqidah. Hal itu pada hakekatnya adalah permainan akal para filosof semata !!! .


6- Shubhat Keenam : Mereka menuduh para aktivis dari pergerakan islam itu, berdakwah tanpa bekal ilmu yang memadai, bahkan kosong dari ilmu. Dan hanya mereka yang pantas untuk membicarakan dan membina umat dengan Dien Islam ?1?

Kami Menjawab : Kami sekarang ingin bertanya kepada anda, ilmu seperti apa yang anda maksud. Apakah ilmu tentang Ilmu Tajwid dan ilmu Qira’aat, atau Ilmu Ulum Al-Qur’an dan cabang-cabangnya, atau Ilmu Ulum Al-Hadis dan cabang-cabangnya yang berjumlah puluhan itu, atau Ilmu ushul Fiqh yang membahas banyak masalah didalamnya, atau ilmu bahasa arab yang meliputi ilmu Nahwu , Shorrof, Balaghoh : Badi’ – Ma’ani – Bayan, atau Ilmu tentang Aqidah dan cabang-cabangnya dll. Apakah anda mengajarkan semua itu ! atau hanya sebatas membacakan bagian tertentu dari kitab para Ulama yang membahas tentang masalah ibadah mahdhah saja ditambah sedikit masalah-masalah akhlaq lalu memperbanyak perdebatan didalamnya, lalu anda katakan kepada para santri anda yang kebanyakan orang awam yang ikhlas itu, bahwa mereka telah mengusai Tsaqofah Islamiyah, sedang yang selain mereka tidak punya bekal seperti yang mereka punyai. Permainan seperti apa yang hendak anda lakukan untuk menggiring orang-orang yang ikhlas ini untuk memusuhi saudaranya. Anda telah mendorong mereka untuk berlaku congkak dan memandang rendah saudara mereka yang lain. Padahal anda tahu, hal itu adalah sangat bertentangan dengan Islam. Terlebih lagi para masyaikh yang menjadi guru besar berbagai Ilmu Dien di berbagai Universitas terkemuka di Timur Tengah seperti Al-Azhar, Az-Zaitun, Univ. Ibn Su’ud dll, adalah aktivis dari berbagai harokah Islam yang anda anggap tidak mempunyai Ilmu, sedang anda menukil pernyataan itu dari murid ‘Para Masyaikh’ ini. Kemudian “para murid” ini mengkritik dan mengatakan bahwa guru-gurunya dan harokah yang ia ikuti adalah tidak memiliki bekal ilmu yang memadai untuk berdakwah, laksana seorang murid TK yang mengkritik Profesor di sebuah Universitas ternama --- Siapa yang akan percaya dengan pernyataan “nyleneh” ---- seperti ini. Lalu kalau memang benar bahwa hanya andalah yang mengusai seluruh tsaqofah Islam, maka mana konsep anda tawarkan untuk mengatasi krisis keuangan, mana juga konsep anda untuk menangani masalah ketenagakerjaan, juga masalah pengelolaan sumber daya alam, masalah good and clean government, mana konsep anda tentang Bank Sentral ala Islam, dan konsep untuk menata ekonomi baik yang berskala makro atau mikro ekonomi berdasarkan Islam, juga tentang pendidikan, kesehatan, politik luar negeri, sistem pidana, perundang-undangan dll. Kalau anda tidak mempunyai itu semua dan anda tidak mampu untuk memberi jawaban atas berbagai problematika multidemensional yang dihadapi oleh umat ini, lalu untuk apa anda berteriak-teriak akan dapat menjadi juru selamat kalau tidak ada yang bisa anda gunakan untuk menyelamatkan umat ini. Anda dan kelompok anda seperti dalam pepatah arab yang mengatakan bahwa ‘Orang yang tidak mempunyai sesuatu, pasti ia tidak akan mampu memberi sesuatu itu’. Maka batal dan rontoklah shubhat yang dilontarkan oleh mereka ?!??


7- Shubhat Ketujuh : Mereka mengklaim bahwa pendapat mereka yang paling benar karena didukung oleh hadis-hadis shohih, sedang pendapat dari kebanyakan harokah Islam didukung oleh banyak hadis Dho’if, sehingga merekalah yang merasa paling layak membawa Ilmu Para Salafus Sholeh ?

Kami menjawab: Hal itu perlu dibuktikan lebih lanjut. Sehingga apa yang mereka klaimkan tetap menjadi klaim saja tanpa bukti. Kami katakan kepada mereka agar mereka bertanya kepada para Ahli Ilmu tentang kandungan hukum yang ada dalam hadis yang mereka bawa agar mereka tidak tersesat dalam pengamalannya. Perhatikan peringatan Al-Hafidz Ibn Abdil Barr berikut : ‘’ Dikatakan oleh Al-Qodhi Mundzir, bahwa Ibn Abdil Barr mencela dua golongan, yang pertama , golongan yang tenggelam dalam ro’yu dan berpaling dari Sunnah, dan kedua, golongan yang sombong yang berlagak pintar padahal bodoh (menyampaikan hadis, tetapi tidak mengetahui isinya –pent) (Dirangkum dari Jami’ Bayan Al-Ilm juz II\hal. 171). Syeikhul Islam Ibn Al-Qoyyim Al-Jawziyah berkata dalam Kitab I’lamu Al-Muwaqqi’in juz I\hal. 44, dari Imam Amad, bahwa beliau berkata:’’ Jika seseorang memiliki kitab karangan yang didalamnya termuat sabda Nabi SAW, perbedaan Sahabat dan Tabi’in, maka ia tidak boleh mengamalkan dan menetapkan sekehendak hatinya sebelum menanyakannya pada Ahli Ilmu, mana yang dapat diamalkan dan mana yang tidak dapat diamalkan, sehingga orang tersebut dapat mengamalkan dengan benar”. Dan Al-Hafidz Ibn Rajab mengutip perkataan Imam Mujtahid Sufyan Ats-Tsauri : ’’ Ada Hadis yang tidak dapat dijadikan sebagai dasar hukum ’’ (Lihat kitab Syarh Ilal At-Tirmidzi hal. 29). Sehingga berdasarkan penjelasan dari para Ulama ini maka batallah hujjah mereka !!!


9- Shubhat Kesembilan : Mereka Menyatakan bahwa tidak menjadikan hadis ahad sebagai dalil dalam masalah aqidah berarti telah membuang banyak masalah yang berhubungan aqidah seperti karakteristik surga dan neraka, Al-Haudh dll !!!

Kami menjawab : Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa keimanan cukup dibangun berdasarkan dalil dzonni saja, seperti menetapkan aqidah dengan hadis ahad. Menurut mereka, tidak menjadikan hadis ahad sebagai dalil dalam masalah aqidah merupakan rencana yang dapat membahayakan aqidah umat. Malah menurut mereka hal ini merupakan perbuatan nifaq, karena menurut pemahaman mereka , tidak menjadikan hadis ahad sebagai dalil dalam masalah aqidah berarti menerima sebagian aqidah dan meninggalkan sebagian lainnya. Pendapat dan kritikan diatas, menurut kami sangat membahayakan kelangsungan aqidah umat. Lebih jauh lagi, ia bertentangan dengan nash-nash yang terdapat dalam Al-Qur,an dan As-Sunnah. Selain itu juga bertentangan dengan pendapat mayoritas Ulama kaum Muslimin. Karena menetapkan sesuatu adalah bagian dari aqidah Islam atau bukan, tidak ditentukan berdasarkan akal atau perasaan kita dengan mengatakan bahwa ‘’ menurut akal saya atau perasaan saya, kok kira-kira ini bagian dari aqidah ‘’ , tidak sekali lagi tidak dapat dikatakan seperti itu, melainkan harus ditentukan berdasarkan dalil.

Tidak menjadikan hadis ahad sebagai dalil dalam masalah aqidah adalah sangat berbeda dengan mengingkari hadis ahad seperti yang dilakukan oleh Mu’tazilah. Mereka mengingkari kehujjahan hadis ahad karena menurut mereka tidak rasional. Mereka mengatakan: “ Apakah kalian menemukan di dalam kubur alat-alat untuk menyiksa seperti paku, gergaji, palu dll ”, dan tentu mereka (Muta’zilah) tidak akan menemukannya karena itu berkaitan dengan hal yang ghoib\ tidak dapat diindera kemudian mereka mengingkari hadis ahad tentang adzab qubur karena menurut mereka tidak rasional (Lihat Kitab Ar-Ruh Oleh Imam Ibn Al-Qoyyim Al-Jauziyah). Sedang mayoritas Ulama yang tidak menjadikan hadis Ahad sebagai dalil Aqidah adalah tidak mengingkari adanya adzab qubur, kedatangan Imam Al-Mahdi, Karakteristik Surga-Neraka, dan masalah ghoib lainnya yang diinformasikan dengan hadis ahad, tetapi mereka menduga dengan keras (Gholibatu Adz-Dzonn) tentang kebenaran semua itu walau tingkat keyakinannya tidak sampai derajat Qoth’I\Pasti (dengan pembenaran 100%), lalu sebagian besar diantara mereka tidak memasukkan hadis ahad dalam kajian Aqidah tetapi dimasukkan dalam pembahasan “At-Targib wa At-Tarhib”. Hal ini disebabkan jumhur Ulama dari berbagai disiplin ilmu Dien telah menetapkan derajat hadis ahad hanya menghasilkan dugaan keras saja tidak sampai derajat Yaqin. Sebagaimana yang dijelaskan oleh DR. Muhammad Ajaj Al-Khotib bahwa Jumhur Ulama Hanafiyah, Syafi’iyah dan Jumhur Mutakallimin dll menegaskan bahwa hadis ahad hanya memberi faedah dzon dan wajib diamalkan (dalam masalah hukum furu’\cabang –pent) (Lihat kitab Al-Ihkam li Ibn Hazm jilid 1\hal. 97, 108-122; Al-Mutashfa li Imam Al-Ghozali jilid 1\hal. 93-99; Al-Ihkam li Al-Amidi jilid 2\hal. 49-60). Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Muhammad Ibn Abdul Baqi Ibn Yusuf Al-Zarqonni, ketika ia menjelaskan tentang batalnya wudhu; karena menyentuh kemaluan tanpa penghalang. Hadis ini adalah dalil tentang penerimaan hadis ahad dan kebolehan berpegang pada dalil yang dzon (dalam masalah amal perbuatan atau hukum syara’, tetapi tidak dalam masalah aqidah -pent) (lihat Kitab Syarh Az-Zarqoni\jilid 1\hal. 126\Dar Al-Kitab Al-Ilmiyah\Beirut\1411 H --- Cetakan Pertama).

Imam Imam Muhammad ibn Ibrahim Ibn Jamaah menambahkan bahwa hadis ahad adalah semua hadis yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah perawi hadis Mutawatir. Dan ada yang berpendapat bahwa hadis ahad memberi faedah Dzon (Kitab Al-Minhal Ar-Rawi jilid 1\hal. 32\Dar Al-Fikr\ Dimsyaq – Siria \ 1406 H\ Cetakan Kedua).

Padahal masalah Aqidah karena merupakan sebuah kepastian maka ia harus dibangun dengan dalil-dalil yang memberikan kepastian pula dari dalil yang qoth’I tsubut (yaitu Al-Qur’an dan Hadis Mutawatir) dan qoth’I dalalah (penunjukan maknanya pasti sehingga tidak mungkin ditafsirkan kepada makna yang lain). Sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Hafidz Ibn Katsir (Tafsir Al-Qur’an Al-A’dzim juz I, hal. 40) : “ Imam yang telah ditentukan syara’ dan diserukan kepada seluruh kaum Muslimin adalah berupa I’tiqod, ucapan, dan perbuatan ” . Begitulah pendapat sebagian besar Imam-imam mahdzab. Malah menurut Imam Syafi’I, Imam Ahmad bin hambal, dan Abu Ubaidah, ia telah menjadi ijma’’. Dan diperkuat oleh Imam Ibn Mundzir dalam Lisanul Arab bahwa ‘’ Arti Imam adalah Tasdiq (pembenaran). Dalam kitab At-Tahdzib, disebutkan bahwa Iman adalah asal kata dari yang artinya ‘’Ia seorang Mu’min”. Dalam hal ini, para Ahli bahasa sepakat bahwa iman berarti tashdiq (pembenaran). Perhatikan firman Allah SWT sebagai berikut : ‘’Orang-orang arab badui itu berkata, Kami telah beriman. Katakan kepada mereka : ‘Kamu belum beriman’. Tetapi katakanlah ‘kami telah tunduk’ (QS. Al-Hujurat -14) “ .

Hal ini dilakukan oleh para Ulama dalam rangka menjaga kemurnian aqidah Islam dari bersih dari berbagai penyimpangan seperti aqidah yang dimiliki generasi yang terbaik yaitu generasi para Salafus Sholeh (generasi Shohabat, Tabi’in, dan Tabiut Tabi’in-pent) ( Lihat Kitab Radd ala Al-Kitab Ad-Da’wah Al-Islamiyah; Dr. Abdurrahman Al-Baghdadi , hal. 175 ).

Usaha untuk menggunakan dalil yang jelas untuk membangun Aqidah Umat Islam dengan jalan membatasinya pada dalil-dalil Qoth’I, harus terus kita lakukan. Dan untuk memberikan keyakinan tentang masalah ini marilah kita mengkaji argumentasi dari para Imam panutan umat untuk membantah mereka yang menyangkal prinsip yang mulia ini.

Salah satu argumentasi yang mereka ketengahkan untuk mendukung pendapat mereka adalah adanya klaim bahwa para Imam termasuk Imam Empat Madzab a.l: Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I dan Imam Ahmad bin Hambal, dimana mereka telah sepakat bahwa periwayatan secara Ahad (khobar Ahad-pent) memberikan pengetahuan yang pasti dan dapat digunakan sebagai dalil dalam masalah Aqidah. Dan apa yang sesungguhnya dikatakan para Imam bertentangan dengan klaim diatas. Faktanya tatkala kita membaca Kitab yang ditulis para Imam ini dan para muridnya dan para Ulama sesudahnya yang mengikuti jejak para Imam Ahlus Sunnah ini, akan mendapatkan bahwa mereka berpegang dengan pendapat yang menyatakan bahwa : “Khobar Ahad tidak memberikan pengetahuan yang pasti (dzon-pent)”, tetapi khobar ini memberikan pengetahuan minimal dugaan keras (dzon rajih), walaupun terbukti bahwa sanadnya shohih dan digunakan hanya sebagai dalil dalam masalah amal perbuatan, tetapi tidak dalam masalah aqidah.

Banyak orang telah menyatakan bahwa para Imam menerima hadis ahad sebagai dalil yang memberi kepastian (qoth’I-pent) dan digunakan sebagai dalil dalam masalah aqidah. Bagaimanapun apa yang telah mereka lakukan, jelas merupakan penukilan yang tidak sesuai dengan pernyataan para Imam khususnya Imam Empat Madzab. Para Imam ini membuat berbagai pernyataan berkaitan berkaitan dengan masalah khobar ahad, dalam rangka membantah pendapat kelompok-kelompok bid’ah pada masanya, yang telah menolak khobar ahad sebagai dalil secara keseluruhan baik dalam masalah aqidah atau masalah amal perbuatan. Untuk dapat memberikan gambaran yang sesungguhnya tentang posisi para Imam dalam masalah ini, kita harus mengkaji secara langsung dari kitab-kitab yang ditulis oleh para Imam ini dan para murid-muridnya yang terpercaya. Dimana mereka (murid para Imam-pent) mendengar dan mendapat penjelasan secara langsung dari para gurunya. Pemahaman mereka terhadap masalah ini (masalah khobar ahad-pent) merefleksikan pemahaman para gurunya, dan sudah seharusnya kita mempercayai pemahaman mereka lebih dari pemahaman kita sendiri setelah mengkaji dan mempelajari kitab para Ulama tersebut. Oleh karena itu marilah kita meneliti lebih dalam apa pendapat Imam panutan umat yang mewakili madzab-madzab ini dalam masalah hadis ahad sebagai berikut :

1- Imam Jalaludin Abdur Rahman bin Kamaludin As-Suyuti (w. 911 H) menyatakan :

‘’ hadis Ahad tidak Qoth’I dan tidak dapat dijadikan dalil dalam masalah Ushul atau Aqidah” (Tadrib Al-Rawi Fi Syarh Taqrib Al-Nawawi) dan juga lihat pada kitabnya yang lain (Al-Itqon Fi Ulum Al-Qur’an juz 1\hal. 77 dan juz 2\hal.5).

2- Al-Hafidz Ibn Hajar (w. 852 H) menyatakan dengan menukil pendapat Imam Yusuf Al-Kirmani bahwa : “ Hadis ahad tidak dijadikan dalil dalam masalah aqidah ’’ (Fathul Bari Juz 8, Bab Khobar Ahad).

3- Imam Abu Al-Hasan Saifudin Al-Amidi (w. 631), beliau berkata :

‘’ Bahwa masalah Aqidah ditetapkan berdasarkan dalil-dalil qoth’I, sedang masalah furu’ cukup ditetapkan dengan dalil-dalil dzoni ’’. Lalu menambahkan: ‘’ Barang siapa menolak Ijma ’’ (konsensus-pent) dalam masalah ini telah gugur pendapatnya, dengan adanya kasus pada masalah fatwa dan kesaksian. Perbedaan antara masalah Ushul dan furu’ adalah sangat jelas. Mereka yang menyamakan masalah ushul dan masalah furu’ berarti telah membuat hukum sendiri, hal ini adalah sesuatu yang mustahil dan hanya dilakukan oleh orang-orang yang sombong dan arogan ’’ (Lihat Al-Ihkam fi Ushuli Al-Ahkam Imam Al-Amidi juz I\hal. 71-72; Al-Ihkam fi Ushuli Al-Ahkam Imam Ibn Hazm juz I\hal. 114 -pent).

4- Imam Abi Muhammad Abdurrahim bin Hasan Al-Asnawi (w. 772 H), berkata :

“ Hadis Ahad hanya menghasilkan persangkaan saja. Allah SWT membolehkan hanya dalam massalah amaliyah (tasyri’), yang menjadi cabang-cabang agama, bukan masalah ilmiah seperti kaidah-kaidah pokok hukum agama” ( Syarh Asnawi Nihayah as-Saul Syarh Minhaju Al-Wushul Ila Ilmi Al-Ushul Al-Baidhawi, juz 1\hal. 214).

5- Imam Zainuddin bin Ibrahim Ibnu Najim (w. 970 H) menyatakan hal sama dengan Imam As-Sarkhasi bahwa hadis Ahad (Dzon Tsubut-pent) wajib diamalkan, tetapi tidak untuk masalah I’tiqod (Aqidah-pent) (Lihat Fath Al-Ghaffar Al-Ma’ruf bi Misykah Al-Anwari, juz 2\hal. 63).

6- Imam Al-Khobazi menyatakan hal yang tidak jauh berbeda dengan pendapat Imam As-Sarkhasi dan Imam Ibnu Najim tentang status hadis ahad ( Lihat Kitab Al-Mughni fi Al-Ushuli Al-fiqhi li Al-Khobazi, hal. 84).

7- Imam Kasani menyatakan :

“ Pendapat sebagian besar fukoha menerima hadis ahad yang terpercaya dan adil serta diamalkan dalam masalah tasyri’ kecuali masalah aqidah, sebab I’tiqod wajib dibangun dengan dalil-dalil yang qoth’I, yang tidak ada keraguan didalamnya, sementara masalah amal (tasyri’) cukup dengan dalil yang rajih (kuat) saja” ( Badaa’iu Shanaa’I juz 1\hal. 20).

8- Imam Abu Ishak Sya’tibi (w. 790 H) menyatakan :

“ Bahwa Ushul fiqh dalam agama harus dibangun dengan dalil-dalil qoth’I, bukannya dengan dalil-dalil dzoni. Seandainya boleh menjadikan dalil dzoni sebagai dalil dalam masalah Ushul seperti Ushul Fiqh maka juga membolehkan (hadis ahad-pent) sebagai dalil dalam masalah Ushul Ad-din (Aqidah –pent) dan hal ini jelas tidak diperbolehkan menuruj ijma’ (kesepakatan-pent). Karena masalah Ushul fiqh juga dinisbahkan dalam masalah Ushul Ad-din” (Al-Muwafaqat fi Ushuli Asy-Syar’iyah ).

9- Imam Muhammad Ibn Ahmad Ibn Sahl Abu Bakar Shams Al-A’ima Al-Sarkhasi (w. 483)

Imam besar Hanafiyah dan seorang Mujtahid, dalam kitabnya (Al-Usul Al-Sarkhasi juz 1\hal. 112, 321-333) membantah mereka yang menerima Khobar Ahad dalam masalah Aqidah. Beliau menerangkan hakikat dari Khobar Ahad dan perbedaan antara dalil Qoth’I dan dalil Dzonni sebagaimana perbedaaan pada Tabligh dan Khobar. Untuk mengilustrasikan beliau memberi contoh pada masalah adzab kubur.

10- Fakrudin Muhammad bin Umar bin Husain Ar-Razi (w. 606 H) mengilustrasikan poin berkaitan dengan hadis Ahad sebagai berikut : “ Saya katakan kepada seseorang bahwa hadis yang menyebutkan Ibrahim pernah berbohong sebanyak 3 kali, adalah tidak benar, karena jika hadis ini diterima, maka akan membuktikan Ibrahim sebagai seorang pendusta. Orang tersebut menyatakan bahwa para perawi hadis ini adalah perawi yang terpercaya (tsiqoh –pent) dan tidak dapat dinilai sebagai pendusta. Saya menjawab bahwa hadis ini, kalau kita terima akan membuktikan bahwa Ibrahim adalah seorang pendusta dan kalau ditolak berarti para perawi dianggap pendusta, dimana keterangan yang baik dan lebih disukai adalah untuk diberikan pada Ibrahim AS ” ( Lihat Tafsir Al-Kabir dan Al-Mahshul fi Ilmi Al-Ushul).

11- Imam Abdur Rauf Al-Manawi ketika beliau menjelaskan tentang masalah syafa’at menyatakan : “Masalah ini adalah bukan masalah amaliyah, sehingga tidak cukup dengan dalil dzon seperti yang faedah yang diberikan oleh hadis ahad …..’’ (Lihat Kitab Faidhul Qodhir jilid 4\hal. 163\Al-Maktabah Al-Jariyah Al-Kubra --- Mesir\ 1356 H\ Cetakan Pertama).

12- Imam Ibn Abdil Bar menyatakan : “ Kebanyakan ahli ilmu menyatakan bahwa hadis ahad mewajibkan amal (dalam masalah hukum furu’ –pent) tanpa ilmu (tidak sampai derajat yaqin sebagai dalil dalam masalah aqidah –pent). Ini adalah pendapat Imam Syafi’I dan mayoritas (jumhur) Ulama fiqh dan Nadzar “ (Kitab At-Tamhid Li Ibn Abdil Bar jilid 1\hal. 7 – 8) .

13- Imam Ibn Rusd menjelaskan bahwa para Ulama Kuffah menolak sebuah hadis kalau bertentangan dengan Ushul yang mutawatir, termasuk metode mereka ketika menolak hadis ahad tatkala menyelisihi Ushul yang mutawatir, dimana hadis ahad berfaedah dzon dan masalah ushul adalah keyakinan yang harus dibangun dengan dalil yang memberi keyakinan pula (yaitu hadis mutawatir –pent) (Lihat Kitab Bidayah Al-Mujtahid jilid 2\hal. 216\Dar Al-Fikr\ Beirut --- Libanon).

13- Imam Jamaluddin Al-Qosimi menyatakan : “ Sesungguhnya jumhur kaum muslimin dari kalangan sahabat, tabi’in, golongan setelah mereka dari kalangan fuqoha, ahli hadis, dan ulama ushul berpendapat bahwa hadis ahad yang terpercaya dapat dijadikan hujjah dalam masalah tasyri’ yang wajib diamalkan, tetapi hadis ahad ini hanya menghantarkan pada Dzon tidak sampai derajat ilmu (yakin)” ( Lihat Kitab Qawaidut Tahdis hal. 147-148).

14- Maulana M. Rahmatulah Kairanvi berkata tatkala membela hadis dan autentitasnya dari serangan para orientalis : “ Hadis Ahad adalah jenis hadis yang diriwayatkan dari seorang perawi kepada seorang perawi lainnya atau sekelompok perawi, atau sekelompok perawi kepada seorang perawi”. Selanjutnya beliau mengatakan bahwa: “Hadis Ahad tidak menghasilkan kepastian sebagaimana dua contoh diatas. Hadis ini tidak dapat dijadikan sebagai dalil dalam masalah aqidah, tetapi diterima sebagai dalil dalam masalah amaliyah praktis” (Lihat Kitab Izhar Al-Haq Oleh Maulana Kairanzi juz 4).

15- Prof. DR. Mukhtar Yahya dan Prof. DR. Fatchurrahman menegaskan bahwa Hadis ahad tidak dapat digunakan untuk menetapkan sesuatu yang berhubungan dengan aqidah dan tidak pula untuk menetapkan hukum wajibnya suatu amal (Lihat Buku Dasar-Dasar Pembinaan Hukum Fiqih Islam hal. 54).

16- Ust. Moh. Anwar Bc.Hk juga menegaskan bahwa para Muhaqqiqin menetapkan hadis ahad shohih diamalkan dalam bidang amaliyah baik masalah ubudiyah maupun masalah-masalah mu’amalah, tetapi tidak dalam masalah aqidah/keimanan karena keimanan\keyakinan harus ditegakkan atas dasar dalil yang Qoth’I, sedangkan hadis ahad hanya memberikan faedah Dzonni (Lihat Buku Ilmu Mustholah Hadits hal. 31) (Lihat juga makalah kami yang berjudul “Sekali Lagi tentang Hadis Ahad” –pent).


Sehingga kalau demikian jelas pendapat serta penjelasan mayoritas Para Ulama rabbani yang menjadi Panutan Umat dalam masalah ini, kemudian kami hendak bertanya, pendapat yang selama ini anda gembar-gemborkan itu sebenarnya dinukil dari siapa atau anda hanya sekedar menyelewengkan pendapat mereka untuk memenuhi nafsu permusuhan anda dengan orang atau kelompok yang seharusnya menjadi saudara seperjuangan untuk membina dan menyelamatkan umat ini dari kehancuran, bukan dengan menebar fitnah dan syahwat permusuhan !?!. Kembalilah ke jalan Al-Haq, Wahai orang-orang rindu akan kebenaran ?!?!

Bahkan dengan menerima hadis ahad dalam masalah aqidah akan menimbulkan beberapa permasalahan seperti contoh yang disampaikan oleh Syeikh Nashiruddin Al-Albani ketika menyampaikan hadis dari Ibn Abbas bahwa nabi SAW bersabda: “ Sesungguhnya makhluk yang pertama kali diciptakan Allah SWT adalah Al-Qolam. Dan Dia memerintahkan supaya menulis tiap-tiap sesuatu yang ada “ . Beliau mengomentari hadis ini dengan menyatakan: “ Al-Qolam adalah makhluk pertama yang diciptakan ……….Dan kurang tepat apa yang dikatakan oleh Ibn Taimiyah dalam menyanggah para Filosof, bahwa sesuatu yang baru (makhluk) itu tidak ada permulaannya baginya, ini tidak dapat diterima logika. Dalam hal ini para lawannya menuduh bahwa Ibn Taimiyah telah menganggap bahwa makhluk itu qodim dan tidak ada permulaan baginya. Padahal dipihak lain dia juga menegaskan bahwa tidak ada suatu makhluk melainkan ia didahului oleh adam (tidak ada). Namun bersamaan dengan itu dia juga mengatakan adanya kaitan sesuatu yang baru (hawadits) dengan sesuatu yang tidak memiliki permulaan baginya. Sebagaimana yang dia dan kawan-kawannya katakana bahwa makhluk itu tidak memiliki penghabisan (akhir). Pendapat ini jelas tidak dapat diterima. Bahkan bertentangan dengan hadis ini. Memang, sesungguhnya berbicara tentang filsafat adalah berbahaya. Akan tetapi benar apa yang dikatakan oleh Ibn Malik ra., bahwa setiap orang bisa menyanggah dan disanggah, kecuali penghuni kubur ini ( Rasul SAW) (Lihat terj. Silsilah Al-Ahadis Ash-Shohihah jilid I oleh Drs. H. Qodirun Nur, hadis no. 133, hal. 296-297). Kemudian kami ingin bertanya kepada anda, manakah pendapat yang akan anda ambil ? Kalau anda mengambil keduanya maka anda telah mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa pengetahuan ( karena berarti Allah menciptakan sesuatu yang baru (makhluk) itu yang tidak ada permulaan baginya dan pada saat bersamaan menciptakan Al-Qolam sebagai makhluk pertama). Sedang mengambil salah satu pendapat berarti menolak dan menyalahkan pendapat yang lain (berarti salah satu dari Imam Ibn Taimiyah atau Syeikh Albani telah menyimpang dalam masalah aqidah dalam perkara ini). Pertanyaannya, siapakah menurut anda yang telah menyimpang dalam masalah ini apakah Imam Ibn Taimiyah atau Syeikh Albani ?!?


10- Shubhat Kesepuluh : Ada sebagian orang menyatakan bahwa Imam Bukhori membolehkan menerima hadis ahad dalam masalah aqidah dan hal ini juga didukung oleh Ibn Hajar dalam Fath Al-Bari-nya ?!?

Kami menjawab : Pernyataan ini tidak ada asalnya (La Ashla lahu), bahkan ini merupakan penyimpangan dan pmelintiran dari pernyataan Imam Bukhori yang sesungguhnya. Imam Bukhori mempunyai sebuah bab dalam kitab shohih-nya yang terkenal yaitu Bab sesuatu yang datang tentang kebolehan hadis ahad sebagai dalil untuk masalah Adzan, Sholat, Shoum, Faraidh dan Ahkam ; titik dan tidak ada pernyataan dari Imam Bukhori tentang kebolehan hadis ahad sebagai dalil dalam masalah aqidah, baik tidak dalam kitab Shohih-nya atau dalam kitab-nya yang lain. Dan Al-Hafidz Ibn Hajar ketika menjelaskan kata “bi Al-Ijazah” menyatakan tentang kebolehan beramal (ahkam furu’iyah) dengan hadis ahad dan hadis ahad adalah hujah. Lalu dimana Ibn Hajar menyatakan tentang kehujjahan hadis ahad dalam masalah aqidah !!! Bahkan beliau menukil pendapat Imam Al-Kirmani menyatakan bahwa Hadis ahad adalah hujjah dalam masalah amaliyah, tidak dalam masalah I’tiqodiyah (Fathul Bari juz 13, Bab Akhbar Al-Ahad), beliau mengutip pendapat ini tanpa mengomentarinya, yang berarti belaiu cenderung untuk mengadopsi pendapat ini. Dan hal ini ditegaskan dengan sikap Al-Hafidz Ibn Hajar tentang nilai hadis ahad , beliau menyatakan bahwa “ Hadis ahad tidak berfaedah kecuali dzon, apabila tidak sampai derajat mutawatir (Fathul Bari, juz 13\hal. 238) dan beliau menambahkan bahwa hadis ahad adalah hujjah dalam masalah hukum ketika menjelaskan sebuah hadis tentang disunnahkan untuk berwudhu’ sekalipun sedang dalam perjalanan (safar) (Lihat Fathu Al-Bari’ juz 1\Hadis No. 200\hal. 308). Adalah hal yang sangat aneh adalah kalau orang yang mencoba menukil pendapat Ibn Hajar sebenarnya adalah orang yang sangat keras mengkritik pendapat Ibn Hajar dalam masalah Aqidah, mereka menulis beberapa kitab yang isi mengkritik dan memperingatkan umat Islam akan penyimpangan Ibn Hajar dalam masalah Aqidah, diantara:

- Al-Tanbih ala Al-Mukholalifat Al-Aqidah fi Fath Al-Bari oleh Syeikh Ibn Baz, Syeikh Sholeh Fauzan, Syeikh Abdullah ibn Mani’, Syeikh Abdullah Al-Naiman.

- Al-Akhtho’ Al-Asasiyah fi Al-Aqidah wa tauhid Al-Uluhiyah min kitab Fath Al-Bari bi Syarh Shohih Al-Bukhori oleh Syeikh Abdullah ibn Sa’di Al-Ghomidi.

Akan tetapi yang aneh adalah Syeikh Salim I’ed Al-Hilali kembali menukil pendapat Ibn Hajar dalam kitabnya Al-Adilah wa Asy-Syawahid ala Wujub Al-Akhdzi bi khobar Al-Wahid fi Al-Ahkam wa Al-Aqoid. Baru kali ini terjadi ada sekelompok orang yang memperingatkan penyimpangan Aqidah dari seorang Imam Hadis kepada umat Islam, lalu tetap menukil dan menggunakan pendapatnya dalam masalah Aqidah untuk mempertahankan pendapatnya yang lemah dan dibumbui dengan berbagai dalil yang digunakan tidak pada tempatnya (asal comot saja). Sehingga sunnah yang berasal dari Rasul SAW, Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut tabi’in menyatakan bahwa makna Syar’I yang umum adalah mencakup keseluruhan hukum baik yang berkenaan dengan masalah I’tiqodiyah dan masalah amaliyah seperti hukum wajib, Sunnah, Mubah dll sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibn Alan dalam Dalil Al-falih Syarh Riyadhus Sholihin ketika beliau menjelaskan hadis “Fa alaikum bi Sunnati” dengan Sunnah-ku yaitu Jalan-ku yang lurus yang berada diatasnya yang aku telah menjelaskan kepada kalian dari hukum-hukum I’tiqod maupun Amal yaitu wajib, sunnah, mubah dll. Sekarang adakah ulama yang tidak menggunakan Istilah I’tiqod dan Amaliyah Furuiyah, sehingga tuduhan penggunaan istilah I’tiqod dan Amaliyah Furuiyah adalah filsafat yang menyusup dalam Islam adalah tuduhan yang mengada-ada, tidak ada dasarnya dan khayalan dari orang yang suka mengkhayal. Coba juga periksa apakah Syaikhul Islam Ibn Taimiyah menolak pembagian masalah I’tiqod dan Furu’ dalam bukunya Majmu Al-Fatawa-nya yang terkenal itu atau dalam kitabnya yang lain, begitu juga apakah ada bukti yang menunjukkan bahwa Al-hafidz Ibn Hajjar, Al-Hafidz As-Suyuti, Al-Hafidz Al-Khotib Al-Baghdadi, Al-Hafidz Ibn Al-Jauzi, Al-Hafidz Adz-Dzahabi, Al-Hafidz Ibn Hajjar Al-Haitsami, Imam Shon’ani, Imam Nawawi , Imam Ibn Qudamah, Imam Al-Amidi dan para Ulama yang lain dari berbagai disiplin Ilmu Dien di dalam kitab-kitab mereka yang menolak pembagian Itiqod dan Furu’ dalam masalah Dien !?!


Bahkan Imam Abu Al-Hasan Saifudin Al-Amidi (w. 631), beliau berkata : ‘’ Bahwa masalah Aqidah ditetapkan berdasarkan dalil-dalil qoth’I, sedang masalah furu’ cukup ditetapkan dengan dalil-dalil dzoni ’’. Lalu ia menambahkan : ‘’ Barang siapa menolak Ijma ’’ (konsensus -pent) dalam masalah ini maka telah gugur pendapatnya, dengan adanya kasus pada masalah fatwa dan kesaksian. Perbedaan antara masalah Ushul dan furu’ adalah sangat jelas. Mereka yang menyamakan masalah ushul dan masalah furu’ berarti telah membuat hukum sendiri, hal ini adalah sesuatu yang mustahil dan hanya dilakukan oleh orang-orang yang sombong dan arogan ’’ (Lihat Al-Ihkam fi Ushuli Al-Ahkam Imam Al-Amidi juz I\hal. 71-72; Al-Ihkam fi Ushuli Al-Ahkam Imam Ibn Hazm juz I\hal. 114). Sehingga jelaslah bagi orang-orang yang berakal antara orang yang berpegang dengan Al-Haq dan orang yang mengaku-aku berpegang pada Al-Haq ?!?!


11- Syubhat Kesebelas : Ada pendapat yang menyatakan pembagian hadis menjadi Mutawatir ahad adalah sia-sia karena pada masa Shahabat mereka hanya menyakini apa yang disampaikan dari Rasul SAW tanpa melihat apakah hadis tsb Mutawatir – Ahad ?

Kami menjawab :

1- Pada masa Rasul SAW khobar ahad tidak pernah menjadi topik pembicaraan. Sehingga tidak perlu ada pembagian hadis ahad – mutawatir. Sebab mereka telah mendapat pengajaran langsung dari Rasul SAW tanpa melalui perantara dari orang selain mereka, yakni dari orang yang mendengar hadis langsung dari lisan Rasul SAW atau menyaksikan perbuatannya secara langsung.

2- Orang yang mendengar hadis langsung dari Rasul SAW atau menyaksikan perbuatannya secara langsung, bisa menjadi kafir jika ia menolak sabda Rasul atau menolak kandungan isinya, dengan jalan berdusta atau mengingkarinya. Dalam masalah ini para Ulama tidak berbeda pendapat.

3- Orang yang mendengar dari orang yang mendengar dari Rasul SAW, atau orang yang diberi informasi oleh orang-orang sebelumnya, misalnya tabi’ut tabi’in serta orang-orang setelah mereka, seperti kita saat ini , maka mereka wajib untuk mengkaji mata rantai, transmisi, ataupun silsilah yang menghubungkan dirinya dengan Rasul SAW untuk mengetahui kebenaran mata rantai tersebut. Jika para perawi sebagai perantara dari sebuah hadis terbukti kejujurannya dan kekuatan hafalannya atau bersesuaian dengan riwayat dari perawi terpercaya lainnya, lalu tidak terdapat syadz dan ilaat dalam redaksional hadisnya, maka kita harus menyakini bahwa sumber perkataan dan perbuatan tersebut adalah berasal dari Nabi SAW. Adapun jika trasmisi tersebut tidak dapat dibuktikan keabsahannya, atau tidak absah, maka dengan otomatis harus dilakukan tarjih. Artinya, dugaan bahwa sumber khobar tersebut berasal daari Rasul SAW lebih kuat dibanding dengan dugaan bahwa khobar tersebut tidak berasal dari Nabi SAW.

4- Bahwa Khobar ahad tidak bisa menghasilkan ilmu dan keyakinan merupakan kajian yang dapat dengan mudah difahami oleh orang yang berakal dan telah diketahui secara umum. Akal dapat membedakan antara khobar yang disampaikan kepada kita oleh individu secara perorangan (ahad), dengan khobar yang disampaikan kepada kita oleh sekelompok orang, dimana dengan jumlah tersebut, mustahil bagi mereka untuk menyampaikan berita yang salah, atau sepakat berdusta. Hal ini tidak hanya terbatas dalam masalah syari’at, tetapi juga berlaku umum, baik pada masalah syari’at ataupun masalah lainnya.

5- Pendapat yang menyatakan bahwa khobar ahad tidak dapat menghasilkan ilmu, kepastian , atau keyakinan, merupakan pendapat ulama-ulama yang terkemuka dan para ulama ushul. Baik kholaf maupun salaf. Dan ia bukan pendapat yang menyimpang dari pendapat para ulama salaf dan ulama kholaf. (Lihat kitab-kitab Ushul seperti : Kitab Kasyf Al-Asrar Ala Ushul Al-Fiqh, oleh Imam Al-Bazdawi I/690 ; Al-Mustashfa min ‘Ilm Ushul oleh Imam Ghozali hal. 93; Hasyiyah Nasmaat Al-Asrar ‘Ala Syarh Ifadhaat Al-Anwar oleh Ibn Abidin hal. 195; Syarh Jalal Al-Mihla ‘Ala Jam’I Al-Jawami’ oleh Imam As-Subki II\114; Raudhat Al-Nadzir wa Jannat Al- Munadhir fi Ushul Fiqh oleh Ibn Qudamah Al-Maqdisi I\260; Irsyad Al-Fuhul oleh Imam Asy-Syaukani hal. 42; Al-Talwih als Al-Audhih li Matan Al-Tanqih fi Ushul Al-Fiqh oleh Imam Ubaidillah Al-Bukhori II\3; Ghoyat Al-Wushul Syarh Lubb Al-Ushul fi syarh Mar’at Al-Wushul oleh Imam Mulla Khasru II\204; Muslim Tsubut oleh Ibnu ‘Abd Al-Syukur II\88).

6- Kemudian pendapat sebagian Ahli Hadis bahwa hadis ahad memberi faedah qoth’I merupakan kesalahan penafsiran, karena hal sebenarnya tidak seperti itu. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ghozali sbb: “ Tatkala sebuah hadis terbukti sebagai hadis Ahad, maka ini tidak berfaedah Ilmu\Dzoni dan masalah ini sudah diketahui dengan jelas dalam Islam (ma’lumun bi al-Dharuri)”. Lalu beliau melanjutkan penjelasannya : ‘’ Adapun pendapat para Ahli hadis bahwa ia (hadis Ahad-pent) adalah menghasilkan Ilmu\qoth’I adalah hadis Ahad yang wajib untuk diamalkan (dalam masalah hukum furu’iyah –pent) dan ketentuan ini ditetapkan berdasarkan dalil-dalil yang Qoth’I (yang menghasilkan Ilmu\qoth’I-pent)” (Lihat Kitab Al-Mustasfa min Ilm’ al-Ushul juz 1\hal 145-146 -pent). Lalu Imam Jamaluddin Al-Qosimi menambahkan : “ Sesungguhnya jumhur kaum muslimin dari kalangan sahabat, tabi’in, golongan setelah mereka dari kalangan fuqoha, ahli hadis, dan ulama ushul berpendapat bahwa hadis ahad yang terpercaya dapat dijadikan hujjah dalam masalah tasyri’ yang wajib diamalkan, tetapi hadis ahad ini hanya menghantarkan pada Dzon tidak sampai derajat ilmu (yakin)” (Lihat Kitab Qawaidut Tahdis hal. 147-148).


12- Syubhat Keduabelas : Ada sebagian orang berargumentasi bahwa penolakan para sahabat atas ayat al-Qur’an yang diriwayatkan secara ahad adalah untuk persatuan, bukan karena riwayat itu mutawatir !

Kami menjawab : Untuk menjawab tuduhan ini marilah kita menyimak beberapa riwayat yang menjelaskan masalah yang sebenarnya. Salah satunya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Anbary dalam Mashohifnya, dan Al-Hasan ,Ibn Sirrin, dan Zuhri dalam hadis yang panjang tentang pengumpulan Al-Qur’an, dimana Umar ra. menolak khobar dari Hafshoh ra. tentang tambahan lafadz pada Surat Al-Baqoroh ayat 238 karena ia tidak punya saksi (riwayatnya ahad). Begitu pada riwayat Aisyah ra. yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwatho’ tentang penghapusan ketentuan 10 isapan menjadi 5 isapan yang menyebabkan hubungan mahram, dan riwayat Ubay Ibn Ka’ab ra. yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Al-Hakim dan selain keduanya tentang kafarat budak. Riwayat-riwayat ini tidak dicantumkan oleh para Sahabat dalam Mushhaf Imam karena riwayat tersebut adalah Khobar Ahad dan mereka juga telah bersepakat bahwa riwayat-riwayat ini tidak memberi keyakinan yang pasti. Hal ini dipertegas oleh keterangan para ulama dalam menetapkan kriteria dan rukun qira’at yang dapat diterima (Lihat Al-Qira’at Ahkamuha wa Masdaruha oleh DR. Sya’ban Muhammad Ismail , Bab Anwa’a Al-Qira’at) sbb:

1- Sanadnya Mutawatir

2- Sesuai dengan Mushhaf Utsmani, walau hanya tersirat

3- Sesuai dengan salah satu kaedah bahasa arab (Lihat Al-Itqon jilid I\Hal. 129 Oleh Imam As-Suyuti , Penerbit Al-Halabi Kairo).


Persyaratan mutawatir ini adalah pendapat Jumhur Ulama baik ulama Ushuluddin, para imam madzab yang empat, para ahli hadis dan para ahli Qira’at. Mereka semua sepakat bahwa qira’at shohih atau yang diterima adalah qira’at yang mutawatir dan tidak menerima qira’at dengan sanad shohih (gadis ahad –pent) jika tidak mutawatir (Lihat Ghoitsun Naf’I fil Qiraa’at As-Sab’I hal. 9 oleh Imam Ash-Shafaaqasi, penerbit Maktabah At-Tijariyah Al-Kubra – Kairo). Imam An-Nuwairi menambahkan : ‘’ Meniadakan syarat mutawatir adalah Muhdas (sesuatu yang baru ), bertentangan dengan ijma’ para ahli fiqh, ahli hadis dan yang lain-lain. Sebab Al-Qur’an – menurut jumhur – adalah kalamullah yang diriwayatkan secara mutawatir dan ditulis didalam mushhaf. Semua yang menerima definisi ini pasti memberi syarat mutawatir, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibn Hajib. Sehingga menurut para Imam dam pemuka madzhab syarat mutawatir adalah sebuah keharusan. Mereka yang berpendapat seperti ini antara lain Abu Abdil Barr, Al-Azra’I, Ibn Athiyah, Az-Zarkhasi dan Al-Asnawi. Pendapat yang mensyaratkan mutawatir ini adalah ijma’ para Ahli Qira’at (Lihat Ithafu Fudhola Al-Basysr fi Al-Qira’at Al-Arba’ Asyar hal. 185 oleh Imam Ad-Dimyathi, Penerbit Al-Masyhad Al-Husaini – Kairo). Sehingga sanad yang shohih saja tidak cukup untuk diterimanya sebuah riwayat sebagai bagian dari Al-Qur’an, kalau tidak mencapai sanad Mutawatir. Imam Al-Khotib Al-Baghdadi menjelaskan bahwa riwayat yang mutawatir adalah periwayatan oleh banyak orang, dimana menurut adat, mustahil mereka untuk bersepakat melakukan dusta, mulai awal sanad sampai akhir sanad (Lihat kitab Al-Kifayah fi Al-Ilmi Ar-Riwayah hal. 50 oleh Imam Al-Khotib Al-Baghdadi). Dimana riwayat yang mutawatir ini memberi faedah ilmu (kepastian), dan merupakan dalil pokok untuk membangun Aqidah kaum muslimin. Dan sudah jelas bahwa para Sahabat dan generasi sesudahnya hanya menerima riwayat mutawatir dalam Mushhaf Imam, sedang Al-Qur’an adalah dalil utama dalam membangun keimanan. Bahkan Imam Ibn Al-Jaziri dan Al-Alamah Ibn As-Subki menegaskan : ‘’ Setiap muslim berhak untuk mendapat kasih sayang serta menyakinkan dirinya bahwa yang kami utarakan – tentang mutawatirnya qira’at Asyara’ – benar-benar mutawatir dan telah diketahui dengan yakin dan pasti, tidak ada keraguan dan tidak diragukan lagi (Lihat Kitab Tafsir Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an jilid I\hal. 46 oleh Al-Hafidz Al-Qurthubi, Penerbit Dar Al-Kutub Al-Mishriyah – Kairo). Kemudian Imam Al-Zamakhsari, menambahkan : “ Imam Malik Berpendapat barang siapa sholat dengan membaca Qira’at (bacaan –pent) Ibn Mas’ud yang tidak Mutawatir dan tidak termasuk Qira’at Para Shahabat, maka ia telah menyelisihi mushhaf (Mushhaf Imam yang mutawatir-pent) dan janganlah sholat dibelakangnya” (Al-Burhan Fi Ulumil Qur’an juz I\hal. 222). Wallahu A’lam bi Showab.


KHATIMAH :


Sebagai kata penutup , hendaknya semua pihak yang berbeda pendapat termasuk dalam masalah hukum hadis ahad ini tidak menjadikan perbedaan-perbedaan tersebut sebagai sumber konflik yang berkepanjangan yang ujung-ujungnya akan merusak ikatan ukhuwah yang sedang coba kita rajut saat ini. Sebagaimana penjelasan Imam Al-Qurtubi ketika menjelaskan firman Allah SWT : “ Dan ingatkan ketika Kami memberikan kepada kalian ni’mat persaudaraan, dan melembutkan hati kalian” (Surat Ali Imran - ayat 103). Beliau menyatakan bahwa ayat ini tidak menunjukkan keharaman untuk perbedaan dalam masalah hukum-hukum cabang. Dengan cacatan pendapat-pendapat tersebut memiliki landasan dari sumber hukum Islam yang legal seperti Al-Qur’an, As-Sunnah , Ijma Shohabat dan Qiyas dengan Illat yang Syar’i. Kita bisa melihat bagaimana perilaku para salafus shaleh dalam menyikapi perbedaan yang terjadi diantara mereka, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyah berikut : “ Kaum Muslimin sepakat mengenai kebolehan sholat sebagian mereka dibelakang yang lainnya. Adalah para Shahabat dan Tabi’in dan generasi sesudah mereka dari Imam yang empat , sholat sebagian dibelakang sebagian yang lainnya. Misalnya Imam Abu Hanifah dan sahabat-sahabatnya dan Imam Syafi’i dan selainnya sholat dibelakang imam-imam di Madinah dari Ulama Malikiyah dan mereka tidak membaca bismilah baik dipelankan (sirr) maupun dikeraskan (jahr). Abu Yusuf sholat dibelakang Imam Al-Rasyid yang sedang berbekam. Dan Imam Ahmad memandang keharusan orang yang berbekam untuk wudlu’, kemudian ada seseorang yang bertanya kepadanya: Bagaimana dengan seorang imam sholat yang darinya mengeluarkan darah (sedang berbekam) dan belum berwudlu’, Apakah kita boleh sholat dibelakang mereka ?. Imam Ahmad menjawab: ” Apa yang menghalangimu untuk sholat dibelakang Sa’id Ibn Musayyab dan Imam Malik ?” (Imam Al-Manfur, Fawakihul Adidah\juz 2\hal.171). Dari sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa ikhtilaf fiqhiyah harus disikapi dengan akhlakul karimah dan ilmu. Bukan dengan kebencian dan permusuhan yang sangat dilarang dalam Islam (Dr. Thoha Jabir Al-Ulwani, Adab Al-Ikhtilaf\Bab Khotimah). Wallahu A’lam bi Showab .
Oleh : Muhammad Lazuardi Al-jawi

Site Info

 

Assyafii Copyright © 2009 DarkfolioZ is Designed by Bie Blogger Template for Ipietoon