<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844</id><updated>2012-01-10T00:55:34.729-08:00</updated><category term='Menjawab Fitnah'/><category term='Fiqh'/><category term='halaqah'/><category term='koreksi'/><category term='Dalil-Dalil'/><category term='tokoh'/><title type='text'>Assyafii</title><subtitle type='html'>Mengembalikan Kehidupan Islam</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>85</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-5073103632796879404</id><published>2011-04-04T08:32:00.000-07:00</published><updated>2011-04-04T16:25:01.915-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='koreksi'/><title type='text'>Tinggalkan Semua Firqah Yang Ada?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;عن حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ يَقُولُ كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا فَقَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Artinya: Dari Huzhaifah bin Al-Yaman berkata:” manusia biasa bertanya pada Rasulullah SAW tentang kebaikan, sedang aku bertanya kepada beliau tentang kejahatan, karena khawatir akan mengenaiku”. Saya berkata: “Wahai Rasulullah SAW apakah kami dahulu dimasa Jahiliyah dan penuh kejahatan, kemudian Allah mendatangkan dengan kebaikan ini (Islam). Apakah setelah kebaikan ini adalagi keburukan”. Rasul SAW menjawab:”Ya”. Apakah setelah keburukan itu ada kebaikan”. Rasul SAW menjawab:”Ya, tetapi ada polusinya”. “Apa polusinya?”. Rasul menjawab:” Kaum yang mengambil hidayah dengan hidayah yang bukan dariku, engkau kenali dan engkau ingkari”. Saya berkata:” Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan?”. Rasul SAW menjawab:” Ya, para penyeru ke neraka jahanam, barangsiapa yang menyambut mereka ke neraka maka mereka melamparkannya ke dalam neraka”. Saya berkata:” Ya Rasulullah SAW, terangkan ciri mereka pada kami?”. Rasul SAW menjawab:” (kulit) mereka sama dengan kulit kita, berbicara sesuai bahasa kita”. Saya berkata:” Apa yang engkau perintahkan padaku jika aku menjumpai hal itu?” Rasul SAW bersabda:” Komitmen dengan jamaah muslimin dan imamnya”. Saya berkata:” Jika tidak ada pada mereka jamaah dan imam?” Rasul menjawab:” tinggalkan semua firqah itu, walaupun engkau harus menggigit akar pohon sampai menjumpai kematian dan engkau tetap dalam kondisi tersebut” (HR Bukhari dan Muslim)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hadits diatas sering digunakan oleh kelompok salafy sebagai hujjah mengharamkan semua kelompok. Mereka mengutip pada kalimat  :” tinggalkan semua firqah itu, walaupun engkau harus menggigit akar pohon sampai menjumpai kematian dan engkau tetap dalam kondisi tersebut”. Dan keadaan yang diprediksikan hadits itu telah terjadi saat ini, dimana kaum muslimin sudah tidak memiliki jamaah/khilafah dan imam/khilafah. Jadi menurut mereka, saat ini yang harus kita lakukan adalah menghindar dari semua kelompok yang ada.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal pertama yang harus dipahami dari hadits diatas adalah apa yang dimaksud dengan “jamaah” dan “imam”?. Dalam memaknai hal ini saya dan salafy sepakat, bahwa yang dimaksud dengan jamaah adalah jamaah dimana kaum muslimin bersatu didalamnya. Jamaah yang menyatukan kaum muslimin diseluruh dunia, dan itu tidak lain adalah khilafah islamiyyah. Sementara imam adalah sebutan dari pemimpin dari jamaah itu, kata imam disini menegaskan bahwa jamaah kaum muslimin itu hanya dipimpin oleh satu imam, tidak bisa dua imam. Itulah mengapa Rasulullah melarang kaum muslimin memiliki 2 imam(1).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal kedua, harus dipahami zaman-zaman pada hadits diatas secara berurutan, mulai dari zaman pertama yang diramalkan hingga akhir hadits itu. Zaman pertama (dalam hadits itu) adalah zaman jahiliyah, lalu datang kebenaran islam menyelamatkan manusia dari kegelapan jahiliah menuju cahaya islam, dan ini tidak ada keraguan sedikit pun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Zaman kedua adalah datangnya keburukan setelah kebaikan, seperti diungkapkan dalam hadit diatas: “Apakah setelah kebaikan ini adalagi keburukan”. Rasul SAW menjawab:”Ya”. Kita semua tahu bahwa Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk mengikuti sunnahnya dan sunnah khulafa rasyidin (2), artinya tidak mungkin zaman keburukan yang disebutkan dalam hadits ini terjadi diantara masa-masa kenabian maupun pada masa-masa khulafa rasyidin. Kita lihat sendiri bahwa pelaksanaan islam sangat sempurna dimasa kenabian maupun masa khulafa rasyidin, baik dari segi individunya, masyarakatnya, maupun negaranya. Meski ada beberapa pemberontakan, aliran sesat, dan kemurtadan, namun semua bisa diatasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akan lebih cocok jika keburukan yang dimaksud setelah kebaikan islam adalah zaman akhir dari khulafa rasyidin, yaitu pada zaman akhir-akhir khalifah Ali bin Abi Thalib. Dimana saat itu terjadi pemberontakan dan fitnah yang sangat besar yang melanda kaum muslimin. Terutama yang dilakukan khawarij maupun murji’ah. Hingga berakhir dengan pertumpahan darah di kalangan kaum muslimin dan terbunuhnya Ali dan anaknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Zaman ketiga adalah zaman dimana disebut sebagai “kebaikan namun berpolusi”, yakni ada polusi pada kebaikan saat itu. Dan sangat tepat jika mengatakan bahwa zaman ini dimulai sejak dibaiatnya (diangkatnya) Muawiyah bin Abi sufyan menjadi khalifah menggantikan Ali bin Abi Thalib. Zaman “kebaikan berpolusi” ini terus berlangsung hingga khilafah Utsmani Abad 17, sebelum masuknya pengaruh barat. Mengapa kebaikan ini disebut “berpolusi”? hal ini tidak lain bahwa adanya pemaksaan pada kaum muslimin untuk membaiat khalifah dari anak khalifah sebelumnya, yang mana ini tidak terjadi pada masa khulafah rasyidin. Serta kesalahan-kesalahan lain yang diperbuat beberapa khalifah pada masa umayyah, abbasiyah, dan utsmaniyyah, dan memang tepat jika mengatakan masa mereka adalah masa “kebaikan namun ada polusinya”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Zaman keempat dimana ditanyakan kepada rasulullah, apakah ada keburukan setelah “kebaikan berpolusi” tadi, rasulullah SAW menjawab Ya. Dan yang menarik disini rasulullah SAW tidak memperlakukan keburukan yang kedua ini sama dengan keburukan yang pertama tadi. Disini beliau memperingatkan akan ada penyeru-penyeru neraka jahannam. Dimana ciri-ciri penyeru neraka jahannam itu adalah orang-orang arab itu sendiri.  Ya! Hal ini terjadi Pada masa “pesakitan” atau akhir-akhir khilafah utsmaniyah, banyak terjadi seruan-seruan mengarah pada nasionalisme dan seruan untuk memisahkan diri dari daulah khilafah. Dan yang sangat terkenal adalah kisah pemberontakan dari hijaz (Arab saudi sekarang) yang dipimpin oleh Ibnu Saud dengan dibantu inggris. Menyeru kepada neraka (baca: nasionalisme/perpecahan) itulah yang dilakukan oleh nasionalis-nasionalis arab saat itu, sehingga bisa kita lihat di semenanjung arab saat ini banyak sekali negaranya, padahal dulunya satu kesatuan dengan khilafah islamiyah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada saat Khilafah utsmani lemah, yaitu mulai abad ke 17 hingga 19, dimana banyak pemberontakan, serta melemahnya semangat keislaman kaum muslimin, dan semakin gencarnya serangan dari barat, maka tepatlah rasulullah SAW berpesan agar kaum muslimin saat itu tetap ”Komitmen dengan jamaah muslimin dan imamnya”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menariknya lagi, sahabat itu bertanya “bagaimana jika sudah tidak ada jamaah dan imam?”, dan rasulullah SAW menjawab :” tinggalkan semua firqah itu, walaupun engkau harus menggigit akar pohon sampai menjumpai kematian dan engkau tetap dalam kondisi tersebut”. Jadi sudah diprediksi oleh Rasulullah SAW bahwa umatnya suatu hari akan mengalami kekosongan jamaah/khilafah dan imam/khalifah. Sementara yang harus dilakukan kaum muslimin, jika itu terjadi adalah “menggigit akar” yang berarti memegang kebenaran islam (3) dan meninggalkan firqah-firqah yang ada. Yang kemudian ditanyakan adalah, apakah yang dimaksud dengan firqah itu? Apakah firqah itu partai politik? Ormas? Yayasan? Atau yang lainnya?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka disinilah letak kesalahan penafsiran yang memaksa menyeret makna firqah dalam hadits ini menuju segala macam kelompok. Padahal dari awal selalu yang dibahas dalam hadits ini adalah tentang pemerintahan, dan bukan aliran atau kelompok. Maka firqah ini pun harus dimaknai sebagai pemerintahan, bukan kelompok. Firqah ini lebih tepat jika dimaknai sebagai pecahan-pecahan dari jamaah/khilafah tadi, alias negara-negara yang didirikan dari pecahan khilafah islamiyyah setelah runtuhnya pada 3 maret 1924 M. Seperti firqah Arab saudi, firqah mesir, firqah suriah, firqah malaysia, firqah indonesia, dll, inilah yang dimaksud firqah dalam hadits ini. Maka benar kata rasulullah SAW, kita wajib untuk berlepas diri terhadap semua “firqah-firqah/negara-negara yang didirikan paska runtuhnya khilafah” karena semua negara yang ada didunia saat ini bathil dipandang dari sisi mana pun(4).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apakah ini adalah akhir kondisi umat Islam? ternyata tidak, karena tidak ada statemen dalam hadits ini yang menyatakan bahwa kondisi terakhir yang disebutkan tadi adalah kondisi terakhir umat islam atau setelah itu kiamat. Bahkan dalam hadits lain justru disebutkan bahwa umat islam akan bangkit kembali menegakkan khilafah islamiyyah (5). Artinya nanti, setelah masa ini berakhir,  kaum muslimin akan memiliki “jamaah dan imam” lagi sebagaimana kondisi ideal dari kaum muslimin itu sendiri. Masa khilafah islamiyyah inilah masa akhir dari umur umat islam, dan juga umur dunia, karena setelah itu akan terjadi kiamat. Maka saat ini hanya ada dua pilihan bagi kaum muslimin, memperjuangkan tegaknya khilafah islamiyyah, atau malah menjadi penghalangnya. Wallahua’lam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(1)        Jika dibaiat dua orang khalifah maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(HR Muslim)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(2)        “Hendaklah kamu kembali kepada sunnahku dan sunnah Khulafa ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk”.( HR Ahmad 4/162.  Abu Daud 5/13.  Turmizi 7/437 dan  Ibn  Majah 1/15)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(3)        “Celakalah orang-orang Arab, yaitu keburukan yang benar-benar telah dekat; fitnah ibarat sepenggal malam yang gelap gulita. Pagi hari seseorang masih beriman, sorenya telah berubah menjadi Kafir. Kaum yang menjual agama mereka dengan tewaran dunia yang tidak seberapa. Maka, orang yang berpegang teguh pada agamanya, ibarat orang yang menggenggam bara api.” (Ibn Hajar al-Haitsami,Majma’ az-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid, juz VII, hal. 552)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Islam itu bermula dengan asing maka akan kembali menjadi asing maka berbahagialah orang yang asing”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(H/R  Muslim.)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(4)        Negara-negara yang berdiri paska khilafah islamiyyah semuanya bathil menurut syariat islam karena didirikan atas dasar nasionalisme/ashabiyyah. Selain itu karena tidak menggunakan hukum Allah, melainkan membuat sendiri hukum-hukumnya pada lembaga legislatif “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. [QS Al Maa'idah 44]”. Pemakaian riba, pemungutan pajak, penghalalan maksiat, dll adalah bukti lain yang memperkuat bahwa kita wajib berlepas diri dari semua negara-negara itu. Berlepas diri disini bukan berarti hijrah, namun menolak membenarkan kedaulatan negara tersebut dan berupaya untuk menggantinya menuju khilafah islamiyyah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(5)        Khilafah islamiyyah akan tegak sebelum kiamat seperti yang sudah disabdakan oleh rasulullah SAW:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari Nukman bin Basyir, katanya… ‘Suatu ketika kami sedang duduk2 di Masjid Nabawi dan Basyir itu seorang yg tidak banyak bercakap.Datanglah Abu Saklabah lalu berkata ” Wahai Basyir bin Saad, adakah kamu hafaz hadis Rasulullah tentang para pemerintah?’&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Huzaifah RA lalu segera menjawab.” Aku hafal akan khutbah Rasulullah SAW itu.” Maka duduklah Abu Saklabah Al Khusyna untuk mendengar hadis berkenaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka kata Huzaifah RA, Rasulullah SAW telah bersabda. “Telah berlaku Zaman Kenabian ke atas kamu, maka berlakulah Zaman Kenabian sebagaimana yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkat zaman itu seperti yg Dia kehendaki.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Kemudian belakulah zaman Kekhalifahan (Khulafaur Rasyidin) yang berjalan sepertimana Zaman Kenabian. Maka berlakulah zaman itu sebagaimana yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkatnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lalu berlakulah zaman pemerintahan yang mengigit ( zaman kesultanan ) Berlakulah zaman itu seperti yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkatnya pula.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian berlakulah zaman mulkan jabbariyan (penguasa yang memaksakan ideologi yang bukan ideologi islam, dan hukum yang bukan dari hukum islam) dan berlakulah zaman itu seperti mana yang Allah kehendaki.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian berlakulah pula zaman kekhalifahan yang berjalan di atas cara hidup Zaman Kenabian.” Kemudian Rasulullah SAW pun diam…. (Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal di dalamkitabnya Musnad Al Imam Ahmad bin Hanbal, Juzuk 4, halaman 273.Juga terdapat dalam kitab As-Silsilatus Sahihah, Jilid 1,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;hadis nombor 5.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zulfahmi Assyafii&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-5073103632796879404?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/5073103632796879404/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2011/04/tinggalkan-semua-firqah-yang-ada.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/5073103632796879404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/5073103632796879404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2011/04/tinggalkan-semua-firqah-yang-ada.html' title='Tinggalkan Semua Firqah Yang Ada?'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-8994441305246738576</id><published>2011-04-02T21:19:00.000-07:00</published><updated>2011-04-02T21:19:11.465-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Dahsyatnya Dosa Riba</title><content type='html'>&lt;h2 style="color: #333333; font-family: Georgia, Arial; font: normal normal bold 11pt/normal Arial, sans-serif; line-height: 17px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 10px; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div class="entry" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 5px; padding-left: 15px; padding-right: 15px; padding-top: 5px;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://mc15d.files.wordpress.com/2010/12/bank-indonesia.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://mc15d.files.wordpress.com/2010/12/bank-indonesia.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="font-family: Arial, sans-serif; line-height: 18px; margin-bottom: 0pt; margin-left: 20pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: 'Traditional Arabic'; line-height: 36px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;«الرِّبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا، أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ»&lt;o:p style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; font-family: Arial, sans-serif; line-height: 18px; margin-bottom: 0pt; margin-left: 20pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; line-height: 19px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Riba itu memiliki 73 pintu. Yang paling ringan (dosanya) adalah seperti seseorang yang mengawini ibunya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; line-height: 19px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;(HR al-Hakim dan al-Baihaqi).&lt;/span&gt;&lt;span id="more-637" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; font-family: Arial, sans-serif; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; line-height: 19px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;o:p style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; font-family: Arial, sans-serif; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; line-height: 19px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Al-Hakim meriwayatkan hadis di atas di dalam&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Al-Mustadrak&lt;/em&gt;&amp;nbsp;dari Abu Bakar bin Ishaq dan Abu Bakar bin Balawaih; keduanya dari Muhammad bin Ghalib, dari Amru bin Ali dari Ibn Abi ‘Adi, dari Syu‘bah, dari Zaid dari Ibrahim, dari Masruq, dan dari Abdullah bin Mas‘ud.&lt;span style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;Al-Hakim berkomentar, “Hadis ini sahih menurut syarat al-Bukhari dan Muslim, namun keduanya tidak mengeluarkannya.”&lt;o:p style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; font-family: Arial, sans-serif; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; line-height: 19px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Al-Minawi menukil di dalam&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Faydh al-Qadîr&lt;/em&gt;,&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;bahwa al-Hafizh al-‘Iraqi berkata (tentang hadits di tas), “Sanadnya sahih.”&lt;span style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; font-family: Arial, sans-serif; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; line-height: 19px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Adapun al-Baihaqi meriwayatkan hadis di atas di dalam&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Su‘ab al-Imân&lt;/em&gt;&amp;nbsp;dari Abu Abdillah al-Hafizh, dari Abu Bakar bin Ishaq, dari Muhammad bin Ghalib dari Amarah bin Ali, dari Ibn Abi Adi, dari Syu‘bah, dari Zubaid dari Ibrahim, dari Masruq, dan dari Abdullah bin Mas‘ud.&lt;o:p style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; font-family: Arial, sans-serif; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; line-height: 19px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Hadis yang semakna juga diriwayatkan oleh Ibn al-Jarud dalam&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Al-Muntaqâ&lt;/em&gt;; Ibn Abi Syaibah dalam&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Mushannaf Ibn Abi Syaybah&lt;/em&gt;; Abd ar-Razaq dalam&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Mushannaf Abd ar-Razâq&lt;/em&gt;; Abu Nu‘aim al-Ashbahani dalam&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Ma‘rifah ash-Sha&lt;u style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;h&lt;/u&gt;âbah&lt;/em&gt;; Ibn Abi Dunya di dalam&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Dzam al-Ghîbah wa an-Namîmah&lt;/em&gt;; dan yang lain.&lt;o:p style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana; font-weight: bold; line-height: 19px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; line-height: 18px; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman'; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&lt;strong style="font-family: Arial, sans-serif; line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; line-height: 19px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Makna Hadis&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; font-family: Arial, sans-serif; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; line-height: 19px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Kata&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;ar-ribâ&amp;nbsp;&lt;/em&gt;maksudnya adalah&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;itsm ar-ribâ&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(dosa riba).&lt;span style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Menurut ath-Thayibi, penetapan makna tersebut merupakan keniscayaan agar sejalan dengan makna kalimat:&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;aysaruhâ mitslu an yanki&lt;u style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;h&lt;/u&gt;a….&lt;o:p style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; font-family: Arial, sans-serif; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; line-height: 19px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Kata&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;bâb[an]&amp;nbsp;&lt;/em&gt;maknanya adalah&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;hûban&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(dosa).&lt;span style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Abu Hurairah ra. menuturkan bahwa Nabi saw. bersabda:&lt;o:p style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="font-family: Arial, sans-serif; line-height: 18px; margin-bottom: 0pt; margin-left: 20pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: 'Traditional Arabic'; line-height: 36px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;«الرِّبَا سَبْعُوْنَ حُوْبًا أَيْسَرُهَا أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ»&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="line-height: 36px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;o:p style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; font-family: Arial, sans-serif; line-height: 18px; margin-bottom: 0pt; margin-left: 20pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; line-height: 19px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Riba itu (ada) 70 dosa. Yang paling ringan adalah (seperti) seorang laki-laki yang menikahi ibunya sendiri&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; line-height: 19px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;(HR Ibn Majah, al-Baihaqi, Ibn Abi Syaibah dan Ibn Abi Dunya).&lt;strong style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;o:p style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; font-family: Arial, sans-serif; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; line-height: 19px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Kata&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;hûb[an]&amp;nbsp;&lt;/em&gt;artinya adalah&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;al-itsm wa adz-dzunûb&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(dosa).&lt;span style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Kata 73 itu—dalam riwayat lainnya dinyatakan 70, 72 dan 63—tidak menyatakan batasan jumlah tertentu, melainkan menunjukkan arti:&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;banyak jenis dan tingkatannya&lt;/em&gt;. Karena iru, hadis di atas bisa dimaknai bahwa dosa riba banyak macam dan tingkatannya.&lt;span style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Yang paling rendah adalah seperti dosa seseorang yang menzinai ibunya sendiri.&lt;span style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Bahkan Abdullah bin Hanzhalah menuturkan, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:&lt;o:p style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="font-family: Arial, sans-serif; line-height: 18px; margin-bottom: 0pt; margin-left: 20pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: 'Traditional Arabic'; line-height: 36px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;«دِرْهَمٌ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةٍ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً »&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="line-height: 36px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;o:p style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; font-family: Arial, sans-serif; line-height: 18px; margin-bottom: 0pt; margin-left: 20pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; line-height: 19px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Satu dirham riba yang dimakan oleh seorang laki-laki, sementara ia tahu, lebih berat (dosanya) daripada berzina dengan 36 pelacur&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; line-height: 19px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;(HR Ahmad dan ath-Thabrani).&lt;strong style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;o:p style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; font-family: Arial, sans-serif; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; line-height: 19px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Ibn Abbas juga menuturkan, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:&lt;o:p style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="font-family: Arial, sans-serif; line-height: 18px; margin-bottom: 0pt; margin-left: 20pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: 'Traditional Arabic'; line-height: 36px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;«دِرْهَمٌ رِبًا أَشَدُّ عَلَى اللهِ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً. وَقَالَ : مَنْ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنَ السُّحْتِ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ»&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="line-height: 36px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;o:p style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; font-family: Arial, sans-serif; line-height: 18px; margin-bottom: 0pt; margin-left: 20pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; line-height: 19px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Satu dirham riba (dosanya) kepada Allah lebih berat daripada 36 kali berzina dengan pelacur. (Ibn Abbas berkata) dan Beliau bersabda, “Siapa saja yang dagingnya tumbuh dari yang haram maka neraka lebih layak untuknya.”&lt;span style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; line-height: 19px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;(HR al-Baihaqi dan ath-Thabrani).&lt;o:p style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; font-family: Arial, sans-serif; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; line-height: 19px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Asy-Syaukani, dalam&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Nayl al-Awthâr&lt;/em&gt;, berkata, Hal ini menunjukkan bahwa riba termasuk kemaksiatan yang paling berat.&lt;span style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Sebabnya, kemaksiatan yang menandingi bahkan lebih berat daripada kemaksiatan zina, yang merupakan perbuatan yang sangat menjijikkan dan sangat keji, tidak diragukan lagi, bahwa kemaksitan riba itu melampaui batas-batas ketercelaan.”&lt;span style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; font-family: Arial, sans-serif; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; line-height: 19px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Dengan demikian, tidak diragukan lagi bahwa riba termasuk kemaksiatan yang paling besar.&lt;span style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Hal itu bisa dilihat dari:&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Pertama&lt;/em&gt;, orang yang mengambil riba merupakan penghuni neraka dan kekal di dalamnya (QS 2: 275).&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Kedua&lt;/em&gt;, meninggalkan (sisa) riba dinilai sebagai bukti keimanan seseorang (QS 2: 278).&lt;span style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, orang yang tetap mengambil riba diindikasikan sebagai seorang&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;kaffâran atsîman&lt;/em&gt;; orang yang tetap dalam kekufuran dan selalu berbuat dosa (QS 2: 276).&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Keempat&lt;/em&gt;, orang yang tetap mengambil riba diancam akan diperangi oleh Allah dan Rasul-Nya (QS 2: 279).&lt;span style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Kelima&lt;/em&gt;, dosa teringan memakan riba adalah seperti berzina dengan ibu sendiri; dan lebih berat daripada berzina dengan 36 pelacur.&lt;o:p style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; font-family: Arial, sans-serif; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; line-height: 19px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Hadis di atas jelas mengisyaratkan bahwa riba akan menimbulkan kerusakan di masyarakat yang lebih besar daripada kerusakan akibat zina. Ini karena riba sejak dulu hingga kini merupakan alat perbudakan, penindasan, eksploitasi, pemerasan, penghisapan darah dan penjajahan. Semua itu bukan hanya terjadi pada tingkat individu, namun juga terjadi terhadap suatu bangsa, umat dan negara.&lt;span style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Hal itu seperti yang dilakukan oleh negara-negara besar (penjajah) kepada negara Dunia Ketiga. Melalui utang dengan sistem riba akhirnya kekayaan negara-negara Dunia Ketiga justru mengalir ke negara besar.&lt;span style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Dengan utang itu pula, negara-negara Dunia Ketiga didekte dan dikendalikan demi kepentingan negara-negara besar itu.&lt;span style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Apa yang terjadi akibat utang luar negeri terhadap negeri ini merupakan buktinya.&lt;o:p style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; font-family: Arial, sans-serif; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; line-height: 19px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Jika riba telah tampak nyata di suatu kaum, maka kaum itu telah menghalalkan diturunkannya azab Allah kepada mereka.&lt;span style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Ibn Abbas menuturkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda:&lt;o:p style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="font-family: Arial, sans-serif; line-height: 18px; margin-bottom: 0pt; margin-left: 20pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: 'Traditional Arabic'; line-height: 36px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;«إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِيْ قَرْيَةٍ ، فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ»&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="line-height: 36px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;o:p style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; font-family: Arial, sans-serif; line-height: 18px; margin-bottom: 0pt; margin-left: 20pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; line-height: 19px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Jika telah tampak nyata zina dan riba di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan sendiri (turunnya) azab Allah (kepada mereka)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; line-height: 19px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;(Hr al-Hakim).&lt;strong style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;o:p style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; font-family: Arial, sans-serif; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; line-height: 19px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Lalu bagaimana dengan negeri kita ini?&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Na‘ûdzu billâh min dzâlik.&amp;nbsp;&lt;/em&gt;[Yahya Abdurrahman]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-8994441305246738576?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/8994441305246738576/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2011/04/dahsyatnya-dosa-riba.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/8994441305246738576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/8994441305246738576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2011/04/dahsyatnya-dosa-riba.html' title='Dahsyatnya Dosa Riba'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-9048831483712532131</id><published>2011-03-28T21:32:00.000-07:00</published><updated>2011-03-29T01:11:53.456-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Mengapa (Harus) Halaqah?</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-auSK9zwW-4c/TZFfuTCHBKI/AAAAAAAAAew/eGLDXYI_-c8/s1600/199307_1598242243809_1468601727_31255660_6499138_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-auSK9zwW-4c/TZFfuTCHBKI/AAAAAAAAAew/eGLDXYI_-c8/s320/199307_1598242243809_1468601727_31255660_6499138_n.jpg" style="cursor: move;" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Halaqah sering dikenal sebagai sekelompok orang yang mengkaji Islam. Biasanya jumlahnya tidak banyak, ya sekitar lima orang. Mereka mengkaji berbagai bahasan Islam dan dilakukan rutin seminggu sekali.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Halaqah merupakan bagian dari budaya islam, dimana seorang mengkaji islam dan dikemudian hari dia pun mengajarkan kepada orang lain, begitu seterusnya. Halaqah ini akan membentuk kepribadian islam dalam diri orang yang mengikuti halaqah karena mereka berada dalam lingkungan yang mengingatkan pada kebaikan dan mencegah dari keburukan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;b&gt;Halaqah &amp;amp; kewajiban menuntut ilmu syara’&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Menuntut ilmu syariat adalah kewajiban setiap muslim (1). Pemenuhan dari kewajiban ini bisa dilakukan di&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;halaqah, meski ini tidak cukup. Masih perlu mempelajari islam secara pribadi dan diberbagai temat lainnya, seperti di pengajian. Namun setidaknya dalam halaqah kita lebih mengerti tentang Islam dan semangat menuntut ilmu islam tadi tetap terjaga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;b&gt;Halaqah &amp;amp; benteng diri&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Hari ini dimana budaya pemuda dan pemudi telah rusak oleh ideologi kapitalisme (orientasi harta) dan hedonisme (orientasi kesenangan), halaqah merupakan alternatif dari membentengi diri dari kerusakan tersebut. Dimana dalam halaqah akan terbentuk lingkungan yang islami, sehingga kita akan terhindar dari budaya-budaya yang rusak tadi. Halaqah akan membentuk pola sikap islami dan juga pola pikir islami, sehingga keduanya akan membentuk kepribadian islami.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;b&gt;Halaqah &amp;amp; efektifitas berlajar&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Halaqah sangat efektif sebagai sarana untuk belajar islam, mengapa? Karena jumlah anggota kelompok yang hanya maksimal 5 orang tadi. Biasanya kita belajar di sekolah atau di universitas satu kelas minimal 20, bahkan bisa mencapai 80, tentu ini akan sulit menjamin semua siswa/mahasiswa paham dengan materi yang disampaikan. Dengan anggota kelompok yang hanya 5 orang tadi sangat menjamin pemahamannya pada materi. Apalagi dalam mengikuti halaqah tidak ada paksaan, sehingga orang yang mengikuti halaqah merasa itu adalah keinginannya sendiri dan bukan atas dasar “pakasaan” seperti di sekolah atau universitas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;b&gt;Halaqah &amp;amp; latihan berdakwah&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Selain dari menuntut ilmu, kita juga mempunyai kewajiban untuk dakwah(2). Sementara didalam berdakwah diperlukan ilmu, nah dihalaqahlah kita bisa mendapatkan itu. Selain itu didalam halaqah kita juga belajar bagainmana cara menyampaikan ilmu tadi kepada orang lain. Seperti teknik penjelasan, retorika, contoh, dll.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;b&gt;Halaqah dalam pembinaan Hizbut Tahrir &amp;amp; perjuangan menuju peradaban islam&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Halaqah dalam hizbut tahrir adalah salah satu hal yang paling penting dalam pembinaaannya. Karena itulah hizbut tahrir mewajibkan seluruh pelajar &amp;amp; anggotanya untuk mengikuti halaqah. Taqafah islam akan disampaikan dalam halaqah sebagai bekal dari berdakwah. Jika semakin banyak orang yang halaqah, maka semakin banyak pula da’I yang akan lahir, da’I itu akan menyampaikan pada umat dan menyadarkan untuk berislamsecara kaffah (3). Sehingga perubahan menuju peradaban islam bukan lagi suatu mimpi seperti yang dituduhkan oleh kaum liberal saat ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Tertarik untuk halaqah? Hubungi syabab hizbut tahrir terdekat..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;(1) Rasulullah bersabda “Mencari ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ahamad dan Ibnu Majah).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;“Apabila anak Adam meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga, yaitu ilmu yang bermanfaat….”(HR Muslim)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Seorang ‘alim juga lebih tinggi dari pada seorang ahli ibadah yang sewaktu2 bisa tersesat karena kurangnya ilmu. “Keutamaan orang ‘alim atas orang ahli ibadah adalah seperti keutamaan diriku atas orang yang paling rendah dari sahabatku.” (HR At Tirmidzi).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;“Sesungguhnya matinya satu kabilah itu lebih ringan daripada matinya seorang ‘alim.” (HR Thabrani)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajad.” (Al Mujadilah: 11)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;(2) “Serulah manusia ke jalan Rabb-mu (Allah) dengan jalan hikmah (hujjah yang benar dan kuat) dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan baik”(QS. An-Nahl: 125)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;“(Dan) Orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong kepada sebagian yang lainnya. Mereka menyuruh kepada yang baik dan mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah dan sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS At-Taubah: 71)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;“Dan siapakah yang lebih baik perkataanya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal sholeh dan berkata sesungguhnya aku ini termasuk orang-orang muslim” (QS. Al-Fushilat: 33)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;“Sesungguhnya manusia, bila melihat kemukaran sedangkan mereka tidak berupaya mencegahnya; maka tunggulah saatnya Allah akan menurunkan adzabnya secara menyeluruh...” (HR. Abu Dawud)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;“Kalian harus mengajak mereka kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemunkaran. Bila tidak demikian, tentu Allah akan menjadikan orang-orang jahat di antaramu menguasai kalian. (Dan) Bila ada orang baik di antaramu berdoa (untuk keselamatan) maka doa mereka tidak akan dikabulkan” (HR. Al-Bazzar dan Thabrani).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;“Siapa saja yang bangun pagi hari dan ia hanya memperhatikan masalah dunianya, maka orang tersebut tidak berguna apa-apa di sisi Allah; dan barang siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia tidak termasuk golongan mereka.” (HR. Thabrani dari Abu Dzar al Ghifari)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;(3) Islam kaffah adalahpenerapan syariat islam secara totalitas, baik dalam hal pribadi, masyarakat, dan negara.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ( al- Baqarah : 208-209 ).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;"Hai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling darinya, sedang kamu mendengar perintahNya."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;(Qs. al-Anfaal 8:20)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-9048831483712532131?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/9048831483712532131/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2011/03/mengapa-harus-halaqah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/9048831483712532131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/9048831483712532131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2011/03/mengapa-harus-halaqah.html' title='Mengapa (Harus) Halaqah?'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-auSK9zwW-4c/TZFfuTCHBKI/AAAAAAAAAew/eGLDXYI_-c8/s72-c/199307_1598242243809_1468601727_31255660_6499138_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-6204238582784352729</id><published>2011-03-27T00:11:00.000-07:00</published><updated>2011-03-27T00:21:27.864-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='koreksi'/><title type='text'>Masa Depan Pemuda Islam</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_YiuEX9EibLI/S7mZ8mqGZRI/AAAAAAAAAVQ/RFdjl9QjA9A/s1600/Pemuda-Remaja.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; text-align: justify;"&gt;&lt;img border="0" height="246" src="http://4.bp.blogspot.com/_YiuEX9EibLI/S7mZ8mqGZRI/AAAAAAAAAVQ/RFdjl9QjA9A/s320/Pemuda-Remaja.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemuda adalah agen perubahan (Agent Of Change). Banyak catatan sejarah yang mengungkapkan bahwa perubahan selalu melibatkan pemuda. Semangat yang dimilikinya memang luar biasa, namun semangat yang dimilikinya itu bisa saja diarahkan pada kebaikan mau pun keburukan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rasulullah SAW banyak merekrut pemuda-pemuda pada masanya, yang mana peran pemuda itu sangat penting dalam perjuangan dakwah Rasulullah SAW. Pemuda-pemuda yang menjadi pejuang islam tersebut menemani dakwah Rasulullah dari beliau di makkah, dimana kaum muslimin saat itu mengalami masa-masa tersulit, diantaranya disiksa, dibunuh, bahkan diboikot oleh Kafir Quraisy, namun pemuda-pemuda ¨pertama¨ Islam itu tetap tegar menemani dakwah Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tercatat dalam tinta emas sejarah islam, nama-nama pemuda yang dalam usia belianya sudah mengazamkan (meneguhkan) diri menjadi pejuang islam, yang sangat sulit kita bandingkan dengan pemuda pada abad ini. Lihat saja sahabat Nabi yang bernama Zubeir bin Al-Awwam yang pada usia 15 tahun sudah menjadi mujahid dan juru dakwah, apalagi beliau terkenal sebagai teman diskusi rasulullah SAW. Lihat juga Thalhah bin Ubaidillah, yang usia yang masih 16 tahun sudah menjadi mujahid dan yang lebih dahsyat lagi, beliau juga tercatat sebagai donatur dari perjuangan dakwah rasulullah SAW. Lihat juga Saád bin Abi Waqash yang pada usia 16 tahun sudah turut serta dalam perang uhud, dia tercatat sebagai darah pertama yang mengalir dalam perang itu. Lihat Zaid bin Tsabit, anak kecil ini merengek ingin ikut dalam perang badar, namun tidak diizinkan oleh Rasulullah SAW karena usianya waktu itu masih 12 tahun. Subhanallah...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lihat juga kisah muhammad Al-Fatih, kisah yang melegenda ini adalah contoh dari seorang pemuda berusia 23 tahun, namun berhasil menaklukkan negara adidaya waktu itu yaitu Konstantinopel. Beliau sejak kecil bermimpi menjadi penakluk Konstantinopel yang mana hal itu sudah dijanjikan oleh rasulullah SAW(1) dan sudah dicoba oleh para Khalifah, namun selalu belum berhasil. Beliau adalah pemuda yang menjadi pemimpin terbaik yang memimpin pasukan-pasukan terbaik(2). Luar biasanya lagi, beliau sejak baligh tidak pernah meninggalkan shalat rawatib dan tahajud, dan ini juga berlaku pada 20.000 pasukannya. Subhanallah...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika pada masa awal-awal hingga abad 17, pemuda selalu menjadi ujung tombak perjuangan islam, namun sejak abad 18, para pemuda justru teracuni dengan paham-paham barat. Mereka lebih bangga dengan ikatan nasionalismenya dibandingkan dengan ikatan islamnya. Mereka lebih bangga pada ke-turkia-nnya atau ke-arab-annya dari pada ke-muslim-annya. Virus-virus perpecahan inilah yang didoktrinkan pada pemuda muslim waktu itu. Sehingga umat islam pada waktu itu mudah sekali dipecah-pecah oleh imperialis barat, yang kemudian berujung pada keruntuhan Khilafah pada 3 Maret 1924 M.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain merusak ideologinya, barat (baca: imperialis, kapitalis) juga merusak dalam hal budaya. Yaitu dengan merusak pemudinya, dengan mendoktrinkan paham-paham ¨kebebasan¨ seperti feminisme dan kesetaraan gender, sehingga ketika para pemudi islam sudah melepas kerudungnya dan jilbabnya, maka saat itulah moral pemuda rusak dibuatnya. Sehingga memperparah rusaknya umat islam waktu itu, dan menyulitkan usaha untuk menegakkan Khilafah lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kerusakan pemuda itu tetap dijaga hingga kini. Berbagai cara digunakan barat untuk merusak pemuda islam. Misalnya menerapkan kurikulum yang memisahkan agama dari kehidupan, media televisi, koran, majalah, tabloid yang terus menerus mengkampanyekan kerusakan. Masa muda selalu dikaitkan dengan santai-santai, bersenang-senang, pacaran, dll. Klub-klub malam semakin menjamur diberbagai tempat dengan tawaran yang menggiurkan pagi pemuda dan pemudi yang kurang iman. Ditambah lagi dengan pencitraan yang buruk pada pemuda-pemuda pejuang islam dengan sebutan teroris, extrimis, fundamentalis, rasikal, dll. Lengkaplah sudah penjagaan terhadap rusaknya pemuda, sehingga pemuda-pemuda saat ini sangat sulit untuk diajak memperjuangkan islam. Jangankan untuk berdakwah, dalam hal seringan shalat saja mereka sudah banyak yang meninggalkan tanpa merasa bersalah. Lahaula wala quwwata illa billah...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lalu bagaimana solusinya untuk mengembalikan lagi pemuda islam pada posisinya? Solusi paling dekat adalah dengan terus mendekati mereka dan mendakwahi mereka, terutama secara personal. Kedua, ajarkan kepada mereka tentang aqidah yang berlandaskan akal sehat, ajak mereka berpikir tentang dari mana kehidupan, untuk apa kehidupan, dan apa yang akan terjadi setelah kehidupan. Sentuh pemikrian mereka terlebih dahulu dan jangan sentuh pada aspek fiqh. Setelah itu ajaklah mereka untuk memikirkan problematika umat islam, mulai dari dirinya, lingkungannya, dan kaum muslimin secara umum didunia ini. Diskusikan tentang solusi dari semua masalah itu dari aspek aqidah islamiyah. Jika ini berhasil, maka percayalah dia akan lebih mudah untuk diajak bergabung bersama barisan dakwah ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari kumpulan para pemuda-pemuda yang tercerahkan dengan islam tadi terbentkalah mesin-mesin revolusi yang akan menjadi penggerak revolusi menuju tegaknya lagi Khilafah Islamiyah. Tentu saja dengan tidak dakwah pada ahlul quwwah (pemilik pengaruh/kekuatan) seperti Tokoh masyarakat dan militer, sehingga revolusi nanti akan berjalan dengan damai. Amin ya rabbal alamin...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(Zulfahmi, diringkas dari kajian &amp;amp; buka puasa sunnah edisi 24 Maret 2011 @Mushala FTI UII)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;refrensi Buku: &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anak Muda Nyalakan Api Semangatmu! (Raghib As-sirjani)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nizham Islam (Taqiyuddin Annabhani)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(1)dari Abu Qubail, ia berkata: “Kami pernah berada di sisi Abdullah bin Amr bin al-Ash, ia ditanya: “Yang manakah diantara dua kota yang akan ditaklukan lebih dahulu, Konstantinopel atau Roma?” , kemudian Abdullah meminta peti kitabnya yang masih tertutup. Abu Qubail berkata: “Kemudian ia mengeluarkan sebuah kitab dari padanya. Lalu Abdullah berkata: ‘Ketika kami sedang menulis di sekeliling Rasulullah SAW tiba-tiba beliau ditanya: ‘Yang manakah diantara dua kota yang akan ditaklukkan terlebih dahulu, Konstantinopel atau Roma?” Kemudian Rasulullah menjawab: “Kota Heraklius akan ditaklukkan terlebih dahulu, yakni Konstantinopel.”(Menurut Husain hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad dan terdapat di dalam Al-Mustadrak di beberapa tempat. Dishahihkan oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi, juga disepakati oleh Al-Bani di dalam Silsilah Al-haditsish Shahihah 1/8.) lengkapnya kisah penaklukkan konstantionpel&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(2)“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335]&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-6204238582784352729?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/6204238582784352729/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2011/03/masa-depan-pemuda-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/6204238582784352729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/6204238582784352729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2011/03/masa-depan-pemuda-islam.html' title='Masa Depan Pemuda Islam'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_YiuEX9EibLI/S7mZ8mqGZRI/AAAAAAAAAVQ/RFdjl9QjA9A/s72-c/Pemuda-Remaja.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-608522994792135235</id><published>2011-01-22T01:19:00.000-08:00</published><updated>2011-01-22T01:19:20.999-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menjawab Fitnah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='koreksi'/><title type='text'>Surat Terbuka Untuk "Salafy" Dari Syabab Hizbut Tahrir</title><content type='html'>&lt;div class="photo photo_none" style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/hs270.snc6/179851_491579987340_130268727340_6681453_6160766_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" class="img" height="213" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/hs270.snc6/179851_491579987340_130268727340_6681453_6160766_n.jpg" style="width: 393px;" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kami  sering mendengar akhir-akhir ini ada sekelompok orang yang dalam   pengajian-pengajian dan majalahnya mengungkit-ungkit masalah hadis ahad   dengan pembahasan yang tidak semestinya. Kemudian mereka menambah   permasalan dengan melontarkan berbagai shubhat yang sayangnya hal ini   disampaikan kepada orang awam yang tidak mengerti duduk permasalahan   yang sebenarnya. Hal ini diperparah dengan ajakan mereka untuk memusuhi   semua orang atau kelompok yang berbeda pendapat dengan mereka (karena   tidak menjadikan hadis ahad sebagai dalil dalam masalah aqidah –pent)   dan ajakan ini dibumbui dengan stempel sebagai kelompok sesat dan bid’ah   bagi semua kelompok yang menolak hadis ahad sebagai dalil aqidah.  Untuk  itu kami merasa perlu untuk menjawab tuduhan-tuduhan itu agar  masalah  ini tidak berkembang menjadi perselisihan yang tidak sehat.  Berikut ini  beberapa shubhat yang mereka lontarkan beserta bantahannya :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Thohawi dapat dipastikan menerima hadis ahad sebagai dalil dalam masalah  aqidah ?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;1-  Shubhat Pertama : Mereka mengklaim berdasarkan Kitab Aqidah   Thohawiyah, bahwa Adzab kubur adalah bagian dari aqidah sehingga Imam&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kami  menjawab : Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi (w. 321 H) adalah Ulama yang   bermahdzab Hanafiyah, sehingga Imam Ath-Thohawi pasti memegang prinsip   tentang hadis ahad sesuai dengan pendapat Imamnya yaitu Imam Abu   Hanifah, Imam Muhammad Ibn Hasan Al-Syaibani dan Imam Abu Yusuf. Hal   dipertegas dengan penjelasan DR. Sua’ib Al-Arnauth dalam tahqiq-nya pada   kitab Syarh Musykil Al-Atsar, mengenai perpindahan Imam Ath-Thohawi   dari Mahdzab Syafi’I ke Mahdzab Abu Hanifah (Lihat Syarh Musykil   Al-Atsar oleh Imam Abu Ja’far Ath-Thohawi jilid 1\hal. 29-30). Dimana   mereka (yaitu para Ulama yang bermahdzab Hanafiyah) menganggap hadis   ahad tidak menghasilkan kepastian\qoth’I tetapi hanya menghasilkan   dugaan keras\dzon rajih (lihat kembali pendapat para Ulama Hanafiyah   –pent). Ini adalah pendapat dari mayoritas Ulama Hanafiyah seperti Imam   Issa ibn Aban (w. 220 H), Imam Ali ibn Musa al – Qummi (w. 305 H), Imam   At-Thobari (w. 310 H), Imam Al-Karabasi Al-Najafi (W. 322 H), Imam  Abdul  Qohir Al-Baghdadi (w. abad 5 H), Imam Ibn Athir Al-Jazari (w.  606)  dalam (Al-Nihayah fi Gharib Al-Hadis), Imam Al-Izz Ibn Abd  Al-Salam (w.  660 H), Imam Ala Al-Din Ibn Abidin (w. 1306 H), Imam  Al-Sarkhasi (w.  483) dalam (Al-Usul Al-Sarkhasi juz 1\hal. 112,  321-333). Sedang menurut  mayoritas Ulama Ahli hadis, hadis ahad dibagi  menjadi beberapa tingkat  yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;A\-Ahad Mashur    : Hadis yang diriwayatkan oleh 3 orang perawi atau  lebih, tetapi tidak mencapai derajat mutawatir.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;B\-Ahad Aziz            : Hadis yang diriwayatkan oleh 2 orang dari 2  orang dalam seluruh Thobaqot  sanad.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;C\-Ahad  Gharib      :  Hadis yang bersendirian saja seorang perawi dalam   meriwayatkan hadis (Lihat Kitab Taisir Mustholah Al-Hadis hal. 22-25   Oleh DR. Mahmud Ath-Thohan) (Lihat juga makalah kami yang berjudul   “Sekali Lagi tentang Hadis Ahad”  –pent).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;2-  Shubhat Kedua : Mereka menyatakan bahwa pembagian hadis  Mutawatir-Ahad  dilakukan oleh para ulama ahli kalam, sehingga kita tidak  perlu  mendengar pendapat para ulama tentang hadis ahad, karena bagi  mereka  yang ada hanya hadis shohih dan dho’if  ?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kami menjawab :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;a-     pertanyaan ini datang dari mereka yang kurang memahami sejarah   perkembangan Ilmu Hadis. Dan lagi pertanyaan seperti ini tidak harus   dijawab karena tidak akan menghasilkan apa-apa, sebab jumhur ulama baik   ahli kalam atau tidak; ahli hadis atau ahli fiqh telah sepakat menerima   pembagian hadis menjadi Mutawatir-ahad berdasarkan jumlah perawinya.   Sebagaimana telah dijelaskan oleh Dr. Muhammad Wafa’ bahwa “mayoritas   ulama telah sepakat dengan pembagian hadis Rasul SAW menjadi   Muatawatir-Ahad. Namun ulama Hanafiyah menambah satu pembagian lagi   yakni Hadis Masyhur” (Lihat kitab Ta’arudh Al-Adilati As-Syar’iyahi min   Al-Kitabi Wa As-Sunnahi Wa At-Tarjihu bainaha, hal. 70; juga lihat  kitab  yang lain seperti Al-Mustashfa, juz 1\hal. 145; Syarh Al-Asnawi  juz  2\hal. 214; Irsyad Al-Fuhul hal. 46; Hasyiyat Al-Athar ala Syarh   Al-Mahalli juz 2\hal. 146; juga lihat pendapat para Ulama Hanafiyah   dalam At-Talwih ala At-Taudhih juz2\hal. 302; At-Taqrir wa At-Tahbir juz   2\hal. 235-236; Kasyf Al-Asrar an ushul Al-Bazdawi juz 2\hal. 360;  juga  lihat referensi baru seperti Ushul Al-Fiqh Al-Islami, Dr. Wahbah   Zuhaili juz. 1\hal. 451; Ushul Al-Fiqh, Syeikh Al-Khudhari , hal.   214-215; Ushul Al-Fiqh, Syeikh Muhammad Abu Zahra, hal. 83-84; Ushul   Al-Fiqh, Syeikh Musthafa Syalbi, hal. 139)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;b-    Tentang  tuduhan mereka bahwa pembagian ini adalah hasil rekayasa  Ahli Kalam,  Kami bertanya apakah Para Ulama seperti Imam Abu Hanifah,  Imam Syafi’I,  Imam Malik, Imam Ahmad bin Hambal, Imam Bukhori, Imam  Muslim,  Al-Hafidz Ibn Hajar Al-Asqolani, Al-Hafidz Jalaludin As-Suyuti,   Al-Hafidz Ibn Sholah, Imam Nawawi, Imam Ibn Abdil Bar, Syaikhul Islam   Ibn Taimiyah, Imam Syaukani, Al-Hafidz Al-Iroqi dll adalah ahli kalam   karena mereka menerima pembagian hadis menjadi Mutawatir-Ahad !!!!   Bukankan Imam Syafi’I juga menulis dalam kitabnya ‘’Ar-Risalah” satu bab   khusus yang membahas tentang hadis Ahad, hal yang sama juga dilakukan   oleh para imam yang lain. Sungguh ini merupakan pelecehan berat yang   dilakukan oleh ‘para pelajar’ terhadap para Ulama, sebagaimana   disinyalir oleh Imam Ibn Al-Muqaffa’ ketika menjelaskan tentang Al-Haq,   beliau berkata : “ Aku tidak tahu ada siapa yang lebih dangkal   pemahamannya terhadap agamanya, selain orang-orang mengambil pendapatnya   sendiri (yang menyelisi Al-Kitab dan As-Sunnah-pent) dan orang lain   sebagai orang yang bertaqlid (mengambil pendapat tanpa meneliti dalilnya   terlebih dahulu-pent) dalam masalah-masalah agama” .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;c-      Mereka menyatakan bahwa pembagian ini dilakukan hanya oleh ahli   kalam. Kami katakan bahwa pendapat seperti tidak ada asalnya (La Ashla   lahu). Silahkan mereka untuk membuka kitab-kitab Ulumul Hadis seperti :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-          Tadribu Al-Rawi fi Syarhi Taqrib An-Nawawi, oleh Imam Suyuti&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-          Taqrib li An-Nawawi ma’a Syarhihi At-Tadrib, tahqiq Imam  Abdul Wahab Abdul Lathif&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-          Ar-Risalah Al-Mustarafah li bayani masyhur Kitab Al-Sunnah  Al-Musyrifah, oleh Imam Katani&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-          Ulum Al-Hadis , oleh Imam Ibn Sholah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-          Fathu Al-Mughis Syarh Alfiyah Al-Hadis, Oleh Imam Sakhowi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-          Al-Kifayah fi Ilmi Ar-Riwayah , Oleh Imam al-Khotib  Al-Baghdadi (juz 1\hal. 17)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-          Nukhbatu Al-fikr ma’a Syarhiha Nuzhatu An-Nadzor, oleh  Al-Hafidz Ibn Hajar&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-          Taisir Mustholah Al-Hadis oleh DR. Mahmud Ath-Thohhan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-          Ulum Al-Hadis oleh DR. Nuruddin Al-Itr&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-          Ushul Al-Hadis oleh DR. Muhammad Ajij Al-Khotib , dll&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Apakah  ada diantara mereka yang tidak membagi hadis menjadi  Mutawatir-Ahad  berdasarkan jumlah perawinya. Sadarlah wahai orang-orang  yang berakal  !!!!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;3- Shubhat Ketiga : Mereka mengklaim dirinya  adalah orang yang paling  mengerti tentang hadis Rasul SAW, karena semua  Syeikh-syeikh mereka  adalah Ahli Hadis (Muhaddis) ?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kami  menjawab : Semua orang boleh melakukan klaim, tetapi semua itu  harus  dibuktikan terlebih dahulu. Coba perhatikan penjelasan Imam  Sakhowi  tentang siapa Ahli Hadis (muhaddis) itu sebenarnya : “Menurut  sebagian  Imam hadis, orang yang disebut dengan Ahli Hadis (Muhaddis)  adalah  orang yang pernah menulis hadis, membaca, mendengar, dan  menghafalkan,  serta mengadakan rihlah (perjalanan) keberbagai tempat  untuk  mendapatkan hadis, mampu merumuskan beberapa aturan pokok (hadis),  dan  mengomentari cabang dari Kitab Musnad, Illat, Tarikh yang kurang  lebih  mencapai 1000 buah karangan”. Jika demikian (syarat-syarat ini   terpenuhi –pent) maka tidak diingkari bahwa dirinya adalah ahli hadis.   Tetapi jika ia sudah mengenakan jubah pada kepalanya, dan berkumpul   dengan para penguasa pada masanya, atau menghalalkan (dirinya   memakai-pent ) perhiasan lu’lu (permata-pent) dan marjan atau memakai   pakaian yang berlebihan (pakaian yang berwarna-warni –pent). Dan hanya   mempelajari hadis Al-Ifki wa Al-Butan. Maka ia telah merusak harga   dirinya ,bahkan ia tidak memahami apa yang dibicarakan kepadanya, baik   dari juz atau kitab asalnya. Ia tidak pantas menyandang gelar seorang   Muhaddis bahkan ia bukan manusia. Karena dengan kebodohannya ia telah   memakan sesuatu yang haram. Jika ia menghalalkannya maka ia telah keluar   dari Agama Islam (Lihat Fathu Al-Mughis li Al-Sakhowi, juz 1\hal.   40-41). Sehingga yang layak menyandang gelar ini adalah Muhaddis   generasi awal seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam   Nasa’I, Imam Ibn Majah, Imam Daruquthni, Imam Al-Hakim Naisaburi ,Imam   Ibn Hibban dll. Sehingga apakah tidak terlalu berlebihan (atau bahkan   termasuk Ghuluw –pent) dengan menyamakan mereka (Imam Bukhari, Imam   Muslim, imam Abu Dawud dkk –pent) dengan syeikh-syeikh mereka yang tidak   pernah menulis hadis, membaca, mendengar, menghafal, meriwayatkan,   melakukan perjalanan mencari hadis atau bahkan memberikan kontribusi   pada perkembangan Ilmu hadis yang mencapai seribu karangan lebih ?!?!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;4-  Shubhat Keempat : Mereka mengklaim bahwa dirinyalah yang paling   mengerti Sunnah dan paling layak untuk menafsirkan   kandungan-kandungannya. Karena (menurut mereka–pent) mereka telah   menghabiskan banyak waktu untuk melakukan takhrij dan tahqiq terhadap   hadis-hadis Rasul SAW dalam berbagai kitab hadis ?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kami  menjawab : Penelitian hadis tidak sebatas men-takhrij sebuah hadis  lalu  selesai permasalahannya. Banyak hal lain yang perlu diperhatikan  untuk  dapat menggali hukum-hukum yang dikandungnya sehingga ia (proses   istimbath –pent) membutuhkan ilmu tentang bahasa arab (Nahwu-Shorrof,   Balaghoh, faidah yang dapat dipetik dari sebuah kata seperti faedah   huruf fa’, wau dll), Ilmu Ushul Fiqh ( dapat membedakan dalil yang Amm   dengan yang Khos, yang Mutlaq dengan yang Muqoyyad, yang Amr dengan yang   Nahi , kalimat musytarak dengan yang tidak , dalil yang memiliki Illat   dengan yang tidak dll), Ilmu Ulum Al-Qur’an (seperti macam-macam  qiraat,  sabab an-Nuzul dll), Ilmu Nasikh-Mansukh, Metode tarjih (jika   dalil-dalil yang terlihat saling bertentangan dll), dan banyak ilmu-ilmu   lainnya selain ilmu hadis itu sendiri. Sehingga seringkali seorang   membawa hadis kepada orang yang lebih faqih darinya (menguasai ilmu   untuk melakukan Ijtihad- pent) sebagaimana pernah disinggung dalam   sebuah hadis rasul : ” Seringkali seorang membawa hadis\ilmu pada orang   yang lebih faqih darinya ” (HR. Bukhori). Dan perhatikan keterangan  dari  para ulama berikut (bahwa masalah ini tidak sesederhana apa yang  mereka  klaimkan) :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-          Syeikh Abdul Ghofar seorang  ahli hadis yang bermahdzab Hanafi  menukil pendapat Ibn Asy-Syihhah  ditambah syarat dari Ibn Abidin Dalam  Hasyiyah-nya, yang dirangkum  dalam bukunya Daf’ Al-Auham An-Masalah  AlQira’af Khalf Al-Imam, hal. 15  : ‘’ Kita melihat pada masa kita,  banyak orang yang mengaku berilmu  padahal dirinya tertipu. Ia merasa  dirinya diatas awan ,padahal ia  berada dilembah yang dalam. Boleh jadi  ia telah mengkaji salah satu  kitab dari enam kitab hadis (kutub  As-Sittah), dan ia menemukan satu  hadis yang bertentangan dengan madzab  Abu Hanifah, lalu berkata  buanglah madzab Abu Hanifah ke dinding dan  ambil hadis Rasul SAW’’.  Padahal hadis ini telah mansukh atau  bertentangan dengan hadis yang  sanadnya lebih kuat dan sebab lainnya  sehingga hilanglah kewajiban  mengamalkannya. Dan dia tidak mengetahui.  Bila pengamalan hadis seperti  ini diserahkan secara mutlak kepadanya  maka ia akan tersesat dalam  banyak masalah dan tentunya akan menyesatkan  banyak orang ‘’.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-           Al-Hafidz Ibn Abdil Barr meriwayatkan dalam Jami’ Bayan   Al-Ilmu, juz 2\hal. 130, dengan sanadnya sampai kepada Al-Qodhi   Al-Mujtahid Ibn Laila bahwa ia berkata : ’’ Seorang tidak dianggap   memahami hadis kalau ia mengetahui mana hadis yang harus diambil dan   mana yang harus ditinggalkan ’’ .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-          Al-Alamah  Al-Kautsari mengatakan : ’’ Banyak terjadi pada  banyak rawi yang tidak  menguasai fiqh dan tidak dapat membedakan mana  hadis yang harus  diamalkan dan mana yang tidak ’’ .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-          Al-Qodhi  Iyadh dalam Tartib Al-Madarik, juz 2\hal. 427; Ibn  Wahab berkata : ‘’  Kalau saja Allah tidak menyelamatkanku melalui Malik  Dan Laits, maka  tersesatlah aku. Ketika ditanya, mengapa begitu, ia  menjawab, ‘Aku  banyak menemukan hadis dan itu membingungkanku. Lalu aku   menyampaikannya pada Malik dan Laits, maka mereka berkata : ‘’ Ambillah   dan tinggalkan itu ’’ .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-          Imam Malik berpesan  kepada kedua keponakannya (Abu Bakar dan  Ismail, putra Abi Uwais);  ’’Bukankah kalian menyukai hal ini  (mengumpulkan dan mendengarkan  hadis) serta mempelajarinya ?, Mereka  menjawab : ‘Ya’ , Beliau berkata :  Jika kalian ingin mengambil manfaat  dari hadis ini dan Allah  menjadikannya bermanfaat bagi kalian, maka  kurangilah kebiasaan kalian  dan pelajarilah lebih dalam ‘’. Seperti ini  pula Al-Khatib meriwayatkan  dengan sanadnya dalam Al-Faqih wa  Al-Mutafaqih juz II\hal. 28.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-           Al-Khotib meriwayatkan dalam kitabnya Faqih wa Al-Mutafaqih,   juz II\hal. 15-19, duatu pembicaraan yang panjang dari Imam Al-Muzniy,   pewaris ilmu Imam Syafi’i. Pada bagian akhir Al-Muzniy berkata : ’’   Perhatikan hadis yang kalian kumpulkan.Tuntutlah Ilmu dari para fuqoha   agar kalian menjadi ahli fiqh ’’.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-          Dalam kitab  Tartib Al-Madarik juz I\hal. 66, dengan  penjelasan yang panjang dari  para Ulama Salaf tentang sikap mereka  terhadap As-Sunnah, a.l :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Umar  bin Khotab berkata diatas mimbar: ’’ Akan kuadukan kepada Allah  orang  yang meriwayatkan hadis yang bertentangan dengan yang diamalkan  ’’.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Imam  Malik berkata :’’ Para Ahli Ilmu dari kalangan Tabi’in telah   menyampaikan hadis-hadis, lalu disampaikan kepada mereka hadis dari   orang lain, maka mereka menjawab : “Bukannya kami tidak tahu tentang hal   ini. Tetapi pengamalannya yang benar adalah tidak seperti ini ‘’.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ibn  Hazm berkata: Abu Darda’ pernah ditanya :’’ Sesungguhnya telah  sampai  kepadaku hadis begini dan begitu (berbeda dengan  pendapatnya-pent).  Maka ia menjawab:’’ saya pernah mendengarnya, tetapi  aku menyaksikan  pengamalannya tidak seperti itu”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ibn Abi zanad , ‘’Umar  bin Abdul Aziz mengumpulkan para Ulama dan Fuqoha  untuk menanyai mereka  tentang sunnah dan hokum-hukum yang diamalkan  agar beliau dapat  menetapkan. Sedang hadis yang tidak diamalkan akan  beliau tinggalkan,  walaupun diriwayatkan dari para perawi yang  terpercaya’’. Demikian  perkataan Qodhi Iyadh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-          Al- Hafidz Ibn Rajab  Al-Hambali dalam Kitabnya Fadhl ‘Ilm  As-Salaf ala Kholaf\hal.9, berkata  : ” Para Imam dan Fuqoha Ahli Hadis  sesungguhnya mengikuti hadis  shohih jika hadis itu diamalkan dikalangan  para Sahabat atau generasi  sesudahnya, atau sebagian dari mereka. Adapun  yang disepakati untuk  ditinggalkan, maka tidak boleh diamalkan, karena  tidak akan  meninggalkan sesuatu kecuali atas dasar pengetahuan bahwa ia  memang  tidak diamalkan ’’ .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Oleh karena itu Dr. Muhammad ‘Awwamah  berkata dalam kitab Atsar Al-Hadis  Asy-Syarif fi Ikhtilafi Al-Aimmah  Al-Fuqoha ra. (terjemah dengan judul  ‘Melacak Akar Perbedaan Madzhab’)  pada hal. 46 : ‘’ Kelayakan pengamalan  sebuah hadis terjadi setelah  sempurna sanad dan redaksinya dengan  syarat yang banyak. Diantaranya  syarat-syarat Haditsiyah dan Ushuliyah.  Sehingga persoalannya tidak  hanya berhenti pada pandangan tentang para  perawi hadis (rijal  Al-Isnad) yang terdapat dalam kitab Taqrib  At-Tahdzib sebagaimana  disangkakan banyak orang pada masa ini ” . Dan  hanya orang yang diberi  petunjuk oleh Allah melalui bimbingan para Ulama  yang terpercayalah  yang akan selamat dari fitnah yang diciptakan oleh  orang-orang yang  hanya mengikuti hawa nafsunya !?!!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;5-Shubhat Kelima : Mereka mengklaim bahwa pembagian akal yang benar  adalah menjadi akal Haqiqi dan akal Majazi ?!?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kami  menjawab : Model pembagian seperti ini mirip dengan pembagian para   filosof seperti Al-Farabi dan Ibn Sina ketika mereka membagi akal   menjadi akal aktif (Al-Aql Al-Fa’al), akal pasif (Al-Aql bi   Al-Munfa’il), akal daya (Al-Aql bi Al-Quwwah), akal inti (Al-Aql   Al-Hayula) (Lihat Kitab As-Siyasah li Al-Farabi hal. 23; Risalah fi   Al-Uqul li Ibn Sina hal. 418). Kemudian namanya dirubah menjadi “akal   haqiqi dan akal majazi” , yang pada hakekatnya adalah   pemikiran-pemikiran filsafat. Dan yang lebih berbahaya lagi adalah   tatkala model pembagian ala filsafat ini dibumbui dengan sejumlah dalil   yang dita’wil sedemikian rupa untuk mengelabui para pembaca, sehingga   seakan-akan pembagian seperti ini dilegalisasi oleh Islam, padahal yang   sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Islam sama sekali. Bahkan para   Ulama seperti Ibn Taimiyah, Imam Syafi’I, Imam Ahmad dll, telah   membantah habis kesesatan ide dan pemikiran yang digagas oleh para ahli   kalam dan filosof, serta mengingatkan umat agar tidak terjebak dengan   fitnah ilmu kalam dan filsafat yang telah menyesatkan banyak orang dari   umat ini (lihat kitab Ushul Ad-Dien oleh Abdul Qodir Al-Baghdadi hal.   308; Al-Ushul wa Al-Furu’ oleh Ibn Hazm jilid 2\hal. 196; Syarah   Ath-Thohawiyah oleh Ibn Abi Al-Izzi hal. 9-10; Manahij Al-Bahsi oleh   Al-Nasyar hal 114-220). Sehingga menjadi jelaslah bagi orang-orang yang   berakal bahwa kelompok yang senang memberi label kelompok yang tidak   sefaham dengannya sebagai pengikut ilmu kalam dan filsafat, ternyata   dirinya sendiri banyak terjebak dengan pemikiran-pemikiran kalam itu   sendiri, termasuk ketika mereka membuat kesimpulan dengan akalnya dengan   menyatakan tidak menjadikan hadis ahad sebagai dalil dalam masalah   aqidah berarti telah membuang banyak masalah yang berhubungan aqidah.   Hal itu pada hakekatnya adalah permainan akal para filosof semata !!! .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;6-  Shubhat Keenam : Mereka menuduh para aktivis dari pergerakan islam   itu, berdakwah tanpa bekal ilmu yang memadai, bahkan kosong dari ilmu.   Dan hanya mereka yang pantas untuk membicarakan dan membina umat dengan   Dien Islam ?1?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kami Menjawab : Kami sekarang ingin  bertanya kepada anda, ilmu seperti  apa yang anda maksud. Apakah ilmu  tentang Ilmu Tajwid dan ilmu Qira’aat,  atau Ilmu Ulum Al-Qur’an dan  cabang-cabangnya, atau Ilmu Ulum Al-Hadis  dan cabang-cabangnya yang  berjumlah puluhan itu, atau Ilmu ushul Fiqh  yang membahas banyak  masalah didalamnya, atau ilmu bahasa arab yang  meliputi ilmu Nahwu ,  Shorrof, Balaghoh : Badi’ – Ma’ani – Bayan, atau  Ilmu tentang Aqidah  dan cabang-cabangnya dll. Apakah anda mengajarkan  semua itu ! atau  hanya sebatas membacakan bagian tertentu dari kitab  para Ulama yang  membahas tentang masalah ibadah mahdhah saja ditambah  sedikit  masalah-masalah akhlaq lalu memperbanyak perdebatan didalamnya,  lalu  anda katakan kepada para santri anda yang kebanyakan orang awam  yang  ikhlas itu, bahwa mereka telah mengusai Tsaqofah Islamiyah, sedang  yang  selain mereka tidak punya bekal seperti yang mereka punyai.  Permainan  seperti apa yang hendak anda lakukan untuk menggiring  orang-orang yang  ikhlas ini untuk memusuhi saudaranya. Anda telah  mendorong mereka untuk  berlaku congkak dan memandang rendah saudara  mereka yang lain. Padahal  anda tahu, hal itu adalah sangat bertentangan  dengan Islam. Terlebih  lagi para masyaikh yang menjadi guru besar  berbagai Ilmu Dien di  berbagai Universitas terkemuka di Timur Tengah  seperti Al-Azhar,  Az-Zaitun, Univ. Ibn Su’ud dll, adalah aktivis dari  berbagai harokah  Islam yang anda anggap tidak mempunyai Ilmu, sedang  anda menukil  pernyataan itu dari murid  ‘Para Masyaikh’ ini. Kemudian  “para murid”  ini mengkritik dan mengatakan bahwa guru-gurunya dan  harokah yang ia  ikuti adalah tidak memiliki bekal ilmu yang memadai  untuk berdakwah,  laksana seorang murid TK yang mengkritik Profesor di  sebuah Universitas  ternama  --- Siapa yang akan percaya dengan  pernyataan “nyleneh” ----  seperti ini. Lalu kalau memang benar bahwa  hanya andalah yang mengusai  seluruh tsaqofah Islam, maka mana konsep  anda tawarkan untuk mengatasi  krisis keuangan, mana juga konsep anda  untuk menangani masalah  ketenagakerjaan, juga masalah pengelolaan sumber  daya alam, masalah  good and clean government, mana konsep anda tentang  Bank Sentral ala  Islam, dan konsep untuk menata ekonomi baik yang  berskala makro atau  mikro ekonomi berdasarkan Islam, juga tentang  pendidikan, kesehatan,  politik luar negeri, sistem pidana,  perundang-undangan dll. Kalau anda  tidak mempunyai itu semua dan anda  tidak mampu untuk memberi jawaban  atas berbagai problematika  multidemensional yang dihadapi oleh umat  ini, lalu untuk apa anda  berteriak-teriak akan dapat menjadi juru  selamat kalau tidak ada yang  bisa anda gunakan untuk menyelamatkan umat  ini. Anda dan kelompok anda  seperti dalam pepatah arab yang mengatakan  bahwa ‘Orang yang tidak  mempunyai sesuatu, pasti ia tidak akan mampu  memberi sesuatu itu’. Maka  batal dan rontoklah shubhat yang dilontarkan  oleh mereka ?!??&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;7- Shubhat Ketujuh : Mereka  mengklaim bahwa pendapat mereka yang paling  benar karena didukung oleh  hadis-hadis shohih, sedang pendapat dari  kebanyakan harokah Islam  didukung oleh banyak hadis Dho’if, sehingga  merekalah yang merasa  paling layak membawa Ilmu Para Salafus Sholeh ?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kami  menjawab: Hal itu perlu dibuktikan lebih lanjut. Sehingga apa yang   mereka klaimkan tetap menjadi klaim saja tanpa bukti. Kami katakan   kepada mereka agar mereka bertanya kepada para Ahli Ilmu tentang   kandungan hukum yang ada dalam hadis yang mereka bawa agar mereka tidak   tersesat dalam pengamalannya. Perhatikan peringatan Al-Hafidz Ibn Abdil   Barr berikut : ‘’ Dikatakan oleh Al-Qodhi Mundzir, bahwa Ibn Abdil  Barr  mencela dua golongan, yang pertama , golongan yang tenggelam dalam  ro’yu  dan berpaling dari Sunnah, dan kedua, golongan yang sombong yang   berlagak pintar padahal bodoh (menyampaikan hadis, tetapi tidak   mengetahui isinya –pent) (Dirangkum dari Jami’ Bayan Al-Ilm juz II\hal.   171). Syeikhul Islam Ibn Al-Qoyyim Al-Jawziyah berkata dalam Kitab   I’lamu Al-Muwaqqi’in juz I\hal. 44, dari Imam Amad, bahwa beliau   berkata:’’ Jika seseorang memiliki kitab karangan yang didalamnya   termuat sabda Nabi SAW, perbedaan Sahabat dan Tabi’in, maka ia tidak   boleh mengamalkan dan menetapkan sekehendak hatinya sebelum   menanyakannya pada Ahli Ilmu, mana yang dapat diamalkan dan mana yang   tidak dapat diamalkan, sehingga orang tersebut dapat mengamalkan dengan   benar”. Dan Al-Hafidz Ibn Rajab mengutip perkataan Imam Mujtahid Sufyan   Ats-Tsauri : ’’ Ada Hadis yang tidak dapat dijadikan sebagai dasar  hukum  ’’ (Lihat kitab Syarh Ilal At-Tirmidzi hal. 29). Sehingga  berdasarkan  penjelasan dari para Ulama ini maka batallah hujjah mereka  !!!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;9- Shubhat Kesembilan : Mereka Menyatakan  bahwa tidak menjadikan hadis  ahad sebagai dalil dalam masalah aqidah  berarti telah membuang banyak  masalah yang berhubungan aqidah seperti  karakteristik surga dan neraka,  Al-Haudh dll !!!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kami  menjawab : Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa keimanan cukup   dibangun berdasarkan dalil dzonni saja, seperti menetapkan aqidah   dengan hadis ahad. Menurut mereka, tidak menjadikan hadis ahad sebagai   dalil dalam masalah aqidah merupakan rencana yang dapat membahayakan   aqidah umat. Malah menurut mereka hal ini merupakan perbuatan nifaq,   karena menurut pemahaman mereka , tidak menjadikan hadis ahad sebagai   dalil dalam masalah aqidah berarti menerima sebagian aqidah dan   meninggalkan sebagian lainnya. Pendapat dan kritikan diatas, menurut   kami sangat membahayakan kelangsungan aqidah umat. Lebih jauh lagi, ia   bertentangan dengan nash-nash yang terdapat dalam Al-Qur,an dan   As-Sunnah. Selain itu juga bertentangan dengan pendapat mayoritas Ulama   kaum Muslimin. Karena menetapkan sesuatu adalah bagian dari aqidah  Islam  atau bukan, tidak ditentukan berdasarkan akal atau perasaan kita  dengan  mengatakan bahwa ‘’ menurut akal saya atau perasaan saya, kok  kira-kira  ini bagian dari aqidah ‘’ , tidak sekali lagi tidak dapat  dikatakan  seperti itu, melainkan harus ditentukan berdasarkan dalil.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tidak  menjadikan hadis ahad sebagai dalil dalam masalah aqidah adalah  sangat  berbeda dengan mengingkari hadis ahad seperti yang dilakukan oleh   Mu’tazilah. Mereka mengingkari kehujjahan hadis ahad karena menurut   mereka tidak rasional. Mereka mengatakan: “ Apakah kalian menemukan di   dalam kubur alat-alat untuk menyiksa seperti paku, gergaji, palu dll ”,   dan tentu mereka (Muta’zilah) tidak akan menemukannya karena itu   berkaitan dengan hal yang ghoib\ tidak dapat diindera kemudian mereka   mengingkari hadis ahad tentang adzab qubur karena menurut mereka tidak   rasional (Lihat Kitab Ar-Ruh Oleh Imam Ibn Al-Qoyyim Al-Jauziyah).   Sedang mayoritas Ulama yang tidak menjadikan hadis Ahad sebagai dalil   Aqidah adalah tidak mengingkari adanya adzab qubur, kedatangan Imam   Al-Mahdi, Karakteristik Surga-Neraka, dan masalah ghoib lainnya yang   diinformasikan dengan hadis ahad, tetapi mereka menduga dengan keras   (Gholibatu Adz-Dzonn) tentang kebenaran semua itu walau tingkat   keyakinannya tidak sampai derajat Qoth’I\Pasti (dengan pembenaran 100%),   lalu sebagian besar diantara mereka tidak memasukkan hadis ahad dalam   kajian Aqidah tetapi dimasukkan dalam pembahasan “At-Targib wa   At-Tarhib”. Hal ini disebabkan jumhur Ulama dari berbagai disiplin ilmu   Dien telah menetapkan derajat hadis ahad hanya menghasilkan dugaan  keras  saja tidak sampai derajat Yaqin. Sebagaimana yang dijelaskan oleh  DR.  Muhammad Ajaj Al-Khotib bahwa Jumhur Ulama Hanafiyah, Syafi’iyah  dan  Jumhur Mutakallimin dll menegaskan bahwa hadis ahad hanya memberi  faedah  dzon dan wajib diamalkan (dalam masalah hukum furu’\cabang  –pent)  (Lihat kitab Al-Ihkam li Ibn Hazm jilid 1\hal. 97, 108-122;  Al-Mutashfa  li Imam Al-Ghozali jilid 1\hal. 93-99; Al-Ihkam li Al-Amidi  jilid 2\hal.  49-60). Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Muhammad  Ibn Abdul Baqi  Ibn Yusuf Al-Zarqonni, ketika ia menjelaskan tentang  batalnya wudhu;  karena menyentuh kemaluan tanpa penghalang. Hadis ini  adalah dalil  tentang penerimaan hadis ahad dan kebolehan berpegang pada  dalil yang  dzon (dalam masalah amal perbuatan atau hukum syara’,  tetapi tidak dalam  masalah aqidah -pent) (lihat Kitab Syarh  Az-Zarqoni\jilid 1\hal.  126\Dar Al-Kitab Al-Ilmiyah\Beirut\1411 H ---  Cetakan Pertama).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Imam Imam Muhammad ibn Ibrahim Ibn  Jamaah menambahkan bahwa hadis ahad  adalah semua hadis yang jumlah  perawinya tidak mencapai jumlah perawi  hadis Mutawatir. Dan ada yang  berpendapat bahwa hadis ahad memberi  faedah Dzon (Kitab Al-Minhal  Ar-Rawi jilid 1\hal. 32\Dar Al-Fikr\  Dimsyaq – Siria \ 1406 H\ Cetakan  Kedua).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Padahal masalah Aqidah karena merupakan sebuah  kepastian maka ia harus  dibangun dengan dalil-dalil yang memberikan  kepastian pula dari dalil  yang qoth’I tsubut (yaitu Al-Qur’an dan Hadis  Mutawatir) dan qoth’I  dalalah (penunjukan maknanya pasti sehingga  tidak mungkin ditafsirkan  kepada makna yang lain). Sebagaimana yang  dinyatakan oleh Al-Hafidz Ibn  Katsir (Tafsir Al-Qur’an Al-A’dzim juz I,  hal. 40) : “ Imam yang telah  ditentukan syara’ dan diserukan kepada  seluruh kaum Muslimin adalah  berupa I’tiqod, ucapan, dan perbuatan ” .  Begitulah pendapat sebagian  besar Imam-imam mahdzab. Malah menurut Imam  Syafi’I, Imam Ahmad bin  hambal, dan Abu Ubaidah, ia telah menjadi  ijma’’. Dan diperkuat oleh  Imam Ibn Mundzir dalam Lisanul Arab bahwa ‘’  Arti Imam adalah Tasdiq  (pembenaran). Dalam kitab At-Tahdzib,  disebutkan bahwa Iman adalah asal  kata dari yang artinya ‘’Ia seorang  Mu’min”. Dalam hal ini, para Ahli  bahasa sepakat bahwa iman berarti  tashdiq (pembenaran). Perhatikan  firman Allah SWT sebagai berikut :  ‘’Orang-orang arab badui itu berkata,  Kami telah beriman. Katakan  kepada mereka : ‘Kamu belum beriman’.  Tetapi katakanlah ‘kami telah  tunduk’ (QS. Al-Hujurat -14) “ .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Hal ini dilakukan oleh  para Ulama dalam rangka menjaga kemurnian aqidah  Islam dari bersih dari  berbagai penyimpangan seperti aqidah yang  dimiliki generasi yang  terbaik yaitu generasi para Salafus Sholeh  (generasi Shohabat, Tabi’in,  dan Tabiut Tabi’in-pent) ( Lihat Kitab Radd  ala Al-Kitab Ad-Da’wah  Al-Islamiyah; Dr. Abdurrahman Al-Baghdadi , hal.  175 ).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Usaha  untuk menggunakan dalil yang jelas untuk membangun Aqidah Umat  Islam  dengan jalan membatasinya pada dalil-dalil Qoth’I, harus terus  kita  lakukan. Dan untuk memberikan keyakinan tentang masalah ini marilah   kita mengkaji argumentasi dari para Imam panutan umat untuk  membantah   mereka yang menyangkal prinsip yang mulia ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Salah satu  argumentasi yang mereka ketengahkan untuk mendukung pendapat  mereka  adalah adanya klaim bahwa para Imam termasuk Imam Empat Madzab  a.l:  Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I dan Imam Ahmad bin  Hambal,  dimana mereka telah sepakat bahwa periwayatan secara Ahad  (khobar  Ahad-pent) memberikan pengetahuan yang pasti dan dapat digunakan   sebagai dalil dalam masalah Aqidah. Dan apa yang sesungguhnya dikatakan   para Imam bertentangan dengan klaim diatas. Faktanya tatkala kita   membaca Kitab yang ditulis para Imam ini dan para muridnya dan para   Ulama sesudahnya yang mengikuti jejak para Imam Ahlus Sunnah ini, akan   mendapatkan bahwa mereka berpegang dengan pendapat yang menyatakan bahwa   : “Khobar Ahad tidak memberikan pengetahuan yang pasti (dzon-pent)”,   tetapi khobar ini memberikan pengetahuan minimal dugaan keras (dzon   rajih), walaupun terbukti bahwa sanadnya shohih dan digunakan hanya   sebagai dalil dalam masalah amal perbuatan, tetapi  tidak dalam masalah   aqidah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Banyak orang telah menyatakan bahwa para Imam  menerima hadis ahad  sebagai dalil yang memberi kepastian (qoth’I-pent)  dan digunakan sebagai  dalil dalam masalah aqidah. Bagaimanapun apa yang  telah mereka lakukan,  jelas merupakan penukilan yang tidak sesuai  dengan pernyataan para Imam  khususnya Imam Empat Madzab. Para Imam ini  membuat berbagai pernyataan  berkaitan berkaitan dengan masalah  khobar  ahad, dalam rangka membantah  pendapat kelompok-kelompok bid’ah pada  masanya, yang telah menolak  khobar ahad sebagai dalil secara  keseluruhan baik dalam masalah aqidah  atau masalah amal perbuatan.  Untuk dapat memberikan gambaran yang  sesungguhnya tentang posisi para  Imam dalam masalah ini, kita harus  mengkaji secara langsung dari  kitab-kitab yang ditulis oleh para Imam  ini dan para murid-muridnya  yang terpercaya. Dimana mereka (murid para  Imam-pent) mendengar dan  mendapat penjelasan secara langsung dari para  gurunya. Pemahaman mereka  terhadap masalah ini (masalah khobar  ahad-pent) merefleksikan  pemahaman para gurunya, dan sudah seharusnya  kita mempercayai pemahaman  mereka lebih dari pemahaman kita sendiri  setelah mengkaji dan  mempelajari kitab para Ulama tersebut. Oleh karena  itu marilah kita  meneliti lebih dalam apa pendapat Imam panutan umat  yang mewakili  madzab-madzab ini dalam masalah hadis ahad sebagai berikut  :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;1- Imam Jalaludin Abdur Rahman bin Kamaludin As-Suyuti (w. 911 H)  menyatakan :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;‘’  hadis Ahad tidak Qoth’I dan tidak dapat dijadikan dalil dalam masalah    Ushul atau Aqidah”  (Tadrib Al-Rawi Fi Syarh Taqrib Al-Nawawi) dan   juga lihat pada kitabnya yang lain (Al-Itqon Fi Ulum Al-Qur’an juz   1\hal. 77 dan juz 2\hal.5).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;2- Al-Hafidz Ibn Hajar (w. 852  H) menyatakan dengan menukil pendapat  Imam Yusuf Al-Kirmani bahwa : “  Hadis ahad tidak dijadikan dalil dalam  masalah aqidah ’’ (Fathul Bari   Juz 8, Bab Khobar Ahad).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;3- Imam Abu Al-Hasan Saifudin Al-Amidi  (w. 631), beliau berkata :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;‘’  Bahwa masalah Aqidah ditetapkan berdasarkan dalil-dalil qoth’I,  sedang  masalah furu’ cukup ditetapkan dengan dalil-dalil dzoni ’’. Lalu   menambahkan: ‘’ Barang siapa menolak Ijma ’’ (konsensus-pent) dalam   masalah ini telah gugur pendapatnya, dengan adanya kasus pada masalah   fatwa dan kesaksian. Perbedaan antara masalah Ushul dan furu’ adalah   sangat jelas. Mereka yang  menyamakan masalah ushul dan masalah furu’   berarti telah membuat hukum sendiri, hal ini adalah sesuatu yang   mustahil dan hanya dilakukan oleh orang-orang yang sombong dan arogan ’’   (Lihat Al-Ihkam fi Ushuli Al-Ahkam Imam Al-Amidi juz I\hal. 71-72;   Al-Ihkam fi Ushuli Al-Ahkam Imam Ibn  Hazm juz I\hal. 114 -pent).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;4- Imam Abi Muhammad Abdurrahim bin Hasan Al-Asnawi (w. 772 H), berkata :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“  Hadis Ahad hanya menghasilkan persangkaan saja. Allah SWT membolehkan   hanya dalam massalah amaliyah (tasyri’), yang menjadi cabang-cabang   agama, bukan masalah ilmiah seperti kaidah-kaidah pokok hukum agama”  (   Syarh Asnawi Nihayah as-Saul Syarh Minhaju Al-Wushul Ila Ilmi Al-Ushul   Al-Baidhawi, juz 1\hal. 214).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;5- Imam Zainuddin bin  Ibrahim Ibnu Najim (w. 970 H) menyatakan hal sama  dengan Imam  As-Sarkhasi bahwa hadis Ahad (Dzon Tsubut-pent) wajib  diamalkan, tetapi  tidak untuk masalah I’tiqod (Aqidah-pent) (Lihat Fath  Al-Ghaffar  Al-Ma’ruf bi Misykah Al-Anwari, juz 2\hal. 63).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;6- Imam  Al-Khobazi menyatakan hal yang tidak jauh berbeda dengan  pendapat Imam  As-Sarkhasi dan Imam Ibnu Najim tentang status hadis ahad (  Lihat Kitab  Al-Mughni fi Al-Ushuli Al-fiqhi li Al-Khobazi, hal. 84).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;7- Imam Kasani menyatakan :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“  Pendapat sebagian besar fukoha menerima hadis ahad yang terpercaya dan   adil serta diamalkan dalam masalah tasyri’ kecuali masalah aqidah,   sebab I’tiqod wajib dibangun dengan dalil-dalil yang qoth’I, yang tidak   ada keraguan didalamnya, sementara masalah amal (tasyri’) cukup dengan   dalil yang rajih (kuat) saja”  ( Badaa’iu Shanaa’I juz 1\hal. 20).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;8- Imam Abu Ishak Sya’tibi (w. 790 H) menyatakan :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“  Bahwa Ushul fiqh dalam agama harus dibangun dengan dalil-dalil qoth’I,   bukannya dengan dalil-dalil dzoni. Seandainya boleh menjadikan dalil   dzoni sebagai dalil dalam masalah Ushul seperti Ushul Fiqh maka juga   membolehkan (hadis ahad-pent) sebagai dalil dalam masalah Ushul Ad-din   (Aqidah –pent) dan hal ini jelas tidak diperbolehkan menuruj ijma’    (kesepakatan-pent). Karena  masalah Ushul fiqh juga dinisbahkan dalam   masalah Ushul Ad-din”  (Al-Muwafaqat fi Ushuli Asy-Syar’iyah ).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;9- Imam Muhammad Ibn Ahmad Ibn Sahl Abu Bakar Shams Al-A’ima Al-Sarkhasi  (w. 483)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Imam  besar Hanafiyah dan seorang Mujtahid, dalam kitabnya (Al-Usul   Al-Sarkhasi juz 1\hal. 112, 321-333) membantah mereka yang menerima   Khobar Ahad dalam masalah Aqidah. Beliau menerangkan hakikat dari Khobar   Ahad dan perbedaan antara dalil Qoth’I dan dalil Dzonni sebagaimana   perbedaaan pada Tabligh dan Khobar. Untuk mengilustrasikan beliau   memberi contoh pada masalah adzab kubur.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;10- Fakrudin  Muhammad bin Umar bin Husain Ar-Razi (w. 606 H)  mengilustrasikan poin  berkaitan dengan hadis Ahad sebagai berikut : “  Saya katakan kepada  seseorang bahwa hadis yang menyebutkan Ibrahim  pernah berbohong  sebanyak 3 kali, adalah tidak benar, karena jika hadis  ini diterima,  maka akan membuktikan Ibrahim sebagai seorang pendusta.  Orang tersebut  menyatakan bahwa para perawi hadis ini adalah perawi yang  terpercaya  (tsiqoh –pent) dan tidak dapat dinilai sebagai pendusta.  Saya menjawab  bahwa hadis ini, kalau kita terima akan membuktikan bahwa  Ibrahim  adalah seorang pendusta dan kalau ditolak berarti para perawi  dianggap  pendusta, dimana keterangan yang baik dan lebih disukai adalah  untuk  diberikan pada Ibrahim AS ”  ( Lihat Tafsir Al-Kabir dan  Al-Mahshul fi  Ilmi Al-Ushul).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;11- Imam Abdur Rauf Al-Manawi ketika  beliau menjelaskan tentang masalah  syafa’at menyatakan : “Masalah ini  adalah bukan masalah amaliyah,  sehingga tidak cukup dengan dalil dzon  seperti yang faedah yang  diberikan oleh hadis ahad …..’’ (Lihat Kitab  Faidhul Qodhir jilid 4\hal.  163\Al-Maktabah Al-Jariyah Al-Kubra ---  Mesir\ 1356 H\ Cetakan  Pertama).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;12- Imam Ibn Abdil Bar  menyatakan : “ Kebanyakan ahli ilmu menyatakan  bahwa hadis ahad   mewajibkan amal (dalam masalah hukum furu’ –pent)  tanpa ilmu (tidak  sampai derajat yaqin sebagai dalil dalam masalah  aqidah –pent). Ini  adalah pendapat Imam Syafi’I dan mayoritas (jumhur)  Ulama fiqh dan  Nadzar “ (Kitab At-Tamhid Li Ibn Abdil Bar  jilid 1\hal. 7  – 8) .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;13-  Imam Ibn Rusd menjelaskan bahwa para Ulama Kuffah menolak sebuah  hadis  kalau bertentangan dengan Ushul yang mutawatir, termasuk metode  mereka  ketika menolak hadis ahad tatkala menyelisihi Ushul yang  mutawatir,  dimana hadis ahad berfaedah dzon dan masalah ushul adalah  keyakinan  yang harus dibangun dengan dalil yang memberi keyakinan pula  (yaitu  hadis mutawatir –pent) (Lihat Kitab Bidayah Al-Mujtahid  jilid  2\hal.  216\Dar Al-Fikr\ Beirut --- Libanon).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;13- Imam Jamaluddin  Al-Qosimi menyatakan : “ Sesungguhnya jumhur kaum  muslimin dari  kalangan sahabat, tabi’in, golongan setelah mereka dari  kalangan  fuqoha, ahli hadis, dan ulama ushul berpendapat bahwa hadis  ahad yang  terpercaya dapat dijadikan hujjah dalam masalah tasyri’  yang  wajib  diamalkan, tetapi hadis ahad ini hanya menghantarkan pada Dzon  tidak  sampai derajat ilmu (yakin)”  ( Lihat Kitab Qawaidut Tahdis hal.   147-148).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;14- Maulana M. Rahmatulah Kairanvi berkata  tatkala membela hadis dan  autentitasnya dari serangan para orientalis :  “ Hadis Ahad adalah jenis  hadis yang diriwayatkan dari seorang perawi  kepada seorang perawi  lainnya atau sekelompok perawi, atau sekelompok  perawi kepada seorang  perawi”.  Selanjutnya beliau mengatakan bahwa:  “Hadis Ahad tidak  menghasilkan kepastian sebagaimana dua contoh diatas.  Hadis ini tidak  dapat dijadikan sebagai dalil dalam masalah aqidah,  tetapi diterima  sebagai dalil dalam masalah amaliyah praktis”  (Lihat  Kitab Izhar Al-Haq  Oleh Maulana Kairanzi juz 4).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;15-  Prof. DR. Mukhtar Yahya dan Prof. DR. Fatchurrahman menegaskan bahwa   Hadis ahad tidak dapat digunakan untuk menetapkan sesuatu yang   berhubungan dengan aqidah dan tidak pula untuk menetapkan hukum wajibnya   suatu amal (Lihat Buku Dasar-Dasar Pembinaan Hukum Fiqih Islam hal.   54).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;16- Ust. Moh. Anwar Bc.Hk juga menegaskan bahwa para  Muhaqqiqin  menetapkan hadis ahad shohih diamalkan dalam bidang amaliyah   baik  masalah ubudiyah maupun masalah-masalah mu’amalah, tetapi tidak  dalam  masalah aqidah/keimanan karena keimanan\keyakinan harus  ditegakkan atas  dasar dalil yang Qoth’I, sedangkan hadis ahad hanya  memberikan faedah  Dzonni (Lihat Buku Ilmu Mustholah Hadits  hal. 31)  (Lihat juga makalah  kami yang berjudul “Sekali Lagi tentang Hadis Ahad”   –pent).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sehingga kalau demikian jelas pendapat  serta penjelasan mayoritas Para  Ulama rabbani yang menjadi Panutan Umat  dalam masalah ini, kemudian kami  hendak bertanya, pendapat yang selama  ini anda gembar-gemborkan itu  sebenarnya dinukil dari siapa atau anda  hanya sekedar menyelewengkan  pendapat mereka untuk memenuhi nafsu  permusuhan anda dengan orang atau  kelompok yang seharusnya menjadi  saudara seperjuangan untuk membina dan  menyelamatkan umat ini dari  kehancuran, bukan dengan menebar fitnah dan  syahwat permusuhan !?!.  Kembalilah ke jalan Al-Haq, Wahai orang-orang  rindu akan kebenaran ?!?!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Bahkan  dengan menerima hadis ahad dalam masalah aqidah akan menimbulkan   beberapa permasalahan seperti contoh yang disampaikan oleh Syeikh   Nashiruddin Al-Albani ketika menyampaikan hadis dari Ibn Abbas bahwa   nabi SAW bersabda: “ Sesungguhnya makhluk yang pertama kali diciptakan   Allah SWT adalah Al-Qolam. Dan Dia memerintahkan supaya menulis   tiap-tiap sesuatu yang ada “ . Beliau mengomentari hadis ini dengan   menyatakan: “ Al-Qolam adalah makhluk pertama yang diciptakan ……….Dan   kurang tepat apa yang dikatakan oleh Ibn Taimiyah dalam menyanggah para   Filosof, bahwa sesuatu yang baru (makhluk) itu tidak ada permulaannya   baginya, ini tidak dapat diterima logika. Dalam hal ini para lawannya   menuduh bahwa Ibn Taimiyah telah menganggap bahwa makhluk itu qodim dan   tidak ada permulaan baginya. Padahal dipihak lain dia juga menegaskan   bahwa tidak ada suatu makhluk melainkan ia didahului oleh adam (tidak   ada). Namun bersamaan dengan itu dia juga mengatakan adanya kaitan   sesuatu yang baru (hawadits) dengan sesuatu yang tidak memiliki   permulaan baginya. Sebagaimana yang dia  dan kawan-kawannya katakana   bahwa makhluk itu tidak memiliki penghabisan (akhir). Pendapat ini jelas   tidak dapat diterima. Bahkan bertentangan dengan hadis ini. Memang,   sesungguhnya berbicara tentang filsafat adalah berbahaya. Akan tetapi   benar apa yang dikatakan oleh Ibn Malik ra., bahwa setiap orang bisa   menyanggah dan disanggah, kecuali penghuni kubur ini ( Rasul SAW) (Lihat   terj. Silsilah Al-Ahadis Ash-Shohihah jilid I oleh Drs. H. Qodirun  Nur,  hadis no. 133, hal. 296-297). Kemudian kami ingin bertanya kepada  anda,  manakah pendapat  yang akan anda ambil ? Kalau anda mengambil  keduanya  maka anda telah mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa  pengetahuan (  karena berarti Allah menciptakan sesuatu yang baru  (makhluk) itu yang  tidak ada permulaan baginya dan pada saat bersamaan  menciptakan Al-Qolam  sebagai makhluk pertama). Sedang mengambil salah  satu pendapat berarti  menolak dan menyalahkan pendapat yang lain  (berarti salah satu dari Imam  Ibn Taimiyah atau Syeikh Albani telah  menyimpang dalam masalah aqidah  dalam perkara ini). Pertanyaannya,  siapakah menurut anda yang telah  menyimpang dalam masalah ini apakah  Imam Ibn Taimiyah atau Syeikh Albani  ?!?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;10-  Shubhat Kesepuluh : Ada sebagian orang menyatakan bahwa Imam Bukhori   membolehkan menerima hadis ahad dalam masalah aqidah dan hal ini juga   didukung oleh Ibn Hajar dalam Fath Al-Bari-nya  ?!?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kami  menjawab : Pernyataan ini tidak ada asalnya (La Ashla lahu), bahkan  ini  merupakan penyimpangan dan pmelintiran dari pernyataan Imam Bukhori   yang sesungguhnya. Imam Bukhori mempunyai sebuah bab dalam kitab   shohih-nya yang terkenal yaitu Bab sesuatu yang datang tentang kebolehan   hadis ahad sebagai dalil untuk masalah Adzan, Sholat, Shoum, Faraidh   dan Ahkam ; titik dan tidak ada pernyataan dari Imam Bukhori tentang   kebolehan hadis ahad sebagai dalil dalam masalah aqidah, baik tidak   dalam kitab Shohih-nya atau dalam kitab-nya yang lain. Dan Al-Hafidz Ibn   Hajar ketika menjelaskan kata “bi Al-Ijazah”  menyatakan tentang   kebolehan beramal (ahkam furu’iyah) dengan hadis ahad dan hadis ahad   adalah hujah. Lalu dimana Ibn Hajar menyatakan tentang kehujjahan hadis   ahad dalam masalah aqidah !!! Bahkan beliau menukil pendapat Imam   Al-Kirmani menyatakan bahwa Hadis ahad adalah hujjah dalam masalah   amaliyah, tidak dalam masalah I’tiqodiyah (Fathul Bari juz 13, Bab   Akhbar Al-Ahad), beliau mengutip pendapat ini tanpa mengomentarinya,   yang berarti belaiu cenderung untuk mengadopsi pendapat ini. Dan hal ini   ditegaskan dengan sikap Al-Hafidz Ibn Hajar tentang nilai hadis ahad ,   beliau menyatakan bahwa “ Hadis ahad tidak berfaedah kecuali dzon,   apabila tidak sampai derajat mutawatir (Fathul Bari, juz 13\hal. 238)   dan beliau menambahkan bahwa hadis ahad adalah hujjah dalam masalah   hukum ketika menjelaskan sebuah hadis tentang disunnahkan untuk   berwudhu’ sekalipun sedang dalam perjalanan (safar) (Lihat Fathu   Al-Bari’ juz 1\Hadis No. 200\hal. 308).  Adalah hal yang sangat aneh   adalah kalau orang yang mencoba menukil pendapat Ibn Hajar sebenarnya   adalah orang yang sangat keras mengkritik pendapat Ibn Hajar dalam   masalah Aqidah, mereka menulis beberapa kitab yang isi mengkritik dan   memperingatkan umat Islam akan penyimpangan Ibn Hajar dalam masalah   Aqidah, diantara:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-          Al-Tanbih ala Al-Mukholalifat  Al-Aqidah fi Fath Al-Bari oleh  Syeikh Ibn Baz, Syeikh Sholeh Fauzan,  Syeikh Abdullah ibn Mani’, Syeikh  Abdullah Al-Naiman.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-           Al-Akhtho’ Al-Asasiyah fi Al-Aqidah wa tauhid Al-Uluhiyah min   kitab Fath Al-Bari bi Syarh Shohih Al-Bukhori oleh Syeikh Abdullah ibn   Sa’di Al-Ghomidi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Akan tetapi yang aneh adalah Syeikh  Salim I’ed Al-Hilali kembali menukil  pendapat Ibn Hajar dalam kitabnya  Al-Adilah wa Asy-Syawahid ala Wujub  Al-Akhdzi bi khobar Al-Wahid fi  Al-Ahkam wa Al-Aqoid. Baru kali ini  terjadi ada sekelompok orang yang  memperingatkan penyimpangan Aqidah  dari seorang Imam Hadis kepada umat  Islam, lalu tetap menukil dan  menggunakan pendapatnya dalam masalah  Aqidah untuk mempertahankan  pendapatnya yang lemah dan dibumbui dengan  berbagai dalil yang digunakan  tidak pada tempatnya (asal comot saja).   Sehingga sunnah yang berasal  dari Rasul SAW, Sahabat, Tabi’in dan  Tabi’ut tabi’in menyatakan bahwa  makna Syar’I yang umum adalah mencakup  keseluruhan hukum baik yang  berkenaan dengan masalah I’tiqodiyah dan  masalah amaliyah seperti hukum  wajib, Sunnah, Mubah dll sebagaimana  yang dijelaskan oleh Ibn Alan dalam  Dalil Al-falih Syarh Riyadhus  Sholihin ketika beliau menjelaskan hadis  “Fa alaikum bi Sunnati” dengan  Sunnah-ku yaitu Jalan-ku yang lurus yang  berada diatasnya yang aku  telah menjelaskan kepada kalian dari  hukum-hukum I’tiqod maupun Amal  yaitu wajib, sunnah, mubah dll. Sekarang  adakah ulama yang tidak  menggunakan Istilah I’tiqod dan Amaliyah  Furuiyah, sehingga tuduhan  penggunaan istilah I’tiqod dan Amaliyah  Furuiyah adalah filsafat yang  menyusup dalam Islam adalah tuduhan yang  mengada-ada, tidak ada  dasarnya dan khayalan dari orang yang suka  mengkhayal. Coba juga  periksa apakah Syaikhul Islam Ibn Taimiyah menolak  pembagian masalah  I’tiqod dan Furu’ dalam bukunya Majmu Al-Fatawa-nya  yang terkenal itu  atau dalam kitabnya yang lain, begitu juga apakah ada  bukti yang  menunjukkan bahwa Al-hafidz Ibn Hajjar, Al-Hafidz As-Suyuti,  Al-Hafidz  Al-Khotib Al-Baghdadi, Al-Hafidz Ibn Al-Jauzi, Al-Hafidz  Adz-Dzahabi,  Al-Hafidz Ibn Hajjar Al-Haitsami, Imam Shon’ani, Imam  Nawawi , Imam Ibn  Qudamah, Imam Al-Amidi dan para Ulama yang lain dari  berbagai disiplin  Ilmu Dien di dalam kitab-kitab mereka yang menolak  pembagian Itiqod  dan Furu’ dalam masalah Dien !?!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Bahkan Imam Abu  Al-Hasan Saifudin Al-Amidi  (w. 631), beliau berkata :  ‘’ Bahwa masalah  Aqidah ditetapkan berdasarkan dalil-dalil qoth’I,  sedang masalah furu’  cukup ditetapkan dengan dalil-dalil dzoni ’’. Lalu  ia menambahkan : ‘’  Barang siapa menolak Ijma ’’ (konsensus -pent) dalam  masalah ini maka  telah gugur pendapatnya, dengan adanya kasus pada  masalah fatwa dan  kesaksian. Perbedaan antara masalah Ushul dan furu’  adalah sangat  jelas. Mereka yang  menyamakan masalah ushul dan masalah  furu’ berarti  telah membuat hukum sendiri, hal ini adalah sesuatu yang  mustahil dan  hanya dilakukan oleh orang-orang yang sombong dan arogan ’’  (Lihat  Al-Ihkam fi Ushuli Al-Ahkam Imam Al-Amidi juz I\hal. 71-72;  Al-Ihkam fi  Ushuli Al-Ahkam Imam Ibn  Hazm juz I\hal. 114). Sehingga  jelaslah bagi  orang-orang yang berakal antara orang yang berpegang  dengan Al-Haq dan  orang yang mengaku-aku berpegang pada Al-Haq  ?!?!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;11-  Syubhat Kesebelas :  Ada pendapat yang menyatakan pembagian hadis   menjadi Mutawatir ahad adalah sia-sia karena pada masa Shahabat mereka   hanya menyakini apa yang disampaikan dari Rasul SAW tanpa melihat apakah   hadis tsb Mutawatir – Ahad ?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kami menjawab :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;1-      Pada masa Rasul SAW khobar ahad tidak pernah menjadi topik   pembicaraan. Sehingga tidak perlu ada pembagian hadis ahad – mutawatir.   Sebab mereka telah mendapat pengajaran langsung dari Rasul SAW tanpa   melalui perantara dari orang selain mereka, yakni dari orang  yang   mendengar hadis langsung dari lisan Rasul SAW atau menyaksikan   perbuatannya secara langsung.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;2-     Orang yang mendengar  hadis langsung dari Rasul  SAW atau  menyaksikan perbuatannya secara  langsung, bisa menjadi kafir jika ia  menolak sabda Rasul atau menolak  kandungan isinya, dengan jalan berdusta  atau mengingkarinya. Dalam  masalah ini para Ulama tidak berbeda  pendapat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;3-      Orang yang mendengar dari orang yang mendengar dari Rasul SAW,  atau  orang yang diberi informasi oleh orang-orang sebelumnya, misalnya   tabi’ut tabi’in serta orang-orang setelah mereka, seperti kita saat ini ,   maka mereka wajib untuk mengkaji mata rantai, transmisi, ataupun   silsilah yang menghubungkan dirinya dengan Rasul SAW untuk mengetahui   kebenaran mata rantai tersebut. Jika para perawi sebagai perantara dari   sebuah hadis terbukti kejujurannya dan kekuatan hafalannya atau   bersesuaian dengan riwayat dari perawi terpercaya lainnya, lalu tidak   terdapat syadz dan ilaat dalam redaksional hadisnya, maka kita harus   menyakini bahwa sumber perkataan dan perbuatan tersebut adalah berasal   dari Nabi SAW. Adapun jika trasmisi tersebut tidak dapat dibuktikan   keabsahannya, atau tidak absah, maka dengan otomatis harus dilakukan   tarjih. Artinya, dugaan bahwa sumber khobar tersebut berasal daari Rasul   SAW lebih kuat dibanding dengan dugaan bahwa khobar tersebut tidak   berasal dari Nabi SAW.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;4-     Bahwa Khobar ahad tidak bisa  menghasilkan ilmu dan keyakinan  merupakan kajian yang dapat dengan  mudah difahami oleh orang yang  berakal dan telah diketahui secara umum.  Akal dapat membedakan antara  khobar yang disampaikan kepada kita oleh  individu secara perorangan  (ahad), dengan khobar yang disampaikan  kepada kita oleh sekelompok  orang, dimana dengan jumlah tersebut,  mustahil bagi mereka untuk  menyampaikan berita yang salah, atau sepakat  berdusta. Hal ini tidak  hanya terbatas dalam masalah syari’at, tetapi  juga berlaku umum, baik  pada masalah syari’at ataupun masalah lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;5-      Pendapat yang menyatakan bahwa khobar ahad tidak dapat   menghasilkan ilmu, kepastian , atau keyakinan, merupakan pendapat   ulama-ulama yang terkemuka dan para ulama ushul. Baik kholaf maupun   salaf. Dan ia bukan pendapat yang menyimpang dari pendapat para ulama   salaf dan ulama kholaf. (Lihat kitab-kitab Ushul seperti : Kitab Kasyf   Al-Asrar Ala Ushul Al-Fiqh, oleh Imam Al-Bazdawi I/690 ; Al-Mustashfa   min ‘Ilm Ushul oleh Imam Ghozali hal. 93; Hasyiyah Nasmaat Al-Asrar ‘Ala   Syarh Ifadhaat Al-Anwar oleh Ibn Abidin hal. 195; Syarh Jalal Al-Mihla   ‘Ala Jam’I Al-Jawami’ oleh Imam As-Subki II\114; Raudhat Al-Nadzir wa   Jannat Al- Munadhir fi Ushul Fiqh oleh Ibn Qudamah Al-Maqdisi I\260;   Irsyad Al-Fuhul oleh Imam Asy-Syaukani hal. 42; Al-Talwih als Al-Audhih   li Matan Al-Tanqih fi Ushul Al-Fiqh oleh Imam Ubaidillah Al-Bukhori   II\3; Ghoyat Al-Wushul Syarh Lubb Al-Ushul fi syarh Mar’at Al-Wushul   oleh Imam Mulla Khasru II\204; Muslim Tsubut oleh Ibnu ‘Abd Al-Syukur   II\88).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;6-     Kemudian pendapat sebagian Ahli Hadis bahwa  hadis ahad memberi  faedah qoth’I merupakan kesalahan penafsiran,  karena hal sebenarnya  tidak seperti itu. Sebagaimana dijelaskan oleh  Imam Ghozali sbb: “  Tatkala sebuah hadis terbukti sebagai hadis Ahad,  maka ini tidak  berfaedah Ilmu\Dzoni dan masalah ini sudah diketahui  dengan jelas dalam  Islam (ma’lumun bi al-Dharuri)”. Lalu beliau  melanjutkan penjelasannya :  ‘’ Adapun pendapat para Ahli hadis bahwa ia  (hadis Ahad-pent) adalah  menghasilkan Ilmu\qoth’I adalah hadis Ahad  yang wajib untuk diamalkan  (dalam masalah hukum furu’iyah –pent) dan  ketentuan ini ditetapkan  berdasarkan dalil-dalil yang Qoth’I (yang  menghasilkan  Ilmu\qoth’I-pent)” (Lihat Kitab Al-Mustasfa min Ilm’  al-Ushul  juz 1\hal  145-146 -pent). Lalu Imam Jamaluddin Al-Qosimi  menambahkan : “  Sesungguhnya jumhur kaum muslimin dari kalangan  sahabat, tabi’in,  golongan setelah mereka dari kalangan fuqoha, ahli  hadis, dan ulama  ushul berpendapat bahwa hadis ahad yang terpercaya  dapat dijadikan  hujjah dalam masalah tasyri’  yang wajib diamalkan,  tetapi hadis ahad  ini hanya menghantarkan pada Dzon tidak sampai  derajat ilmu (yakin)”   (Lihat Kitab Qawaidut Tahdis  hal. 147-148).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;12-  Syubhat Keduabelas : Ada sebagian orang berargumentasi bahwa  penolakan  para sahabat atas ayat al-Qur’an yang diriwayatkan secara ahad  adalah  untuk persatuan, bukan karena riwayat itu mutawatir !&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kami  menjawab : Untuk menjawab tuduhan ini marilah kita menyimak  beberapa  riwayat yang menjelaskan masalah yang sebenarnya. Salah satunya  adalah  hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Anbary dalam Mashohifnya,  dan  Al-Hasan ,Ibn Sirrin, dan Zuhri dalam hadis yang panjang tentang   pengumpulan Al-Qur’an, dimana Umar ra. menolak khobar dari Hafshoh ra.   tentang tambahan lafadz pada Surat Al-Baqoroh ayat 238 karena ia tidak   punya saksi (riwayatnya ahad). Begitu pada riwayat Aisyah ra. yang   diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwatho’ tentang penghapusan   ketentuan 10 isapan menjadi 5 isapan yang menyebabkan hubungan mahram,   dan riwayat Ubay Ibn Ka’ab ra. yang diriwayatkan oleh Abu Dawud,   Al-Hakim dan selain keduanya tentang kafarat budak. Riwayat-riwayat ini   tidak dicantumkan oleh para Sahabat dalam Mushhaf Imam karena riwayat   tersebut adalah Khobar Ahad dan mereka juga telah bersepakat bahwa   riwayat-riwayat ini tidak memberi keyakinan yang pasti. Hal ini   dipertegas oleh keterangan para ulama dalam menetapkan kriteria dan   rukun qira’at yang dapat diterima (Lihat Al-Qira’at Ahkamuha wa   Masdaruha oleh DR. Sya’ban Muhammad Ismail , Bab Anwa’a Al-Qira’at) sbb:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;1-     Sanadnya Mutawatir&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;2-     Sesuai dengan Mushhaf Utsmani, walau hanya tersirat&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;3-      Sesuai dengan salah satu kaedah bahasa arab (Lihat Al-Itqon jilid   I\Hal. 129 Oleh Imam As-Suyuti , Penerbit Al-Halabi Kairo).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Persyaratan  mutawatir ini adalah pendapat Jumhur Ulama baik ulama  Ushuluddin, para  imam madzab yang empat, para ahli hadis dan para ahli  Qira’at. Mereka  semua sepakat bahwa qira’at shohih atau yang diterima  adalah qira’at  yang mutawatir dan tidak menerima qira’at dengan sanad  shohih (gadis  ahad –pent) jika tidak mutawatir (Lihat Ghoitsun Naf’I fil  Qiraa’at  As-Sab’I hal. 9 oleh Imam Ash-Shafaaqasi, penerbit Maktabah   At-Tijariyah Al-Kubra – Kairo). Imam An-Nuwairi menambahkan : ‘’   Meniadakan syarat mutawatir adalah Muhdas (sesuatu yang baru ),   bertentangan dengan ijma’ para ahli fiqh, ahli hadis dan yang lain-lain.   Sebab Al-Qur’an – menurut jumhur – adalah kalamullah yang diriwayatkan   secara mutawatir dan ditulis didalam mushhaf. Semua yang menerima   definisi ini pasti memberi syarat mutawatir, sebagaimana yang dijelaskan   oleh Ibn Hajib. Sehingga menurut para Imam dam pemuka madzhab syarat   mutawatir adalah sebuah keharusan. Mereka yang berpendapat seperti ini   antara lain Abu Abdil Barr, Al-Azra’I, Ibn Athiyah, Az-Zarkhasi dan   Al-Asnawi. Pendapat yang mensyaratkan mutawatir ini adalah ijma’ para   Ahli Qira’at (Lihat Ithafu Fudhola Al-Basysr fi Al-Qira’at Al-Arba’   Asyar hal. 185 oleh Imam Ad-Dimyathi, Penerbit Al-Masyhad Al-Husaini –   Kairo). Sehingga sanad yang shohih saja tidak cukup untuk diterimanya   sebuah riwayat sebagai bagian dari Al-Qur’an, kalau tidak mencapai sanad   Mutawatir. Imam Al-Khotib Al-Baghdadi menjelaskan bahwa riwayat yang   mutawatir adalah periwayatan oleh banyak orang, dimana menurut adat,   mustahil mereka untuk bersepakat melakukan dusta, mulai awal sanad   sampai akhir sanad (Lihat kitab Al-Kifayah fi Al-Ilmi Ar-Riwayah hal. 50   oleh Imam Al-Khotib Al-Baghdadi). Dimana riwayat yang mutawatir ini   memberi faedah ilmu (kepastian), dan merupakan dalil pokok untuk   membangun Aqidah kaum muslimin. Dan sudah jelas bahwa para Sahabat dan   generasi sesudahnya hanya menerima riwayat mutawatir dalam Mushhaf Imam,   sedang Al-Qur’an adalah dalil utama dalam membangun keimanan. Bahkan   Imam Ibn Al-Jaziri dan Al-Alamah Ibn As-Subki menegaskan : ‘’ Setiap   muslim berhak untuk mendapat kasih sayang serta menyakinkan dirinya   bahwa yang kami utarakan – tentang mutawatirnya qira’at Asyara’ –   benar-benar mutawatir dan telah diketahui dengan yakin dan pasti, tidak   ada keraguan dan tidak diragukan lagi (Lihat Kitab Tafsir Al-Jami’ li   Ahkam Al-Qur’an jilid I\hal. 46 oleh Al-Hafidz Al-Qurthubi, Penerbit Dar   Al-Kutub Al-Mishriyah – Kairo). Kemudian Imam Al-Zamakhsari,   menambahkan : “ Imam Malik Berpendapat barang siapa sholat dengan   membaca Qira’at (bacaan –pent) Ibn Mas’ud yang tidak Mutawatir dan tidak   termasuk Qira’at Para Shahabat, maka ia telah menyelisihi mushhaf   (Mushhaf Imam yang mutawatir-pent) dan janganlah sholat dibelakangnya”    (Al-Burhan Fi Ulumil Qur’an juz I\hal. 222). Wallahu A’lam bi Showab.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;KHATIMAH :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sebagai  kata penutup , hendaknya semua pihak yang berbeda pendapat  termasuk  dalam masalah hukum hadis ahad ini tidak menjadikan  perbedaan-perbedaan  tersebut sebagai sumber konflik yang berkepanjangan  yang  ujung-ujungnya akan merusak ikatan ukhuwah yang sedang coba kita  rajut  saat ini. Sebagaimana penjelasan Imam Al-Qurtubi ketika  menjelaskan  firman Allah SWT : “ Dan ingatkan ketika Kami memberikan  kepada kalian  ni’mat persaudaraan, dan melembutkan hati kalian” (Surat  Ali Imran -  ayat 103). Beliau menyatakan bahwa ayat ini tidak  menunjukkan keharaman  untuk perbedaan dalam masalah hukum-hukum cabang.  Dengan cacatan  pendapat-pendapat tersebut memiliki landasan dari sumber  hukum Islam  yang legal seperti Al-Qur’an, As-Sunnah , Ijma Shohabat dan  Qiyas  dengan Illat yang Syar’i. Kita bisa melihat bagaimana perilaku  para  salafus shaleh dalam menyikapi perbedaan yang terjadi diantara  mereka,  sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyah berikut :  “  Kaum Muslimin sepakat mengenai kebolehan sholat sebagian mereka   dibelakang yang lainnya. Adalah para Shahabat dan Tabi’in dan generasi   sesudah mereka dari Imam yang empat , sholat sebagian dibelakang   sebagian yang lainnya. Misalnya Imam Abu Hanifah dan sahabat-sahabatnya   dan Imam Syafi’i dan selainnya sholat dibelakang imam-imam di Madinah   dari Ulama Malikiyah dan mereka tidak membaca bismilah baik dipelankan   (sirr) maupun dikeraskan (jahr). Abu Yusuf sholat dibelakang Imam   Al-Rasyid yang sedang berbekam. Dan Imam Ahmad memandang keharusan orang   yang berbekam untuk wudlu’, kemudian ada seseorang yang bertanya   kepadanya: Bagaimana dengan seorang imam sholat yang darinya   mengeluarkan darah (sedang berbekam) dan belum berwudlu’, Apakah kita   boleh sholat dibelakang mereka ?.  Imam Ahmad menjawab: ” Apa yang   menghalangimu untuk sholat dibelakang Sa’id Ibn Musayyab dan Imam Malik   ?”  (Imam Al-Manfur, Fawakihul Adidah\juz 2\hal.171). Dari sini kita   bisa mengambil pelajaran bahwa ikhtilaf fiqhiyah harus disikapi dengan   akhlakul karimah dan ilmu. Bukan dengan kebencian dan permusuhan yang   sangat dilarang dalam Islam (Dr. Thoha Jabir Al-Ulwani, Adab   Al-Ikhtilaf\Bab Khotimah). Wallahu A’lam bi Showab .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Oleh : Muhammad Lazuardi Al-jawi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.seruan-global.com/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;http://www.seruan-global.com/&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-608522994792135235?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/608522994792135235/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2011/01/surat-terbuka-untuk-salafy-dari-syabab.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/608522994792135235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/608522994792135235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2011/01/surat-terbuka-untuk-salafy-dari-syabab.html' title='Surat Terbuka Untuk &quot;Salafy&quot; Dari Syabab Hizbut Tahrir'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-7590165453447198162</id><published>2011-01-12T07:15:00.000-08:00</published><updated>2011-02-01T21:39:03.689-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='koreksi'/><title type='text'>Harapan 2011</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: small;"&gt;       &lt;/span&gt;        &lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://jurnalbarru.files.wordpress.com/2010/12/jurnal-barru-tahun-2011.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="168" src="http://jurnalbarru.files.wordpress.com/2010/12/jurnal-barru-tahun-2011.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;Tahun  2010, sama dengan tahun-tahun sebelumnya, kondisi umat Islam masih  menyedihkan. Namun penderitaan ini bukanlah tanpa akhir. Muncul  kesadaran yang semakin menguat untuk menegakkan khilafah dan syariah,  bersamaan dengan menguatnya tanda-tanda kehancuran peradaban Kapitalisme  Barat. Hal ini membuat kita semakin optimis. Harapan ke depan masih membentang luas.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;Survei terbaru  Pew  Research Center (desember 2010) menunjukkan mayoritas muslim di  Indonesia, Mesir, Nigeria dan Yordania yang paling antusias untuk  memberlakukan hukum Islam di negaranya. Lebih dari 3/4 responden survei  di negara-negara itu memberikan pandangan yang positif terhadap peran  Islam dalam politik. Hal ini mengokohkan survey-survey sebelumnya yang  juga menunjukkan angka trend yang meningkat untuk perjuangan syariah dan  khilafah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;Tanda-tanda kebangkrutan Amerika banyak dinyatakan intelektual Barat sendiri. Moris Berman dalam bukunya,&amp;nbsp;&lt;i&gt;Dark Ages America: The Final Phase of Empire&lt;/i&gt; (Norton, 2006) : Imperium Amerika segera akan rubuh. Ia menggambarkan  Amerika  sebagai sebuah kultur dan emosional yang rusak oleh peperangan,  menderita karena kematian spiritual dan dengan intensif mengeskpor  nilai-nilai palsunya ke seluruh dunia dengan menggunakan senjata.  Republik yang berubah menjadi imperium itu berada di dalam zaman  kegelapan baru dan menuju rubuh sebagaimana dialami Kekaisaran Romawi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;Kebangrutan ideologi ini tidak bisa dilepaskan dari ambruknya  ekonomi Amerika. Hal ini berpengaruh terhadad kekuatan militer AS yang  memang sangat tergantung pada ekonomi. Belajar dari jatuhnya negara adi  daya Romawi dan Soviet , melemahnya kekuatan ekonomi, mempercapat kejatuhan mereka , meskipun secara militer mereka masih kuat.  Akibatnya, pengaruh AS di dunia internasional pun semakin menurun.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;Krisis  ekonomi Amerika tampak dari semakin meningkatnya utang luar negeri  negara itu. Laporan Departemen Keuangan AS menyebutkan bahwa utang yang  ditanggung pemerintah AS saat ini sudah melampaui angka 13 triliun USD.  Di akhir masa kepresidenan Obama tahun 2012, utang ini akan meningkat  menjadi 16 triliun. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;Jumlah  sebesar itu lebih tinggi seratus persen dibanding total produksi  nasional bruto AS. Richard Haas, Kepala Dewan Hubungan Luar Negeri AS ,  mengatakan  beban utang yang ditanggung pemerintah sudah  sampai ke angka sangat fantastis dan tertinggi sepanjang sejarah.  Menurutnya, AS tidak akan mampu melunasi seluruh utang ini. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;Christopher Lynn Hedges mantan koresponden perang pada surat kabar “New York Times”, juga pemenang “Pulitzer Prize”  mengungkap   tanda-tanda  runtuhnya Amerika Serikat sangat jelas dan telanjang. Dalam bidang  ekonomi Amerika, dia menyatakan : Amerika sedang melalui apa yang  disebut dengan “kudeta perusahaan”, sistem pendidikan kita  telah  hancur, infrastruktur kita telah terkikis, dan selama tidak ada  perlawanan dari rakyat, maka kita sedang menuju pada sistem  neo-feodalism.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;Kegagalan  dalam Amerika dalam perang Irak dan Afghanistan, menjadi indikasi  melemahnya kekuatan negara ini. Meskipun merupakan negara militer yang  kuat, negara ini kesulitan memenangkan dua medan perang ini. Padahal  yang dihadapi  Amerika di Irak adalah milisi mujahidin yang  jumlahnya tidak begitu banyak. Sementara Afghanistan merupakan negara  miskin di dunia dengan persenjataan militer yang sudah sangat  ketinggalan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;Penting  kita perhatikan , Afghanistan dalam sejarahnya menjadi kuburan bagi  imperium besar dunia. Seperti yang dikatakan Robert Fisk ,  Amerika sepertinya tidak belajar dari sejarah. Bagaimana imperium besar  dunia seperti Soviet gagal menaklukkan Afghanistan, dan itu menjadi  salah satu penyebab kehancuran Soviet. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;‘Ala kulli hal&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;, kita dalam kondisi – &lt;i&gt;injure time&lt;/i&gt;-  : kapitalisme diambang kehancuran, dukungan umat terhadap syariah  semakin meningkat. Semua ini memberikan harapan besar bagi tegaknya  kembali negara Adi Daya Khilafah Islam. Dibutuhkan kesungguh-sungguhan  untuk memperjuangkan khilafah. Keseriusan kita dalam berjuang disertai  dengan ketaqwaan yang tinggi kepada Allah SWT menjadi kunci pertolongan Allah SWT bagi kemenangan perjuangan ini. Allahu Akbar (Farid Wadjdi)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-7590165453447198162?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/7590165453447198162/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2011/01/harapan-2011.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/7590165453447198162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/7590165453447198162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2011/01/harapan-2011.html' title='Harapan 2011'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-1194153331574539659</id><published>2011-01-08T01:03:00.000-08:00</published><updated>2011-01-08T01:03:33.909-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Hukum Non-Muslim Mendirikan Tempat Ibadah di Daulah Islam</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://trisna19.files.wordpress.com/2008/03/345px-slc_mormon_tempel.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="182" src="http://trisna19.files.wordpress.com/2008/03/345px-slc_mormon_tempel.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kisruh pendirian tem-pat ibadah non-Muslim yang diha-dapi oleh umat  Islam di Indonesia bukan-lah fenomena tunggal, tetapi hampir terjadi di  negeri-negeri kaum Muslim yang lain. Meski di Indonesia telah dibuat  aturan hukumnya, yaitu Peraturan Ber-sama Menteri (PBM) atau sering  dikenal seba-gai Surat Ketentuan Bersama (SKB) tentang pendirian tempat  ibadah, nyatanya keten-tuan hukum tersebut tidak bisa menyelesaikan  masalah, sehing-ga mendorong sebagian pihak menuntut dicabutnya SKB  terse-but. &lt;br /&gt;Pertanyaannya kemudian adalah, mengapa aturan hukum  tersebut tidak bisa menyelesai-kan masalah? Jawabannya, kare-na pijakan  yang dijadikan dasar penyusunannya adalah pluralis-me, kebebasan  beragama dan HAM. Sesuatu yang nota bene tidak mempunyai standar baku.  Akibatnya, produk hukumnya pun digugat juga atas nama pluralisme,  kebebasan beragama dan HAM. Karena itu, jika dasar yang sama masih  digunakan, maka umat Islam akan selalu menghadapi masalah yang sa-ma.  Selain itu, baik dasar maupun produk hukum seperti ini jelas  bertentangan dengan Islam.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Para ulama dahulu telah membahas masalah  pendirian tempat ibadah non-Muslim di negeri Islam. Pandangan mereka  telah dihimpun oleh Syaikh Ismail bin Muhammad al-Anshari dalam  kitabnya, Hukm Bina' al-Kana'is wa al-Ma'abid as-Syirkiy-yah fi Bilad  al-Muslimin. Secara umum, bisa dipilah menjadi dua:&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Mendirikan  Tempat Ibadah di Jazirah Arab &lt;br /&gt;Jazirah Arab mempunyai hukum yang khas  menyangkut orang Kafir dan tempat per-ibadatan mereka. Nabi bersabda,  “Tidak boleh ada dua agama berkumpul di Jazirah Arab.” (Hr. Malik dari  Ibn Syihab). Dalam hadits yang lain, Nabi menyata-kan, “Usirlah Yahudi  dari Hijaz, dan penduduk Najran (Kristen) dari Jazirah Arab.” (Hr.  ad-Darimi dari Abu 'Ubaidah al-Jarrah). Bahkan, dalam riwayat lain, Nabi  dengan tegas menyatakan, “Saya pasti akan usir orang Yahudi dan Nasrani  dari Jazirah Arab, sehing-ga saya tidak akan membiarkan tinggal di  sana, kecuali hanya orang Islam.” (Hr. Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud  dan Ah-mad). Dalam sabdanya yang lain, Nabi juga menyatakan, “Jangan-lah  kalian mendirikan satu pun gereja di dalam Islam, dan mem-perbarui apa  yang telah rusak (tiada).” (Hr. Abu Muhammad dari 'Umar bin  al-Khatthab).&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Karena itu, baik hadits yang pertama maupun hadits  kedua dan ketiga sama-sama dengan tegas melarang orang non-Muslim dan  agama mereka ber-ada di Jazirah Arab. Sedangkan hadits yang keempat  menyata-kan dengan tegas larangan mendirikan gereja baru dan memugar  yang rusak maupun yang telah tiada. Berdasarkan hadits ini, juga nas-nas  yang lain, para ulama sepakat, bahwa di Jazirah Arab tidak boleh ada  gereja, sinagog, pura maupun tempat-tempat peribadatan orang non-Muslim  yang lain. Mereka juga tidak boleh men-dirikannya. Kalau pun ada, maka  tempat-tempat peribadatan itu harus dihancurkan, sebagai-mana yang  dilakukan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Jazirah Arab itu  sendiri adalah wilayah yang kini meliputi sejumlah negara, yaitu Arab  Saudi, Kuwait, Yaman, Oman dan Uni Emirat Arab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mendirikan  Tempat Ibadah di Negeri Muslim Lain &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Adapun ketentuan hukum  untuk negeri Muslim lain, secara umum telah ditegaskan oleh Umar bin  al-Khatthab. Abu Ubaid, dalam kitab al-Amwal, menuturkan, bahwa Umar  ber-kata, “Tidak boleh ada gereja di dalam Islam dan tempat bertapa  (tahannuts).” Kemudian diperte-gas dengan syarat dzimmah yang diberikan  kepada orang non-Muslim, “Agar mereka tidak memperbarui di kota-kota  Islam dan sekitarnya gereja, hermitage dan menara.” (as-Subki,  al-Fata-wa, juz II/400). Syarat yang ditetapkan oleh Umar ini dikutip  oleh para fuqaha dari berbagai mazhab, yang juga mereka guna-kan sebagai  hujah tentang status pendirian tempat peribadatan tersebut. &lt;br /&gt;Para  ulama kemudian membagi negeri kaum Muslim menjadi dua: Pertama, negeri  yang dibangun oleh kaum Mus-lim, seperti Baghdad, Samara dan sebagainya,  maka Ahli Dzimmah yang ada di sana tidak boleh mendirikan gereja dan  menara. Jika mereka melakukannya, ma-ka dzimmah mereka harus  di-batalkan, dan gerejanya harus dihancurkan. Kedua, jika negeri  tersebut milik kaum Kafir, kemu-dian mereka diperintah dengan  pemerintahan kaum Muslim, maka bisa dipilah menjadi dua: Jika negeri  tersebut ditaklukkan kaum Muslim dengan paksa dan mereka menguasai semua  ba-ngunan, tanah dan seisinya, ma-ka gereja, sinagog dan lain-lain yang  ada di dalamnya harus dihilangkan, baik secara fisik ataupun fungsinya.  Artinya, se-cara fisik masih, tetapi fungsinya diubah menjadi masjid.  Namun, jika negeri tersebut ditaklukkan dengan perjanjian damai, maka  Khalifah (kepala negara) di-perbolehkan untuk membiarkan mereka dan  gereja (tempat peribadatan)&amp;nbsp; mereka, dengan ketentuan dan syarat  sebagai-mana yang diajukan oleh Abdul-lah bin Ghanam. Gereja  diper-bolehkan tetap ada, tetapi tidak boleh digunakan untuk melaku-kan  kristenisasi, memprovokasi dan memata-matai umat Islam, bahkan identitas  dan lonceng-nya pun tidak boleh ditam-pakkan, kecuali di lingkungan  internal mereka. Jika gereja tersebut rusak atau roboh, tidak boleh  diperbaiki, dan begitu seterusnya. Tentu saja, mereka tidak boleh  mendirikan gereja atau tempat peribadatan baru.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Inilah ketentuan  umum yang disepakati oleh para fuqaha dari berbagai mazhab. Keten-tuan  ini menyangkut negeri-negeri Islam, baik yang berstatus sebagai tanah  'Usyriyyah seperti Indonesia dan Malaysia, maupun tanah Kharajiyyah  seperti Irak, Syam, Afganistan, India, Pakistan, Spanyol dan sebagainya.  Hanya saja, ketentuan ini tidak bisa diterapkan di negeri-negeri Islam  tersebut, karena posisi umat Islam lemah. Mereka lemah karena dipimpin  oleh para pe-nguasa boneka yang mengabdi untuk kepentingan majikan dan  penjajah, bukan untuk kepen-tingan Islam dan umatnya. Karena itu, meski  jumlah non-Muslim di negeri-negeri Islam itu minoritas, tetapi mereka  sangat arogan dan berkuasa, karena negara yang dipimpin oleh para boneka  itu kalah dengan mereka.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Inilah musibah yang diha-dapi oleh umat  Islam, yang menjadikan mereka terus-me-nerus hina dan dihinakan, kalah  dan dikalahkan. Wallahu a'lam.[mediaumat.com]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-1194153331574539659?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/1194153331574539659/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2011/01/hukum-non-muslim-mendirikan-tempat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/1194153331574539659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/1194153331574539659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2011/01/hukum-non-muslim-mendirikan-tempat.html' title='Hukum Non-Muslim Mendirikan Tempat Ibadah di Daulah Islam'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-7083966044580748932</id><published>2010-11-27T15:24:00.000-08:00</published><updated>2010-11-27T15:24:37.683-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Kesepakatan Ulama Ahlussunnah Tentang Wajibnya Mengangkat Khalifah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://nurmaulid.files.wordpress.com/2009/11/khilafah.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://nurmaulid.files.wordpress.com/2009/11/khilafah.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;Mengangkat Khalifah: Fardhu Kifayah &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pada kesempatan ini kami mengkompilasikan sebagian pendapat &lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;para ulama &lt;em&gt;mu‘tabar&lt;/em&gt;  dari berbagai mazhab, terutama mazhab Syafii yang merupakan mazhab   mayoritas kaum Muslim di Indonesia, tentang wajibnya Imamah atau   Khilafah. Tentu pernyataan mereka itu merupakan hasil &lt;em&gt;istinbâth &lt;/em&gt;mereka dari dalil-dalil syariah, baik mereka menjelaskannya ataupun tidak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;1.&amp;nbsp;&lt;em&gt; &lt;strong&gt;Imam an-Nawawi&lt;/strong&gt;:1&amp;nbsp;Suatu  keharusan bagi umat adanya Imam (Khalifah) yang menegakkan agama dan  yang&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; menolong sunnah serta yang memberikan hak bagi orang yang dizalimi  serta menunaikan hak dan menempatkan hal&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; tersebut pada tempatnya. Saya  menyatakan bahwa mengurus (untuk mewujudkan) Imamah itu adalah fardhu&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kifayah&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;2.&amp;nbsp;&lt;em&gt; &lt;strong&gt;Muhammad asy-Syarbini al-Khatib&lt;/strong&gt;:2&amp;nbsp;Mewujudkan Imamah/Khilafah yang agung itu adalah fardhu kifayah&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; sebagaimana&amp;nbsp; peradilan.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;3.&amp;nbsp;&lt;strong&gt; Imam Abu Yahya Zakaria al-Anshari &lt;/strong&gt;&lt;span class=" fbUnderline"&gt;dalam kitab Fath al-Wahâb bi Syarhi Minhâj ath-Thullâb&lt;/span&gt;:3&amp;nbsp;Mewujudkan&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Imamah (Khilafah) adalah fardhu kifayah sebagaimana peradilan (salah  satu syarat menjadi imam adalah kapabel&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; untuk peradilan). &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;4.&amp;nbsp; &lt;strong&gt;Imam Fakhruddin ar-Razi&lt;/strong&gt;, penulis kitab Manâqib asy-Syâfi’i, ketika menjelaskan QS al-Maidah ayat 38:4&amp;nbsp;Para&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mutakallimin ber-hujjah dengan ayat ini bahwa wajib atas umat untuk  mengangkat seorang imam (khalifah) yang&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; spesifik untuk mereka. Dalilnya  adalah bahwa Allah Swt. mewajibkan di dalam ayat ini untuk menegakkan  had atas&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; pencuri dan pelaku zina…Sungguh, umat telah sepakat bahwa tidak  seorang pun dari rakyat yang boleh menegakkan&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; had atas pelaku kriminal  tersebut, bahkan mereka telah sepakat bahwa tidak boleh (haram)  menegakkan had atas&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; orang yang merdeka pelaku kriminal kecuali oleh  imam. Karena itu, ketika taklif tersebut sifatnya pasti (jâzim) dan&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; mungkin keluar dari ikatan taklif ini kecuali dengan adanya imam  (khalifah), dan ketika kewajiban itu tidak&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; tertunaikan kecuali dengan  sesuatu, dan itu masih dalam batas kemampuan mukallaf maka (adanya) imam  (khalifah)&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; adalah wajib.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;5.&amp;nbsp;&lt;strong&gt; Imam Abul Qasim an-Naisaburi asy-Syafii&lt;/strong&gt;:5&amp;nbsp;Umat  telah sepakat bahwa yang menjadi obyek khithâb (maka&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; cambuklah)&amp;nbsp; adalah  imam (khalifah) hingga mereka ber-hujjah dengan ayat ini akan wajibnya  mengangkat imam&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; (khalifah). &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;6.&lt;strong&gt;&amp;nbsp; Asy-Syaikh Abdul Hamid asy-Syarwani&lt;/strong&gt;:6&amp;nbsp;(Mewujudkan  Imamah [Khilafah] adalah fardhu kifayah) karena bagi&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; umat&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; harus ada  seorang imam (khalifah) untuk menegakkan agama, menolong sunnah,  memberikan hak orang&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang dizalimi dari orang yang zalim, menunaikan  hak-hak dan menempatkan hak-hak tersebut pada tempatnya.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;7.&amp;nbsp; &lt;strong&gt;Pengarang Hasyiyah Qalyubi wa Umayrah&lt;/strong&gt;:7&amp;nbsp;Imamah (Khilafah)&amp;nbsp; adalah  fardhu kifayah sebagaimana peradilan&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; sehingga berlaku di dalam Imamah  (Khilafah) tersebut apa yang berlaku untuk peradilan, baik dalam  kebolehan&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; menerima maupun tidaknya.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;8.&amp;nbsp; &lt;strong&gt;Asy-Syaikh Sulaiman bin Umar bin Muhammad al-Bajairimi&lt;/strong&gt;:8&amp;nbsp;Mewujudkan  Imamah (Khilafah) adalah&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; fardhu&amp;nbsp; kifayah sebagaimana peradilan sehingga  disyaratkan untuk Imam (Khalifah) itu hendaknya layak untuk&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; peradilan  (menjadi hakim).&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;9.&amp;nbsp; &lt;strong&gt;Imam Ibn Hazm al-Andalusi azh-Zhahiri&lt;/strong&gt;:9&amp;nbsp;Para ulama sepakat bahwa Imamah (Khilafah) adalah fardhu dan&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; adanya Imam (Khalifah) merupakan&amp;nbsp; keharusan, kecuali an-Najadat. Pendapat mereka sesungguhnya telah&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; menyalahi&amp;nbsp; Ijmak…&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;10.&lt;strong&gt;&amp;nbsp; Imam Ibn Katsir&lt;/strong&gt;, ketika menjelaskan QS al-Baqarah ayat 30:10&amp;nbsp;Sesungguhnya  al-Qurthubi dan yang lain berdalil&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; berdasarkan ayat ini atas wajibnya  mengangkat khalifah untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi di  antara&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; manusia, memutuskan pertentangan mereka, menolong orang yang  dizalimi dari yang menzalimi, menegakkan hudud,&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; mengenyahkan  kemungkaran, dan sebagainya yang merupakan hal-hal penting yang memang  tidak mungkin d&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ditegakkan kecuali dengan adanya Imam (Khalifah). &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;11.&amp;nbsp;&lt;strong&gt; Imam al-Qurthubi&lt;/strong&gt;, ketika menjelaskan QS al-Baqarah ayat 30: Ayat  ini adalah pokok (yang menegaskan)&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; mengenai&amp;nbsp; pengangkatan imam dan  khalifah untuk didengar dan ditaati, untuk menyatukan pendapat serta&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; melaksanakan —melalui Khalifah—hukum-hukum tentang khalifah. Tidak ada  perbedaan tentang wajibnya hal&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; tersebut di antara umat, tidak pula di  antara para imam kecuali apa yang diriwayatkan dari al-Asham. 11&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;12. &lt;strong&gt;Imam Umar bin Ali bin Adil al-Hanbali ad-Dimasyqi (Ibnu Adil)&lt;/strong&gt;,&amp;nbsp; ketika menjelaskan QS al-Baqarah ayat&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 30:12&amp;nbsp;Ibn al-Khatib berkata, “Ayat ini adalah dalil atas wajibnya mengangkat imam  dan khalifah untuk didengar dan &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ditaati, untuk&amp;nbsp; menyatukan pendapat  serta melaksanakan hukum-hukum tentang khalifah. Tidak ada perbedaan &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; tentang wajibnya hal tersebut di antara para imam kecuali apa yang  diriwayatkan dari al-Asham dan orang yang&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; mengikutinya.”&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;13. &lt;strong&gt;Imam Abu al-Hasan al-Mirdawi al-Hanbali&lt;/strong&gt;, dalam kitab al-Inshâf:13&amp;nbsp;…mengangkat imam itu adalah fardhu &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kifayah. &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;14.&lt;strong&gt;Imam al-Bahuti al-Hanaf&lt;/strong&gt;i:14&amp;nbsp;(Mengangkat  Imam al-A‘zham [khalifah] itu) atas kaum Muslim (adalah fardhu&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kifayah). Sebab, manusia membutuhkan hal tersebut untuk menjaga  kemurnian (agama), menjaga konsistensi&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; (agama), penegakan had, penunaian  hak serta amar makruf dan nahi munkar.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;15. &lt;strong&gt;Pengarang kitab Hasyiyyah al-Jumal&lt;/strong&gt;:15&amp;nbsp;Mewujudkan Imamah (Khilafah) adalah fardhu kifayah sebagaimana&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; peradilan.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;16.&amp;nbsp;&lt;strong&gt; Pengarang kitab Mathalib غlî an-Nuhâ fî Syarh Ghayat al-Muntahâ&lt;/strong&gt;:16&amp;nbsp;(Mengangkat  imam [khalifah]&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; adalah fardhu kifayah) karena manusia memang  membutuhkan hal tersebut untuk menjaga kemurnian (agama), &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; memelihara konsistensi (agama), menegakkan had, menunaikan hak-hak, dan amar makruf  nahi mungkar.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;17.&lt;strong&gt;&amp;nbsp; Pengarang &amp;nbsp;Al-Husun al-Hamidiyyah, Syaikh Sayyid Husain Afandi&lt;/strong&gt;:17&amp;nbsp;Ketahuilah  bahwa mengangkat&amp;nbsp; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; imam (khalifah) yang menegakkan had, memelihara  perbatasan (negara), menyiapkan pasukan…secara syar‘i adalah &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; wajib.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dari beberapa pendapat di atas, kita dapat menyimpulkan, para ulama &lt;em&gt;mu‘tabar&lt;/em&gt; dari berbagai mazhab menegaskan bahwa hukum mengangkat imam/khalifah adalah wajib, yaitu fardhu kifayah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;Pelaksaan Fardhu Kifayah&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Suatu hal yang &lt;em&gt;ma’lûm&lt;/em&gt;  bahwa fardhu itu ada dua macam. Fardhu kifayah dan fardhu ‘ain.  Sebagai&amp;nbsp; suatu  kewajiban, fardhu kifayah sama kedudukannya dengan  fardhu ‘ain meski  dari sisi pelaksanaannya berbeda. Imam Saifuddin  al-Amidi dalam kitab &lt;em&gt;Al-Ihkâm fî Ushûl al-Ahkâm&lt;/em&gt; menegaskan,18&amp;nbsp;“Tidak ada perbedaan (menurut &lt;em&gt;ashâb&lt;/em&gt; kita) antara wajib ‘ain dan wajib kifayah, dari sisi kewajiban…”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Untuk batasan kesempurnaan pelaksanaan fardhu kifayah, Imam asy-Syirazi, dalam kitab &lt;em&gt;Al-Luma’ fî Ushûl al-Fiqh&lt;/em&gt;, menjelaskan,19&amp;nbsp;“Jika terdapat &lt;em&gt;khithâb&lt;/em&gt;  (seruan) dengan ungkapan umum maka masuk di dalamnya siapa saja yang   visible dengan seruan tersebut baginya. Perbuatan tersebut tidak gugur   atas sebagian karena perbuatan sebagian (yang lain), kecuali syariah   datang di dalamnya dan Allah menetapkan bahwa seruan tersebut adalah   fardhu kifayah, seperti jihad serta mengkafani, menshalatkan dan   menguburkan jenazah. Jika kewajiban tersebut telah selesai ditunaikan   (di sini Imam asy-Syirazi menggunakan kata &lt;em&gt;aqâma&lt;/em&gt;, bukan &lt;em&gt;qâma&lt;/em&gt;; dalam bahasa Arab kata &lt;em&gt;aqâma&lt;/em&gt; artinya adalah &lt;em&gt;ja’alahu yaqûmu&lt;/em&gt;20) oleh siapa saja yang mampu, gugurlah kewajiban tersebut atas yang lain.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Artinya,   menurut Imam Asy-Syirazi, apabila fardhu kifayah belum selesai   ditunaikan maka kewajiban tersebut masih tetap dibebankan atas pundak&amp;nbsp;  seluruh mukallaf yang menjadi obyek&lt;em&gt; &lt;/em&gt;seruan taklif.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Syaikhul Islam Imam al-Hafizh an-Nawawi, dalam &lt;em&gt;Al-Majmû‘ Syarh al-Muhadzdzab&lt;/em&gt;, menjelaskan,21&amp;nbsp;“Makna fardhu kifayah adalah jika siapa saja yang pada dirinya ada &lt;em&gt;kifâyah&lt;/em&gt;  (kecukupan untuk melaksanakan kewajiban) telah melaksanakannya maka hal   itu akan menggugurkan beban atas yang lain. Namun jika mereka semua   meninggalkan kewajiban tersebut maka mereka semua berdosa.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Al-’Allamah  asy-Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari menegaskan,22&amp;nbsp;“Hukum  fardhu kifayah itu adalah jika fardhu kifayah tersebut telah dikerjakan  oleh siapa saja yang memiliki &lt;em&gt;kifâyah&lt;/em&gt; maka akan gugurlah beban  atas orang tersebut dan juga bagi yang lain.  Setiap orang dari kaum  Muslim yang tidak memiliki uzur, jika mereka  meninggalkannya, adalah  berdosa meski mereka tidak tahu.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Di sini pengarang &lt;em&gt;Fat&lt;span&gt;h&lt;/span&gt; al-Mu’in&lt;/em&gt;  menegaskan kembali apa yang dijelaskan oleh Imam an-Nawawi. Beliau&amp;nbsp;  menambahkan catatan bahwa kaum Muslim yang tidak ada udzur, tetapi&amp;nbsp;  meninggalkan kewajiban tersebut,&amp;nbsp; adalah berdosa.&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Alhasil, jika kita merangkum penjelasan para ulama di atas maka: &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;,   kewajiban tersebut dianggap terlaksana secara sempurna jika telah   sempurna ditunaikan. Jika belum maka tetap menjadi kewajiban bagi   seluruh kaum Muslim.&amp;nbsp; &lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, siapa saja yang melalaikan fardhu kifayah itu tanpa uzur adalah berdosa. &lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Mengangkat   khalifah adalah fardhu kifayah. Selama kewajiban tersebut belum   ditunaikan secara sempurna maka tetap kewajiban tersebut dibebankan atas   pundak seluruh mukallaf dari kaum Muslim dan meninggalkan kewajiban   tersebut tanpa uzur adalah dosa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;Mengangkat Khalifah Masih Berada dalam Batas Kemampuan kaum Muslim&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ada   sebagian orang yang menganggap kewajiban mengangkat khalifah adalah   perkara yang amat sulit untuk dilaksanakan, bahkan mereka mengganggapnya   mustahil.&amp;nbsp; Itu sama saja dengan mengatakan, bahwa Allah Swt. telah  membebani hamba-Nya dengan kewajiban yang tidak mampu dilaksanakan.&amp;nbsp;  Anggapan seperti itu jelas salah.&amp;nbsp; Allah Swt. berfirman:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya &lt;/em&gt;(QS al-Baqarah [2]: 286).&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Imam  al-Hafidz Ibn Katsir menjelaskan makna ayat tersebut,23&amp;nbsp;“Tidak  dibebankan pada seseorang sesuatu yang melebihi kemampuannya.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Inilah   yang ditegaskan Allah Swt. atas kita. Allah tidak mentaklifkan suatu   perkara yang di luar batas kemampuan kita. Pertanyaannya, apakah   mengangkat khalifah untuk menerapkan syariah Allah merupakan kewajiban   yang berada di luar batas kemampuan kita? Memang, kalau kewajiban   tersebut hanya dilaksanakan oleh kaum Muslim secara individual tentu   akan melampaui batas kemampuan mareka. Namun, bukankah kewajiban   tersebut adalah fardhu kifayah, yang dibebankan kepada kaum Muslim   secara umum?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sebagai  fardhu kifayah, mengangkat khalifah  jelas masuk dalam jaminan Allah di  atas, yaitu pasti berada dalam batas  kesanggupan kaum Muslim. Jadi,  selama kewajiban tersebut belum  tertunaikan maka ia tetap tetap  dibebankan atas pundak seluruh kaum  Muslim.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Jadi, mengangkat khalifah adalah kewajiban kita semua. Tidak sungguh-sungguh untuk mengangkat khalifah tanpa uzur&lt;em&gt; syar‘i&lt;/em&gt;  terkategori sebagai penelantaran kewajiban yang dibebankan Allah pada  kita.&amp;nbsp; Tentu saja berdosa.&amp;nbsp; Apalagi diam, menghambat atau bahkan melawan  perjuangan tersebut.&amp;nbsp; &lt;em&gt;Wallâhu a‘lam&lt;/em&gt; &lt;em&gt;bi ash-shawâb&lt;/em&gt;. &lt;strong&gt;[]&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Catatan Kaki:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;1&amp;nbsp;&amp;nbsp; Imam an-Nawawi, &lt;em&gt;Rawdhah ath-Thâlibîn wa Umdah al-Muftin,&lt;/em&gt; III/433.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;2&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mughni al-Muhtâj ilâ Ma‘rifah Alfadz al-Minhâj, XVI/287.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;3&amp;nbsp;&amp;nbsp; Imam Al-Hafidz Abu Yahya Zakaria al-Anshri, &lt;em&gt;Fath al-Wahhâb bi Syarhi Minhâj ath-Thullâb,&lt;/em&gt; II/268.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;4&amp;nbsp;&amp;nbsp; Imam Fakhruddin Ar-Razi, &lt;em&gt;Mafâtih al-Ghayb fî at-Tafsîr&lt;/em&gt;, VI/ 57 dan 233.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;5&amp;nbsp;&amp;nbsp; Imam Abul Qasim al-Hasan bin Muhammad bin Habib bin Ayyub asy-Syafii an-Naisaburi,&lt;em&gt; Tafsîr an-Naysaburi,&lt;/em&gt; V/465.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;6&amp;nbsp;&amp;nbsp; Syaikh Abdul Hamid asy-Syarwani, &lt;em&gt;Hawâsyi asy-Syarwani&lt;/em&gt;, IX/74.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;7&lt;em&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hasiyah Qalyubi wa ‘Umayrah&lt;/em&gt;, XV/102.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;8&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Syaikh Sulaiman bin Umar bin Muhammad al-Bajairimi, &lt;em&gt;Hasyiyah al-Bajayrimi ala al-Khâtib&lt;/em&gt;, XII/393.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;9&amp;nbsp;&amp;nbsp; Imam Ibn Hazm al-Andalusi, &lt;em&gt;Marâtib al-Ijmâ’&lt;/em&gt;, 1/124.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;10&amp;nbsp; Imam Ibn Katsir, &lt;em&gt;Tafsîr al-Qur’ân al-Azhîm&lt;/em&gt;, 1/221).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;11&amp;nbsp;&amp;nbsp; Imam al-Qurthubi, &lt;em&gt;Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qurân&lt;/em&gt;, 1/264-265.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;12&amp;nbsp; &amp;nbsp;Ibnu Adil al-Hanbali ad-Dimasyqi, &lt;em&gt;Tafsîr al-Lubab fî ‘Ulûm al-Kitâb&lt;/em&gt;, 1/204.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;13&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ibnu Sulaiman al-Mardawi al-Hanbali, &lt;em&gt;Al-Inshâf fî Ma‘rifah ar-Râjih min al-Khilâf ala Madzhâb al-Imam Ahmad bin Hanbal&lt;/em&gt;, XVI/60 dan 459.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;14&amp;nbsp;&amp;nbsp; Imam Mansur bin Yunus bin Idris al-Bahuti al-Hanafi, &lt;em&gt;Kasyf al-Qinâ’ an-Matn al-Iqnâ’&lt;/em&gt;, XXI/61.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;15 &lt;em&gt;&amp;nbsp;Hasyiyyah al-Jumal&lt;/em&gt;, XXI/42.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;16&amp;nbsp; Al-’Allamah asy-Syaikh Musthafa bin Saad bin Abduh as-Suyuthi ad-Dimasyqi al-Hanbali, &lt;em&gt;Mathâlib Uli an-Nuha fî Syarh Ghâyah al-Muntahâ’,&lt;/em&gt; XVIII/381.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;17&amp;nbsp; Sayyid Husain Afandi, &lt;em&gt;Al-Husun al-Hamidiyyah, li al-Muhâfazhah ‘ala al-’Aqâ’id al-Islâmiyyah, &lt;/em&gt;hlm. 189.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;18&amp;nbsp; Imam Saifuddin al-Amidi, &lt;em&gt;Al-Ihkâm fî Ushûl al-Ahkâm&lt;/em&gt;, I/100.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;19&amp;nbsp; Imam asy-Syirazi, &lt;em&gt;Al-Lumâ’ fî Ushûl al-Fiqh &lt;/em&gt;hlm. 82.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;20&amp;nbsp; Lihat: &lt;em&gt;Qâmûs al-Mawrid&lt;/em&gt;, bagian huruf &lt;em&gt;qaf&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;21&amp;nbsp; Imam an-Nawawi, &lt;em&gt;Al-Majmû‘ Syarh al-Muhadzdzab&lt;/em&gt;, V/128.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;22&amp;nbsp; Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari,&lt;em&gt; Fath al-Mu‘în&lt;/em&gt;, IV/206.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;23&amp;nbsp; Imam Ibnu Katsir,&lt;em&gt;Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, &lt;/em&gt;I/737.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sumber:&amp;nbsp; Majalah Al-Waie, Februari 2008&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-7083966044580748932?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/7083966044580748932/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/11/kesepakatan-ulama-ahlussunnah-tentang.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/7083966044580748932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/7083966044580748932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/11/kesepakatan-ulama-ahlussunnah-tentang.html' title='Kesepakatan Ulama Ahlussunnah Tentang Wajibnya Mengangkat Khalifah'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-8460863062349284605</id><published>2010-11-25T01:00:00.001-08:00</published><updated>2010-11-25T01:22:54.042-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Hukum Menjadi TKW</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/TO4pXAhK-BI/AAAAAAAAAcQ/k3C7c9XNJ94/s1600/unjuk_rasa_hti_04.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;&lt;img border="0" height="247" src="http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/TO4pXAhK-BI/AAAAAAAAAcQ/k3C7c9XNJ94/s400/unjuk_rasa_hti_04.jpg" width="400" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;Ustadz, bagaimana hukumnya menjadi TKW di luar negeri?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;Jawab :&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;TKW (Tenaga Kerja Wanita) adalah TKI (Tenaga Kerja Indonesia) perempuan warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu dengan menerima upah. TKW sering disebut pahlawan devisa karena dalam setahun dapat menghasilkan devisa 60 triliun rupiah (data 2006).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;Namun, berbagai masalah sering menimpa TKW baik di dalam maupun di luar negeri. Misal : pelecehan seksual, perkosaan, penganiayaan fisik (kekerasan), pembunuhan, pemotongan upah, dan pungutan liar oleh pejabat dan agen terkait. Bahkan sepanjang tahun 2009-2010 saja, disebut-sebut hampir sekitar 4000 TKW menjadi korban penipuan, pemerasan, pelecehan seksual, kekerasan, hingga pembunuhan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;Menjadi TKW yang bekerja di luar negeri hukumnya haram, berdasarkan 2 (dua) alasan utama :&amp;nbsp;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, karena TKW telah bekerja di luar negeri tanpa disertai mahram atau suaminya. Padahal syara’ telah mengharamkan seorang perempuan muslimah melakukan perjalanan (&lt;em&gt;safar&lt;/em&gt;) sehari semalam tanpa disertai mahram atau suami, meski untuk menunaikan ibadah haji yang wajib. (Imad Hasan Abul ‘Ainain; ‘&lt;em&gt;Amal Al-Mar`ah fi Mizan Al-Syari’ah Al-Islamiyah,&amp;nbsp;&lt;/em&gt;hal.42; M. Ali al-Bar,&lt;em&gt;Amal Al-Mar`ah fi Al-Mizan&lt;/em&gt;, hal. 29; Riyadh Muhammad Al-Musaimiri;&amp;nbsp;&lt;em&gt;‘Amal Al-Mar`ah Bayna Al-Masyru’ wa Al-Mamnu’&lt;/em&gt;, hal. 22; Taqiyuddin an-Nabhani,&amp;nbsp;&lt;em&gt;An-Nizham al-Ijtima’i fi Al-Islam&lt;/em&gt;, hal. 35).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;Dalam masalah ini Imam Ibnu Qudamah menyatakan siapa saja perempuan yang tidak punya mahram dalam perjalanan haji, tidak wajib naik haji. (&lt;em&gt;Al-Mughni&lt;/em&gt;, 5/30). Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW,"Tidak halal perempuan yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir melakukan perjalanan selama sehari semalam kecuali disertai mahramnya." (HR Bukhari no 1088; Muslim no 1339; Abu Dawud no 1723; Tirmidzi no 1170; Ibnu Majah no 2899; Ahmad no 7366).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;Berdasarkan hadits ini, haram hukumnya menjadi TKW di luar negeri. Karena umumnya TKW tidak disertai mahram atau suaminya dalam perjalanannya ke luar negeri. TKW itu pun tetap dianggap musafir yang wajib disertai mahram atau suaminya, selama dia tinggal di luar negeri hingga dia kembali ke negeri asalnya (Indonesia). (Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah,&amp;nbsp;&lt;em&gt;Al-Jami’ li Ahkam Al-Shalah&lt;/em&gt;, 2/337).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;, menjadi TKW juga haram ditinjau dari segi lain, yaitu keberadaan TKW telah menjadi perantaraan munculnya berbagai hal yang diharamkan syara’. Misalnya, terjadinya pelecehan seksual, perkosaan, kekerasan, pembunuhan, pemotongan upah, dan pungutan liar. Semua ini telah diharamkan oleh syara’ berdasarkan dalilnya masing-masing. Maka, menjadi TKW hukumnya haram berdasarkan kaidah fiqih&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Al-Wasilah ila al-Haram Muharramah&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;(segala perantaraan yang mengakibatkan terjadinya keharaman, hukumnya haram). (M. Shidqi Burnu, Mausu’ah Al-Qawa’id al-Fiqhiyyah, 12/199).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;Atas dasar dua alasan ini, haram hukumnya menjadi TKW yang bekerja di luar negeri. Pengiriman TKW ke luar negeri pun wajib dihentikan, sesuai kaidah fiqih&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Al-Dharar yuzaal&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;(segala macam bahaya wajib dihilangkan). (Imam Suyuthi, Al-Asybah wa Al-Nazha`ir, hal. 83; M. Bakar Ismail, Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah Bayna Al-Ashalah wa Al-Taujih, hal. 99). Wallahu a’lam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;Yogyakarta, 25 Nopember 2010&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;Muhammad Shiddiq Al-Jawi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;Sumber :&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.khilafah1924.org/" rel="nofollow" style="cursor: pointer; text-decoration: none;" target="_blank"&gt;www.khilafah1924.org&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-8460863062349284605?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/8460863062349284605/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/11/hukum-menjadi-tkw.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/8460863062349284605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/8460863062349284605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/11/hukum-menjadi-tkw.html' title='Hukum Menjadi TKW'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/TO4pXAhK-BI/AAAAAAAAAcQ/k3C7c9XNJ94/s72-c/unjuk_rasa_hti_04.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-4134885717859569566</id><published>2010-11-17T16:49:00.000-08:00</published><updated>2010-11-17T16:49:22.237-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Hukum Seputar Lukisan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_OLk_oOmotBU/SyjdvCtY8rI/AAAAAAAABeU/Z1UZ-HlHgyY/s1600/Pelukis+Yang+Melukis+Dengan+menggunakan+Senjata.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="231" src="http://3.bp.blogspot.com/_OLk_oOmotBU/SyjdvCtY8rI/AAAAAAAABeU/Z1UZ-HlHgyY/s320/Pelukis+Yang+Melukis+Dengan+menggunakan+Senjata.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;i&gt;Saya menjalani profesi yang berkaitan dengan gambar. Melalui profesi  yang saya tekuni itu saya bersentuhan dengan beberapa aktivitas berikut:&lt;span id="more-852"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;    * Memodivikasi gambar dan mengoreksinya (seperti menghilangkan  keriput, mengganti warna mata atau beberapa fitur wajah, dan sebagainya)&lt;br /&gt;* Menggambar lukisan manusia atau hewan-hewan yang menyerupai kenyataan&lt;br /&gt;* Mencetak lukisan dan gambar yang sudah jadi&lt;br /&gt;* Menggunakan lukisan, gambar atau logo yang dibuat oleh desainer lainnya, tidak saya lukis sendiri&lt;br /&gt;* Menggambar simbol berupa manusia atau hewan (contohnya rambu-rambu  di jalan seperti “tempat penyeberangan”, “pintu darurat saat kebakaran”  atau “dilarang berjalan bersama anjing”)&lt;br /&gt;* Menggambar bagian badan manusia atau binatang (sebagai contoh  menggambar tangan yang bersalaman, jari telunjuk atau kepala kuda  sebagai gambar logo)&lt;br /&gt;* Menggambar lukisan manusia atau hewan yang tidak menyerupai kenyataan (karikatur)&lt;br /&gt;* Menggambar tokoh cerita imajiner yang tidak ada dalam kenyataan&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Saya mengharapkan penjelasan hukum syara’ mengenai aktivitas-aktivitas tersebut, wa barakaLlaahu fiikum!&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jawaban Asy Syaikh Abu Rusytah* sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebelum sampai pada jawaban atas pertanyaan di atas, terlebih dahulu kami ingin menegaskan dua hal berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;yang pertama: bahwa jawaban ini membahas tentang hukum syara’ atas  perbuatan melukis, atau menggambar dengan tangan, sebagaimana makna yang  dikehendaki di dalam hadits, bukan menghasilkan gambar dengan kamera.  Adapun mengambil gambar dengan kamera maka hukumnya mubah karena hadits  yang ada tidak bisa diterapkan terhadap perbuatan tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang kedua: Bahwa jawaban ini membahas tentang hukum syara’ atas  gambar datar dua dimensi yang tidak memiliki bayangan. Adapun membuat  karya yang memiliki bayangan, atau patung, maka dia haram dalam segenap  kondisinya karena adanya dalil-dalil syara’ mengenai hal tersebut,  dengan pengecualian mainan anak-anak karena adanya dalil yang  membolehkannya, sebagaimana nanti akan dijelaskan pada akhir jawaban.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terkait dengan dua pertanyaan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    * Memodivikasi gambar dan mengoreksinya (seperti menghilangkan  keriput, mengganti warna mata atau beberapa fitur wajah, dan sebagainya)&lt;br /&gt;* Menggambar lukisan manusia atau hewan-hewan yang menyerupai kenyataan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesungguhnya dua pertanyaan ini berkaitan dengan menggambar sesuatu  yang memiliki nyawa (ruh), atau melakukan editing terhadap gambar  makhluq bernyawa dengan menggunakan tangan seperti menghilangkan keriput  atau beberapa ciri di wajah. Dengan demikian, pengharaman yang terdapat  dalam dalil-dalil syara’ dapat diterapkan dalam kasus ini, sama saja  apakah hal tersebut dilakukan dengan pena, dengan mouse di computer,  selama pekerjaan menggambar itu dilakukan oleh tangan manusia terhadap  makhluq yang bernyawa, maka keharaman yang ada pada dalil berlaku atas  aktivitas tersebut. Al Bukhori mengeluarkan sebuah hadits dari Ibnu  Abbas –Allah meridhoi keduanya- yang berkata: “Rasulullaah shollallaahu  ‘alaihi wa sallama bersabda : “barang siapa melukis suatu gambar maka  Allah akan mengadzabnya sampai dia mampu meniupkan ruh ke dalam gambar  itu, padahal sampai kapan pun dia tidak akan mampu meniupkan ruh ke  dalamnya”. Al Bukhori juga mengeluarkan hadits dari jalan Ibnu Umar  –semoga Allah meridhoi keduanya- bahwa Rasulullaah shollallaahu ‘alaihi  wa sallam bersabda ,”sesungguhnya orang yang telah membuat gambar ini  akan disiksak pada hari kiamat, dan dikatakan kepada mereka “coba  hidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan!”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengenai dua pertanyaan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    * Mencetak lukisan dan gambar yang sudah jadi&lt;br /&gt;* Menggunakan lukisan, gambar atau logo yang dibuat oleh desainer lainnya, tidak saya lukis sendiri&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan kata lain, penanya mengambilnya dari orang lain, tidak  menggambarnya sendiri. Dengan demikian, di sini berlaku hukum  menggunakan gambar. Dalam hal ini terdapat tiga macam hukum:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertama: Apabila anda mengambil gambar itu untuk diletakkan di  tempat-tempat ibadah, seperti tempat sujud untuk sholat, atau tirai  masjid, iklan (di’aayah) atau pengumuman (i’laan) masjid dan semacamnya,  maka itu haram, tidak dibolehkan. Dalilnya adalah:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasul shollallaahu  ‘alaihi wa sallam tidak mau memasukki Ka’bah sehingga gambar-bambar di  dalamnya dihapus. Penolakkan Rasul shollalaahu ‘alaihi wa sallam untuk  memasuki Ka’bah sampai gambar-gambar di dalamnya dihapus merupakan  indikasi adanya larangan tegas untuk meletakkan gambar di tempat-tempat  ibadah, maka itu menjadi dalil atas haramnya menaruh gambar di dalam  masjid. Imam Ahmad mengeluarkan hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu  ‘anhu : Bahwa Rasulullaah shollallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mau masuk  ketika melihat gambar-gambar di dalam rumah –yaitu Ka’bah- , dan  memerintahkan agar ia dihapus”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kedua: Adapun jika penanya mengambil gambar yang tidak dia gambar  sendiri untuk diletakkan di tempat-tempat tertentu selain tempat ibadah,  maka dalil-dalil syara’ menjelaskan bahwa itu dibolehkan –dengan  disertai kemakruhan (dibenci oleh syara’ –pent) jika gambar itu diambil  dan diletakkan di tempat-tempat yang mengandung penghormatan atau  pemuliaan, seperti di rumah-rumah, media-media informasi lembaga-lembaga  kebudayaan, di kaos atau pakaian, di sekolah-sekolah, di kantor-kantor,  dan di tempat-tempat terbuka lain yang tidak ada kaitannya dengan  aktivitas ibadah, atau digantung di dalam kamar atau dikenakan dalam  rangka mempermanis penampilan, maka semua itu hukumnya dibenci  (makruuh).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang mubah adalah jika gambar diletakkan bukan di tempat ibadah dan  bukan tempat yang “terhormat”, seperti karpet yang digelar di bawah, di  atas kasur dimana orang tidur di atasnya, atau di bantal yang digunakan  untuk bersandar, atau gambar yang ada di lantai yang diinjak-injak dan  yang semisalnya, maka semua tu hukumnya mubah. Di antara dalil-dalil  yang menunjukkan hal tersebut adalah:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hadits dari Abu Tholhah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan  lafadz : aku mendengar Raulullaah shollallaahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “”Malaikat tidak masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat  anjing dan gambar.”;  Dalam sebuah riwayat dari sebuah jalan yang  diriwayatkan oleh Imam Muslim beliau bersabda “kecuali gambar yang ada  di pakaian” Ini menunjukkan adanya pengecualian terhadap gambar yang ada  di pakaian, atau gambar yang dilukis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini menunjukkan bahwa gambar dua dimensi seperti gambar yang dilukis  di pakaian hukumnya boleh, Sebab malaikat bersedia memasuki rumah yang  di dalamnya terdapat gambar dua dimensi. Akan tetapi ada pula  hadits-hadits lain yang menjelaskan jenis kemubahan ini:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hadits dari Aisyah Radiyallahu ‘anha yang diriwayatkan oleh Al  Bukhori, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk  menuju saya sementara di dalam rumah terdapat tirai tipis bergambar,  maka warna wajah beliau berubah, kemudian mengambil tirai itu dan  merobeknya”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Qirom (kain tipis) merupakan salah satu jenis pakaian yang biasa  dipasang sebagai penutup pintu di dalam rumah, hal itu membuat rona  wajah Rasulullaah shollallaahu ‘alaihi wa sallam berubah (marah)  kemudian melepas tirai tersebut. Ini menunjukkan adanya contoh untuk  meninggalkan perbuatan memasang tirai sebagai penutup pintu apabila ia  bergambar. Apabila hadits ini dikaitkan dengan kebolehan malaikat untuk  memasuki rumah yang didalamnya terdapat gambar yang terlukis di pakaian,  maka hal tersebut menunjukkan bahwa larangan untuk memajang gambar dua  dimensi itu tidak tegas, atau sekedar dibenci (makruuh), dan juga karena  gambar tersebut dipasang sebagai penutup pintu, sedang pintu adalah  tempat yang terhormat, dengan demikian, memasang gambar di tempat yang  terhormat adalah makruh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hadits dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh  Imam Ahmad, dari perkataan Jibril ‘alaihis salaam kepada Rasulullaah  shollallaahu ‘alaihi wa sallam : “perintahkanlah agar tabir tersebut  dipotong dan dijadikan dua bantal yang diinjak,”. Dengan demikian,  Jibril ‘alaihis salam telah memerintahkan kepada rasulullah shollallaahu  ‘alaihi wa sallam untuk menghilangkan turai bergambar dari tempat yang  terhormat, dan agar ia dijadikan sebagai dua bantal yang diinjak. Ini  berarti, menggunakan gambar yang digambar oleh orang lain di  tempat-tempat yang tidak dihormati adalah boleh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terkait dengan dua pertanyaan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    * Menggambar simbol berupa manusia atau hewan (contohnya  rambu-rambu di jalan seperti “tempat penyeberangan”, “pintu darurat saat  kebakaran” atau “dilarang berjalan bersama anjing”)&lt;br /&gt;* Menggambar bagian badan manusia atau binatang (sebagai contoh  menggambar tangan yang bersalaman, jari telunjuk atau kepala kuda  sebagai gambar logo)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jawaban untuk dua pertanyaan ini adalah sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apabila tanda yang dilukis menggambarkan makhluq bernyawa maka dia  haram, sebab hadits-hadits mengharamkan gambar yang menunjukkan adanya  sifat memiliki ruh (nyawa). Sifat ini dapat diterapkan kepada setiap  gambar makhluq secara utuh maupun, separuh saja, gambar kepala yang  disambung dengan bagian tubuh lain seperti kedua tangan dan semisalnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun apabila tanda (rambu)nya tidak menunjukkan adanya nyawa,  seperti tangan saja, atau gambar jari yang menunjuk kepada sesuatu atau  dua tangan yang saling bersalaman atau yang semisalnya, maka keharaman  tidak bisa diterapkan terhadapnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun gambar kepala yang tidak digabung dengan angggota badang yang  lain, maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat. Dan yang paling  kuat adalah bahwa kepadala saja yang tidak digabung dengan bagian tubuh  lain adalah tidak haram. Itu karena ada hadits yang membolehkan untuk  memotong kepada patung sehingga tersesa seperti pohon, seperti halnya  hadits Abu Hurairah ra. Yang di dalamnya terdapat perkataan Jibril  alaihis salam kepada Rasulullah shollalallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa  patung itu tidak lagi haram ketika kepalanya dipotong. ..”.. Maka  perintahkanlah agar kepala patung tersebut dipotong dan dibuat seperti  bentuk pohon ..”  dikeluarkan oleh Ahmad. Hadits ini berarti bahwa sisa  patung dan kepalanya ketika telah dipotong  sama-sama tidak haram. Dan  ini tidak berarti bahwa yang tidak diharamkan adalah badan patung yang  kepalanya sudah terpotong, sedangkan kepala yang terpotong tetap haram.  Tidak demikian karena perintah Jibril kepada Rasulullah shollallaahu  ‘alaihi wa sallam untuk memotong kepala patung menunjukkan bahwa  pemotongan itu hukumnya boleh. Dengan demikian, segala hal yang menjadi  konsekuensinya/ikutannya adalah boleh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan harap diketahui, bahwa Hanabilah (hambaliyah) dan Malikiyah  membolehkan kepala saja, sedangkan Syafi’iyyah mengalami perbedaan  pendapat. Sebagian besar ahli fiqh syafiiyyah menyatakan bahwa gambar  kepala saja adalah haram, sementara yang lain membolehkannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun terkait dengan dua soal yang terakhir:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    * Menggambar lukisan manusia atau hewan yang tidak menyerupai kenyataan (karikatur)&lt;br /&gt;* Menggambar tokoh cerita imajiner yang tidak ada dalam kenyataan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jawabnya adalah bahwa sesungguhnya selama gambar itu menunjukkan  adanya ruh (nyawa) meskipun tidak ada persamaannya di dalam kenyataan,  itu tetap haram. Sebab, nash-nash syara’ dapat diterapkan terhadap kasus  tersebut. Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan  Aisyah rodhiyallaahu ‘anhaa untuk melepas tirai yang terpasang di pintu  yang bergambar kuda yang memiliki sayap. Padahal dalam kenyataannya  tidak ada kuda yang memiliki sayap.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Iamam Muslim mengeluarkan hadits dari Aisyah rodhiyallaahu ‘anhaa,  dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dari safar  sementara aku menutupi pintuku dengan durnuk yang terdapat gambar  kuda-kuda yg memiliki sayap. Maka beliau memerintahkan aku utk mencabut  tabir tersebut maka akupun melepasnya” sementara durnuk merupakan salah  satu jenis pakaian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian, saya hendak mengulang kembali apa yang telah saya ungkapkan  di awal, bahwa gambar yang diharamkan adalah gambar yang tidak  diperuntukkan bagi anak-anak. Adapun jika diperuntukkan bagi anak-anak,  seperti gambar karikatur untuk anak-anak, atau gambar tokoh imajiner  untuk anak-anak, untuk permainan atau hiburan mereka, atau untuk  pendidikan mereka. Semua itu hukumnya boleh karena adanya dalil yang  menyebutkan hal tersebut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Abu Dawud mengeluarkan hadits dari Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa, dia  berkata: Suatu hari Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- pulang dari  perang tabuk atau perang khoibar. (Saat itu) lemari kecil Aisyah  tertutup tirai, lalu berhembuslah angin, yang menyingkap tirai itu,  sehingga terlihatlah banyak mainan boneka wanita milik Aisyah. Beliau  bertanya: “Apa ini, wahai Aisyah?”, ia menjawab: “Anak-anak  perempuanku”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hadits Aisyah yang dikeluarkan oleh Al Bukhori, dia berkata, “aku  bermain dengan anak-anak perembuanku (boneka) di sisi Nabi shollallaahu   ‘alaihi wa sallam.. “ yaitu bermain dengan boneka berbentuk anak-anak  perempuan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikian juga dengan hadits Ar Robii’ binti Ma’awwid Al Anshoriyyah  rodhiyallaahu ‘anhaa yang dikeluarkan oleh Al Bukhori dia berkata, “Kami  berpuasa dan memerintahkan anak-anak kecil kami berpuasa. Kami  membuatkan mereka mainan dari bulu. Maka, apabila mereka menangis karena  lapar, kami berikan mainan itu kepadanya, sampai tiba waktu berbuka”.  Maksudnya, menghibur mereka dengan mainan, sampai tiba waktu berbuka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semua hadits itu membolehkan mainan anak-anak bahkan seandainya  mainan itu berbentuk patung makhluk yang memiliki nyawa. Atas dasar itu,  merupakan hal yang lebih utama jika gambar datar dua dimensi adalah  boleh, bagaimana pun bentuknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;*Amir Hizbut Tahrir &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;12 Syawal 1431 H&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bertepatan dengan 21 September 2010&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diterjemahkan dari : http://hizb-ut-tahrir.info/arabic/index.php/HTAmeer/QAsingle/3249  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-4134885717859569566?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/4134885717859569566/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/11/hukum-seputar-lukisan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/4134885717859569566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/4134885717859569566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/11/hukum-seputar-lukisan.html' title='Hukum Seputar Lukisan'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_OLk_oOmotBU/SyjdvCtY8rI/AAAAAAAABeU/Z1UZ-HlHgyY/s72-c/Pelukis+Yang+Melukis+Dengan+menggunakan+Senjata.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-3174180015028005974</id><published>2010-11-12T22:50:00.000-08:00</published><updated>2010-11-12T23:08:01.065-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menjawab Fitnah'/><title type='text'>Apakah HT Menyalahkan Ahlussunnah dalam masalah Qadha dan Qadar?</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/TN41CVNehXI/AAAAAAAAAYA/bhcTiydVyLs/s1600/38229_1157304949841_1744264983_319241_2082755_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;&lt;img border="0" height="228" src="http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/TN41CVNehXI/AAAAAAAAAYA/bhcTiydVyLs/s320/38229_1157304949841_1744264983_319241_2082755_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 17px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;Saya pernah menanyakan hal ini pada ustadz saya, di dalam kitab “nizhamul islam” Syeikh Taqiuddin Annabhani menyebut Ahlussunnah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 17px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 17px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;mendefinisikan Qadha dan Qadar dengan definisi yang tidak jelas dan hanya pendapat ‘kompromi’ antara jabbariah dan muktazillah. Lalu saya bertanya, bukankah Ahlusunnah (pengikut sunnah) adalah satu-satunya golongan yang selamat? Beliau menjawab iya. Ahlusunnah adalah satu-satunya golongan yang selamat, tapi Ahlusunnah yang dimaksud dalam Kitab Nizhamul islam adalah aliran yang dibentuk oleh Asy’ari yang menamakan dirinya ahlussunnah wal jama’ah. Lalu saya bertanya lagi, Mengapa disebut ahlusunnah, bukan asy’ariah sebagaimana dalam buku-buku aqidah? Beliau menjawab bahwa suatu kelompok tetap disebut dengan penamaan yang diakui oleh kelompok tersebut. Kita tetap menamakan ahmadiah pada kelompok yang mengakui miqza ghulam ahmad sebagai nabi misalnya, kita tidak menyebut mereka ghulamiyah atau lainnya, meski Ahmad adalah nama lain dari Nabi Muhammad SAW, kita tetap menyebut mereka dengan Ahmadiyah. Begitu juga aliran Aqidah terutama dalam Qadha dan Qadar ini, pengikut Asy’ari tetap disebut sebagai ahlusunnah waljama’ah, karena mereka menamakan kelompok mereka demikian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 17px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 17px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;Itulah pentingnya kitab ‘nizhamul islam’ ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 17px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 17px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;jadi sebenarnya bukanlah ahlussunnah wal jama'ah dalam arti satu-satunya golongan yang akan selamat nanti (sebagaimana yang telah diinformasikan nabi) yang dibantah oleh Syeikh Taqiyuddin Annabhani, karena kita tidak pernah tau siapa "ahlussunnah" yang sebenarnya itu (mudah-mudahan kita masuk kedalamnya).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 17px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 17px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 15px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;“Aku wasiatkan kalian (mengikuti) para sahabatku, kemudian orang-orang sesudah mereka, kemudian orang-orang kemudiannya... Barangsiapa yang menghendaki keluasan al-Jannah, maka berpegangteguhlah dengan Jama’ah.” [HR. Tirmidzi, Imam Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban; dan dishohihkan oleh Al-Albani]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-3174180015028005974?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/3174180015028005974/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/11/apakah-ht-menyalahkan-ahlussunnah-dalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/3174180015028005974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/3174180015028005974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/11/apakah-ht-menyalahkan-ahlussunnah-dalam.html' title='Apakah HT Menyalahkan Ahlussunnah dalam masalah Qadha dan Qadar?'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/TN41CVNehXI/AAAAAAAAAYA/bhcTiydVyLs/s72-c/38229_1157304949841_1744264983_319241_2082755_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-9192603772143476920</id><published>2010-11-12T22:45:00.000-08:00</published><updated>2010-11-25T00:25:25.733-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menjawab Fitnah'/><title type='text'>Definisi Iman HT Bertentangan Dengan Mayoritas?</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;Mengapa definisi iman HT berbeda dengan mayoritas ulama, yaitu &lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;“Pembenaran yang pasti yang sesuai dengan fakta dan disertai dengan dalil-dalil yang pasti kebenarannya” , bukankah ini berbeda dengan definisi dari mayoritas Ulama?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/TN4z58kp-OI/AAAAAAAAAX8/Jv27x7a4-J4/s1600/demo_massa_hizbut_tahrir_indonesia_ilustrasi_100601143816.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;&lt;img border="0" height="231" src="http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/TN4z58kp-OI/AAAAAAAAAX8/Jv27x7a4-J4/s320/demo_massa_hizbut_tahrir_indonesia_ilustrasi_100601143816.jpg" width="320" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;Yang dimaksud dalam definisi itu, Syeikh Taqiyuddin Annabhani ingin menerangkan bahwa iman itu harus kuat tertancap dalam hati seorang mukmin. Sementara definisi mayoritas yang dimaksud adalah “pembenaran dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dalam perbuatan”. Inilah definisi yang sangat terkenal, dan saya pun tidak membathilkan definisi ini. Hanya kita harus melihat apakah definisi ini bertentangan dengan definisi yang dikeluarkan oleh Syeikh taqiuddin Annabhani atau tidak?. Saya melihat antara dua definisi ini membahas sisi yang berbeda, Syeikh taqiyuddin Annabhani ingin mendefiniskan iman dari sisi seberapa kuat iman menancap dalam hati, sementara definisi mayoritas mendefinisikan dari sisi “bagaimana orang itu seharusnya dalam beriman”. Kedua definisi ini ‘tidak bertentangan’, hanya melihat dari dua sisi yang berbeda. HT pun tidak memungkiri bahwa iman harus dibuktikan dengan lisan dan perbuatan, begitu juga pendapat mayoritas juga pasti setuju jika iman itu haruslah bersifat pasti dengan didukung dalil yang qhat’i. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;Selain diatas bisa saja ada definisi lain misalnya “iman adalah iman kepada Allah, rasul, kitab, malaikat, kiamat, qhada dan qadar”. Ini adalah jawaban rasulullah SAW ketika beliau SAW ditanya oleh malaikat. Tidak ada yang bathil dalam definisi ini, karena maksud rasulullah SAW adalah mendefinisikan iman berdasarkan rinciannya. Atau ada sebagian golongan lain yang menambahkan definisi iman dengan “bisa bertambah dan berkurang” ini juga tidak bathil karena ini mendefinisikan berdasarkan sifat iman itu sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;Perbedaan dalam menentukan definisi adalah hal yang wajar diantara para mujtahid, banyak sekali istilah dalam islam yang diantara para mujtahid terdapat perbedaan namun hal itu tidak menjadi masalah karena masing-masing mujtahid memliki hujjah dalam menentukan definisi. Jadi tidak usah hal ini diperdebatkan sehingga membuat citra bahwa seakan-akan HT bertentangan dengan mayoritas umat islam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;BAGAIMANA PENDAPAT ULAMA TENTANG DEFINISI IMAN?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;Imam Ath-Thahawi, &lt;/b&gt;menyatakan, &lt;i&gt;"Iman adalah ucapan dengan lisan dan pembenaran dalam hati"&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: blue;"&gt;[Aqidah Thahwiyah, poin 62]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: blue;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Imam Nawawi, &lt;/b&gt;menyatakan, &lt;i&gt;"Ahli Sunnah dari  kalangan  ahli hadits, para fuqaha, dan ahli kalam, telah sepakat bahwa  seseorang  dikategorikan muslim apabila orang tersebut tergolong sebagai  ahli kiblat (melakukan  sholat). Ia tidak kekal di dalam neraka. Ini  tidak akan didapati kecuali setelah  orang itu mengimani dienul Islâm di  dalamnya hatinya, secara pasti tanpa  keraguan sedikitpun, dan ia  mengucapkan dua kalimat syahadat."&lt;span style="color: blue;"&gt;[  Imam Nawawi, Syarah Shahih Muslim, jilid I, hal. 49 ]&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;Imam al-Ghazali,&lt;/b&gt; menyatakan,&lt;i&gt;"Îman adalah pembenaran  pasti yang tidak ada keraguan maupun perasaan bersalah yang dirasakan oleh  pemeluknya."&lt;span style="color: blue;"&gt;[ Imam Al-Ghazali, Iljâm al-'Awam 'an 'Ilm al-Kalâm,  hal. 112 ]&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;Imam al-Nasafiy, &lt;/b&gt;berpendapat,&lt;i&gt; "Îman adalah  pembenaran hati sampai pada tingkat kepastian dan ketundukan."&lt;span style="color: blue;"&gt;[  Imam al-Nasafiy, Al-'Aqâid al-Nasafiyyah, hal. 27-43 ]&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;Prof. Mahmud Syaltut,&lt;/b&gt; dalam Islam, ‘Aqidah wa Syari’ah,  berkata, &lt;i&gt;“  Iman adalah al-I’tiqaad al-jaazim al-muthaabiq li al-waaqi’ ‘an   daliil.” (keyakinan pasti yang berkesesuaian dengan fakta dan didasarkan  pada  bukti (dalil).”&lt;span style="color: blue;"&gt;[ Prof. Mahmud Syalthut, Islam ‘Aqidah wa  Syari’ah, hal.56 ]&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-9192603772143476920?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/9192603772143476920/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/11/definisi-iman-ht-bertentangan-dengan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/9192603772143476920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/9192603772143476920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/11/definisi-iman-ht-bertentangan-dengan.html' title='Definisi Iman HT Bertentangan Dengan Mayoritas?'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/TN4z58kp-OI/AAAAAAAAAX8/Jv27x7a4-J4/s72-c/demo_massa_hizbut_tahrir_indonesia_ilustrasi_100601143816.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-7890325317095364752</id><published>2010-11-12T20:44:00.000-08:00</published><updated>2010-11-12T20:58:51.086-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='koreksi'/><title type='text'>Virus Harakah Islamyah: Pragmatisme (2)</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://okefarid.files.wordpress.com/2009/05/khilafah-islam-indonesia-demokrasi.jpg?w=240&amp;amp;h=319" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://okefarid.files.wordpress.com/2009/05/khilafah-islam-indonesia-demokrasi.jpg?w=240&amp;amp;h=319" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pragmatisme adalah pandangan hidup yang mengukur kebenaran berdasarkan hasil praktis. Pragmatisme lebih mengedepankan hasil/manfaat dibanding dengan metode. Paham ini merupakan paham yang sangat berbahaya jika menjangkiti para aktivis dakwah, apalagi jika menjadi suatu petinggi harakah islamiyah / organisasi islam.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jika kita melihat seluruh gerakan islam, maka kita tidak mendapati satu pun diantara mereka yang memiliki tujuan yang buruk. Akan tetapi tujuan yang tinggi itu sering tersendat ditengah jalan, karena mereka telah mendapatkan sesuatu yang bisa memuaskan mereka, sehingga organisasi ini berhenti disitu dan menganggap tujuannya telah tercapai dengan didapatkannya sesuatu itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Misalnya suatu organisasi dibentuk untuk membangkitkan islam. Namun tujuan itu dibuat tidak dengan metode yang jelas untuk mencapai tujuan yang dimaksudkan. Sehingga virus pragmatisme mudah sekali menjangkiti aktivis dakwah dalam organisasi ini. Sehingga tujuan untuk membangkitkan islam ini sering berhenti jika organisasi ini berhasil membangun sekolah, rumah sakit, dll. Dibangunnya sekolah, rumah sakit, dll itu dianggap telah berhasil membangkitkan islam, padahal rumah sakit, sekolah, dll yang dibuat tersebut tetap harus mematuhi peraturan pemerintah yang tidak islami. Akibatnya institusi-institusi yang dibangun tadi sama sekali tidak mencerimnkan kebangkitan islam, islam hanya menjadi simbol semata, sementara sistem yang dijalankan tetap harus tunduk dibawah pemerintah yang tidak islami.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ada pula aktivis dakwah yang membawa organisasinya menceburkan diri masuk dalam pemerintahan, dengan alasan bahwa ‘tidak mungkin mencapai tujuan ini kecuali dengan masuk ke pemerintah’. Mereka tidak peduli jika yang pemerintah jalaankan adalah sistem kufur, karena tidak menegakkan hukum Allah.&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 19px;"&gt;&lt;em style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 12px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 19px;"&gt;&lt;em style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 12px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;“Maka demi tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan Kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 12px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;em style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 12px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;(&lt;b&gt;TQS&lt;/b&gt;.&amp;nbsp;&lt;strong style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 12px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;An Nisa’ : 65&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 19px;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 19px;"&gt;&lt;/span&gt;Sehingga ketika aktivis dakwah masuk ke dalam pemerintah maka aktivis dakwah itu akan menjalankan sistem kufur. Fungsi yang haram, seperti pembuatan hukum yang terjadi di legislatif dianggap sebagai jalan perjuangan, padahal hukum yang dibuat tidak berlandaskan Al-Qur’an &amp;amp; Assunnah tapi berlandaskan UUD (yang juga dibuat oleh manusia). Aktivis dakwah ini puas dan merasa berhasil ketika berhasil melegislasi hukum yang ‘sedikit’ islami. Padahal melegislasi hukum seperti ini justeru mengaburkan pemahaman umat, umat merasa puas dengan kondisi seperti ini sehingga kebaikan yang sedikit pada UU yang dilegislasi itu hanya akan mengokohkan sistem kufur yang berjalan, karena umat akan menyangka sistem ini bagus dan masih layak dipertahankan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mengapa bisa terjadi pragmatisme?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pragmatisme dalam tubuh suatu organisasi islam timbul bisa jadi karena tidak ditetapkan tujuan organisasi dan metode yang jelas dalam menetukan tujuan tersebut. Selain itu bisa juga karena mudahnya suatu organisasi menerima kader, tanpa melalui pembinaan yang matang terlebih dahulu, sehingga bisa saja kader tersebut membawa virus ini, atau memang dia sengaja disusupkan oleh pihak-pihak yang membenci organisasi islam. Sehingga ketika kader tadi menjadi petinggi organisasi, dia akan mengeluarkan ide-ide yang pragmatis.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kita mendapati tidak sedikit organisasi yang vokal meneriakkan syariat islam, tapi kader yang diangkat sendiri tidak menutup aurat, berpemikiran liberal, bahkan berasal dari kaum kafir. Organisasi yang menyerukan tauhid tapi justru pemimpinnya mengajak pada pluralisme. Organisasi yang bercita-cita menegakkan negara islam namun karena mereka pragmatis, sehingga metode kekerasanlah yang dipakai, padahal bukan di medan perang.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Saya berhusnuzhan organisasi tidak didirkan kecuali untuk tujuan yang baik, namun karena kurangnya protektif dari penyusup menyebabkan organisasi ini ‘rusak’ akibat pragmatisme. Apalagi jika ditambah tidak jelasnya tujuan dan metode yang dipakai. Seharusnya organisasi islam tidak berdiri kcuali sebagai media mengurusi urusan umat, &lt;b&gt;mengajak kaum kafir dan orang yang masih lemah akidah agar berakidah islam dan mengajak kaum muslim yang telah berkidah benar agar hidup dalam kehidupan islam&lt;/b&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Metode yang ditempuh seharusnya mencontoh thariqah (metode) dakwah nabi. Beliau SAW memulai dakwahnya dari dakwah sembunyi-sembunyi untuk mencetak kader yang siap diterjunkan ke masyarakat. Setelah itu beliau SAW berdakwah dengan berinteraksi dengan masyarakat, &amp;nbsp;tidak lagi sembunyi-sembunyi. Dalam berinteraksi dengan masyarakat, beliau SAW selalu mematahkan logika-logika kufur dengan logika-logika yang lebih bisa diterima akal dan menentramkan hati.&amp;nbsp; Selain itu beliau SAW juga menjanjikan jika mereka mau masuk islam maka akan mendapatkan kejayaan yang besar. Beliau SAW tidak berhenti disitu, penggalangan kekuatan pun tidak dilupakan yaitu pada negri najasy, tha’if, dan yatsrib. Namun beliau SAW mendapatyi bahwa yatsrib / madinah adalah tempat yang cocok untuk dakwah kedepan, sehingga beliau mengutus Mush’ab bin umair ke yatsrib untuk mendakwahkan islam disana, dan hasilnya islam menjadi opini umum&amp;nbsp; disana dan mayoritas masyarakat menerima islam. Dari yatsrib inilah pertama kali Negara islam didirikan, meskipun tidak semua warga yatsrib masuk islam. Di yatsriblah berlaku penerapan syariat islam secara menegara, disinilah ‘starting point’ kekuasaan islam yang dipimpin Nabi Muhammad SAW sebagai kepala negara yang diteruskan oleh para Khalifah sesudahnya, yang kemudian pembebasan negri-negri dari imperium romawi, persia, dll terjadi, sehingga luas daulah islam/ negara islam mencapai 2/3 dunia. Namun Khilafah mengalami kemuduran ketika sudah mencapai 13 abad, kemuduran ini disebabkan oleh banyak sebab, sehingga berujung pada runtuhnya Khilafah / Negara Islam pada tahun 1924 M.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Nah begitulah seharusnya metode yang dicontoh oleh semua organisasi islam, dengan tujuan yang jelas dan metode yang jelas, yaitu mengembalikan kehiduoan islam dibawah naungan Khilafah islamiyah. Sehingga umat islam akan kembali mendapatkan kejayaan dan kemuliaan yang tentu saja kita semua mencita-citakannya. Bukankah Allah telah berfirman:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana, Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 1.5em; margin-bottom: 15px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="print-normal1"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: 13px; line-height: 16px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;“&lt;em&gt;Dan apa saja yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kalian, maka ambillah (laksanakanlah), dan apa saja yang kalian di larang untuk mengerjakannya, maka berhentilah (tinggalkanlah)!&lt;/em&gt;&amp;nbsp;” (Al-Hasyr: 7)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 15px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 15px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cccccc;"&gt;“&lt;em&gt;Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah&lt;/em&gt;.” (Al-Ahzab: 21)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-7890325317095364752?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/7890325317095364752/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/11/virus-harakah-islamyah-pragmatisme-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/7890325317095364752'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/7890325317095364752'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/11/virus-harakah-islamyah-pragmatisme-2.html' title='Virus Harakah Islamyah: Pragmatisme (2)'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-3954714915366022774</id><published>2010-10-24T17:09:00.000-07:00</published><updated>2010-10-24T17:16:31.219-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='koreksi'/><title type='text'>Virus Harakah Islamiyah: Fanatisme (1)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://counterterrorismblog.org/HTA%20image%20-%20a%20matter%20of%20time.png" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://counterterrorismblog.org/HTA%20image%20-%20a%20matter%20of%20time.png" width="203" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Syetan akan menggoda siapa saja, termasuk kepada para pengemban dakwah yang tergabung pada jamaah tertentu. tentu cara yang digunakan syetan berbeda dengan cara syetan menggoda orang yang tidak berdakwah. Berikut akan saya bahas, bagaimana dan apa bentuknya godaan syetan yang siap menjerumuskan para pengemban dakwah ke lubang kebinasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fanatisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap fanatisme ini bisa lahir pada para pengemban dakwah yang berada pada kelompok tertentu. sikap ini diiringi dengan menganggap kelompokknya lah yang haq, dan selainnya batil. Mengikuti apa saja yang dikatakan qiyadah (pemimpin jamaah), meski dia tahu bahwa qiyadah memerintahkan hal yang maksiat. &lt;br /&gt;“Wajib atas seorang muslim untuk mendengar dan taat pada hal-hal yang disukainya ataupun yang dibencinya, kecuali bila diperintahkan untuk bermaksiyat. Apabila diperintahkan untuk bermaksiyat, maka tidak ada lagi mendengar dan ketaatan.” (Muslim (3423), Ibn Majah (3855)&lt;br /&gt;Sikap fanatisme juga tercermin dari bendera yang digunakan oleh orang-orang yang berada dalam jamaah tertentu. seharusnya kaum muslim tidak mengangkat bendera selain al-liwa (bendera putih) dan ar-raya (panji hitam) yang bertuliskan kalimat tauhid “lailaha ilallah, muhammad rasulullah”*. sebab inilah bendera umat islam, dan inilah yang seharusnya diangkat oleh seluruh kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://khilafahstuff.files.wordpress.com/2008/08/101_3988.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://khilafahstuff.files.wordpress.com/2008/08/101_3988.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rayahnya (panji peperangan) Rasul SAW berwarna hitam, sedang benderanya (liwa-nya) berwarna putih”&lt;br /&gt;(HR. Thabrani, Hakim, dan Ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://images.khoirzahra75id.multiply.com/image/m5rdg88LTDvMJw5nGG7IYA/photos/1M/300x300/455/CDocuments-and-SettingsTRINADA-5My-Documentsindonesia-khilafah-conf.jpg?et=kVAroTixj2gwk50UQHwNhw&amp;amp;nmid=0" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="140" src="http://images.khoirzahra75id.multiply.com/image/m5rdg88LTDvMJw5nGG7IYA/photos/1M/300x300/455/CDocuments-and-SettingsTRINADA-5My-Documentsindonesia-khilafah-conf.jpg?et=kVAroTixj2gwk50UQHwNhw&amp;amp;nmid=0" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang menyeru kepada ashabiyyah (fanatisme kelompok). Dan tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang berperang atas dasar ashabiyyah (fanatisme kelompok). Dan tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang terbunuh atas nama ashobiyyah (fanatisme kelompok).” (HR. Abu Dawud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Ibnu Hajar al-Asqalani., Fathul Bari., jilid VII/477&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-3954714915366022774?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/3954714915366022774/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/10/virus-harakah-islamiyah-fanatisme-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/3954714915366022774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/3954714915366022774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/10/virus-harakah-islamiyah-fanatisme-1.html' title='Virus Harakah Islamiyah: Fanatisme (1)'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-2455544280699751750</id><published>2010-08-30T00:12:00.001-07:00</published><updated>2011-04-03T09:32:15.819-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Sedikit Pelajaran Dari Puasa di Bulan Ramadhan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/THtZ8Rh3uJI/AAAAAAAAAVo/FsNeWo87Rbc/s1600/Sms-Ucapan-Puasa-Ramadhan-1431-H.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/THtZ8Rh3uJI/AAAAAAAAAVo/FsNeWo87Rbc/s320/Sms-Ucapan-Puasa-Ramadhan-1431-H.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Alhamdulillah kita masih diberi kesempatan untuk menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan. Dimana dibulan ini, akan senantiasa diliputi rahmat dan ampunan Allah SWT. Sesungguhnya puasanya seorang mukmin, sangat membentuk kepribadiannya. Seorang yang puasa hanya mengharap ridha Allah akan mendapat banyak sekali pelajaran. Yang mana setiap pelajaran itu akan sangat menentukan hidupnya meski telah keluar dari bulan ramadhan. Tak berlebihan jika ada ungkapan bahwa “Ramadhan adalah madrasah”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertama, di bulan ramadhan ini, pada saat siang hari, kita akan dilatih untuk menahan nafsu kita dari perbuatan-perbuatan yang dapat membatalkan atau mengurangi pahala berpuasa kita. di siang itu, yang halal saja bisa kita menahannya. Kita tidak makan, tidak minum, tidak jima’ dengan istri, padahal itu halal jika dilakukan diluar puasa. Maka, ketika, seorang mukmin dapat memngambil pelajaran dari puasa, meski Diluar ramadhan sekalipunpun, saat ia puasa maupun tidak, dia akan mampu menahan dirinya dari larangan-larangan Allah SWT.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kedua, dibulan suci ini, kaum mukminin akan senantiasa meningkatkan amal ibadahnya. Shalat malam kita yang barangkali sangat jarang diluar ramadhan, akan menjadi sering di bulan ramadhan. Begitu pula dengan tadarus kita, yang mungkin kita tidak sempat membaca dan memahami meski satu lembar saja, di bulan ramadhan ini kita akan menjadi lebih semangat dalam mengkhatamkan Al-Qur’an. Sehingga tiga puluh hari yang kita isi dengan ibadah itu, (tentu tanpa meningalkan aktivitas lain) akan menjadi kebiasaan kita. minimal kita akan terus melaksanakan shalat malam, meski hanya 2 rakaat dan 1 witir. Kita akan terus membaca dan memahami makna Qur’an meski satu lembar saja perhari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketiga, ketika kita berpuasa, puasa kita yang hanya mengharap ridah Allah itu akan membentuk jiwa ihsan kita. kita tidak akan makan/minum meski pun tidak ada yang melihat. Kita akan merasa terus diawasi oleh Allah SWT. Kita semakin sadar bahwa segala tingkah laku kita, semuanya dilihat oleh Allah, dan Dia maha tahu akan segala yang kita kerjakan. Mental inilah ayang akan membentuk jiwa kita yang taat kepada syarat Allah, kita tidak akan dengan mudah melanggar syariat Allah, kita akan merasa terikat dengan syariat-syariat Allah, dan dengan mental inilah secara otomatis akan membentuk kepribadian islam kita (syakhsiyah islamiyah).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mungkin kita yang dulunya ragu kepada syariat Allah, menolak penerapan hukum-hukum Allah, dan menganggap syariat Allah itu kuno, akan sirna setelah kita merenungi pelajaran yang didapat dari berpuasa. Apalah artinya seorang yang berpuasa, tetapi dalam tingkah lakunya dia terus melanggar syariat Allah, menghina syariat Allah, dan tidak mau menerapkan syariat Allah. Apalah artinya kita berpuasa, tetapi kita tetap memakan riba, memungut pajak, tidak menerapkan hudud, dan masih membiarkan negara kita diatur dengan sistem demokrasi dan kapitalisme. Dengan merenungi pelajaran yang dapat diambil dari berpuasa, kita aklan sadar bahwa semua hukum harus bersumber dari hukum Allah, bukan lagi hukum buatan manusia yang dibuat oleh parlemen.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi para penjuru dakwah, dengan merenungi pelajaran yang dapat diambil dari berpuasa, kita akan menjadi lebih semangat lagi. Kita harusnya lebih yakin dengan apa yang kita sampaikan, karena yang kita sampaikan tidak lain adalah untuk membebaskan mereka dari peribadatan pada manusia menuju peribadatan pada Allah semata. Yang kita serukan tak lain hanyalah untuk menyelamatkan manusia itu sendiri, dari cengkraman sistem kapitalis yang menyengsarakan umat manusia. Kita membawa seperangkat sistem yang datangnya dari Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, dan Qiyas untuk mengatur setiap sendi kehidupan kaum mukminin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-2455544280699751750?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/2455544280699751750/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/08/hikmah-puasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/2455544280699751750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/2455544280699751750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/08/hikmah-puasa.html' title='Sedikit Pelajaran Dari Puasa di Bulan Ramadhan'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/THtZ8Rh3uJI/AAAAAAAAAVo/FsNeWo87Rbc/s72-c/Sms-Ucapan-Puasa-Ramadhan-1431-H.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-786502315300282032</id><published>2010-07-05T02:12:00.000-07:00</published><updated>2010-07-05T02:12:58.996-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Hukum Chattng dan Saling Berkirim Pesan via Internet</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://technmarketing.files.wordpress.com/2008/12/mobile-messaging-with-nimbuzz.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://technmarketing.files.wordpress.com/2008/12/mobile-messaging-with-nimbuzz.jpg" width="268" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;i&gt;Ustadz, apa hukumnya chatting dan saling berkirim pesan dengan wanita yang bukan mahram kita?&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Jawab:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Sebelum menghukumi sesuatu, kita harus melihat terlebih dahulu fakta dari chatting dan berkirim pesan itu. Hukum asal dari chatting dan berkirim pesan adalah mubah, karena tidak ada satu pun nash yang melarang. Namun karena ini dilakukan antara pria dan wanita yang tidak terikat oleh pernikahan atau pun bukan mahramnya maka hukum asal hubungan keduanya adalah haram. Hal ini sebab dalam Islam menuntut agar pria dan wanita terpisah dalam segala aktivitasnya, namun ada pengecualian dari syara yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;1.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;1. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Menyambung silaturahmi /ukhuah sekedarnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;2.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; 2.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Menegur dan mengingatkan dalam ketaatan pada Allah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;3.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; 3.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Berdiskusi masalah keislaman atau pun ilmu pengetahuan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;4.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; 4.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Adanya keseriusan dalam taaruf menuju pada pernikahan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;5.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; 5.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Jual beli&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;6.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; 6.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Atau pun ada keperluan lainnya yang dilakukan sekedarna saja&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Sementara selain diatas maka diharamkan pembicaraan apapun antara pria dan wanita, baik di bertemu langsung mau pun lewat chating, dsb. Misalnya chating hanya sekedar bercanda/ bersenda gurau, atau saling merayu, dll. Sungguh ini tidak pantas dilakukan oleh kaum muslimin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Sebab dengan pembicaraan yang terlalu lama dengan lawan jenis akan menyebabkan rasa disalah satu dari kedua insan tersebut. Akan tumbuh benih cinta/suka sehingga dia akan terus dan terus menerus chating dengannya. Inilah yang dikhawatirkan, jika memang ada rasa suka, maka sebaiknya langsung saja taaruf lewat dunia nyata. Dan segera melakukan khitbah, jika tidak sanggup maka sebaiknya hindari chating dengan orang yang disukai tadi. (answer by Ust. Fauzan Al-Banjari)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-786502315300282032?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/786502315300282032/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/07/hukum-chattng-dan-saling-berkirim-pesan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/786502315300282032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/786502315300282032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/07/hukum-chattng-dan-saling-berkirim-pesan.html' title='Hukum Chattng dan Saling Berkirim Pesan via Internet'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-6213013199253597638</id><published>2010-06-29T03:55:00.000-07:00</published><updated>2010-06-29T03:55:35.698-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='halaqah'/><title type='text'>Lemahnya ikatan Nasionalisme, kepentingan, dan kerohanian</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://indungsia.files.wordpress.com/2010/03/adolf-hitler_normal.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://indungsia.files.wordpress.com/2010/03/adolf-hitler_normal.jpg" width="228" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai," (QS Al Imran : 103)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nasionalisme adalah sebuah paham yang berasal dari naluri mempertahankan diri. Naluri ini bisa dengan sangat mudah dibangkitkan jika suatu penduduk daerah tertentu merasa terancam karena diserang dari luar. Mengapa ikatan ini lemah? Jelas ikatan ini lemah karena bersifat emosional. Ikatan semacam ini juga terdapat pada hewan, jadi tidak pantas dipakai oleh manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nasionalisme tumbuh pada diri seseorang hanya jika seseorang itu tinggal lama pada suatu daerah dan kemudian timbul rasa cinta pada daerahnya tersebut, dan menganggap bangsanya lebih unggul dari pada bangsa lain. Atau setidaknya dia akan merasa bangga jika orang sebangsanya memiliki prestasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ikatan inilah yang telah memecah belah kaum muslimin dalam sekat-sekat kebangsaan. Ikatan seperti ini sengaja ditumbuhkan oleh kaum kafir penjajah agar antar kaum muslimin tidak saling membantu ketika terjajah. Lihatlah sekarang ini, kaum muslimin di Afghanistan, di irak, Kashmir, Pakistan, Tajikistan, dll dibantai oleh para penjajah, Namun kaum muslimin yang beda Negara tidak peduli saudara dibantai. Lihatlah mesir misalnya, mereka justru menutup perbatasan gaza disaat saudaranya di gaza dibantai oleh Israel.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ikatan ini sama sekali tidak pernah dikenal oleh kaum muslimin hingga runtuhnya daulah khilafah islamiyah tahun 1924. Saat itulah kaum muslimin mulai tersekat-sekat dalam 6o Negara lebih. Padahal sejatinya kaum muslimin seluruhnya hanya memiliki satu Negara, yaitu daulah khilafah islamiyah. Karena Allah memerintahkan pada kita agar bersatu dan tidak tercerai berai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ikatan seperti ini justru timbul pada masa jahiliyah. Ikatan kesukuan adfalah ikatan yang hamper sama dengan ikatan semacam ini. Hanya saja ikatan nasionalisme ini lebih besar sekupnya, yaitu bangsa yang mendiami wilayah tertentu. Bangsa romawi, Persia, china, jepang, dan inggris adalah contoh dari bangsa-bangsa yang telah menganut paham ini dimasa jahiliyah. Maka sama sekali tak pantas bagi kaum muslimin untuk mengikatkan dirinya pada ikatan ini. Ikatan kaum muslimin hanyalah berdasarkan aqidah. Selama dia muslim, dia adalah saudara kita. Walau pun berbeda suku, ras, bangsa, maupun Negara. Meskipun dia satu suku kita, satu bangsa kita, satu Negara kita, jika tidak seaqidah maka dia bukan saudara kita, meskipun kita tetap berbuat baik padanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ikatan lainnya yang sering melanda kaum muslimin adalah ikatan kepentingan. Ikatan ini juga sangat lemah, sebab jika kepentingannya sudah sama-sama tercapai maka berhentilah ikatan ini. Ikatan lainnya adalah ikatan kerohanian, ikatan rohani juga lemah. Sebab rohani saja tidak punya peraturan yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini ada pada agama-agama yang hanya mengurusi rohani penganutnya saja tanpa adanya paraturan yang rinci bagaimana dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sudah saatnya kaum muslimin membuang ikatan-ikatan ini dari dalam jiwanya. Jangan perdulikan doktrin pancasila yang mengharuskan kita menganut paham nasionalisme ini. Sesungguhnya kebenaran hanya ada dalam Alllah dan bukan thaghut. Maka sepantasnyalah kita bangkit dari sekat-sekat yang melemahkan kita ini. Kita kembalikan ikatan kita pada aqidah kita. saatnya kita menyatukan semua negri-negri muslim dibawah naungan Khilafah islamiyah yang akan menyatukan seluruh kaum muslimin. Mari kita berjuang, Allahuakbar!!!! Salam revolusi..!!!!    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-6213013199253597638?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/6213013199253597638/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/06/lemahnya-ikatan-nasionalisme.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/6213013199253597638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/6213013199253597638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/06/lemahnya-ikatan-nasionalisme.html' title='Lemahnya ikatan Nasionalisme, kepentingan, dan kerohanian'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-4810277831263531437</id><published>2010-06-29T03:49:00.000-07:00</published><updated>2010-06-29T03:49:19.048-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='halaqah'/><title type='text'>Memahami Qada’ dan Qadar</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Telah kami tunjukkan padanya dua jalan hidup (baik dan buruk)"(QS. Al-Balad:10)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Maka Allah mengilhamkan pada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya" (QS. As-Syams:8) &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sering orang salah mengartikan iman pada qada’ dan qadar. Sebagian menafsirkan secara keliru, sehingga dia menjalani kehidupan secara pasrah. Bahkan aliran ekstrim dalam qada’ dan qadar ini meyakini bahwa maksiatnya atau taatnya seorang hamba itu sudah menjadi ketentuan, dan manusia didunia ini menjalankan aktivitasnya dengan dipaksa. Artinya menurut aliran ini manusia masuk surge atau neraka itu sudah merupakan ketetapan yang manusia itu tak adapat mengubahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara aliran lain, yang merupakan anti pati dari aliran ini meyakini bahwa seluruh yang terjadi di dunia ini adalah atas kehgendak manusia. Tak ada campur tangan Allah di dalamnya. Manusia bebas melakukan apa saja, dan dia nanti akan bertanggung jawab atas perbuatannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekilas paham yang kedua lebih masuk akal, namun tidak 100% benar. Jika kita melihat fakta yang terjadi, manusia itu ada dalam 2 area. Yaitu area yang dikuasainya, dan area yang menguasainya. Area yang dikuasainy adalah area pilihan yang dia bisa menentukan mana yang hendak dipilih. Selama ia mempunyai pilihan maka itu masuk pada area yang dikuasainya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan area kedua, yaitu are yang menguasainya. Artinya dalam kondisi seperti ini, manusia tidak memiliki pilihan. Kejadiannya diluar batas kemampuan manusia. Area ini bisa saja berbentuk sunnatullah maupun yang bukan sunnatullah tapi tetap diluar batas kemampuan manusia. Sunnatullah seperti manusia mati dan lahir, tidak bisa terbang atau berjalan diatas air, dll. Adapun yang bukan sunnatullah namun tetap berada pada area yang menguasainya, yaitu ketika perbuatan manusia yang menghakibatkan sesuatu yang diluar kemampuan manusia. Seperti seorang yang hendak menembak burungt, namun mengenai manusia. Atau ketika mengendarai motor secara hati-hati namun tetap tertabrak oleh orang lain, dan kejadian sejenisnya. Hal ini juga masuk dalam area ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nah, kejadian yang menguasai manusia inilah yang disebut qada’ (ketetapan). Manusia tidak akan pernah lepas dari yang namanya qada’, sebab yang berperan disini hanyalah Allah. Qada’ inilah yang menyebabkan manusia tidak akan mungkin dapat keluar dari area yang dikuasainya, dan manusia terbatas hanya pada itu saja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan qadar, ia adalah suatu sifat yang telah Allah tetapkan ada pada suatu benda. Misalnya sifat manusia adalah memiliki naluri ingin mempertahankan diri, seksual, dan naluri beragama. Missal yang lain adalah sifat dari api adalah membakar, maka sifat ini tidak akan pernah bisa hilang, kecuali yang member sifat (Allah) mencabutnya. Namun dalam qadar ini berbeda dengan qada’ tadi. Qadar (sifat yang melekat pada sesuatu), ini mengandung pertanggung jawaban atas penggunaannya. Misalnya, manusia memiliki nafsu dan ini adalah qadar/takdir, namun tidak kemudian dia bebas melampiaskan nafsu sesuka hatinya, dia akan diminta pertanggung jawaban apakah dia mengarahkan nalurinya tersebut pada yang halal ataukah ke yang haram. Begitu juga dengan sifat yang melekat pada api, maka manusia bertanggung jawab atas penggunaannya. Apakah api itu digunakan untuk kebaikan atau untuk kejahatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan demikian clear-lah masalah qada’ dan qadar. Semoga kaum muslimin yang membaca artikel ini tidak lagi bingung dalam memahami rukun iman yang ke enam ini. Salam revolusi!   &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-4810277831263531437?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/4810277831263531437/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/06/memahami-qada-dan-qadar.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/4810277831263531437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/4810277831263531437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/06/memahami-qada-dan-qadar.html' title='Memahami Qada’ dan Qadar'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-4786458509641877783</id><published>2010-06-29T03:38:00.000-07:00</published><updated>2010-06-29T03:38:11.726-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='halaqah'/><title type='text'>Tidak main-main dalam kehidupan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://lgcshs.com/Images/Handbook/Sand_TimeScale.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://lgcshs.com/Images/Handbook/Sand_TimeScale.jpg" width="181" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: #993399; font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="color: #663366; font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;em&gt;"Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian. Melainkan mereka yang beriman dan beramal soleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran". - Surah Al-Asr:1-3.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum muslimin yang memahami bahwa hidup sangat sementara tidak akan menyia-nyiakan umur yang dia punya. Dia akan terus berupaya bagaimana agar hidupnya didunia ini bisa produktif dan bermanfaat bagi umat manusia. Jika faktanya dalam kehidupan sekarang ini, hukum Allah telah ditinggalkan, dan kebanyakan manusia rusak, maka yang seharusnya yang dilakukan kaum muslimin sekarang adalah mewujudkan perubahan dengan cara membangkitkan lagi jiwa-jiwa kaum muslimin yang telah rusak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebangkitan sebagaimana telah dibahas sebelumnya, hanya akan tercapai jika manusia itu menganut mabda (ideology) tertentu. bagi kita kaum muslimin, tentu saja mengambil islam-lah mabda kita. Bukan kapialisme ataupun sosialisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah mabda akan menggerakkan manusia untuk mencapai kebangkitan. Sebuah peradaban, pasti dibangun atas mabda yang jelas. Begitu juga peradaban Islam, selama 13 abad lebih telah terbentuk peradaban yang luar biasa. Peradaban yang maju dalam segala bidang, hal ini semua tak dibangun melainkan atas mabda / ideology Islam yang tertancap dalam jiwa-jiwa kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita sekarang melihat kaum muslimin terpuruk dan seakan tak punya harga diri lagi. Hal itu wajar, karena kaum muslimin kebanyakan telah meninggalkan mabda Islam. Kebanyakan hanya mengambil islam sebagai ritual belaka, sementara system politik, ekonomi, social, standar moral, dan sebagainya diambil dari luar Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mak itu, jika kita, kaum muslimin, ingin bangkit lagi dari keterpurukan ini. Tak ada jalan lain, kecuali harus mengambil lagi mabda islam. Kita tancapkan lagi dalam jiwa-jiwa kita mabda Islam. Kita tunjukkan bahwa Islam bisa dan yang paling tepat dalam memecahkan seluruh permasalahan, baik dalam sekup pribadi hingga Negara. Mulai sekarang, mari kita kampanyekan sebuah system yang menganut mabda islam, bukan demokrasi, bukan pula kerajaan, tapi dia bernama khilafah Islamiyah. Inilah system yang telah ditinggalkan sejak 80-an tahun yang lalu. Mari kita bangkitkan lagi kaum muslimin, seru mereka pada kebangkitan ini. Dan semoga revolusi menuju khilafah islamiyah cepat segera terjadi. Allahuakbar! Salam revolusi…..!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-4786458509641877783?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/4786458509641877783/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/06/tidak-main-main-dalam-kehidupan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/4786458509641877783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/4786458509641877783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/06/tidak-main-main-dalam-kehidupan.html' title='Tidak main-main dalam kehidupan'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-5081618926989544981</id><published>2010-06-25T16:43:00.000-07:00</published><updated>2010-07-10T06:23:43.452-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menjawab Fitnah'/><title type='text'>Menjawab Fitnah: Alasan Harus Bubarkan HT</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3RguGoj0FvM/SduQh4MJVWI/AAAAAAAAAX0/ok6ynWa1FzM/s1600/FITNAH.png" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_3RguGoj0FvM/SduQh4MJVWI/AAAAAAAAAX0/ok6ynWa1FzM/s320/FITNAH.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Fitnah yang terus digulirkan pada pejuang syariah dan khilafah. Mereka (para penentang syariah dan khilafah) tak henti-hentinya membuat makar, fitnah, dan hinaan yang tanpa disertain dengan bukti yang nyata. mereka akan terus mencari titik lemah, mencari celah bagaimana agar para pejuang syariah dan khilafah dapat mereka jauhkan dari umat. namun keberadaan mereka semoga tidak menjadi pemecah konsentrasi kita, cukulah dengan sekali bantahan, dan selanjutnya kita serahkan pada umat. Umat yang cerdas dapat memahami mana yang suka membuat fitnah dan mana yang konsisten dalam memperjuangkan tegaknya kebenaran. Suatu artikel penuh fitnah ini saya dapatkan dari teman FB saya, dia merupakan seorang yang berasal dari gerakan yang tidak perlu saya sebut namanya.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“AWALNYA gerakan yang selalu mengembar-gemborkan isu khilafah ini hanya mentargetkan 13 tahun untuk merealisasikan konsep politiknya.1 Namun, semenjak dirintis, tepatnya tahun 1953, belum satu negarapun di dunia yang mengibarkan bendera khilafah mereka. Waktu pun diperhitungkan kembali. Kali ini mereka menaruh limit hingga tiga&amp;nbsp;dasawarsa. Apa boleh buat, perhitungan tinggallah perhitunggan. Sampai saat ini, tepatnya ulang tahun Hizbut Tahrir yang ke-56, masih belum ada kabar baik, kapan khilafah mereka diresmikan. Justru, keberadaan Hizbut Tahrir selalu diuber-uber oleh pemerintah setempat.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;13 tahun adalah target, dan kita sebagai pejuang memang harus mempunyai target. Tapi tetap Allah-lah yang akan memberikan hasil itu, kita hanya memperjuangkan. Yang namanya pejuang khilafah Islam, pasti tidak disukai oleh pemerintahan yang menolak khilafah islam. Bahkan ini menunjukkan perjuangan HT dibenci oleh para penguasa kufur, baik di negara yang sistemnya demokrasi maupun kerajaan. Sebab meskipun demokrasi, sebenarnya penguasa juga membenci HT, Hanya sistem yang mereka anut menghalangi mereka untuk melakukan tindakan kekerasan pada aktivitas HT, sebab HT berjuang tanpa kekerasan. Hal ini sama saja terhalangnya Kafir Quraisy Mekkah membunuh Ali karena sistem kekerabatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Satu hal yang mungkin dianggap lucu dari sepak terjang pergerakan ini, di mana gerakan yang selalu mengkafirkan, menghina, bahkan membenci dengan sepenuh hati terhadap konsep demokrasi, justru baru bisa mengibarkan benderanya di negeri yang menjunjung tinggi asas demokrasi. Coba lihat, di mana Hizbut Tahrir berani dan dapat menyelenggarakan acara sebesar itu di negara Islam lain?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Seharusnya mereka banyak bersyukur kepada demokrasi Indonesia. Mereka tumbuh subur dari demokrasi yang mereka benci. Tapi sayang mereka justru memilih tumbuh menjadi benalu.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;demokrasi adalah sistem yang berasaskan pada sekulerisme (pemisahan agama dengan negara). Munculnya pun bukan dari islam, bahkan juga bukan dari kaum muslimin. Tapi merupakan sistem buatan manusia yang kafir. Kita tahu sistem demokrasi adalah sistem perlawanan dari dominasi gereja yang terjadi pada masa kegelapan eropa. Sementara islam telah memiliki sistem sendiri, yaitu khilafah islamiyah. Ini adalah sistem yang 100% berdasarkan Al-Qur'an dan Assnnah. Dijalankan oleh para sahabat Nabi, tabi'in, tabi'ut tabi'in, dan generasi selanjtnya sampai tahun 1924. hanya dengan sistem Khilafah-lah hukum-hukum Islam yang sangat banyak, terutama dalam hal muamalah dapat dilaksanakan. Bandingkan sekarang dengan sistem demokrasi, betapa banyak maksiat merajalela, dan tanpa ada tindakan dari pemerintah yang mencegahnya. Hukum uqubat tidak ada yang islami. Hal ini karena asas antra khilafah islam dan demokrasi sudah berbeda. Adalah konsekuensi iman, kita membenci demokrasi dan mengatakan ini adalah paham yang kufur yang lahir dari ideologi kapitalisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Pertama, akidah. Bila berbicara tentang akidah Hizbut Tahrir maka kita akan dihadapkan pada berbagai fakta penyimpangan yang kompleks, utamanya yang berkenaan dengan permasalahan qadhâ’ dan qadar. Pandangan Hizbut Tahrir mengenai qadhâ’ dan qadar sama persis dengan aliran sesat Muktazilah.6 Lebih dari itu mereka meragukan kepercayaan terhadap qadhâ’ dan qadar sebagai bagian dari rukun iman”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;ini jelas fitnah, dalam buku nizhamul Islam yang ditulis Syeikh Taqiyuddin Annabhani. Dalam buku ini dengan sangat jelas membantah pandangan muktazilah dalam memandang Qadha dan Qadar. Meragukan Qadha dan Qadar sebagian dari iman? Masya Allah. Bahkan satu bab sendiri (dalam kitab nizhamul islam) dibahas masalah ini (Qadha dan Qadar). Dan jelas rukun iman itu , dan Qadha dan Qadar masuk didalamnya. Ini adalah pemahaman yang qhat'i dan tidak ada perselisihan didalamnya, sebab sudah ranah aqidah. Pernyataan diattas jelas fitnah, ini sama saja tindakan takfir pada HT. Maka sesungguhnya takfir jika tidak benar akan kembali kepada yang mengkafirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Di samping itu, mereka juga banyak meragukan akidah-akidah yang telah diyakini oleh mayoritas umat Islam, utamanya terhadap hal-hal yang berbau mistik dan gaib, seperti keyakinan akan siksa kubur, keyakinan adanya pertanyaan Malaikat Munkar-Nakir, keyakinan akan turunnya Isa di akhir zaman, keyakinan akan fitnah Dajjal, keyakinan atas syafaat Nabi e di padang Mahsyar, dan lain sebagainya. Bagi mereka, segenap bentuk kepercayaan di atas tidak wajib diyakini karena berangkat melalui riwayat ahâd. Namun, mereka tidak pernah mau mengkaji ke-mutawâtir-an Hadis-Hadis tersebut secara ma‘nawi. Sehingga, penyimpangan-penyimpangan tadi hampir menjadi ciri khas akidah para syabâb Hizbut Tahrir.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;di buku HT manakah yang mengungkapkan demikian? Kalau syarat hadits mutawatir dalam hal Aqidah. Maka ini bukanlah hal yang baru. Para salafus-shalih sudah membahas hal ini. Bahkan Imam hanafi menolak hadits ahad dalam beberapa fiqhnya. Dan masalah ini sudah pernah dibahas sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://assyafii.blogspot.com/2009/06/hentikan-perdebatan-hadits-ahad_25.html"&gt;http://assyafii.blogspot.com/2009/06/hentikan-perdebatan-hadits-ahad_25.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Dalam Al-Khilafah edisi Rabiul Awal Tahun 1416 Hizbut Tahrir sempat mengharamkan tawasul, baik itu tawasul melalui para nabi atau orang-orang salih. Bukan hanya itu, peringatan maulid Nabi  turut diharamkannya, persis seperti mainstream gerakan Wahabi.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya adakah hadits yang kuat yang memeberi contoh kita untuk melakukan tawassul? Masalah ini juga sudah pernah saya bahas.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://assyafii.blogspot.com/2009/12/hukum-seputar-tawassul.html"&gt;http://assyafii.blogspot.com/2009/12/hukum-seputar-tawassul.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Di antaranya lagi, mereka menghalalkan berciuman dengan lain jenis meskipun dengan syahwat dan tanpa sâtir (peghalang). Fatwa ini memang terbilang nyeleneh dan menantang. Namun, para syabâb Hizbut Tahrir mengakui akan keberadaan fatwa tersebut, kecuali syabâb Hizbut Tahrir Indonesia yang enggan dan menganggap fatwa tersebut tidak mewakili.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Ini fatwa dimana? Oleh siapa? Dan di kitab mutabannat mana? Mencium wanita jelas haram. Baca saja kitab nizham Ijtimai fil Islam, ciuman jelas diharamkan. Ini adalah fitnah yang nyata. Bahkan hanya sekedar khalwat, ikhtilat (bercampur baur) ditempat khusus saja dilarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam Nidzâmul-Ijtima‘i Fil-Islâm, an-Nabhani telah ber-ijtihâd akan bolehnya bersalaman antara laki-laki dan perempuan. Pendapat tersebut lebih diperkokoh melalui kitab asy-Syakhshiyah al-Islâmiyah-nya dengan menampilkan panjang lebar sistematika pengalian hukum yang ia tempuh. An-Nabhani juga menyebut pendapat yang mengharamkan berjabat tangan jauh dari mainstream syariah.”&lt;br /&gt;benarkah bersalaman dengan non mahram dengan tidak disertai syahwat dilarang? Bukankah di kitab itu sudah dijelaskan panjang lebar masalah hal ini. Dan ini adalah hasil ijtihad dari Syeikh taqiyuddin Annabhani, yang digali dari Hadits-hadits yang kuat. Dan hal yang biasa jika perbedaan dalam hal yang furu seperti ini, dan ini bukan merupakan pendapat yang baru dalam sejarah kehidupan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Ketiga, siyâsah.Politik merupakan perhatian utama bagi gerakan Hizbut Tahrir. Misi utama dari politiknya adalah dapat merebut kekuasaan dari pimpinan yang sah dengan bertamengkan isu khilafah. Kelompok ini, nyaris mengkafirkan segenap sistem politik yang ada saat ini. Sehingga, politik Hizbut Tahrir lebih tampak berposisi sebagai oposisi radikal. Mereka mengharuskan konsep perpolitikannya (al-Khilafah ‘la Manhaji Hizbit-Tahrîr) direalisasikan dengan atas nama Islam. Padahal politik dan sistem pemerintahan dalam Islam merupakan bagian dari permasalahan furû‘iyah yang cenderung fleksibel dan ramah.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Radikalisme Hizbut Tahrir juga terbukti dari berbagai sepak terjang pendiri gerakan tersebut dalam menghadapi berbagai sistem pemerintahan Islam selama ini. An-Nabhani mengajarkan kepada para aktivis Hizbut Tahrir bahwa cara dakwah yang harus mereka tempuh adalah dengan membuat opini buruk tentang pemerintah dan disebarluaskan ke segenap masyarakat.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Salah besar, misi utama hizbut tahrir adalah untuk melanjutkan kehidupan Islam. Namun penegakan khilafah adalah satu-satunya jalan yang harus ditempuh dalam melanjutkan kehidupan Islam ini. Dan ini adalah jalan yang sudah dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW. Beliau melakukan dakwah dan juga thalabun nusrah, serta pengambil alihan kekuasaan. Namun ini bukanlah untuk hal yang sifatnya duniawi, melainkan untuk menegakkan hukum-hukum Allah yang selama ini ditinggalakn oleh kaum muslimin. HT hanya ingin umat itu sadar bahwa pemerintah selama ini tidak mau menegakkan hukum Allah dan itulah yang menjadi biang dari segala masalah, dari masalah moral hingga kemiskinan. Masalah furu? Bagaimana bisa sebuah prinsip bahwa hukum Allah harus ditegakkan adalah furu. Banyak sekali ayar Qur'an yang mewajibkan kita untuk berhukum hanya pada hukum Allah. Masalah ini juga pernah saya bahas.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://assyafii.blogspot.com/2009/06/dalil-dalil-wajibnya-penegakan-khilafah.html"&gt;http://assyafii.blogspot.com/2009/06/dalil-dalil-wajibnya-penegakan-khilafah.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-5081618926989544981?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/5081618926989544981/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/06/menjawab-fitnah-alasan-harus-bubarkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/5081618926989544981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/5081618926989544981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/06/menjawab-fitnah-alasan-harus-bubarkan.html' title='Menjawab Fitnah: Alasan Harus Bubarkan HT'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3RguGoj0FvM/SduQh4MJVWI/AAAAAAAAAX0/ok6ynWa1FzM/s72-c/FITNAH.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-7098212524225469371</id><published>2010-06-19T20:19:00.001-07:00</published><updated>2010-06-19T20:19:27.394-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Hukum Merekam Adegan Suami Istri</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;Masalah ini kini sedang ramai menjadi pembicaraan kaum Muslim, dan&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;bala’&lt;/em&gt;&amp;nbsp;dari perbuatan tersebut telah menimpa mereka, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Karena itu, wajib dijelaskan hukumnya menurut syariah Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;Islam telah mengajarkan akhlak dalam hubungan suami-istri (&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;mu’asyarah&lt;/em&gt;). Dalam sabdanya, Baginda Nabi saw. bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="direction: rtl; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 14.2pt; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;«إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ فَلْيَسْتَتِرْ وَلاَ يَتَجَرَّدَا تَجَرُّدَ الْعِيرَيْنِ»&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 14.2pt; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Jika salah seorang di antara kalian mendatangi istrinya (melakukan hubungan suami-istri), hendaknya menutup auratnya, dan mereka berdua tidak telanjang bulat&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;strong style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;(HR Ibn Majah dari ‘Utbah bin ‘Abdus Salma).&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;strong style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;Dalam hadis lain, Nabi saw. juga bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="direction: rtl; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 14.2pt; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;«إِيَّاكُمْ وَالتَعَرِّي فَإِنَّ مَعَكُمْ مَنْ لاَ يُفَارِقكُمْ إِلاَّ عِنْدَ الغَائِطِ وَحِينَ يُفْضِي الرَّجُلُ إِلَى أَهْلِهِ فَاسْتَحْيُوهُمْ وَأَكْرِمُوهُمْ»&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 14.2pt; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Jauhilah oleh kalian bertelanjang, karena bersama kalian ada pihak yang tidak akan pernah berpisah dengan kalian, kecuali ketika buang hajat besar dan ketika seseorang pria bersetubuh dengan istrinya. Karena itu, malulah kalian terhadap mereka, dan muliakanlah mereka&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;strong style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;(HR at-Tirmidzi dari Ibn Umar).&lt;/strong&gt;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;Imam as-Syaukani, dalam kitabnya,&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Nayl al-Awthar&lt;/em&gt;, menjelaskan bahwa hadis di atas memerintahkan agar menutup aurat dalam seluruh kondisi, meminta izin untuk membuka bagian yang harus dibuka ketika berhubungan badan (jimak), dan tidak halal bertelanjang bulat sebagaimana yang dinyatakan dalam hadis ‘Utbah di atas.&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2010/06/20/bolehkan-merekam-hubungan-suami-istri/#_edn1" name="_ednref1" style="color: #fa6800; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;Selain tidak boleh berhubungan badan dalam kondisi telanjang bulat, Islam juga mengharamkan menceritakan perihal hubungan tersebut kepada orang lain. Dalam hadis riwayat Muslim, Nabi saw. telah bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="direction: rtl; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 14.2pt; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;«إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا»&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 14.2pt; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada Hari Kiamat ialah seseorang yang menyetubuhi istrinya dan istri bersetubuh dengan suaminya, kemudian suami menyebarkan rahasia istrinya&lt;/em&gt;&amp;nbsp;&lt;strong style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;(HR Muslim dari Abi Said al-Khudri).&lt;/strong&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2010/06/20/bolehkan-merekam-hubungan-suami-istri/#_edn2" name="_ednref2" style="color: #fa6800; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;Keharaman menceritakan tersebut termasuk keharaman suami yang mempunyai dua istri atau lebih, yakni hubungan badan suami-istri dengan istri satu disampaikan kepada istri yang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;Berdasarkan nas-nas di atas, maka keharaman hukum menceritakan tersebut termasuk keharaman merekam adegan ranjang untuk disebarkan, agar bisa ditonton orang lain. Dengan keras Nabi saw. menggambarkan mereka seperti setan:&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="direction: rtl; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 14.2pt; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;«هَلْ تَدْرُونَ مَا مَثَلُ ذَلِكَ فَقَالَ إِنَّمَا مَثَلُ ذَلِكَ مَثَلُ شَيْطَانَةٍ لَقِيَتْ شَيْطَانًا فِي السِّكَّةِ فَقَضَى مِنْهَا حَاجَتَهُ وَالنَّاسُ يَنْظُرُونَ إِلَيْهِ»&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 14.2pt; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Tahukah apa permisalan seperti itu?” Kemudian beliau berkata, “Sesungguhnya permisalan hal tersebut adalah seperti setan wanita yang bertemu dengan setan laki-laki di sebuah gang, kemudian setan laki-laki tersebut menunaikan hajatnya (bersetubuh) dengan setan perempuan, sementara orang-orang melihat kepadanya.”&lt;/em&gt;&lt;strong style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;(HR Abu Dawud).&lt;/strong&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2010/06/20/bolehkan-merekam-hubungan-suami-istri/#_edn3" name="_ednref3" style="color: #fa6800; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;Adapun merekam adegan mesum seperti ini untuk keperluan sendiri, bukan untuk disebarkan, juga tidak boleh. Sebab, ini termasuk perbuatan sia-sia, yang tidak ada gunanya. Ketidakbolehan tersebut didasarkan pada hadis Nabi saw.:&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="direction: rtl; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;«مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ»&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 14.2pt; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Tanda dari baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya&lt;/em&gt;&amp;nbsp;&lt;strong style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;(HR Ibn Majah).&lt;/strong&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2010/06/20/bolehkan-merekam-hubungan-suami-istri/#_edn4" name="_ednref4" style="color: #fa6800; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;Adapun hukum memberitakan dan memperbincangkan peristiwa seperti ini juga diharamkan, karena termasuk menyebarkan perbuatan maksiat. Nabi saw. dengan tegas menyatakan:&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="direction: rtl; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 14.2pt; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;«كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ»&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 14.2pt; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Setiap umatku dimaafkan (dosanya) kecuali orang-orang menampak-nampakkannya dan sesungguhnya di&lt;/em&gt;&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;antara bentuk menampak-nampakkan (dosa) adalah seorang hamba yang melakukan perbuatan pada waktu malam, sementara Allah telah menutupinya, kemudian pada waktu pagi dia berkata, “Wahai fulan, semalam aku telah melakukan ini dan itu.” Padahal pada malam harinya (dosanya) telah ditutupi oleh Rabb-nya. Ia pun bermalam dalam keadaan (dosanya) telah ditutupi oleh Rabb-nya dan di pagi harinya ia menyingkap apa yang telah ditutupi oleh Allah&lt;/em&gt;&amp;nbsp;&lt;strong style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;(&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Muttafaq ‘alayh&lt;/em&gt;).&lt;/strong&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2010/06/20/bolehkan-merekam-hubungan-suami-istri/#_edn5" name="_ednref5" style="color: #fa6800; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;Karena itu, hendaknya seorang Muslim menjaga lisannya dari membicarakan perbuatan maksiat orang-orang seperti mereka (&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;mujahirin&lt;/em&gt;), bukan untuk menutup aib mereka, tetapi agar tidak terlibat dalam menyebarkan perbuatan keji maksiat mereka di tengah-tengah orang Mukmin. Juga termasuk menjaga lisan dan pikiran dari perkara-perkara yang sia-sia, kecuali untuk menjelaskan hukumnya, agar umat tidak melakukan kemaksiatan serupa.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;Karena seluruh perbuatan di atas diharamkan, maka men-&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;download&lt;/em&gt;, mengkopi dan menyebarkannya–meski yang disebarkan adalah&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;madaniyyah&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(produk materi/bukan pemikiran), tetapi karena&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;madaniyyah&lt;/em&gt;&amp;nbsp;ini terkait dengan&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;hadharah&lt;/em&gt;&amp;nbsp;tertentu, dan isinya diharamkan oleh Islam–jelas hukumnya haram.&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Wallâhu a’lam.&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;strong style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;[Hafid Abdurrahman ]&lt;/strong&gt;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;strong style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Catatan kaki:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;hr size="1" style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: url(http://hizbut-tahrir.or.id/wp-content/themes/hti/images/horizontal-separator.gif); background-origin: initial; background-position: 0% 0%; background-repeat: repeat no-repeat; border-bottom-style: none; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-style: none; border-left-width: 0px; border-right-style: none; border-right-width: 0px; border-top-style: none; border-top-width: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; height: 2px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 495px;" /&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 9pt; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2010/06/20/bolehkan-merekam-hubungan-suami-istri/#_ednref1" name="_edn1" style="color: #fa6800; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;[1]&lt;/a&gt;&amp;nbsp;Imam Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad as-Syaukani,&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Nayl al-Awthar&lt;/em&gt;, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, t.t., VI/205.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 9pt; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2010/06/20/bolehkan-merekam-hubungan-suami-istri/#_ednref2" name="_edn2" style="color: #fa6800; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;[2]&lt;/a&gt;&amp;nbsp;Imam Muslim,&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Shahih Muslim,&amp;nbsp;&lt;/em&gt;hadis no. 2597.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 9pt; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2010/06/20/bolehkan-merekam-hubungan-suami-istri/#_ednref3" name="_edn3" style="color: #fa6800; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;[3]&lt;/a&gt;&amp;nbsp;Imam Abu Dawud,&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Sunan Abi Dawud,&amp;nbsp;&lt;/em&gt;hadis no. 1859.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 9pt; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2010/06/20/bolehkan-merekam-hubungan-suami-istri/#_ednref4" name="_edn4" style="color: #fa6800; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;[4]&lt;/a&gt;&amp;nbsp;Imam Ibn Majah,&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Sunan Ibn Majah,&amp;nbsp;&lt;/em&gt;hadis no. 3966.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 17px; margin-bottom: 10px; margin-left: 9pt; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2010/06/20/bolehkan-merekam-hubungan-suami-istri/#_ednref5" name="_edn5" style="color: #fa6800; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;[5]&lt;/a&gt;&amp;nbsp;Imam Bukhari,&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Shahih al-Bukhari,&amp;nbsp;&lt;/em&gt;hadis no. 560; Imam Muslim,&amp;nbsp;&lt;em style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Shahih Muslim,&amp;nbsp;&lt;/em&gt;hadis no. 5306.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-7098212524225469371?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/7098212524225469371/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/06/hukum-merekam-adegan-suami-istri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/7098212524225469371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/7098212524225469371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/06/hukum-merekam-adegan-suami-istri.html' title='Hukum Merekam Adegan Suami Istri'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-1015891596765963152</id><published>2010-06-18T22:25:00.000-07:00</published><updated>2010-06-19T20:04:28.872-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='koreksi'/><title type='text'>Perzinahan yang Dilegalkan Undang-Undang Jahiliah</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://rajagrafindo.com/files/images/KUHP%20&amp;amp;%20Kuhap%20LR.preview.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://rajagrafindo.com/files/images/KUHP%20&amp;amp;%20Kuhap%20LR.preview.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Ketika muncul kasus perzinahan di Indonesia, maka tak ada undang-undang pun yang menjerat mereka. Karena dalam KUHP perzinahan yang dilakukan suka sama suka dan tidak ada pihak yang dirugikan maka tidak dihukum. Padahal arti zina sendiri itu adalah melakukan perbuatan itu secara suka sama suka. Kalau satu pihak tidak suka, maka itu bukan zina melainkan pemrkosaan. Inilah hukum jahiliyah diterapkan pada 220 juta rakyat indonesia ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Maka penerapan hukum bodoh ini menimbulkan kemudlaratan yang sangat besar. Zina merajalela dimana-mana, padahal zina adalah dosa yang sangat besar. Imam Ahmad sendiri menyatakan “ saya tidak tahu dosa terbesar setelah syirik kecuali zina”.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pertanyaannya adalah bagaimana bisa sebuah negara yang katanya berpenduduk muslim terbesar didunia ini menganut hukum jahiliyah? Ini sesungguhnya tidak mengherankan. Islam sudah punya definisi sendiri tentang apa yang disebut dengan darul islam dan darul kufur. Darul islam adalah suatu negara yang penduduknya berpemikiran Islam, berpesaraan islam, dan aturan yang berlaku adalah aturan Islam meski penduduknya mayoritas non-muslim. Sementara darul kufur adalah negara yang penduduknya tidak berpemikiran Islam, tidak berperasaan Islam, dan autrannya bukan aturan Islam. Dari definisi ini dapat diungkapkan bahwa indonesia bukanlah darul Islam, melainkan darul kufur. Sebab aturan yang berlaku adalah aturan kufur.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Maka janganlah pernah berharap pada pemerintahan kufur untuk bisa menerapkan hukum Islam. Tidak mungkin pemerintah kita ini menangkapi para pezina lalu merajamnya atau menderanya 100 kali. Maka jika kita berharap negara kita ingin menegakkan syariat islam maka mau tidak mau harus mengubah sistem negara kita yang menganut demokrasi-sekuler menjadi Islam. Sebab hanya dengan sistem islam masalah zina ini dapat diselesaikan. Islam bukan hanya akan menghukum pelaku perzinahan, namun juga akan menutup akses penyebab terjadinya zina. Pemerintahan islam akan mencegah&amp;nbsp; terjadinya khalwat yang menjadi awal dari sebuah perzinahan. Pemerintahan Islam juga akan mermbabat tayangan-tayangan yang membangkitkan syahwat sehingga mengajak pada perzinahan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bagaimana caranya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://i.okezone.com/content/2009/12/14/340/284755/9qlpdgdCTV.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://i.okezone.com/content/2009/12/14/340/284755/9qlpdgdCTV.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Kalau kita bertanya bagaimana metode perubahan maka kita sudah punya tokoh revolusi yang bisa mengubah bangsa arab yang keras menjadi penuh rahmat. Dialah nabi Muhammad SAW. Beliau adalah panutan kita dalam hal apapun termasuk dalam proses perubahan. Beliau melakukan perubahan pertama dengan dakwah. Kemudian beliau melakukan thalabun nushrah kepada ahlul quwwah (menggalamng kekuatan pada yang memiliki kekuatan). Kemudian melakukan pengambil alihan kekuasaan atas kemauan umat. Inilah metode yang seharusnya kita tiru dalam melakukan perubahan masyarakat, sehingga nantinya kita akan berhasil untuk menegakkan negara yang menjalankan syariat islam. Negara itu tak lain adalah khilafah islamiyah yang akan menegakkan syariat islam dan menyebarkan Islam keseluruh dunia dengan dakwah dan jihad.&amp;nbsp; Salam revolusi!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-1015891596765963152?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/1015891596765963152/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/06/perzinahan-yang-dilegalkan-undang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/1015891596765963152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/1015891596765963152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/06/perzinahan-yang-dilegalkan-undang.html' title='Perzinahan yang Dilegalkan Undang-Undang Jahiliah'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-5377765221321394594</id><published>2010-06-18T22:22:00.000-07:00</published><updated>2010-06-19T20:02:05.952-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='koreksi'/><title type='text'>Menjawab Syubhat: PKS Partai islam?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/TB2Eeuf0BdI/AAAAAAAAATk/bve-RZRTOs4/s1600/pks.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="http://2.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/TB2Eeuf0BdI/AAAAAAAAATk/bve-RZRTOs4/s320/pks.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Lagi-lagi PKS membuat sebuah kebijakan yang sangat mengejutkan. Siapa sangka partai yang berasaskan Islam ini akan membuka diri terhadap pencalonan non-muslim untuk jadi kadernya. Masya Allah, bagaimana bisa kader yang selama ini begitu dituntut tsiqah dalam jalan “dakwah” ini duduk berdampingan dengan orang-orang kafir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya ini bukanlah baru dalam PKS, sebelumnya sudah ada 20 DPRD PKS yang berasal dari non-muslim. Hanya saja ketika Munas ini, hal itu dilegalkan. Kebijakan ini menunjukkan bahwa PKS bukan partai islam. Sekali lagi, ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa partai ini bukan partai Islam. Mengapa?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Partai islam adalah kelompok yang memperjuangkan tegaknya Islam, jika sekarang maka partai islam adalah kelompok yang berasaskan Islam dan memperjuangkan tegaknya syariat islam. Karena partai islam harus menggunakan Islam sebagai asasnya maka jalan perjuangannya tidak boleh bertentangan dengan ajaran islam itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;PKS dalam banyak hal telah bertentangan dengan ajaran Islam dalam perjuangannnya, meski pun seandainya benar PKS memperjuangkan syariat islam. Pertama PKS sebagai partai Islam ikut dalam parlemen dan pemerintahan. Padahal parlemen adalah institusi yang tugasnya membuat hukum, sementara membuat hukum yang tidak berdasarkan pada hukum Allah adalah kekufuran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Maka putuskanlah perkara di antara di antara mereka dengan apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka (dengan) meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu." (TMQ. Al-Ma’idah [5]: 48).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka sudah banyak sekali undang-undang yang ‘diproduksi’ oleh parlemen dan PKS terlibat disana. Bahkan UU seperti Penenaman modal asing yang sangat bertentangan dengan islam juga dilegislasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kedua, PKS berkoalisi dengan partai sekuler dan mengusung presiden yang liberal dan pluralis. Entah apa tujuan dari koalisi ini, orang awam saja sudah tahu bahwa tindakan seperti ini hanya pantas dilakukan oleh orang yang haus kekuasaan. Kalau benar PKS berjuang untuk menegakkan syariat islam maka tidak sepantasnya mengambil partai lain yang tidak Islam untuk menjadi partner. Apapun alasannya termasuk strategi, jika ini dianggap strategi maka ini adalah strategi yang tidak boleh, alias sudah melanggar syariat islam itu sendiri. Bagaimana mungkin ingin menegakkan syariat islam dengan jalan yang melanggar syariat islam?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaan orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. (QS. 3:118)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ayat diatas sangat benar, dan maha benar Allah atas segala firmannya. Penguasa yang diusung justru menimbulkan kemudharatan yang besar, bahwa sekulerisme, liberalisme, dan pl;uralisme justru berkembang semakin parah. PKS tidak bisa mengelak dari ini bahwa dia juga terlibat dalam mengokohkan kekuasaan yang kufur.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang;. (QS. 60:1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. 5:51)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketiga, PKS telah membuka peluang kaum kafir untuk dapat menguasai kaum muslimin. Padahal jelas bahwa kaum kafir itu tidak diperbolehkan untuk memimpin kaum muslimin, dengan memberi kesempatan kaum kafir menjadi anggota legislatif dalam parlemen, berati telah memberikan kesempatan kaum kafir untuk membuat kebijakan yang kebijakan itu akan diterapkan pada kaum muslimin. Selain itu, PKS juga telah memberikan kesempatan orang kafir untuk membuat hukum, innalillahi.... ini jelas kekufuran yang nyata.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imam Syafi’i saja mengatakan bahwa Orang kafir haram memiliki budak yang muslim. Ibnu al Qayyim mengharamkan cengkeraman orang kafir terhadap orang muslim yang karenanya orang muslim terpaksa harus menyerahkan kepemilikan mereka kepada orang kafir. Jumhur ulama menyatakan bahwa wanita kafir tidak berhak atas hadhanah (hak mengasuh) anak muslim karenahadhanah merupakan masalah wilayah (perwalian) yang haram diberikan kepada orang kafir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“ (yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu peristiwa yang akan terjadi pada diri kalian (orang-orang mukmin). Jika terjadi bagi kalian kemenangan dari Allah, mereka berkata,” Bukankah kami turut berperang bersama kalian?”. Jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan), mereka berkata,” Bukankah kami turut memenangkan kalian dan membela kalian dari orang-orang mukmin?”. Allah akan memberi keputusan di antara kalian pada hari kiamat dan &lt;b&gt;Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin.&lt;/b&gt;” (QS An Nisaa :141)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lalu sebuah partai yang mengaku berasaskan Islam malah membukan jalan yang sudah ditutup oleh Allah? Maka perlu ditanyakan juga bagaimana wala dan bara para kader PKS ini. PKS justru mengambil orang-orang kafir sebagai partner, bahkan dalam internal mereka sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Syubhat piagam madinah melibatkan orang kafir?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pernyataan bahwa orang kafir terlibat dalam piagam madinah sangatlah tidak tepat. Daulah islam yang awalnya berada dimadinah tidak pernah melibatkan orang kafir dalam pemerintahannya. Orang kafir hanya sebagai rakyatnya saja, dan bukan sebagai pemegang kebijakan apalagi pembuat hukum. Orang kafir hanya boleh memegang jabatan sebagai teknisi /administrasi saja. Hal ini terus diterapkan oleh para khalifah. Bagaimana mungkin PKS yang mengaku berasaskan islam justru memberi kesempatan pada kaum kafir untuk dapat memegang kekuasaan, bahkan dalam hal membuat hukum!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keempat, PKS sangat bermudah-mudah (tasahul) dalam hal kampanye. Misalnya kampanye kemarin di televisi ditampilkan perempuan yang tidak menutup aurat sebagai iklan kampanye PKS. Padahal biasanya pengiklan akan menjadi ikon dari partai itu sendiri. Memang perbuatan membuka aurat itu tidak sampai menghantarkan pada kekufuran, namun membolehkan membuka aurat 9yang jelas haram secara qhat’i) ini jelas kekufuran. Saya yakin bahwa PKS sudah memikirkan masak-masak hingga iklan itu terbit, ini berarti telah terjadi kesepakatan sesuatu yang haram, dan ini adalah kekufuran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kelima, tokoh-tokoh PKS ramai-ramai membantah bahwa mereka akan menegakkan syariat islam. Misalnya saja pak Hidayat nur wahid berbicara dihadapan suku tionghoa bahwa PKS toidak akan menegakkan syariat islam, melainkan hanya menegakkan substansi syariat islam saja. Kalau sudah begini maka tujuan PKS sudah kabur. Islam sebagai solusi, dalam AD/ART nya maknanya menjadi tidak jelas. Anggaplah ini sebagai strategi, maka inia dalah strategi yang buruk. Ini adalah strategi yang menipu umat, di satu sisi PKS telah menipu umat yang berharap partai ini akan menegakkan syariat islam. Disatu sisi lain, partai ini akan menipu mereka yang percaya bahwa PKS tidak akan menegakkan syariat islam jika kemudian PKS tiba-tiba menegakkan syariat Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tapi tentu Umat hanya akan menilai dari yang tampak, bahwa PKS sudah tidak lagi mengangkat agenda syariat islam. Bahkan PKS sudah tak membedakan lagi Islam dan nasionalis karena hal itu “dianggap” sudah tidak relevan lagi. Maka itu PKS sudah tidak bisa lagi dikatakan partai Islam. Meskipun asasnya Islam, namun mengandung banyak kekufuran, maka asas itu hanyalah sebatas tulisan yang justru akan menipu umat islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena itu para kader PKS harus membuktikan omongannya selama ini bahwa “kami akan meninggalkan partai ini jika sudah tidak benar”. Prinsip harakah yang hanya sebagai kendaraan harus dipegang, jika kendaraan rusak maka harus ditinggalkan dan mencari kendaraan yang baru. Maka kader PKs harus pindah ke dalam jamaah yang masih konsisten dalam memperjuangkan tegaknya syariah dan khilafah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sadarlah wahai kaum muslimin, jangan sampai kita ditipu 2 kali. Bahkan kita sudah ditipu berulang-ulang kali, dari zaman Soekarno hingga SBY. Jangan tertipu bahwa pemilu akan membuat perubahan pada negara kita ini, melainkan perubahan itu adalah dari diri kita sendiri, dari masyarakat kita sendiri. Kalau kita ingin berubah, maka mulai sekarang berdakwahlah kepada seluruh masyarakat bahwa yang kita butuhkan sekarang ini tidak lain negara yang bersistemkan islam, yaitu Khilafah islamiyah. Karena satu-satunya negara yang bisa dan sah dalam menegakkan syariat islam hanyalah khilafah islamiyah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Khilafah islamiyah ibarat bendungan yang hancur sejak 1924, maka air bah membanjiri rumah-rumah kita. Maka solusi yang tepat adalah membangun bendungan lagi dan bukan memberihkan rumah-rumah kita sendiri. Begitu juga sekarang, solusi yang seharusnya diterapkan adalah membangun lagi Khilafah islamiyah yang akan mewujudkan rahmatan lil alamin, dan bukan hanya sibuk pada masalah-masalah cabang yang timbul akibat tidak adanya khilafah. Semua masalah yang ada sekarang ini tidak lain timbul akibat tidak adanya khilafah islamiyah. Salam revolusi!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-5377765221321394594?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/5377765221321394594/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/06/menjawab-syubhat-pks-partai-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/5377765221321394594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/5377765221321394594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/06/menjawab-syubhat-pks-partai-islam.html' title='Menjawab Syubhat: PKS Partai islam?'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/TB2Eeuf0BdI/AAAAAAAAATk/bve-RZRTOs4/s72-c/pks.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-1302535111148138009</id><published>2010-05-27T16:17:00.000-07:00</published><updated>2010-05-30T03:12:38.964-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menjawab Fitnah'/><title type='text'>Apakah Ada Hubungan Antara Negara Islam Dengan Terorisme?</title><content type='html'>&lt;h2 style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/wp-content/uploads/2009/08/terorism.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="alignleft size-medium wp-image-14013" height="250" src="http://hizbut-tahrir.or.id/wp-content/uploads/2009/08/terorism.jpg" title="terorism" width="250" /&gt;&lt;/a&gt;Presiden SBY dalam keterangan persnya Bandara Halim Perdanakusumah, Senin (17/5) sebelum bertolak ke Singapura dan Malaysia menegaskan tujuan dari para teroris adalah mendirikan negara Islam. Padahal, menurut SBY, pendirian negara Islam sudah rampung dalam sejarah Indonesia. Aksi teroris juga bergeser dari target asing ke pemerintah. Ciri lain, menurut Presiden, para teroris menolak kehidupan berdemokrasi yang ada di negeri ini. Padahal, demokrasi adalah sebuah pilihan atau hasil dari sebuah reformasi. Karena itu menurut presiden keinginan mendirikan negara Islam dan sikap anti demokrasi tidak bisa diterima rakyat Indonesia .&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada beberapa catatan penting kita dari pernyataan SBY ini. Antara lain , masalah pendirian negara Islam. Negara Islam adalah negara yang menjadikan Islam sebagai asasnya dan syariat Islam sebagai aturan segala aspek kehidupan. Hal ini bukanlah persoalan sejarah, atau masalah diterima oleh mayoritas rakyat banyak atau tidak. Tapi ini adalah masalah kewajiban dalam agama. Sudah seharusnya siapapun yang menjadi muslim terikat pada syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupannya termasuk bernegara, politik, ekonomi, dan pendidikan. Kewajiban ini merupakan konsekuensi keimanan seorang muslim kepada Allah dan juga cerminan dari kecintaan kepada Allah SWT dan Rosul-Nya yang seharusnya dijadikan teladan. Semuanya itu diwujudkan dengan terikat pada hukum-hukum Allah SWT yang bersumber dari Al Qur’an dan as Sunnah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bukankah dalam berbagai kesempatan presiden SBY sering mengatakan kita harus menjadikan Rosulullah SAW sebagai teladan kehidupan kita ? Kita tentu masih ingat ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membacakan sambutan pembukaan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) V, Jum’at (7/5) di Jakarta. Dalam pidatonya, presiden sendiri mengatakan Islam hadir sebagai jalan kehidupan manusia dan rahmat bagi seluruh alam. Tuntunan Alquran dan Sunnah adalah pedoman hidup dan jalan yang lurus untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.Rasulullah pun telah mencontohkan tatanan peradaban yang dibangun atas dasar iman dan takwa. “Kita memiliki tugas sejarah untuk membangun dan mengembalikan kejayaan Islam!” tegas Presiden saat itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita juga ingat, ketika SBY memberikan kata sambutannya dalam Forum Ekonomi Islam Sedunia di Jakarta (2 /3/2009),SBY juga mengajak negara Islam bersatu atasi krisis dengan bersatu, negara-negara Islam akan bisa mengenang kembali kejayaan abad 13. Kalau bicara kejayaan Islam abad 13, tentu tidak bisa dipisahkan bahwa saat itu negara Islam yang dikenal dengan Khilafah Islam tegak dan menjalankan syariah Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menjadikan Al Qur’an dan as Sunnah sebagai pedoman hidup tentu bukan hanya dalam masalah ibadah ritual, moral, atau individual saja tetapi dalam seluruh aspek kehidupan. Disinilah urgensi negara Islam yang akan menerapkan syariah Islam secara keseluruhan. Adalah mustahil menerapkan syariah Islam secara keseluruhan kalau negaranya tidak berdasarkan kepada Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tentu saja meskipun mendirikan negara Islam adalah kewajiban agama (syar’i), kita sepakat secara realita sosiologis, apakah negara Islam tegak atau tidak, sangat tergantung kepada masyarakat, dalam pengertian dukungan dan kesadaran masyarakat. Sistem apapun akan berjalan akan tegak dan berjalan baik kalau di dukung oleh kesadaran masyarakat. Sistem demokrasi yang saat ini masih kita jadikan panutan karena masyarakat kita masih mendukungnya. Artinya, kita tentu tidak bisa menolak takdir perubahan, kalau ternyata rakyat Indonesia yang mayoritas Islam ini kemudian mendukung penegakan negara Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun, kita setuju bahwa upaya membangun kesadaran masyarakat untuk menegakkan negara Islam dilakukan bukan dengan jalan teror. Jalan ini , bukanlah jalan yang ditempuh oleh Rosulullah SAW. Jalan ini bahkan bisa kontraproduktif. Bagaimana mungkin rakyat akan mendukung syariat Islam kalau mereka ditakut-takuti dengan bom atau pembunuhan ? &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Takdir perubahan ini tidak bisa dicegah, apalagi kalau perubahan ini mengantarkan kepada kebaikan. Adalah sangat bodoh siapapun yang tidak mau berubah, gigih mempertahankan status-quo yang buruk padahal ada sistem yang lebih baik di depan matanya. Justru kita mempertanyakan sikap-sikap mempertahankan sistem demokrasi dan kapitalisme yang jelas-jelas didepan mata tampak kebobrokannya. Berbagai persoalan yang diderita rakyat sekarang ini seperti kemiskinan ,pengangguran yang tinggi, kebodohan ,kriminalitas, adalah buah dari sistem kapitalisme dimana diantara pilar pentingnya adalah sistem demokrasi?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alih-alih mensejahterakan masyarakat , sistem demokrasi justru telah menjadi alat penjajahan baru yang melahirkan berbagai UU dan kebijakan yang mengokohkan penjajahan asing. Demokrasi ternyata juga melahirkan corporation state, hanya menguntungkan segelintir pemilik modal dan elit politisi bermoral bejat yang menumbuh suburkan praktik suap menyuap dan tipu menipu .&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disisi lain, adalah suatu kebohongangan sekaligus kebodohan mengkaitkan kewajiban penegakan negara Islam dengan tindakan terorisme. Kita melihat ada agenda busuk dibalik pengkaitan ini, agenda agar masyarakat kemudian takut , tertipu dan akhirnya tidak setuju dengan penegakan negara Islam. Upaya ini memang secara sistematis dilakukan oleh kekuatan-kekuatan imperialism yang khawatir akan kebangkitan Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Upaya memberikan citra jelek terhadap syariah Islam ini disebutkan dalam rekomendasi Ariel Cohen (The Heritage Foundation). Dia menulis : AS harus menyediakan dukungan pada media lokal untuk membeberkan contoh-contoh negatif dari aplikasi syariah, seperti potong tangan untuk kejahatan ringan atau kepemilikan alkohol di Chechnya, keadaan Afghanistan di bawah Taliban atau Saudi Arabia, dan tempat lainnya. Perlu juga diekspose perang sipil yang dituduhkan kepada gerakan Islam di Aljazair. (Hizb ut-Tahrir: An Emerging Threat to US Interests in Central Asia )&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Memang tegaknya negara Islam apalagi dalam wujud negara Islam global (al Khilafah al Islamiyah) sangat ditakuti oleh Barat. Mereka tahu persis tegaknya Khilafah akan menghentikan agenda penjajahan mereka di negari Islam. Pada 14/5/2010, salah seorang mantan petinggi Angkatan Bersenjata Inggris yang baru saja pensiun, Jenderal Richard Dannat dalam BBC’s Today Program dengan sangat gamblang menyatakan perang di Afghanistan adalah perang melawan Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika ditanya tentang alasan pendudukan Afghanistan dengan tegas dinyatakan untuk mencegah agenda Islamist yang ingin menegakkan Khilafah Islam abad ke 14 dan 15, yang sekarang bergerak tumbuh dari Asia Selatan, Timur Tengah hingga Afrika Utara. Karena itu kita tentu sangat kita sayangkan kalau SBY terjebak dalam propaganda Barat ini yang mengkaitkan terorisme dengan upaya penegakan syariah Islam atau negara Islam. (Farid Wadjdi)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-1302535111148138009?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/1302535111148138009/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/05/apakah-ada-hubungan-antara-negara-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/1302535111148138009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/1302535111148138009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/05/apakah-ada-hubungan-antara-negara-islam.html' title='Apakah Ada Hubungan Antara Negara Islam Dengan Terorisme?'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-8080335149489774410</id><published>2010-05-20T18:40:00.000-07:00</published><updated>2010-05-20T18:46:19.068-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='halaqah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Kompetisi Menggambar Nabi SAW, Bukti Lemahnya Kita?</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/S_XkUxX1YJI/AAAAAAAAARo/RGPW4IIb7tM/s1600/images.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/S_XkUxX1YJI/AAAAAAAAARo/RGPW4IIb7tM/s320/images.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tanggal 20 mey kemarin telah diselenggarakan kompetisi menggambar Rasulullah SAW. Kompertisi yang dipublikasikan di Facebook itu telah mengundang kemarahan dari umat Islam. Sudah sering sekali Rasulullah SAW dihina, belum lagi hilang ingatan kita tentang penghinaan seorang kartunis kanada yang menggambarkan Rasulullah SAW dengan bom waktu diatas kepalanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Memnggambar Rasulullah SAW adalah perbuatan yang sangat haram, artinya keharamnnya berlapis-lapis. Kenapa? pertama menggambar makhluk bernyawa sendiri diharamkan dan termasuk dosa besar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bukankah Yang paling keras siksaannya pada hari kiamat adalah penggambar makhluk bernyawa?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Sesungguhnya diantara manusia yang paling besar siksanya pada hari kiamat adalah orang-orang yang menggambar gambar-gambar yang bernyawa.” (lihat Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, bab Tashwiir).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan diriwayat lainnya:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa seorang laki-laki dateng kepada Ibnu ‘Abbas, lalu katanya, “Sesungguhnya aku menggambar gambar-gambar ini dan aku menyukainya.” Ibnu ‘Abbas segera berkata kepada orang itu, “Mendekatlah kepadaku”. Lalu, orang itu segera mendekat kepadanya. Selanjutnya, Ibnu ‘Abbas mengulang-ulang perkataannya itu, dan orang itu mendekat kepadanya. Setelah dekat, Ibnu ‘Abbas meletakkan tangannya di atas kepala orang tersebut dan berkata, “Aku beritahukan kepadamu apa yang pernah aku dengar. Aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Setiap orang yang menggambar akan dimasukkan ke neraka, dan dijadikan baginya untuk setiap gambarnya itu nyawa, lalu gambar itu akan menyiksanya di dalam neraka Jahanam.’” Ibnu ‘Abbas berkata lagi, “Bila engkau tetap hendak menggambar, maka gambarlah pohon dan apa yang tidak bernyawa.” [HR. Muslim].&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka jelas menggambar makhluk bernyawa saja sudah dosa besar, apakah lagi menggambar Nabi Muhammad SAW? Tentu ini adalah penghinaan. Rasulullah SAW yang kita cintai lebih dari ibu kita, bapak kita, anak kita, bahkan diri kita kini telah dihina oleh kaum kafirin tanpa ada rasa takut pada kaum muslimin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mari kita flash back sejarah kejayaan Islam, saat umat islam seluruh dunia bersatu dalam negara Khilafah Islamiyah. Saat itu di perancis akan diadakan drama tentang Rasulullah SAW. Tiket sudah terjual dan siap dipentaskan. Namun kemudian khalifah tahu, maka dikirimkanl;ah surat yang berisi : jika tetap dipentaskan akan aku serukan kaum muslimin untuk jihad akbar!. Subhanallah! Pentas itu pun dibatalkan saudara-saudara....&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lantas kekuatan kita sekarang apa menghadapi penghinaan pada rasulullah, Al-qur’an, islam bahkan Allah? Hanya menghujat? boikot facebook? Atau bahkan tidak peduli dan menganggap itu bagian dari demokrasi? Innalillahi wa inna ilaihi rajiun...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada zaman inilah, sejak 86 tahun yang lalu, saat khilafah islamiyah runtuh oleh konspiorasi inggris. Umat islam pada titik yang sangat lemah dan tak berdaya. Ini karena kita tak lagi memakai Al-qur’an dan Sunnah sebagai sumber dari segala aspek kehidupan kita. Kita sering mengambil sebagian ayat dan&amp;nbsp; tidak menghiraukan sebagian lainnya, kita sering memisahkan antara kehidupan beragama dengan kehidupan bermasyarakat, dengan kehidupan negara? Bukankah ini semua kekufuran?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karna itulah saudara-saudaraku, sudah saatnya kita umat islam bangkit dari keterpurukan yang sangat menyedihkan ini. Saatnya generasi muda Islam kembali menganut Islam sebagai mabda (ideologi) dan bukan mabda-mabda yang lain seperti kapitalis dan sosialis. Karena ditangan kitalah, wahai para pemuda muslim, beban menyelamatkan  umat ini diamanakan. Lalu apakah kita masih mau bersantai menikmati masa muda yang semu? Atau kita ingin menjadi juru dakwah “agent of change” yang akan menyelamatkan umat islam ini dari keterpurukan. Sesungguhnya hidup ini adalah perjuangan yang penuh ujian!    &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(Ringkasan Kajian dan Buka puasa Sunnah UII, edisi 20 Mey 2010 oleh Ust. fauzan Al-Banjari)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-8080335149489774410?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/8080335149489774410/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/05/kompetisi-menggambara-nabi-saw-bukti.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/8080335149489774410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/8080335149489774410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/05/kompetisi-menggambara-nabi-saw-bukti.html' title='Kompetisi Menggambar Nabi SAW, Bukti Lemahnya Kita?'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/S_XkUxX1YJI/AAAAAAAAARo/RGPW4IIb7tM/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-4939777136268195634</id><published>2010-05-11T20:25:00.000-07:00</published><updated>2010-05-11T20:25:10.108-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menjawab Fitnah'/><title type='text'>Menjawab Fitnah Sabili Terhadap HT</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Baru-baru ini, Majalah Islam Sabili No 21 TH XVII 13 Mei 2010/28 Jumadil Awal 1431 H, hal.50-57 menurunkan sebuah tulisan panjang lebar yang ditulis oleh Lutfi A Tamimi, dengan judul Menguak Hizb at-Tahrir. Tulisan ini tidak hanya menyesatkan umat Islam Indonesia, akan tetapi juga sarat dengan kebohongan, fitnah, dan tendensi-tendensi culas untuk menikam Gerakan Islam Hizbut Tahrir. Tidak hanya itu saja, tulisan ini juga mengesampingkan prinsip-prinsip syar'iy dan ilmiah yang dijunjung tinggi oleh kaum Mukmin yang berakal. Pasalnya, tulisan Lutfi A Tamimi banyak merujuk buku al-Mausu'ah al-Muyassarah fi al-Adyaan wa al-Madzaahib al-Mu'ashirah yang dikeluarkan oleh An Nadwah al-'Alaamiyah li asy-Syabaab al-Islaamiy (WAMY), dan tidak merujuk kepada sumber-sumber primer Hizbut Tahrir. Celakanya lagi, ia sama sekali tidak berusaha melakukan tabayyun (cross check) kepada Hizbut Tahrir. Padahal, buku keluaran WAMY itu juga tidak merujuk kepada sumber-sumbr primer Hizbut Tahrir, tetapi merujuk pada buku lain karya Shadiq Amin yang berjudul al-Da’wah al-Islamiyyah Faridlah Syar’iyyah wa Dlarurah Basyariyyah. Buku karya Shadiq Amin ini pun dipenuhi dengan fitnah dan kedustaan. Bahkan, berdasarkan pengakuan pengarangnya sendiri, buku tersebut ditulis karena tekanan pemerintah Yordania. Jika demikian kenyataannya, berarti Lutfiy A Tamimi telah membuat sebuah tulisan tidak dengan referensi primer maupun sekunder, akan tetapi berdasarkan referensi tersier. Lalu, bagaimana sebuah tulisan yang cacat secara referensial ini bisa dimuat dalam Majalah Sabili yang notabene majalah Islam?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk itu, agar kaum Muslim Indonesia tidak tersesat oleh fitnah dan kedustaan buku yang dikeluarkan WAMY, kami akan mengurai secara terperinci point-point penting dalam buku tersebut, agar tersingkap mana yang benar dan mana yang bathil.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;I. KEBOHONGAN DENGAN MENGATASNAMAKAN HIZBUT TAHRIR&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Syaikh 'Abdul Qadim Zallum Menulis Buku Hakadza Hudimat al-Khilafah? (Majalah Sabili, hal. 52)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan pembacaan yang teliti, siapa saja akan dengan mudah menyaksikan kebohongan demi kebohongan dalam tulisan Lutfi At-Tamimi. Pada halaman 52, dia menyatakan, "Dia ('Abdul Qadim Zallum) menulis buku Hakadza Hudimat al-Khilafah". Statement ini benar-benar menunjukkan betapa awamnya ia terhadap tokoh-tokoh Hizbut Tahrir, dan betapa mudahnya ia berbohong dan berdusta. Perlu diketahui, Syaikh 'Abdul Qadim Zallum rahimahullah tidak pernah mengarang Kitab dengan judul "Hakadza Hudimat al-Khilafah"; tetapi berjudul "Kaifa Hudimat al-Khilafah".&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dia juga menyatakan pada halaman 52, "Tokoh Hizbut Tahrir lainnya adalah Abdurrahman Al Maliki dari Suriah, salah satu tokoh dewan pimpinan partai dan penulis buku Al-Uqubat". Lagi-lagi Lutfiy berbohong. Pasalnya, 'Abdurrahman Al Maliki bukanlah tokoh dewan pimpinan partai dan penulis buku Al Uqubat. 'Abdurahman Al-Maliki sendiri tidak pernah mengarang buku yang berjudul Al Uqubat. Salah satu buku yang pernah beliau karang berjudul Nidzam al-'Uqubat, bukan Al-'Uqubat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b. Hizbut Tahrir Menentukan Batas Perjuangannya 13 Tahun? (Majalah Sabili, hal. 54)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lutfi A Tamimi kembali melakukan kebohongan dengan menyatakan, "Dalam garis perjuangannya, Hizb at-Tahrir menentukan batas waktu 13 tahun sejak didirikannya. Artinya, Hizb at-Tahrir sudah harus mencapai tampuk pemerintahan selambat-lambatnya 13 tahun. Kemudian batas waktu itu diperpanjang sampai tiga dasawarsa karena pertimbangan kondisi dan karena adanya tekanan yang bertubi-tubi." Statement ini tidak pernah diungkap dalam kitab-kitab mutabannat, nasyrah, ta'mim, maupun kutaib yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir. Dalam konteks penegakkan Khilafah dan pengangkatan seorang Khalifah, Hizbut Tahrir justru berpendapat bahwa tenggat waktu yang ditetapkan syariat adalah 3 hari 2 malam. Artinya, kaum Muslim dilarang tidak memiliki seorang Khalifah lebih dari 3 hari 2 malam. Ketentuan seperti ini ditetapkan berdasarkan ijma' para shahabat. Ketika Umar bin Khaththab ra tertikam, beliau memberi batas waktu 3 hari kepada dewan syura yang dipimpin oleh 'Abdurrahman bin 'Auf untuk mengangkat seorang khalifah. Umar juga berwasiat kepada dewan syura, jika lebih dari 3 hari mereka tidak bisa mengangkat seorang khalifah dari mereka, maka anggota yang menolak akan dibunuh. Untuk melaksanakan wasiat itu, Umar bin Khaththab memerintahkan 50 orang pemuda yang dipersenjatai dengan pedang".[Ajhizah Daulah al-Khilafah fi al-Hukm wa al-Idaarah, hal. 53]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c. Hizbut Tahrir Melalaikan Aspek Rohani? (Majalah Sabili, hal.54)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Belum selesai berdusta, Lutfi A Tamimi kembali berbohong dengan mengatasnamakan Hizbut Tahrir. Pada halaman 54, dia menulis, "Hizb at-Tahrir melalaikan aspek ruhani. Ruhani dipandang hanya sebagai ide. Hizb at-Tahrir berpendapat, di dalam diri manusia tidak ada gejolak ruhani dan kecerdasan jasadi. Di dalam diri manusia hanya ada kebutuhan dan insting yang harus dipenuhi....". Pernyataan semacam ini tidak pernah ditemukan dalam kitab-kitab mutabannat Hizbut Tahrir. Pandangan Hizbut Tahrir terhadap ruh, telah dijelaskan panjang lebar dalam Kitab Mafaahim Hizb al-Tahrir. Hizbut Tahrir berpandangan bahwa ruh itu memiliki makna ganda. Ruh bisa bermakna nyawa (sirrul hayah/rahasia hidup manusia) yang menghidupkan kesadaran dan organ manusia. Ruh juga bisa bermakna idrak shillah billah (kesadaran akan hubungan dengan Allah swt). Hizbut Tahrir juga mengenalkan istilah ruuhiyyah dan naahiyah ar-ruhiyyah. [Lebih jelasnya bisa dibaca Kitab Mafaahim Hizb al-Tahrir]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain berbohong, Lutfi juga tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan aspek rohani tersebut? Apakah rohani yang dipahami masyarakat awam (jiwa), atau keyakinan dan akhlaq? Jangan-jangan dia tidak memahami apa yang ditulisnya sendiri, hanya untuk membuat kedustaan atas nama Hizbut Tahrir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika yang dimaksud aspek ruhani adalah kesadaran akan hubungan dengan Allah, bagaimana bisa dinyatakan Hizbut Tahrir mengabaikan aspek ruhani? Di dalam kitab-kitab pembinaannya, Hizbut Tahrir selalu menekankan kepada anggotanya untuk berpegang teguh dengan aqidah Islamiyyah, dan selalu menampilkan perilaku yang berakhlaqul karimah. Hizbut Tahrir mengeluarkan banyak kitab mutabannat yang menekankan kewajiban dan pentingnya terikat dengan ‘aqidah dan syariat Islam; misalnya Asy Syakhshiyyah al-Islaamiyyah, juz 1, Kitab Nidzaam al-Islaam, Mafaahim Hizbut Tahrir, dan lain sebagainya. Bahkan, di tengah-tengah maraknya gerakan dan partai Islam bermusyarakah dengan pemerintahan sekuler dan berasyik masyuk dengan demokrasi, Hizbut Tahrir justru terbukti tetap istiqamah menjaga ‘aqidah dan ketaatannya kepada Allah swt, tidak bermusyarakah dengan pemerintahan kufur, dan tetap lantang menolak paham demokrasi-sekuler yang kufur. Tidak hanya itu saja, ketika partai-partai yang berlabel Islam berlomba-lomba merekrut orang-orang kafir menjadi anggotanya, Hizbut Tahrir tetap konsisten melarang orang kafir menjadi anggotanya. Lalu, bagaimana bisa dinyatakan bahwa Hizbut Tahrir abai dalam aspek ruhani?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;d. Hizbut Tahrir Melarang Anggotanya Percaya Kepada Siksa Kubur dan Munculnya Dajjal (Majalah Sabili, hal; 54]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada halaman 54, Lutfi A Tamimi kembali mengulang-ulang kedustaannya dengan menyatakan, "Hizb at-Tahrir melarang anggotanya percaya kepada siksa kubur dan munculnya Dajjal. Menurut mereka, orang yang memercayainya dipandang sebagai pendosa.". Pernyataan ini merupakan kedustaan sekian kali yang dilakukan oleh Lutfiy A Tamimi. Pasalnya, tidak ada satu pun kitab, ta’mim, maupun nasyrah yang menyatakan hal itu. Dalam masalah-masalah ‘aqidah, pandangan Hizbut Tahrir sejalan dengan pandangan para ulama dari kalangan shahabat, tabi’un, tabi’ut tabi’iin, dan ulama-ulama mu’tabar lainnya, yakni, ‘aqidah harus dibangun di atas dalil qath’iy, baik tsubut maupun dilalahnya. Dalil yang memenuhi syarat ini adalah al-Quran dan hadits mutawatir yang dilalahnya qath’iy. Sedangkan hadits ahad, Hizbut Tahrir –seperti halnya pendapat mayoritas kaum Muslim dari kalangan shahabat dan ulama salafush shalih— berpandangan bahwa hadits ahad wajib diamalkan (wujubul ‘amal), dan tidak menghasilkan keyakinan (al-‘ilm), alias hanya menghasilkan dzann belaka. Apa yang dipegang oleh Hizbut Tahrir sama persis seperti yang dijelaskan oleh Imam Nawawiy dalam Muqaddimah Syarah Shahih Muslim:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;وَأَمَّا خَبَر الْوَاحِد : فَهُوَ مَا لَمْ يُوجَد فِيهِ شُرُوطُ الْمُتَوَاتِرِ سَوَاء كَانَ الرَّاوِي لَهُ وَاحِدًا أَوْ أَكْثَرَ . وَاخْتُلِفَ فِي حُكْمِهِ ؛ فَاَلَّذِي عَلَيْهِ جَمَاهِير الْمُسْلِمِينَ مِنْ الصَّحَابَة وَالتَّابِعِينَ ، فَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنْ الْمُحَدِّثِينَ وَالْفُقَهَاءِ وَأَصْحَابِ الْأُصُولِ : أَنَّ خَبَر الْوَاحِد الثِّقَةِ حُجَّةٌ مِنْ حُجَجِ الشَّرْعِ يَلْزَمُ الْعَمَلُ بِهَا ، وَيُفِيدُ الظَّنَّ وَلَا يُفِيدُ الْعِلْمَ ، وَأَنَّ وُجُوب الْعَمَل بِهِ عَرَفْنَاهُ بِالشَّرْعِ لَا بِالْعَقْلِ... وَذَهَبَ بَعْضُ الْمُحَدِّثِينَ إِلَى أَنَّ الْآحَادَ الَّتِي فِي صَحِيح الْبُخَارِيّ أَوْ صَحِيح مُسْلِم تُفِيدُ الْعِلْمَ دُونَ غَيْرِهَا مِنْ الْآحَاد . وَقَدْ قَدَّمْنَا هَذَا الْقَوْل وَإِبْطَاله فِي الْفُصُول وَهَذِهِ الْأَقَاوِيل كُلّهَا سِوَى قَوْلِ الْجُمْهُور بَاطِلَةٌ ، وَإِبْطَالُ مَنْ قَالَ لَا حُجَّةَ فِيهِ ظَاهِرٌ ْ .. وَأَمَّا مَنْ قَالَ يُوجِبُ الْعِلْمَ : فَهُوَ مُكَابِرٌ لِلْحَسَنِ . وَكَيْفَ يَحْصُلُ الْعِلْمُ وَاحْتِمَالُ الْغَلَطِ وَالْوَهْمِ وَالْكَذِبِ وَغَيْرِ ذَلِكَ ، مُتَطَرِّقٌ إِلَيْهِ ؟ وَاَللَّه أَعْلَمُ .&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Adapun khabar ahad, ia adalah hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat mutawatir, sama saja apakah karena perawinya satu atau lebih. Masih diperselisihkan hukum hadits ahad. Pendapat yang dipegang oleh mayoritas kaum Muslim dari kalangan shahabat dan tabi'iin, dan kalangan ahli hadits, fukaha, dan ulama ushul yang dating setelah para shahabat dan tabi'un adalah: khabar ahad (hadits ahad) yang tsiqqah adalah hujjah syar'iy yang wajib diamalkan, dan khabar ahad hanya menghasilkan dzann, tidak menghasilkan ilmu (keyakinan). Wajibnya mengamalkan hadits ahad, kita ketahui berdasarkan syariat, bukan karena akal....Sebagian ahli hadits berpendapat bahwa hadits-hadits ahad yang terdapat di dalam Shahih Bukhari dan Muslim menghasilkan ilmu (keyakinan), berbeda dengan hadits-hadits ahad lainnya. Pada penjelasan sebelumnya kami telah menjelaskan kesalahan pendapat ini secara rinci. Semua pendapat selain pendapat jumhur adalah bathil. Kebathilan orang yang berpendapat tanpa hujjah dalam masalah ini telah tampak jelas....Adapun orang yang berpendapat bahwa hadits ahad menghasilkan keyakinan, sesungguhnya orang itu terlalu berbaik sangka. Bagaimana bisa dinyatakan hadits ahad menghasilkan keyakinan (ilmu), sedangkan hadits ahad masih mungkin mengandung ghalath, wahm, dan kadzb? Wallahu a'lam bish shawab". [Imam An Nawawiy, Syarah Shahih Muslim]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hizbut Tahrir tidak pernah menolak hadits ahad yang shahih, baik yang berkaitan dengan syariat (amal) maupun keyakinan (‘aqidah). Hadits ahad yang berbicara masalah amal (syariat) waijib diamalkan. Sedangkan hadits ahad yang berbicara tentang keyakinan atau ‘aqidah, maka cukup dibenarkan (tashdiq). Sebab, hadits ahad itu tidak menghasilkan keyakinan (tashdiq al-jaazim), akan tetapi dzann belaka (tashdiq).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berkenaan dengan siksa kubur, Hizbut Tahrir tidak pernah menyinggung masalah ini secara terperinci di dalam kitab-kitab mutabannat. Hizbut Tahrir juga tidak pernah mengeluarkan instruksi kepada anggotanya untuk tidak memercayai siksa kubur dan kemunculan Dajjal. Yang benar, Hizbut Tahrir meminta kepada anggotanya untuk menerima semua hadits shahih dan melarang anggota mengingkari atau menolak hadits-hadits shahih (baik mutawatir maupun ahad).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;e. Tokoh-Tokoh Hizbut Tahrir Mengabaikan Amar Ma'ruf Nahi 'Anil Mungkar?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lutfi al-Kadzdzab kembali mengulang-ulang kebohongannya dengan menyatakan, "Tokoh-tokoh Hizb al-Tahrir memandang tidak perlu adanya usaha amar ma'ruf dan nahi munkar. Menurut mereka, usaha tersebut pada saat ini merupakan salah satu kendala tahapan pergerakan. Sebab, kewajiban amar makruf nahi munkar merupakah salah satu tugas negara Islam jika telah berdiri".&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekali lagi, ini adalah kebohongan yang dilakukan oleh Lutfi A Tamimi. Pasalnya, tidak ada satupun statemen --baik yang dinyatakan dalam buku mutabannat, nasyrah, kutaib, ta'mim, maupun komentar-komentar lisan dari tokoh-tokoh Hizbut Tahrir-- yang menyatakan bahwa anggota Hizbut Tahrir harus mengabaikan atau melalaikan aktivitas amar makruf nahi mungkar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di dalam Kitab Manhaj Hizbut Tahrir fi at-Taghyiir disebutkan dengan sangat jelas sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Amar makruf nahi munkar termasuk perkara yang diwajibkan Allah swt atas kaum Muslim. Sebab, Allah swt berfirman, "Wal takun minkum ummah yad'uuna ila al-khair wa ya'muruuna bi al-ma'ruf wa yanhauna 'an al-mungkar". [QS. Ali Imron (3):104]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Amar makruf nahi mungkar adalah kewajiban bagi kaum Muslim dalam setiap kondisi. Sama saja apakah Daulah Khilafah telah berdiri maupun belum. Sama saja apakah hukum Islam sudah diterapkan di pemerintahan dan masyarakat, atau belum.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Amar makruf nahi mungkar telah ada di masa Rasululla saw dan khulafaur rasyidin, dan orang-orang setelah mereka. Amar makruf nahi mungkar tetaplah fardlu bagi kaum Muslim hingga akhir jaman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akan tetapi, amar makruf nahi 'anil mungkar bukanlah thariqah untuk menegakkan khilafah dan mengembalikan Islam dalam kehidupan negara dan masyarakat, walaupun ia merupakan bagian dari aktivitas "melangsungkan kehidupan Islam" karena di dalamnya ada aktivitas mengoreksi penguasa, yakni menyeru penguasa untuk mengerjakan yang makruf dan meninggalkan yang mungkar. Akan tetapi, aktivitas melangsungkan kehidupan Islam berbeda dengan amar makruf nahi 'anil mungkar....".[Manhaj Hizbut Tahrir fi al-Taghyiir, hal. 8]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari uraian yang tersebut dalam Kitab Manhaj Hizbut Tahrir fi al-Taghyiir jelaslah, bahwa tidak ada satupun statement dari Hizbut Tahrir yang menunjukkan pengabaian dirinya terhadap aktivitas amar ma'ruf nahi 'anil mungkar. Realitas perjuangan Hizbut Tahrir di berbagai belahan dunia justru menunjukkan kenyataan sebaliknya. Di berbagai negara, banyak syabab Hizbut Tahrir ditangkap, dibunuh, dan diintimidasi oleh para penguasa dzalim dan fasiq, karena keberanian mereka dalam mengoreksi penguasa dan menyingkap persekongkolan jahat dengan negara-negara kafir imperialis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lutfi A Tamimi juga menyebutkan peristiwa penangkapan, penyiksaan, serta kesulitan-kesulitan yang dihadapi syabab Hizbut Tahrir di berbagai belahan dunia akibat keberanian para syabab Hizbut Tahrir dalam menegakkan amar makruf nahi 'anil mungkar. [Lihat statement Lutfi saat menjelaskan sepak terjang Syabab Hizbut Tahrir di Banglades [Majalah Sabili, hal. 57] Lalu, bagaimana dia bisa menyatakan tokoh-tokoh Hizbut Tahrir mengabaikan amar makruf nahi 'anil mungkar?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;f. Cita-cita Utama Hizbut Tahrir Adalah Merebut Kekuasaan?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada halaman 55, Lutfi A Tamimi menyatakan, "..Tergambar bahwa cita-cita utama Hizb at-Tahrir adalah merebut kekuasaan". Ungkapan adalah kebohongan Lutfi A Tamimi untuk yang ke sekian kali. Cita-cita utama Hizbut Tahrir sebagaimana disebut dalam Kitab Hizbut Tahrir adalah sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Tujuan Hizbut Tahrir. Yaitu, melangsungkan kembali kehidupan Islam, mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia". Tujuan ini bermakna mengembalikan kaum Muslim kepada kehidupan Islamiy di dalam Daarul Islam dan masyarakat Islam. Dimana, seluruh urusan kehidupan di dalam masyarakat berjalan sesuai dengan hukum-hukum, dan sudut pandang masyarakat adalah halal dan haram di bawah naungan Daulah Islamiyyah, yakni Daulah Khilafah' di mana di dalamnya kaum Muslim mengangkat seorang Khalifah yang dibaiat atas dasar pendengaran dan ketataan, untuk berhukum dengan Kitabullah dan sunnah RasulNya, dan untuk mengemban Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad".[Hizbut Tahrir, hal.6]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;g. Hizbut Tahrir Membolehkan Orang Kafir Menjadi Anggotanya (Majalah Sabili, hal. 55]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada halaman 55, Lutfi A Tamimi menyatakan, "Orang kafir diperbolehkan menjadi anggota Hizb at-Tahrir". Pernyataan di atas adalah dusta yang nyata. Pasalnya, Hizbut Tahrir sejak didirikan pada tahun 1953 tidak pernah mengubah pendiriannya. Sejak berdirinya, Hizbut Tahrir melarang orang-orang kafir menjadi anggota Hizbut Tahrir. Hizbut Tahrir hanya beranggotan kaum Muslim saja. Di dalam Kitab Ta'rif (Mengenal Hizbut Tahrir (terj)) dalam bab Keanggotaan Hizbut Tahrir, " Hizbut Tahrir menerima keanggotaan setiap orang Islam, baik laki-laki maupun wanita, tanpa memperhatikan lagi apakah mereka keturunan Arab atau bukan, berkulit putih ataupun hitam. Hizbut Tahrir adalah sebuah partai untuk seluruh kaum muslimin dan menyerukan kepada ummat untuk mengemban dakwah Islam serta mengambil dan menetapkan seluruh aturan-aturannya, tanpa memandang lagi ras-ras kebangsaan; warna kulit maupun madzhab-madzhab mereka..."[Mengenal Hizbut Tahrir, Dan Strategi Dakwah Hizbut Tahrir, hal.27, 2008, Pustaka Thariqul Izzah, Bogor]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendapat Hizbut Tahrir di atas disandarkan pada firman Allah swt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. [TQS Ali Imron (3):104]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imam Ibnu Katsir menyatakan;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;والمقصود من هذه الآية أن تكون فرْقَة من الأمَّة متصدية لهذا الشأن، وإن كان ذلك واجبا على كل فرد من الأمة بحسبه، كما ثبت في صحيح مسلم عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَده، فَإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أضْعَفُ الإيمَانِ". وفي رواية: "وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الإيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Maksud ayat ini adalah, hendaknya ada kelompok (firqah) dari umat ini (umat Islam) yang siap sedia menjalankan tugas tersebut (dakwah menuju Islam dan amar makruf nahi ‘anil mungkar), walaupun (dakwah menuju Islam dan amar makruf nahi ‘anil mungkar) juga kewajiban setiap individu umat ini; sebagaimana telah ditetapkan di dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah ra, bahwasanya ia berkata, “Rasulullah saw bersabda, “&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَده، فَإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أضْعَفُ الإيمَانِ". وفي رواية: "وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الإيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ" .&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Siapa saja diantara kalian yang menyaksikan kemungkaran, hendaknya ia ubah dengan tangannya. Jika ia tidak mampu (mengubah dengan tangan) hendaknya dengan lisannya. Dan jika ia tidak mampu (mengubah dengan lisannya), hendaknya dengan hatinya”. Di dalam riwayat lain dituturkan, ”Setelah itu tidak ada keimanan seberat biji gandum pun”.[HR. Imam Muslim dari Abu Musa al-Asy’ariy]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di dalam Tafsir al-Thabariy disebutkan, ”Abu Ja’far menyatakan, ”..yakni adanya jamaa’ah (kelompok) yang menyeru manusia menuju kebaikan, yakni Islam dan syariat Islam yang telah disyariatkan Allah atas hambaNya; dan melakukan amar ma’ruf nahi ’anil mungkar; yakni memerintahkan manusia untuk mengikuti Nabi Mohammad saw, dan agamanya yang berasal dari sisi Allah swt; dan mencegah kemungkaran; yakni mereka mencegah dari ingkar kepada Allah, serta (mencegah) mendustakan Nabi Mohammad saw dan ajaran yang dibawanya dari sisi Allah....”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imam Ali Al-Shabuniy menyatakan, ”Maksudnya, hendaknya dirikanlah kelompok (thaaifah) dari kalian (umat Islam) untuk berdakwah menuju Allah, dan untuk mengajak kepada setiap kebajikan dan mencegah dari setiap kemungkaran”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ayat di atas menunjukkan dengan sangat jelas bahwa, Allah swt telah memerintahkan kaum Muslim untuk mendirikan jama’ah, thaifah, hizb, atau kelompok dari kalangan kaum Muslim yang bertugas menyeru kepada Islam dan melakukan amar makruf nahi ’anil mungkar. Frase ”minkum” pada ayat di atas merujuk kepada kaum Muslim, bukan merujuk kepada non Muslim. Semua ini menunjukkan bahwa ”jama’ah” tersebut harus beranggotakan orang-orang Muslim, bukan orang-orang kafir. Selain itu, frase "wa ulaaika humul muflihuun" (mereka adalah orang-orang yang beruntung), semakin menyakinkan bahwa gerakan Islam tidak boleh beranggotakan orang kafir. Pasalnya, orang kafir tidak berhak mendapat gelar "muflihuun".&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;h. Hizbut Tahrir Membolehkan Kaum Muslim Mencium Wanita Asing [Majalah Sabili, hal.55]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di halaman 55, Lutfi A Tamimi menyatakan, "Boleh berciuman dengan wanita asing (bukan isteri), baik disertai nafsu atau tidak". Statement di atas jelas-jelas kebohongan yang ditikamkan kepada Hizbut Tahrir. Pasalnya, Hizbut Tahrir mengharamkan kaum Muslim mencium wanita ajnabiyyah, atau pun sebaliknya. Keharaman mencium wanita ajnabiyyah atau sebaliknya, disebutkan dengan jelas dalam Kitab al-Nidzaam al-Ijtimaa’iy fi al-Islaam, ed.IV (Mu'tamadah), hal.53:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;وهذا بخلاف القبلة, فقبلة الرجل لامرأة أجنبية يريدها, فقبلة المرأة لرجل أجنبي تريدها هي قبلة محرمة, لانها من مقدمات الزنا, ومن شأن مثل هذه القبلة أن تكون من مقدمات الزنا عادة, ولو كانت من غير شهوة, و لو لم يصل إلى الزنا,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ini berbeda dengan ciuman, ciuman seorang laki-laki terhadap wanita asing yang diinginkannya, atau sebaliknya, adalah ciuman yang diharamkan. Sebab ciuman semacam ini termasuk pembukaan dari zina. Pasalnya, ciuman pada umumnya adalah pembukaan menuju aktivitas zina, meskipun dilakukan tanpa syahwat atau tidak mengantarkan kepada zina".&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;i. Hizbut Tahrir Melarang Anggotanya Percaya Kepada Siksa Kubur dan Munculnya Dajjal (Majalah Sabili, hal; 54]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada halaman 54, Lutfi A Tamimi mengatakan, "Hizb at-Tahrir melarang anggotanya percaya kepada siksa kubur dan munculnya Dajjal". Pernyataan ini merupakan kedustaan sekian kali yang dilakukan oleh Lutfiy A Tamimi. Pasalnya, tidak ada satu pun kitab, ta’mim, maupun nasyrah yang menyatakan hal itu. Dalam masalah-masalah ‘aqidah, pandangan Hizbut Tahrir sejalan dengan pandangan para ulama dari kalangan shahabat, tabi’un, tabi’ut tabi’iin, dan ulama-ulama mu’tabar lainnya, yakni, ‘aqidah harus dibangun di atas dalil qath’iy, baik tsubut maupun dilalahnya. Dalil yang memenuhi syarat ini adalah al-Quran dan hadits mutawatir yang dilalahnya qath’iy. Sedangkan hadits ahad, Hizbut Tahrir –seperti halnya pendapat mayoritas kaum Muslim dari kalangan shahabat dan ulama salafush shalih— berpandangan bahwa hadits ahad wajib diamalkan (wujubul ‘amal), dan tidak menghasilkan keyakinan (al-‘ilm), alias hanya menghasilkan dzann belaka. Apa yang dipegang oleh Hizbut Tahrir sama persis seperti yang dijelaskan oleh Imam Nawawiy dalam Muqaddimah Syarah Shahih Muslim:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;وَأَمَّا خَبَر الْوَاحِد : فَهُوَ مَا لَمْ يُوجَد فِيهِ شُرُوطُ الْمُتَوَاتِرِ سَوَاء كَانَ الرَّاوِي لَهُ وَاحِدًا أَوْ أَكْثَرَ . وَاخْتُلِفَ فِي حُكْمِهِ ؛ فَاَلَّذِي عَلَيْهِ جَمَاهِير الْمُسْلِمِينَ مِنْ الصَّحَابَة وَالتَّابِعِينَ ، فَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنْ الْمُحَدِّثِينَ وَالْفُقَهَاءِ وَأَصْحَابِ الْأُصُولِ : أَنَّ خَبَر الْوَاحِد الثِّقَةِ حُجَّةٌ مِنْ حُجَجِ الشَّرْعِ يَلْزَمُ الْعَمَلُ بِهَا ، وَيُفِيدُ الظَّنَّ وَلَا يُفِيدُ الْعِلْمَ ، وَأَنَّ وُجُوب الْعَمَل بِهِ عَرَفْنَاهُ بِالشَّرْعِ لَا بِالْعَقْلِ... وَذَهَبَ بَعْضُ الْمُحَدِّثِينَ إِلَى أَنَّ الْآحَادَ الَّتِي فِي صَحِيح الْبُخَارِيّ أَوْ صَحِيح مُسْلِم تُفِيدُ الْعِلْمَ دُونَ غَيْرِهَا مِنْ الْآحَاد . وَقَدْ قَدَّمْنَا هَذَا الْقَوْل وَإِبْطَاله فِي الْفُصُول وَهَذِهِ الْأَقَاوِيل كُلّهَا سِوَى قَوْلِ الْجُمْهُور بَاطِلَةٌ ، وَإِبْطَالُ مَنْ قَالَ لَا حُجَّةَ فِيهِ ظَاهِرٌ ْ .. وَأَمَّا مَنْ قَالَ يُوجِبُ الْعِلْمَ : فَهُوَ مُكَابِرٌ لِلْحَسَنِ . وَكَيْفَ يَحْصُلُ الْعِلْمُ وَاحْتِمَالُ الْغَلَطِ وَالْوَهْمِ وَالْكَذِبِ وَغَيْرِ ذَلِكَ ، مُتَطَرِّقٌ إِلَيْهِ ؟ وَاَللَّه أَعْلَمُ .&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Adapun khabar ahad, ia adalah hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat mutawatir, sama saja apakah karena perawinya satu atau lebih. Masih diperselisihkan hukum hadits ahad. Pendapat yang dipegang oleh mayoritas kaum Muslim dari kalangan shahabat dan tabi'iin, dan kalangan ahli hadits, fukaha, dan ulama ushul yang dating setelah para shahabat dan tabi'un adalah: khabar ahad (hadits ahad) yang tsiqqah adalah hujjah syar'iy yang wajib diamalkan, dan khabar ahad hanya menghasilkan dzann, tidak menghasilkan ilmu (keyakinan). Wajibnya mengamalkan hadits ahad, kita ketahui berdasarkan syariat, bukan karena akal....Sebagian ahli hadits berpendapat bahwa hadits-hadits ahad yang terdapat di dalam Shahih Bukhari dan Muslim menghasilkan ilmu (keyakinan), berbeda dengan hadits-hadits ahad lainnya. Pada penjelasan sebelumnya kami telah menjelaskan kesalahan pendapat ini secara rinci. Semua pendapat selain pendapat jumhur adalah bathil. Kebathilan orang yang berpendapat tanpa hujjah dalam masalah ini telah tampak jelas....Adapun orang yang berpendapat bahwa hadits ahad menghasilkan keyakinan, sesungguhnya orang itu terlalu berbaik sangka. Bagaimana bisa dinyatakan hadits ahad menghasilkan keyakinan (ilmu), sedangkan hadits ahad masih mungkin mengandung ghalath, wahm, dan kadzb? Wallahu a'lam bish shawab". [Imam An Nawawiy, Syarah Shahih Muslim]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hizbut Tahrir tidak pernah menolak hadits ahad yang shahih, baik yang berkaitan dengan syariat (amal) maupun keyakinan (‘aqidah). Hadits ahad yang berbicara masalah amal (syariat) waijib diamalkan. Sedangkan hadits ahad yang berbicara tentang keyakinan atau ‘aqidah, maka cukup dibenarkan (tashdiq). Sebab, hadits ahad itu tidak menghasilkan keyakinan (tashdiq al-jaazim), akan tetapi dzann belaka (tashdiq).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;j. Hizbut Tahrir Membolehkan Anggotanya Memandang Gambar-gambar Porno (Majalah Sabili, hal.55)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada halaman 55, Lutfi A Tamimi menyatakan (mengutip buku keluaran WAMY), "Boleh memandang gambar-gambar porno". Statement ini merupakan kebohongan dia yang ke sekian kali. Pasalnya, statement seperti ini tidak pernah tercantum dalam kitab-kitab mutabannat, nasyrah, ta'mim, qarar, maupun kutaib. Lalu, dari mana dia bisa menyatakan bahwa Hizbut Tahrir membolehkan anggotanya melihat gambar porno? Selain itu, Al-Aalim al-'Allam Syaikh Atha' Abu Rusytah, Ami Hizb ke 3, dalam tulisannya telah mengharamkan kaum Muslim melihat gambar porno. Pasalnya, melihat gambar porno adalah wasilah menuju tindak keharaman. [Lihat Website Hizbut Tahrir Pusat].&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inilah fakta-fakta yang menunjukkan kebohongan Lutfi A Tamimi dan Majalah Sabili. Sebenarnya, kebohongan-kebohongan Lutfi A Tamimi dan Majalah Sabili tidak hanya berjumlah 10, akan tetapi lebih itu. Namun, cukuplah 10 kebohongan bagi kita untuk menolak apa yang ditulis oleh Lutfi A Tamimi. Pasalnya, berita atau riwayat pembohong wajib untuk ditolak!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;II. KETIDAKJUJURAN SABILI&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada dasarnya, tulisan berjudul "Menguak Hizb at-Tahrir" adalah refleksi ketidakjujuran Majalah Sabili dalam menyampaikan informasi kepada kaum Muslim. Tidak hanya itu saja, dimuatnya tulisan "Menguak Hizb at-Tahrir", juga menunjukkan bahwa Majalah Sabili telah mengabaikan prinsip syariat dan ilmiah yang dijunjung tinggi oleh kaum Muslim. Pasalnya, artikel panjang yang ditulis oleh Lutfi A Tamimi hanya merujuk kepada buku berjudul al-Mausu'ah al-muyassarah fi al-Adyaan wa al-Madzaahib al-Mu'ashirah yang dikeluarkan oleh An Nadwah al-'Alaamiyah li asy-Syabaab al-Islaamiy (WAMY), dan sama sekali tidak merujuk kepada sumber-sumber primer Hizbut Tahrir. Padahal, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, buku al-Mausu'ah al-muyassarah fi al-Adyaan wa al-Madzaahib al-Mu'ashirah juga tidak merujuk kepada sumber-sumber primer Hizbut Tahrir, akan tetapi merujuk kepada buku karya Shadiq Amin yang berjudul al-Da’wah al-Islaamiyyah Faridlah Syar’iyyah wa Dlarurah Basyariyyah. Buku karya Shadiq Amin ini pun juga tidak merujuk kepada sumber primer Hizbut Tahrir, sehingga tidak layak dijadikan sebagai referensi untuk memahami jatidiri Hizbut Tahrir. Bahkan, buku tersebut dipenuhi kedustaan dan kebohongan dengan mengatasnamakan Hizbut Tahrir. Jika referensi utama buku terbitan WAMY, yakni buku al-Da’wah al-Islaamiyyah Faridlah Syar’iyyah wa Dlarurah Basyariyyah karya Shadiq Amin cacat secara ilmiah, lebih-lebih lagi tulisan-tulisan yang merujuk kepadanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak hanya menyebarkan kebohongan dan kedustaan saja, Majalah Sabili bahkan berusaha menutup-menutupi kebohongannya dengan memuat wawancara dengan juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia, Al-Faadlil Ust. Ismail Yusanto, yang telah mereka ubah (edit). Misalnya, dalam wawancara itu ditulis, "Apa pendapat Anda tentang buku Gerakan Pemikiran Keagamaan terbitan WAMY? Lalu jawaban al-Faadlil Ust Ismail Yusanto ditulis, "Sebenarnya bagus untuk pengetahuan masyarakat umum. Hanya sekarang ini banyak sekali buku-buku tentang pergerakan Islam yang tidak sesuai dengan pergerakan yang sesungguhnya. Mereka tidak melakukan tabayun dan konfirmasi pada pihak yang bersangkutan..". Jawaban ini ditulis sedemikian rupa oleh Majalah Sabili untuk mengesankan bahwa buku terbitan WAMY itu bagus dan layak dibaca oleh masyarakat umum. Padahal, Al Faadlil Ust. Ismail Yusanto tidak pernah menyatakan seperti itu, bahkan, beliau sama sekali tidak pernah menyatakan bahwa buku terbitan WAMY itu bagus dan layak dibaca oleh masyarakat umum. Pasalnya, beliau sendiri juga memahami bahwa buku WAMY itu adalah buku yang dipenuhi dengan kebohongan dan fitnah. Jika tidak untuk menutupi kebohongan dan niat jahat mereka, mengapa Majalah Sabili menulis perkataan Jubir HTI seperti itu?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;III. IKHTILAF YANG DIKESANKAN SEBUAH KESESATAN&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak cukup hanya berdusta dan berbohong saja, Majalah Sabili juga mengangkat pendapat-pendapat Hizbut Tahrir yang dikesankan sebagai pendapat sesat dan menyimpang. Padahal, pendapat-pendapat tersebut adalah pendapat Islamiy yang sebenarnya masih dijadikan perdebatan oleh ulama-ulama mu'tabar. Anehnya, pendapat-pendapat tersebut dikesankan sebagai pendapat aneh dan menyimpang dari Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada hal 56 Majalah Sabili, misalnya, disebutkan,"Seorang laki-laki dan perempuan yang menikah dengan salah seorang muhrimnya harus dipenjara selama 10 tahun". Statement ini berasal dari kitab Kitab Nidzam al-'Uquubat karya Dr. Abdurrahman Al Maliki, namun, redaksinya tidak lengkap. Yang disebutkan di dalam kitab Nidzam al-‘Uqubat adalah sebagai berikut, “Siapapun yang menikah (bukan berzina) dengan salah seorang mahram yang abadi, seperti ibu dan saudara perempuan, dipenjara 10 tahun.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dr ‘Abdurrahman al-Malikiy berpendapat bahwa orang yang menikahi mahram abadinya tidak boleh dikenai had zina, sebab masih ada syubhat akad yang menghalalkan farji seseorang, meskipun akad nikah itu fasid. Pendapat seperti ini juga dipegang oleh ulama Hanafiyyah. ‘Abdul Qadir al-Audah dalam kitabnya (al-Tasyrii’ al-Janaaiy al-Islaamiy, juz II, hal. 363), menyatakan“,Akan tetapi Abu Hanifah sendiri berpendapat, orang yang menikahi ibunya, anak perempuannya, bibi, (mahram abadi), kemudian menyetubuhinya, maka untuk kasus ini tidak dikenai had zina, meskipun mereka mengaku mengetahui hal itu adalah tindakan haram. Untuk kasus semacam ini cukup dikenai hukuman ta’zir. “ Ia melanjutkan, “Imam Abu Hanifah tidak menjatuhkan had untuk kasus semacam ini karena ada syubhat.” Atas dasar itu, pendapat Dr. ‘Abdurrahman al-Malikiy bukanlah pendapat yang menyimpang. Bahkan pendapat ini merupakan pendapat tangguh yang dipegang oleh Imam Abu Hanifah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perlu diketahui juga bahwa Kitab Nidzam al-'Uqubat karya Dr. Abdurrahman Al Baghdadiy bukanlah Kitab Mutabannat, sehingga tidak bisa mewakili pendapat Hizbut Tahrir dalam masalah ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di halaman 56 juga dinyatakan bahwa Hizbut Tahrir berpandangan bahwa negara Islam diperbolehkan menyerahkan jizyah (upeti) kepada negara kafir. Redaksi lengkapnya adalah, "Negara Islam diperbolehkan membayar jizyah (upeti) kepada negara kafir". Seperti halnya kasus menikah dengan mahram abadi, statemen ini juga tidak lengkap. Yang benar, Hizbut Tahrir berpendapat bahwa dalam keadaan darurat Daulah Islam boleh meminta damai dengan kaum kafir dengan menyerahkan sejumlah harta kepada mereka. Pendapat ini juga dikesankan seolah-olah menyimpang dari Islam. Padahal, para fukaha empat madzhab telah membahas masalah ini dalam kitab-kitab mereka, dan mayoritas mereka membolehkan menyerahkan harta kepada negara kafir dalam keadaan darurat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di dalam Kitab Badaai' ash Shanaai' (Kitab Fikih Madzhab Hanafi) disebutkan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;وَلَا بَأْسَ أَنْ يَطْلُبَ الْمُسْلِمُونَ الصُّلْحَ مِنْ الْكَفَرَةِ وَيُعْطُوا عَلَى ذَلِكَ مَالًا إذَا اُضْطُرُّوا إلَيْهِ ؛ لِقَوْلِهِ - سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى - { وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا }&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Tidak mengapa kaum Muslim meminta perjanjian damai dari orang kafir yang untuk itu, kaum Muslim harus menyerahkan sejumlah harta, jika keadaannya darurat", berdasarkan firman "Wa in janahuu lis salmi fajnah lahaa". [Badaai' ash Shanaai' fi Tartiib Asy-Syaraai', juz 15, hal. 316]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di dalam Kitab Qawaaniin al-Ahkaam asy-Syar'iyyah (Kitab Fikih Madzhab Malikiy) disebutkan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;أن من شروط جواز الصلح مع الكفار _خلوه عن شروط فاسد, و مثلوا للشروط الفاسد, بنحو: بذل مال لهم فى غير خوف. و يجوز مع الخوف&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Sesungguhnya, di antara syarat bolehnya melakukan perjanjian damai dengan orang-orang kafir –adalah kosong dari syarat-syarat fasid, dan mereka mencontohkan syarat-syarat fasid ini, adalah menyerahkan harta kepada mereka tidak dalam keadaan takut (darurat). Dan boleh menyerahkan harta jika dalam keadaan takut".[Qawaaniin Al-Ahkaam Asy-Syar'iyyah, hal. 175]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendapat senada juga dikemukakan ulama kalangan Madzhab Syafi'iy dan Hanbaliy. Lalu, mengapa Majalah Sabili mengesankan bahwa pendapat itu adalah pendapat sesat dan menyimpang dari Islam? Sedangkan realitasnya, pendapat ini adalah pendapat para fukaha mu'tabar?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;KHATIMAH&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikianlah, kami telah menjelaskan kebohongan-kebohongan dan upaya-upaya penyesatan yang terdapat dalam artikel "Menguak Hizb at-Tahrir yang dimuat dalam Majalah Sabili, No 21 TH XVII 13 Mei 2010/28 Jumadil Awal 1431 H, hal.50-57.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semoga risalah ini mampu menyingkap mana yang benar dan mana yang bathil, sekaligus mengembalikan pihak-pihak yang memfitnah maupun yang terfitnah oleh tulisan Lutfi A Tamimi untuk kembali kepada pangkuan kebenaran dan cahaya persaudaraan karena Allah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Umat Islam juga wajib berhati-hati terhadap majalah-majalah yang digunakan sebagai alat untuk memecah belah dan menyebarkan fitnah di kalangan kaum Muslim. Tidak hanya itu saja, kaum Muslim haram membuat, membeli, menjualkan, atau menyebarkan Majalah yang dipenuhi kebohongan, fitnah, dan tendensi culas. Wallahu al-Musta’an wa huwa Waliyu at-Taufiq. [SR]&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-4939777136268195634?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/4939777136268195634/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/05/menjawab-fitnah-sabili-terhadap-ht.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/4939777136268195634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/4939777136268195634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/05/menjawab-fitnah-sabili-terhadap-ht.html' title='Menjawab Fitnah Sabili Terhadap HT'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-1641075140161257214</id><published>2010-05-09T05:38:00.000-07:00</published><updated>2010-05-09T05:38:41.468-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='halaqah'/><title type='text'>Review Kitab Nizhamul Islam</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/S-ar3fC1qQI/AAAAAAAAARY/XNZbgg-rWF4/s1600/nizham2.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/S-ar3fC1qQI/AAAAAAAAARY/XNZbgg-rWF4/s320/nizham2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Pernah denger Kitab nizhamul Islam? Hmmm... apaan tuh? Buku cerita ya? Hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo gak tau kitab nizhamul islam memang wajar kok, emang kitabnya gak ada di gramedia (ealah malah nyebut merek)... tapi meski gak pernah dijual di gramedia, tetep saja kitab ini best seller... habis sebelum dijual di toko buku! Kok bisa?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya bisa, coz tiap dicetak, langsung dipesen habis sama mahasiswa-mahasiswi di seluruh indonesia yang pengen mempelajari kitab ini. Dan kitab ini dijual sangat murah, karena penerbitnya ikhlas karna Allah... (ckckck) 2 kitabnya (bahasa arab dan bahasa indonesia)Cuma dijual 30.000. mana ada buku harga segitu????&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi murah, gak berarti murahan... buku ini (sebut aja buku ya? Kitab kayaknya keberatan) mengandung gizi yang sangat tinggi (emang susu?). Isinya kalo dikaji, sangat mantep tep tep... udah banyak mahasiswa dan mahasiswi yang membuktikan, setelah mengkaji buku ini mereka insya Allah pasti akan tercerahkan. Yang dulunya hobi maksiat langsung berhenti, yang dulunya ragu-ragu terhadap islam langsung pergi ragunya, yang dulunya mental kerupuk langsung jadi mental baja. Kenapa itu bisa terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dalam kitab ini, pertama yang dibahas adalah cara beriman secara logis. Loh? Beriman kok logis? iman kan gak logis? Eits... tunggu dulu. Kata siapa gak bisa jadi orang beriman dengan akal? Orang-orang non-muslim bisa masuk islam gak lain karena mereka menggunakan akal mereka. Misalnya karena mereka mikir, Masa tuhan ada tiga? Masa ada tuhan pencipta, penghancur, pemelihara (bisa repot dunk!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah! di kitab ini yang pertama dibahas adalah gimana caranya seorang bisa percaya adanya pencipta, penulis buku ini meyakinkan dengan sangat ilmiyah bahwa memang segala sesuatu itu pasti diciptakan, bukan evolusi. Kedua, penulis meyakinkan pada diri kita lagi-lagi dengan sangat ilmiyah bahwa Tuhan yang bener itu bernama Allah. Trus membuktikan secara ilmiyah juga tentang kebenaran bahwa Muhammad adalah rasul dan Al-qur’an sebagai wahyu Allah, bukan karangan manusia. Kok berhenti pada Al-qur’an, kan rukun iman ada 6? Berarti masih ada tiga lagi. Nah iman kepada hari kiamat dan  malaikat kan sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an? Jadi kalo Qur’annya sudah kita yakini kebenarannya, otomatis kita juga akan membenarkan seluruh isi dari Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab 2 kitab ini membahas tentang qadha dan Qadar. Disini kita akan dibimbing bagaimana mengimani Qadha dan Qadar yang benar dan pas. Gak mengingkari takdir dan juga tidak menunggu takdir. Pokoknya kita akan mengerti posri yang pas, dalam mengimani qadha dan Qadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain bahasan dua diatas, juga masih banyak lagi bahasan-bahasan menarik lainnya. Contohnya bab 3 kita akan mempelajari keunggulan Islam terhadap ideologi-ideologi lainnya. Buku ini sangat bagus menutupi bahwa islam kita itu islam keturunan. Coz biasanya islam turunan itu gak melewati dulu tahap pencarian kebenaran. Jadi asal ngikut ortu saja, akibatnya agama yang seharusnya punya potensi yang besar untuk membentuk kepribadian kita, jadi gak maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ane nyubi gimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kitab ini sangat cocok buat para nyubi. Ane dulu juga nyubi gan.... tapi setelah mengkaji kitab ini, ane jadi sadar... :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi gak masalah kamu mau nyubi atau udah master.... kitab ini bisa dipelajari siapa saja yang mau menemukan kebenaran Islam dan mau menjadikan Islam sebagai ideologinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gimana caranya supaya ane bisa mengkaji kitab ini?&lt;br /&gt;caranya segera hubungi hizbut tahrir dimana ente tinggal. Biasanya di buletin Al-Islam, ada iklan HT ngadain acara tertentu. nah, dateng aja ke acara itu, trus tanya sama panitianya... gimana caranya biar bisa kaji kitab nizhamul islam? dijamin akan dijelaskan oleh panitinanya... so... yuk perbaiki diri dengan ngaji....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-1641075140161257214?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/1641075140161257214/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/05/review-kitab-nizhamul-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/1641075140161257214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/1641075140161257214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/05/review-kitab-nizhamul-islam.html' title='Review Kitab Nizhamul Islam'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/S-ar3fC1qQI/AAAAAAAAARY/XNZbgg-rWF4/s72-c/nizham2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-8948018461927695354</id><published>2010-05-07T17:18:00.000-07:00</published><updated>2010-05-09T05:29:11.194-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Hukum Mermperlihatkan Aurat Melalui Foto</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/S-StvbVhlTI/AAAAAAAAARI/BsfqNZRQTbE/s1600/892822pemuda-khilafah.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/S-StvbVhlTI/AAAAAAAAARI/BsfqNZRQTbE/s320/892822pemuda-khilafah.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berkembangnya teknologi informasi semakin membuat dunia maya ramai pengunjung. Situs jejaring sosial semisal facebook, twitter, friendster tak pernah sepi pengunjung sebab pemilik akun disana akan terus mengakses. Begitu juga dengan sistus chating seperti Yahoo Messanger, Nimbuzz, Mig33, atau sistus blogging seperti blogger dan wordpress. Memang situs-situs itu memberikan manfaat yang besar, dan tidak bisa diharamkan sebab tidak ada dalil yang mengharamkan. Bahkan dengan situs jejaring sosial kita bisa bersilaturahmi, berdakwah, dan memberikan koreksi pada penguasa zalim.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun masalah ditemui ketika banyaknya akun yang menampilkan auratnya di foto-foto. Facebook misalnya, banyak sekali yang mengumbar aurat disana. Ada juga akhwat yang telah berjilbab namun menampakkan foto masa lalunya sebelum berjilbab. Begitu juga yang ikhwan yang meng-upload gambar-gambar yang mempertontonkan aurat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Memang hukum melihat melihat aurat secara tidak langsung berbeda dengan melihat aurat secara langsung. Namun dampak yang ditimbulkan hampir sama. Sebab orang yang melihat gambar aurat (islam tidak mebedakan porno dan aurat) sangat dimungkinkan akan tergoda untuk melakukan zina. Padahal Allah melarang mendekati zina sekali pun, apakah lagi orang yang menjerumuskan zina?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk”(QS. Al-Isra : 32)     &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Dan janganlah tolong menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran, Dan bertakwalah kamu pada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya”(QS. Al- Maidah: 2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mempertontonkan atau memberi jalan pada orang lain untuk melihat gambar aurat sama ssaja menjerumuskan dia pada zina, baik zina besar ataupun paling tidak sudah mendekati zina atau zina kecil. Tidak selayaknya seorang muslim, membuka jalan pada kemaksiatan sebab ada kaedah ushul “menutup semua jalan menuju kemaksiatan”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan pada anak adam zina yang bisa jadi dia mengalaminya, zina mata dengan melihat (yang diharamkan), zina lisan dengan perkataan (yang diharamkan) dimana diri menginginkannya, dan zina kemaluan yang membernarkan itu semua atau mendustainya” (HR. Bukhari)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka baik ikhwan ataupun akhwat, kepada setiap kaum muslimin maupun non-muslim agar berhenti dalam mengekspos gambar / foto yang memperlihatkan aurat karena itulah yang merusak mental anak muda. Perbuatan itu akan memberikan gambaran pada anak kecil sebuah kepantasan untuk melakukannya (membuka aurat) sehingga ketika besar jkelak dia tidak mau mengyunakan hijab, akan merusak moral pemuda karena pikirannya teracuni oleh sebab gambar aurat itu. Lihtalah generasi muda bangsa kita saat ini, degradasi moral sudah sangat mengkhawatirkan. Mari kita stop upload gambar aurat mulai dari sekarang juga!!!!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selamatkan generasi muda kita, Allahuakbar!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-8948018461927695354?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/8948018461927695354/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/05/hukum-mermperlihatkan-aurat-melaui-foto.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/8948018461927695354'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/8948018461927695354'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/05/hukum-mermperlihatkan-aurat-melaui-foto.html' title='Hukum Mermperlihatkan Aurat Melalui Foto'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/S-StvbVhlTI/AAAAAAAAARI/BsfqNZRQTbE/s72-c/892822pemuda-khilafah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-7734780157316599649</id><published>2010-05-06T06:58:00.000-07:00</published><updated>2010-05-06T06:58:46.082-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='koreksi'/><title type='text'>Generasi Cerdas Dengan Pendidikan Islam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/S-LKsG1zF6I/AAAAAAAAARA/xxjZHqNPN0Q/s1600/qurannn33.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/S-LKsG1zF6I/AAAAAAAAARA/xxjZHqNPN0Q/s320/qurannn33.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendidikan boleh saja semakin maju teknologi pendukungnya. Bisa saja bervariasidan diperbaiki kurikulumnya dari generasi ke generasi. Namun apa artinya semua itu jika ternyata orang-orang yang dihasilkan sangat jauh dari yang diharapkan. Pendidikan di klaim maju tetapi nyatanya moral pelajar semakinj hari semakin memprihatinkan. Ini menunjukkan gagalnya sistem pendidikan yang selama ini diterapkan di  Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendidikan dianggap sebagai modal untuk mencari pekerjaan, ini adalah prinsip dari kapitalisme. Padahal ilmu tidaklah hanya untuk mencari uang semata, namun merupakan wujud pencarian kebenaran yang seharusnya setiap manusia menjalaninya.  Sehingga aktivitas mencari ilmu seakan kehilangan makna dari tujuan mencari ilmu yang sebenarnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengapa sistem pendidikan yang sudah sangat lama diterapkan di negri ini, dan sudah tak terhitung lagi berapa kali perbaikan yang dilakukan, namun tetap saja tidak bisa menghasilkan generasi yang cerdas. Jawabannya adalah karena negara kita menganut sistem sekulerisme, yang memisahkan pendidikan agama dengan umum. Ilmu fisika, kimia, ekonomi, sejarah, biologi, dll dipisahkan dari islam. Padahal Islam mencakup itu semua. Seharusnya Islam menjadi dasar dari semua pelajaran yang ada, misalnya dari pelajaran biologi, jika saja Islam sebagai dasarnya tentu tidak akan diajarkan teori evolusi yang sangat menyesatkan. Jika saja ekonomi didasarkan pada Islam, tentu tidak akan diajarkan sistem ekonomi kapitalis yang sangat mengandung ribawi seperti sekarang ini. Sebaliknya akan diajarkan sistem ekonomi Islam yang sangat membawa rahmat bagi semua, bukan sistem ekonomi yang menyulitkan rakyat seperti sekarang. Hasil alam diangkut keluar, tapi rakyat dipajaki untuk membiyayai negara. Bank-bank yang meminjamkan uang dengan bunga (baca: riba) justru menjadi konvensional di negara kita, padahal jelas dosa memakan riba lebih berat dari pada menzinahi Ibnu sendiri, na’udzubillahimin dzalik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;maka tak heran jika moral anak bangsa negri ini sudah sangat mengkhawatirkan. Free seks, narkoba, minuman keras,  pornografi, dan maksiat lainnya seakan menjadi bagian dari kehidupan anak muda zaman sekarang. Semua ini tidak lain karena mereka tidak menjadikan Islam sebagai ideologi dalam setiap tindak tanduknya. Seorang muslim seharusnya menjadikan Islam sebagai satu-satunya standar benar dan salah. Dan inilah yang tidak bisa ditempuh oleh sistem pendidikan kita yang selama ini memisahkan antara pelajaran umum dengan Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Marilah kita melihat sewaktu Islam memimpin dunia, yaitu di abad pertengahan. Semua pelajaran, baik sains maupun sosial, semuanya diajarkan berdasarkan Islam. Sehingga jangan heran jika banyak sekali ilmuan yang sekaligus Ulama yang lahir pada masa itu. Teknologi waktu itu tidak dibuat kecuali untuk mendukung kemudahan menjalankan syariat Islam. Yang kemudian hari setelah runtuhnya ke-khilafah-an Islam pada tahun 1924, ilmu itu dicuri barat dan dimodifikasi sehingga jadilah ilmu-ilmu modern yang dapat kita saksikan sekarang ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka sudah menjadi tugas kita bersama, para pemuda Islam yang sudah tersadarkan akan hal ini. Mari kita terus berdakwah untuk menyadarkan Umat Islam agar kembali pada Agamanya dan bukan pada selain Agamanya. Mari kita terus dakwahkan bahwa hanya Islam-lah solusi dari segala permasalahan, baik permasalahan pribadi hingga permalsahan negara. Semoga Allah merahmati kita...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Amin....&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Allahuakbar!!!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(Catatan Kajian &amp;amp;&amp;nbsp; Buka Puasa Sunnah UII, 6 Mei 2010, Ust. Suswanto) &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-7734780157316599649?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/7734780157316599649/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/05/generasi-cerdas-dengan-pendidikan-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/7734780157316599649'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/7734780157316599649'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/05/generasi-cerdas-dengan-pendidikan-islam.html' title='Generasi Cerdas Dengan Pendidikan Islam'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/S-LKsG1zF6I/AAAAAAAAARA/xxjZHqNPN0Q/s72-c/qurannn33.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-539814295837403617</id><published>2010-04-27T08:59:00.000-07:00</published><updated>2010-04-27T08:59:09.896-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='koreksi'/><title type='text'>Inikah Moral Remaja Negri Ini, Lulus UN, disambut dengan maksiat</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/S9cJsWOTYNI/AAAAAAAAAQ4/-OeOIyRGhI0/s1600/3551141175_3eea8d106c.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/S9cJsWOTYNI/AAAAAAAAAQ4/-OeOIyRGhI0/s320/3551141175_3eea8d106c.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Asraghfirullah hal azim… semoga azab Allah tidak ditimpakan kepada kita karena terdapat orang-orang yang tidak bersyukur atas rahmat-Nya. Begitulah yang terjadi pada siswa-siswi UN yang telah lulus, mereka bukannya bersyukur paada Allah atas kelulusannya, namun justru mengungkapkan kegembiraannya dengan bermaksiat kepada Allah. Lulus UN selalu disambut dengan perbuatan tak bersyukur, seperti mencoret-coret baju, namun sekarang sudah bertambah parah. Kelulusan UN disambut dengan melepas kerudung dan menggunting rok! Astaghfirullah…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Dan (ingatlah) ketika Tuhan kamu memberitahu: sesungguhnya! Jika kamu bersyukur niscaya Aku akan tambahi nikmatKu kepada kamu dan sesungguhnya, jika kamu kufur , sesungguhnya azabKu amatlah keras." (Surah Ibrahim, 14 : 7)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ditempat lain ada yang lebih parah lagi, lulus UN dirayakan dengan pesta seks bersama pasangannya! Lihatlah saudara-saudaraku… betapa parahnya remaja negri ini. Ini hanya yang tampak di media…. Bagaimana dengan yang tidak tampak??&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lain lagi bagi yang tidak lulus, sebagian menyambutnya dengan maksiat pula. Contohnya, di wonogiri siswi tenggak pengharum ruangan karena tak lulus UN. Pemandangan yang biasa kita lihat, bagi yang tak lulus UN menyambutnya dengan meratap, meraung-raung, hingga steres, sampai menyiksa diri. Inikah mental remaja kita? Jika ditimpa kesenangan maka dia akan merayakannya dengan bermaksiat, namun ketika diberi cobaan, mereka juga menyambutnya dengan maksiat pula? Innalillahi….&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa sebenarnya penyebab para remaja negri ini tidak memiliki moral yang baik seperti itu, mengapa mereka dibiarkan baligh tanpa memahami tsaqafah-tsaqafah Islam?! Jawabannya hanya satu saudara-saudara… karena negri ini tidak menerapkan Islam sebagai dasar aturan! Mengapa saya selalu mengatakan bahwa masalah negri ini banyak, namun solusinya hanya satu?! Tidak lain karena kita adalah ciptaan Allah maka sepantasnyalah kita mengikuti aturan Allah, bukan aturan kita sendiri!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tentulah seandainya pemerintah melarang wanita keluar rumahnya tanpa menutup aurat, serta melarang tempat-tempat wisata dijadikan tempat pacaran, bukankah hal seperti ini bisa dicegah?! Namun pemerintah tidak akan bisa, sampai pemerintah mau menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai petunjuk kehidupan, bukan sekedar bacaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lihatlah sendiri bagaimana keadaan dunia ini tanpa diterapkan hukum Allah, dari segala bidang sangat tampak bermasalah. Mulai dari politik, social, ekonomi, kemanusiaan, semuanya bermasalah. Subhanallah… bukankah Allah sudah memberitahukan akan hal ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? (QS. Al-A'raf:96-99)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Subhanallah… sungguh ketika suatu negara didirikan tidak berlandaskan Al-Qur'an dan As-Sunnah maka Negara itu akan mengalami kacau balau, dan jangan mimpi untuk makmur. Karena Negara itu membuat aturan yang menghalalkan yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah. Negera menghalalkan minuman keras, judi, membuka aurat, riba / bunga, investasi asing, zina, pajak dll yang seharusnya diharamkan dan diberi sanksi sesuai dengan syariat Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ref:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;http://inilah.com/news/read/politik/2010/04/26/489801/siswi-sma-pesta-seks-rayakan-lulus-un/&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;http://www.inilah.com/news/read/politik/2010/04/26/489271/lulus-un-siswi-pamekasan-buka-jilbab-dan-gunting-rok/&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;http://www.inilah.com/news/read/2010/04/26/490361/tak-lulus-un-siswi-tenggak-pengharum-ruangan/&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-539814295837403617?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/539814295837403617/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/04/inikah-moral-remaja-negri-ini-lulus-un.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/539814295837403617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/539814295837403617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/04/inikah-moral-remaja-negri-ini-lulus-un.html' title='Inikah Moral Remaja Negri Ini, Lulus UN, disambut dengan maksiat'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/S9cJsWOTYNI/AAAAAAAAAQ4/-OeOIyRGhI0/s72-c/3551141175_3eea8d106c.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-4202456973157964599</id><published>2010-04-10T18:46:00.000-07:00</published><updated>2011-03-26T22:55:38.615-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Haramkah Rokok?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rokok adalah sebuah benda, dan hukum asal benda adalah mubah atau halal kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Pada awal-awal muncul rokok Ulama tidak ada yang berani mengharamkannya. Mereka memubahkan atau memakruhkan. Pendapat yang mubah beralasan bahwa tidak ada larangan sama sekali dalam Al-Qur’an maupun Sunnah yang dengan terang mengharamkan rokok. Dan rokok adalah benda yang baru, sehingga rokok mubah. Adapun alasan bagi yang memakruhkan adalah qiyas seperti jengkol, rokok itu membuat mulut bau dan mengganggu teman disebelah kita karena ikut terhirup bau rokok yang baunya tidak sedap. Ya! Kalau memang dipandang dari sudut-sudut itu memang rokok tidaklah sampai menyentuh haram.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun dikemudian hari, penelitian pun dilakukan, dan terungkap bahwa rokok amat sangat berbahaya bagi tubuh manusia. Jadi hukum rokok tidak lagi sekedar dilihat dari itu hanya sekedar benada, atau hanya dari baunya saja, namun juga dampak yang ditimbulkan bagi pecandunya. Terdapat 4000 bahan kimia dalam satu batang rokok yang siap meracuni penghisapnya. Maka tentulah hukum rokok menjadi haram dengan sebab bahaya (dharar) tersebut sebagaimana racun lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penelitian pun membuktikan bahwa hampir seluruh manusia tidak ada yang kebal dengan rokok. Pasti ada efek bukuk yang ditimbulkan. Tar yang merupakan bahan baku aspal bahan ini lengket di paru-paru sehingga membuat paru-paru perokok menjadi hitam dan sangat mudah terserang kangker. Nikotin yang membuat orang kecanduan rokok sehingga seseorang sangat sulit berhenti merokok, ini membuat pemborosan yang luar biasa dalam suatu keluarga, betapa banyak anak yang tidak sekolah tapi bapaknya perokok, andai bapaknya tidak merokok tentulah itu cukup untuk uang sekolah anaknya. Nikotin juga menambah risiko kanker paru-paru. Dan Karbon monoksida yang sama dengan asap knalpot kendaraan bermotor yang dapat menimbulkan kematian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/S8Ep0F6j3FI/AAAAAAAAAQw/2XRyrYGo7Qg/s1600/bodyworld3.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/S8Ep0F6j3FI/AAAAAAAAAQw/2XRyrYGo7Qg/s320/bodyworld3.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Selain tiga bahan mematikan diatas masih ada 397 bahan berbahaya lainnya diantara 4000 bahan kimia dalam rokok. bahan-bahan tersebut menjadi radikal bebas di dalam tubuh manusia. Sehingga perokok akan lebih berisiko dibandingkan bukan perokok:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* 14x menderita kanker paru-paru, mulut, dan tenggorokan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* 4x menderita kanker esophagus&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* 2x kanker kandung kemih&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* 2x serangan jantung&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penyakit osteoporosis juga disebabkan oleh rokok dengan cara mencuri kalsium dari tulang sehingga mengakibatkan keretakan tulang bagi para perokok. Khususnya dilipatan pangkal paha sangat mudah diserang keretakan dan avascular necrosis, yaitu kekacauan yang diakibat karena matinya tulang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena karbonmonoksida merupakan komponen utama dari asap, yang memiliki kemampuan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;mengikat hemoglobin yang sangat tinggi. Hal tersebut menyebabkan berkurangnya oksigen&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;yang di bawa oleh darah. Karena berkurangnya oksigen yang di bawa oleh setiap sel dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;darah, membuat jantung memompa darah lebih berat ke seluruh tubuh untuk mengedarkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;oksigen ke setiap sel sel yang ada di seluruh tubuh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahan kimia lainnya yang dikandung dalam asap yang dapat merusak paru-paru termasuk hydrocarbon, nitrous oxides, organic acids, phenols dan oxidizing agents. Radikal bebas adalah bahan kimia yang dapat merusak otot jantung dan pembuluh darah. ketika bercampur dengan kolesterol yang mengakibatkan risiko kerusakan pembuluh arteri, dan akhirnya menyebabkan penyakit jantung dan stroke. Asap tembakau mengandung logam berat yang sangat berbahaya seperti arsenic dan cadmium. Kebanyakan dari logam berat ini diketaui sebagai penyebab kanker.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain meracuni diri sendiri juga meracuni orang lain!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang perokok akan merokok dimana pun juga, sebab sudah kecanduan. Setelah makan di warung, dia pun merokok tanpa pandang bulu sebelah kanan-kirinya yang juga ikut teracuni oleh asap rokok itu. Jika aktivitas merokok disamakan dengan bunuh diri, berarti merokok ditempat umum atau disamping orang lain adalah perbuatan membunuh, atau minimal menzhalimi saudaranya. Itulah mengapa rokok ini tanpa diragukan lagi: haram. Dengan merokok seorang bisa mendapat dosa yang berlapis, dia meracuni diri sendiri, meracuni oprang lain, pemborosan, dan bagi wanita yang merokok, akan membuat cacat bayinya karena merokok itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bantahan bagi yang masih bertahan pada pendapat lama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meskipun ulama yang mengeluarkan hukum rokok adalah mubah atau makruh pada masa lalu adalah ulama-ulama yang hanif, dan bisa dipercaya. Namun kita juga harus menyadari betul bahwa Islam sangat melarang umatnya untuk menjatuhkan diri dalam kebinasaan, seperti merokok.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” [Al Baqarah 195]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan juga Islam sangat mengharamkan meracuni orang lain&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Tidak boleh (menimbulkan) bahaya dan tidak boleh pula membahayakan orang lain."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(HR. Ibnu Majah dari kitab Al-Ahkam 2340).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan juga islam sangat melarang pemborosan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya” (QS. Al Isra’ (17): 27)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesungguhnya Allah itu membenci tiga perkara untuk kalian, (yakni) berita yang tidak jelas, menghambur-hamburkan harta dan banyak bertanya. (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada satu pertanyaan, bagaiamana kita bisa mengharamkan rokok sementara ada beberapa orang yang sampai tua tidak mendapat mudharat apa-apa dari rokok, sehingga rokok tetap tidak bisa diharamkan secara mutlak, hanya pada orang yang terkena dharar (bahayanya) saja?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jawabannya adalah jika memang benar ada satu atau dua orang yang tahan terhadap rokok (meski harus dibuktikan secara medis) namun kita harus melihat bahwa pada umumnya bahan-bahan pada rokok sangat berbahaya bagi manusia normal. Sehingga kita berasumsi kuat (ghalabatu zhan) bahwa rokok itu berbahaya bagi semua orang. Jadi tetap rokok itu bisa diharamkan sebab telah terbukti rokok itu membunuh ribuan orang tiap harinya mati karena rokok. ini membuktikan bahwa rokok benar-benar berbahaya dan tidak aman jika di konsumsi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imam Asy Syaukani berkata dalam Kitab tafsirnya, Fat-hul Qadir, tentang maksud ayat An Nisa 29 di atas:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;. قوله "ولا تقتلوا أنفسكم" أي: لا يقتل بعضكم أيها المسلمون بعضاً إلا بسبب أثبته الشرع، أو لا تقتلوا أنفسكم باقتراف المعاصي أو المراد النهي عن أن يقتل الإنسان نفسه حقيقة. ولا مانع من حمل الآية على جميع المعاني. ومما يدل على ذلك احتجاج عمرو بن العاص بها حين لم يغتسل بالماء البارد حين أجنب في غزاة ذات السلاسل، فقرر النبي صلى الله عليه وسلم احتجاجه وهو في مسند أحمد وسنن أبي داود وغيرهما&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Artinya: “Maksud firmanNya ‘Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri’ adalah Wahai muslimun, janganlah kalian saling membunuh satu sama lain, kecuali karena ada sebab yang ditetapkan oleh syariat. Atau, janganlah bunuh diri kalian dengan perbuatan keji dan maksiat, atau yang dimaksud ayat ini adalah larangan membunuh diri sendiri secara hakiki (sebenarnya). Tidak terlarang membawa maksud ayat ini kepada makna-makna yang lebih umum. Dalilnya adalah Amr bin al Ash berhujjah (berdalil) dengan ayat tersebut, ketika ia tidak mandi wajib (mandi junub) dengan air dingin pada saat perang Dzatul Salasil. Namun, Nabi Shaliallahu ‘Alaihi wa Sallam mendiamkan (tanda setuju) hujjah (alasan) yang yang dipakai olenya. Ini ada dalam Musnad Ahmad, Sunan Abu daud, dan lain-lain.” Demikian dari Imam Asy Syaukani Rahimahullah. (Lihat juga Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Jilid 1, hal. 480. Toha Putera Semarang, dengan naskah berbahasa Arab yang disesuaikan dengan naskah dari Darul Kutub Al Mishriyah)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sahabat saja menggunakan dalil itu untuk menghindari bahaya (dharar) apabila mandi junub dengan air dingin, Padahal sahabat belum membuktikan. Apalagi sekarang sudah terbukti dengan jelas bahwa rokok telah 1000 lebih orang tiap harinya.  Maka jelaslah bahwa hukum  merokok itu haram.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekedar info: Rokok adalah sarana imperialis Amerika dalam meracuni umat islam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak warga amerika mulai meninggalkan rokok, maka perusahaan amerika mencari negara yang belum sadar akan bahaya rokok. salah satunya indonesia, ya! Negri yang selalu manut pada USA ini membuka pintu impor sebesar-besarnya. Sehingga tak sedikit anak muda negri ini yang kemudian harus teracuni oleh rokok ini. Sementara imperialislah yang mendapatkan keuntungan dari “membunuh” warga indonesia. Dengan meng-expor rokok ke belahan dunia muslim, amerika dengan sangat mudah untuk melemahkan generasi muda kita. Sadarlah wahai para ulama akan perang ini.... !!!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Zulfahmi Assyafii&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ref:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;http://www.dinkesngawi.net/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=59:racun-pada-rokok&amp;amp;catid=1:latest-news&amp;amp;Itemid=56&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;http://m.kompas.com/news/read/data/2008.07.08.21032125&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;http://kesehatan.kompas.com/read/2010/01/21/10370494/Mengapa.Rokok.Bisa.Membunuh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;http://berhentimerokok.org/racun-tembakau.pdf&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;http://www.infoanda.com/id/link.php?lh=UQIDUgcIAlUB&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;http://infokito.wordpress.com/2007/10/25/quraish-shihab-alasan-alasan-rokok-haram/&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-4202456973157964599?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/4202456973157964599/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/04/haramkah-rokok.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/4202456973157964599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/4202456973157964599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/04/haramkah-rokok.html' title='Haramkah Rokok?'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/S8Ep0F6j3FI/AAAAAAAAAQw/2XRyrYGo7Qg/s72-c/bodyworld3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-567954984748779562</id><published>2010-03-30T00:17:00.000-07:00</published><updated>2010-03-30T00:17:15.175-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='koreksi'/><title type='text'>Mengapa Negri Indonesia tidak Berkah &amp; Makmur?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/S7GkBBPEpAI/AAAAAAAAAQo/hSHyflq6zDc/s1600/indonesia.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="235" src="http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/S7GkBBPEpAI/AAAAAAAAAQo/hSHyflq6zDc/s320/indonesia.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Negara ini tak akan pernah makmur meskipun disebut negara yang kaya, bagaimana tidak, anggran yang dipakai ternyata mayoritas bersumber dari yang haram, diambil dengan cara yang haram, dan dikelola dengan sistem yang haram. Berikut akan saya terangkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pajak&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;75 persen APBN Indonesia diambil dari pajak. Ini menunjukkan Indonesia benar-benar tergantung dengan pajak, maka jangan heran jika pemerintah selalu getol mengkampanyekan pajak. Pajak ibarat urat nadi bagi pembangunan indonesia, gaji PNS, subsidi, dll mayoritas bersumber dari uang ini. Namun tahukah anda darimana pajak ini bersumber?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ternyata pajak banyak diambil dari yang haram. Minuman keras yang dilegalkan di bar-bar, meskipun terkadang polisi memberantas minuman keras namun itu bukan karena polisi menganggap barang itu haram, namun karena ilegal alias tidak mebayar pajak. Lihat jugalah sarang-sarang maksiat yang turut menjadi pemasukan dari APBN kita ini, hiburan-hiburan malam seperti diskotek dan klab-klab yang sering menjadi ajang maksiat dimana bercampur baur laki-laki dan perempuan disana. Kemudian pakaian-pakaian yang ditariki pajaknya oleh pemerintah, ternyata kebanyakan adalah pakaian yang haram. Yang mana pakaian itu adalah pakaian wanita yang digunakan untuk memamerkan auratnya, seksi, dan merusak akhlak, dan itu legal sausara-saudara... karena membayar pajak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau anda masih ingat tentang bikot produk zionis atau produk yang membantu zionis maka anda sampai saat ini tetap menyaksikan barantg-barang itu ada dimana-mana. Dari warung kecil sampai mal-mal, jadi omong kosong jika pemerintah kita menudukung palestina. Padahal jelas produk-produk itu membantu Israel yang menjajah palestina... dan semua itu asalkan bayar pajak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan apakah anda thau bahwa sumbangan APBN kita yang terbesar adalah berasal dari racun yang memperbudak jutaan penduduk inonesia? Ya! Dia bernama rokok. Rokok telah meracuni generasi kita, dari yang miskin sampai yang kaya, dari kyai hingga preman, dari angkot sampai kereta api,  tiap batangnya 40 rupiah untuk APBN kita sudara-saudara... padahal jelas tiap harinya ribuan orang mati gara-gara racun ini. Mengapa pemerintah tidak bisa menghentikannya, lagi-lagi karena rokok bayar pajak saudara-saudara... innalillahi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah kita mengamati pajak diambil dari barang-barang yang haram, ternyata tak berhenti di situ. Bahkan cara pengambilan untuk anggran kita itu juga haram. Ya! Pemungutan Pajak itu sendiri haram dalam islam saudara-saudara...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Pemungut bea cukai itu Tidak Akan masuk surga” (HR. Abu Dawud)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lantas bagaimana negri ini mau berkah, baladan thayyiban... mustahil.!!!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Investasi Luar negri&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lihatlah bodohnya pemerintah kita ini. Investor-investor dari luar negri datang disambut gembira, disediakan tanah kita dan yang didalamnya untuk diambil mereka, lalu kita mendapatkan bagian yang sedikit. Padahal jika semua itu dikelola negara pastilah APBN cukup dari itu, dan tidak perlu menarik pajak. Namun ekonom kita yang sudah di brain washing di washington tak akan pernah menyadari hal ini. Mereka merasa senang jika investor datang mengambili batu bara kita, minyak bumi kita, gas kita, emas kita, dan barang tambang kita lainnya dan kita hanya mendapatkan bagian yang sedikit. Lihatlah freeport! Berpuluh-puluh tahun amerika mengambuili emas kita, sudah berapa juta ton meas dibawa ke amerika? Padahal jelas membiarkan penghasilan negri diambil asing adalah haram.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Manusia bersekutu (memiliki hak yang sama) atas tiga hal: air, hutan dan energi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(HR Ibn Majah dan an-Nasa’i)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seharusnya hasil bumi dikelola negara sendiri dan dimanfaatlan untuk kesejahteraan rakyat negri itu sendiri. Sekarang yang disejahterakan justru negara lain, sementara negri sendiri se4dang sekarat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Riba&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sumber lain dari APBN kita adalah Riba, ya! Sesuatu yang lebih haram dari pada menzinai ibu sendiri ini adalah salah satu sumber dari keuangan negara kita saudara-saudara... bank-bank berdiri, memberikan pinjaman pada rakyat dengan bunga, termasuk bank sentra kita sendiri. Riba dalam wujud bunga ini disebut telah menguntungkan. Dan ekonom sekuler akan bergembira jika penghasilan dari sesuatu yang menjijikkan ini besar jumlahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah kita tahu bahwa APBN kita diambil dari yang haram, dan diambil secara haram, maka benarkah pengelolaan unag itu juga dengan cara yang haram?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ya! Pemerintahan kita yang termasuk dalam pemerintahan kufur telah menetapkan mengatur APBn kita dengan hukum yang dibuat sendiri. Bukan berdasarkan hukum Allah. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. [QS Al Maa'idah 44]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sistem negara kita yang menuhankan Pancasila dan UUD 45 telah menggunakan APBN yang juga haram untuk memperkuat posisinya. Dengan uang haram itu, negara memfasilitasi para pembuat hukum dan para ansharu thaghut. Dengan uang haram itu juga negara menggaji para polisi anti islam, densus 88, untuk membunuhi para mujahidin dan aktivis dakwah. dengan kata lain uang haram APBN itu digunakan untuk memperkuat negara yang sekuler ini agar tetap berdiri, namun itu tak sepenuhnya berhasil. Tetap saja uang haram tak akan memberi yang diharapkan, pasti terjadi goncangan, baik berupa berupa krisis maupun korupsi. Krisis sudah menjadi langganan bagi negara kapitalis, setiap negara kapitalis pasti akan mengalami yang namanya krisis, dan itu rutin. Kedua, negara kapitalis (yang APN bersumber dari yang haram) pasti akan terkena yang namanya korupsi. Saya rasa tak perlu menerangkan hal ini panjang lebar, anda cukup menyetel TV anda dan akan anda dapatkan berita tentang kosupsi setiap hari. Yah... bukankah menggelikan melihat uang haram, diambil dengan cara haram, dikelola dengan sistem haram, dan diambil oleh pribadi-pribadi dengan cara yang haram (lagi).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masih belum sadarkah kita wahai kaum muslimin... apakah kita menunggu pasukan mahdi untuk menghancurkan sistem negara kita yang amat buruk ini? Apakah kita hanya berdiam menunggu pemilu dan berharap yang jadi adalah orang-orang baik? Berhentilah saudara-saudaraku... ditangan kitalah masa depan negara ini... apakah akan tetap kita jadikan seperti ini, ataukah kita mengikut jejak Nabi Muhammad SAW dengan mengubah negara ini menjadi Negara Khilafah Rasyidah Islamiyah... Allahuakbar!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Marilah bergambung dengan para ghuroba yang senantiasa memperjuangkan tegaknya khilafah rasyidah yang dijanjikan Allah melalui lisan Nabi kita.... &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wallahua'lam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2010/03/27/untung-rugi-hubungan-ekonomi-ri-as/"&gt;http://hizbut-tahrir.or.id/2010/03/27/untung-rugi-hubungan-ekonomi-ri-as/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=153575057566"&gt;http://www.facebook.com/note.php?note_id=153575057566&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/12/maklumat-politik-papua/"&gt;http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/12/maklumat-politik-papua/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2010/03/21/sikap-lemah-kepada-penjajah/"&gt;http://hizbut-tahrir.or.id/2010/03/21/sikap-lemah-kepada-penjajah/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2010/03/18/pernyataan-hizbut-tahrir-indonesia-tolak-obama-presiden-negara-penjajah/"&gt;http://hizbut-tahrir.or.id/2010/03/18/pernyataan-hizbut-tahrir-indonesia-tolak-obama-presiden-negara-penjajah/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2010/03/17/agenda-komprehensif-penjajahan-kapitalisme-dibalik-kedatangan-obama-di-indonesia-quantcast/"&gt;http://hizbut-tahrir.or.id/2010/03/17/agenda-komprehensif-penjajahan-kapitalisme-dibalik-kedatangan-obama-di-indonesia-quantcast/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2010/03/09/kebijakan-energi-dalam-islam-bagian-ii-%e2%80%93-selesai/"&gt;http://hizbut-tahrir.or.id/2010/03/09/kebijakan-energi-dalam-islam-bagian-ii-%e2%80%93-selesai/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/22/sekulerisme-mengokohkan-penjajahan/"&gt;http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/22/sekulerisme-mengokohkan-penjajahan/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2010/01/31/kerapuhan-sistem-finansial-kapitalis/"&gt;http://hizbut-tahrir.or.id/2010/01/31/kerapuhan-sistem-finansial-kapitalis/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://eramuslim.com/editorial/negeri-para-penjahat-dan-koruptor.htm"&gt;http://eramuslim.com/editorial/negeri-para-penjahat-dan-koruptor.htm&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-567954984748779562?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/567954984748779562/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/03/mengapa-negri-indonesia-tidak-berkah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/567954984748779562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/567954984748779562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/03/mengapa-negri-indonesia-tidak-berkah.html' title='Mengapa Negri Indonesia tidak Berkah &amp; Makmur?'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/S7GkBBPEpAI/AAAAAAAAAQo/hSHyflq6zDc/s72-c/indonesia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-8204559757234665834</id><published>2010-03-20T22:28:00.000-07:00</published><updated>2010-03-20T22:28:43.605-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='koreksi'/><title type='text'>Patah Semangat di dunia Dakwah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/S6WuJQ7BSAI/AAAAAAAAAQg/Zd5yVAIyhlE/s1600-h/images.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/S6WuJQ7BSAI/AAAAAAAAAQg/Zd5yVAIyhlE/s320/images.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;Kepada teman-teman seperjuangan yang telah mengorbankan harta, waktu, bahkan jiwa untuk memperjuangkan Islam, tidak ada makhluk saat ini yang lebih mulia dari kalian. Kebaikan dan usaha kalian yang tanpa pamrih terus menapaki jalan dakwah ini lebih baik dibandingkan engkau menyumbang emas sebanyak apapun. Jalan yang engkau tapaki saat ini lebih baik dari dunia dan sesisinya, sungguh jika orang-orang tahu betapa tingginya keutamaan memperjuangkan tegaknya Islam, tentu mereka semua akan ikut memperjuangkannya meskipun harus mengorbankan harta, waktu bahkan jiwa mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sosok seperti kalianlah yang dibutuhkan umat ini. Mental-mental seperti kalian-lah yang sangat dirindukan oleh umat ini. Lihatlah para sahabat Nabi, mereka rela mengorbankan apa saja yang melekat pada diri mereka, harta tak terhitung jumlahnya, bahkan jiwanya untuk menegakkan Agama ini. Maka orang-orang seperti kalianlah yang menjadi tumpuan dari perjuangan ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meskipun lebih dari 50 tahun kalian terus berjuang mati-matian dan tak kunjung tercapai cita-cita kalian. Namun hingga detik ini kalian terus-menerus mendakwahkan, menyadarkan pada kaum muslimin agar mereka kembali pada Islam secara kaffah. Tidak pernah terbesit sedikitpun dari diri kalian untuk hengkang dari perjuangan ini, dimana pun kalian berada, pastilah kalian akan mengajak kaum muslimin untuk kembali pada islam secara kaffah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meskipun lebih dari 50 tahun kalian menerikakkan “tegakkan khilafah”, namun tak satu pun penguasa “muslim” mendengarnya. Bahkan dibeberapa negara diktator kalian dianggap seperti pemberontak, lalu disiksa di penjara terburuk, dan berakhir sebagai syuhada’, namun gerakan kalian tak akan pernah mati. Lihatlah, betapa mulianya kalian!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disaat kaum muda muslim larut dalam “tidur” panjang mereka, kalian tetap terjaga dan terus gigih untuk membangunkan singa-singa yang tertidur itu. Disaat kaum muda muslim asyik mengurusi hal-hal sepele seperti pacaran, foya-foya, dan keduniaanyang tidak bermanfaat lainnya, kalian tetap melepaskan diri dari semua hal itu dan mengambil jalan yang mulia. Lihatlah, betapa mulianya jalan yang telah kalian ambil!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Juga disaat kaum muslimah larut dalam mode, pacaran, dan mengurusi hal-hal sepele, kalian tetap istiqamah untuk terus mengamalkan syariat islam. Kalian memakai hijab disaat kaum muslimin meninggalkannya, kalian tetap menjaga jarak dengan lawan jenis disaat sistem negara tidak membatasi hubungan ini! Bukankah kalian, wahai kaum muslimah yang ikut berjuang menegakkan Islam adalah wanita-wanita yang luar biasa?!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan kemuliaan yang luar biasa yang engkau miliki masihkah engkau merasa minder dengan titel “ikhwan” dan “Akhwat” yang engkau sandang? masihkah engkau suka berkeluh kesah ketika yang mengikuti dakwah hanya sedikit? Masihkah engkau merasa diri kalian melakuan hal yang sia-sia?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sungguh yang engkau inginkan hanyalah ridha Allah, engkau tidak menginginkan apapun kecuali itu. Meskipun sepuluh tahun lagi khilafah tak kunjung tegak, atau lima puluh tahun lagi, atau 100 tahun lagi, atau bahkan sampai engkau wafat khilafah tak kunjung juga tegak, maka engkau tidak bisa disebut gagal. Karena seorang tidak disebut gagal karena telah berusaha, tapi disebut gagal jika berhenti berusaha. Toh engkau telah melibatkan diri dalam memperjuangkan tegaknya hukum-hukum Allah, maka itu sudah cukup bagimu. Bukankah Allah hanya menguji kita saja, bukankah DIA hanya ingin melihat siapa yang beriman dan siapa yang kufur, siapa yang berjuang dan siapa yang berdiam?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tegaknya khilafah dan kembalinya kehidupan islam memang cita-cita yang sangat engkau perjuangkan dan sangat engkau elu-elukan. Tapi bukankah yang bisa mewujudkan hal itu hanyalah Allah sendiri? Bukankah itu sudah janji Allah?  Sekali lagi engkau hanya berjuang, dan perjuanagn yang engkau persembahkan kepada Allah itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa nengkau adalah orang yang senantiasa berada pada jalan kebenaran. Ketika engkau dihisab kelak, bukankah engkau telah mempunyai hujjah pada Allah, dan bisa mengatakan pada Allah “saya telah memperjuangakannya dan ENGKAU-lah yang mampu mewujudkan”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wahai para pejuang Islam! Tetaplah kalian pada jalan yang sangat mulia ini, jangan pernah putus asa untuk terus mendakwahi kaum muslimin. Setiap orang yang engkau dakwahi, baikkah dia, burukkah dia, semuanya mempunyai potensi untuk ikut berjuang dalam dakwah ini. Mungkin tidak hari ini, mungkin besok, minggu depan, atau bulan depan, atau tahun depan, mungkin juga 10 tahun kedepan, namun kita tidak boleh berhenti untuk terus mendakwahi mereka. Bukankah kita hanya orang yang mendakwahi? Dan bukanlah kita yang memberi hidayah!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wahai para pejuang Islam! Kalian adalah orang-orang yang seharusnya paling baik perangainya, paling santun dan lemah lembut kepada sesama muslim, dan paling baik ibadahnya. Janganlah engkau mengira bahwa engkau hanya cukup mengerjakan yang wajib-wajib saja lalu engkau tinggalkan ibadah sunnah lalu engkau merasa itu cukup. Lihatlah para pejuang islam di masa lalu. siapakah mereka? Mereka adalah orang yang tidak pernah absen dalam shalat jama’ah kecuali udzur, selalu mengerjakan tahajud di setiap akhir sepertiga malamnya, berpuasa senin-kamis, berusaha menghapal dan mempelajari Qur’an, dan mereka adalah orang-orang yang sangat merasa lemah hingga meneteskan air mata ketika berzikir dihadapan-Nya. Itulah potret dari pejuang muslim yang perlu engkau tiru!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ya Allah, jadikanlah para pejuang Agama-Mu ini menjadi orang-orang yang engkau ridhai. Ampunilah kesalahan-kesalahan mereka, dan bimbinglah mereka agar bisa mewujudkan cita-cita mereka, yaitu tegaknya hukum- Mu. Ya Allah hanya ENGKAU lah yang mampu mewujudkan cita-cita mereka. Namun mereka hanyalah orang-orang yang ingin berjuang dijalan-Mu, karena memang ENGKAU hanya ingin menguji. Ya Allah, istiqamahkanlah hati mereka untuk terus berada di jalan ini, dan berikanlah kepada mereka para ahlul quwwah yang akan membantu dakwah ini. Amin...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3916157338007873844-8204559757234665834?l=assyafii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://assyafii.blogspot.com/feeds/8204559757234665834/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/03/patah-semangat-di-dunia-dakwah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/8204559757234665834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3916157338007873844/posts/default/8204559757234665834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://assyafii.blogspot.com/2010/03/patah-semangat-di-dunia-dakwah.html' title='Patah Semangat di dunia Dakwah'/><author><name>Zulfahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17208489261506501149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://4.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/SUXftwuFKsI/AAAAAAAAABw/u-AiV8f7lK0/S220/ht.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/S6WuJQ7BSAI/AAAAAAAAAQg/Zd5yVAIyhlE/s72-c/images.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3916157338007873844.post-7830930106626582943</id><published>2010-03-14T03:39:00.001-07:00</published><updated>2010-03-14T03:59:22.246-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menjawab Fitnah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Ulama Hadits Kurang Perhatian Terhadap Matan?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/S5zBO1fLs_I/AAAAAAAAAQY/pjczo2QCWSk/s1600-h/timthumb.php.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_xAiSIxR-Lxw/S5zBO1fLs_I/AAAAAAAAAQY/pjczo2QCWSk/s320/timthumb.php.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Salah satu cara orientalis dalam meragukan otentisitas hadits adalah dengan menuduh para ulama hadits kurang memperhatikan aspek matan dalam metodologi penelitiannya. Prof Dr Musthofa Azami dalam bukunya &lt;i&gt;Dirasat fil Hadits an-Nabawi wa Tarikh Tadwinih &lt;/i&gt;menyatakan bahwa Ignaz Goldziher (seorang tokoh orientalis) menuduh penelitian Hadits yang dilakukan oleh ulama klasik tidak dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah karena kelemahan metodenya. Hal itu menurut Goldziher karena para ulama lebih banyak menggunakan metode Kritik Sanad, dan kurang menggunakan metode Kritik Matan. Karenanya, Goldziher kemudian menawarkan metode kritik baru yaitu Kritik Matan saja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di antara para penulis modern atau intelektual Islam yang mengikuti cara berfikir kaum orientalis ini adalah Profesor Ahmad Amin asal Mesir. Dalam bukunya &lt;i&gt;Fajr al-Islam&lt;/i&gt;, ia ikut melecehkan kredibilitas ulama Hadits secara umum. Kemudian secara khusus, Imam Bukhari dihujatnya. Katanya, &lt;i&gt;“Kita melihat sendiri, meskipun tinggi reputasi ilmiyahnya dan cermat penelitiannya, Imam Bukhari ternyata menetapkan Hadits-hadits yang tidak shahih ditinjau dari segi perkembangan zaman dan penemuan ilmiyah, karena penelitian beliau hanya terbatas pada kritik sanad saja”. Menurut Ahmad Amin, banyak Hadits-hadits Bukhari yang tidak shahih, atau tepatnya palsu. Di antaranya adalah sebuah Hadits di mana Nabi SAw bersabda, “Seratus tahun lagi tidak ada orang yang masih hidup di atas bumi ini”.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hadits ini oleh Ahmad Amin dinilai palsu, karena ternyata setelah seratus tahun sejak Nabi saw. mengatakan hal itu masih banyak orang yang hidup di atas bumi ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;blockquote&gt;...Kalau kita mau melihat secara objektif, sebenarnya para ulama klasik sudah menggunakan metode Kritik Matan. ...&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau kita mau melihat secara objektif, sebenarnya para ulama klasik sudah menggunakan metode Kritik Matan. Hanya saja apa yang dimaksud Kritik Matan oleh Goldziher itu berbeda dengan metode Kritik Matan yang digunakan oleh para ulama. Ahmad Amin yang ikut ramai-ramai melecehkan Imam Bukhari ini ternyata juga keliru dalam memahami maksud Hadits tersebut, sehingga apa yang disimpulkannya pun tidak bisa dibenarkan. Sebab, yang dimaksud oleh Hadits itu bukanlah sesudah seratus tahun semenjak Nabi saw. mengatakan hal itu tidak akan ada lagi yang masih hidup di atas bumi ini, melainkan adalah bahwa orang-orang yang masih hidup ketika Nabi saw. mengatakan hal itu, seratus tahun lagi mereka sudah wafat semua. Dan ternyata memang demikian, sehingga Hadits itu oleh para ulama dinilai sebagai mukjizat Nabi saw. Untuk mengetahui lebih jauh tentang pemikiran Ahmad Amin berikut sanggahan para ulama kepadanya, silakan merujuk kepada buku karangan Muhammad Ajjaj al-Khatib: &lt;i&gt;As-Sunnah Qabla Tadwin &lt;/i&gt;dan juga Mustafa as-Siba’i dalam bukunya &lt;i&gt;As-Sunnah wa Makanatuha fi Tasyri&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam sejarahnya, kritik matan Hadits lahir lebih awal daripada kritik sanad Hadits. Kritik matan sudah ada sejak zaman sejak zaman Nabi Muhammad saw., sementara kritik sanad baru muncul sesudah terjadinya fitnah di kalangan umat Islam, yaitu perpecahan di antara mereka menyusul terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan Ra pada tahun 35H. Sejak saat itulah setiap orang yang menyampaikan Hadits selalu ditanya dari siapa ia memperoleh Hadits itu. Apabila Hadits itu diterima dari orang yang &lt;i&gt;tsiqqah&lt;/i&gt;, maka ia diterima sebagai hujjah dalam Islam. Namun apabila hadits itu diterima dari ahli bid’ah, maka hadits tersebut ditolak sebagai hujjah. Demikianlah seperti yang dituturkan oleh Imam Muhammad bin Sirin (w 110H).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;blockquote&gt;...Apabila Hadits itu diterima dari orang yang &lt;i&gt;tsiqqah&lt;/i&gt;, maka ia diterima sebagai hujjah dalam Islam. Namun apabila hadits itu diterima dari ahli bid’ah, maka hadits tersebut ditolak sebagai hujjah...&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena jumlah rawi-rawi Hadits semakin hari semakin banyak, sementara matan Hadits yang diriwayatkan tak bertambah, maka dalam perkembangan selanjutnya, porsi untuk melakukan kritik sanad juga semakin banyak jumlahnya. Sedangkan penelitian terhadap matan tidak mengalami perkembangan seperti itu. Inilah yang membuat seolah-olah para kritikus Hadits hanya mencurahkan perhatiannya pada kritik sanad saja, dan tidak melakukan kritik matan. Faktor inilah juga yang membuat kaum orientalis dan murid-muridnya menuduh bahwa para ulama ahli Hadits hanya melakukan kritik sanad dan tidak melakukan kritik matan, sehingga Hadits yang semula dinyatakan shahih, setelah dilakukan penelitian terhadap matannya dikemudian hari, ternyata tidak shahih.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam buku &lt;i&gt;Manhaj an-Naqd al-Matan Inda Ulama al-Hadits &lt;/i&gt;karangan Shalahuddin al-Adlabi juga dijelaskan tentang perhatian para ulama Hadits yang tidak sembarangan terhadap kritik matan, yaitu sepeti apa yang dikemukakan Al-Khatib Al-Baqdadi (w.463 H/1072 M) bahwa suatu matan Hadits dapat dinyatakan &lt;i&gt;maqbul&lt;/i&gt; (diterima) sebagai matan Hadits yang shahih apabila memenuhi unsur-unsur sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, tidak bertentangan dengan akal sehat. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, tidak bertentangan dengan al-Qur'an yang telah muhkam. &lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, tidak bertentangan dengan hadits mutawatir. &lt;i&gt;Keempat&lt;/i&gt;, tidak bertentangan dengan amalan yang telah disepakati ulama masa lalu. Kelima, tidak bertentangan dengan dalil yang telah pasti. Dan keenam, tidak bertentangan dengan Hadis Ahad yang kualitas keshahihannya kuat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada juga seperti Imam Syaf’I (w 204H) dengan kitabnya &lt;i&gt;Ikhtilaf al-Hadits&lt;/i&gt;, Imam Ibnu Qutaibah (w 279H) dengan kitabnya &lt;i&gt;Takwil Mukhtalaf al-Hadits&lt;/i&gt;, dan Imam al-Tahawi (w 321H) dengan kitabnya &lt;i&gt;Musykil al-Atsar &lt;/i&gt;yang ketiga-tiganya ini membahas tentang kontroversialitas Hadits dalam aspek matan, juga telah membuktikan perhatian ulama klasik terhadap aspek matan yang dilakukan secara sungguh-sungguh dan tidak sembarangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
